Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Pergi


__ADS_3

Malam hari, Miko telah duduk di ruang tengah, menunggu Lidia selesai menidurkan Misa. Pria itu tampak duduk dengan tenang, meski dalam hatinya bergemuruh tak keruan. Lampu semuanya sudah dipadamkan, hanya tersisa sorot cahaya dari TV yang sedari tadi menyala.


Sekitar pukul setengah sembilan malam, Lidia nampak keluar dari kamar dan berjalan ke arah sang suami berada. Wanita itu duduk di samping Miko, dan menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.


Miko diam. Dia meraih amplop yang ada di sisi lainnya, dan menyodorkannya ke depan wajah Lidia.


"Tanda tangani ini," seru Miko.


Lidia pun mengernyitkan keningnya, dan melihat dengan seksama benda apa yang disodorkan oleh sang suami.


Dia pun bangkit dan menyalakan lampu, agar penglihatannya bisa jelas menangkap apa yang tengah di pegang oleh Miko.


Lidia terkejut dengan mata yang membola. Wajahnya merah padam karena diliputi amarah saat menyadari apa yang tengah suaminya ajukan padanya.


"Apa itu, Ko? Kamu nggak mungkin lakuin itu ke aku kan?" terka Lidia.


"Kamu wanita yang cerdas, Lid. Kamu pasti tau apa isi dan maksud dari surat ini," sahut Miko.


Pria itu meletakkan surat bertuliskan pengadilan agama di amplopnya, ke atas meja. Dia mendorong sedikit benda itu hingga berada tepat di depan Lidia.


"Aku sudah bilang kemarin. Kita berpisah saja. Jika diteruskan, kita hanya akan saling menyakiti, Lid. Bukankah kamu akan lebih tenang dan bebas melakukan apapun yang kamu inginkan jika kita bercerai?" lanjut Miko.


"Nggak … aku nggak mau cerai, Ko. Aku nggak mau jadi janda. Apa kurangnya aku sampai kamu nggak bisa kasih aku kesempatan lagi? Apa kamu mau pisah dari Misa? Ingat, Ko. Putri kita diadopsi atas namaku. Jadi, hak asuh sudah pasti akan jatuh padakj, bukan kamu," ancam Lidia.


Wanita itu meyakini jika Miko pasti akan merasa berat jika harus berpisah dengan putri kecilnya, Misa.


"Aku tidak akan meminta hak asuh Misa, karena dari awal dia adalah milikmu, bukan milikku. Dia hanya malaikat kecil yang sudah menyadarkan dan membuatku bangkit dari keterpurukan," sahut Miko.


"Apa? Kenapa? Bukankah kamu sangat menyayangi Misa? Lalu, kenapa kamu tega ninggalin dia?" cecar Lidia yang tak percaya jika suaminya justru merelakan Misa untuk diasuh olehnya.


"Yah, aku memang sangat menyayanginya. Tapi, bagaimana pun juga dia bukan anakku. Anakku sudah mati sebelum dia bisa melihat ayahnya, Lid. Aku hanya menganggap Misa sebagai penyelamat yang membuatku tidak jadi gila. Hanya itu," ungkap Miko.

__ADS_1


"Keterlaluan kami, Ko. Lalu, kenapa kamu harus memberinya nama Misa Amora? Cinta Miko dan Sarah? Kenapa? Apa kamu ingin agar aku selalu mengingat perbuatan kalian yang sudah menjalin hubungan terlarang di belakang ku, hah?" cecar Lidia.


Miko membelalak. Dia tak menyangka jika sang istri tahu akan arti di balik nama Misa yang ia berikan kepada putri kecilnya.


"Ba … bagaimana kamu …," tanya Miko.


"Aku tau semuanya, Ko. Aku selalu memperhatikanmu, mendengar semua perkataanmu dengan Misa. Aku tau semuanya. Tapi, apa pernah kamu perhatikan aku sedikit saja? Pernah kamu sadar kalau aku menangis semalaman karena sakit hati atas sikapmu, yang selalu menghubungkan semua hal dengan wanita murahan itu," maki Lidia.


"Jangan sebut dia murahan! Dia wanita baik-baik, Lid." Miko geram mendengar penghinaan Lidia atas Sarah


"Baik-baik? Baik-baik katamu? Wanita baik-baik mana yang tega merebut suami orang? Wanita mana yang tega merusak rumah tangga orang? Merebut kebahagiaan wanita lainnya? Apa wanita seperti itu masih pantas disebut baik-baik? Dia lebih menjijikan dari pada pelacur!" Maki Lidia dengan segala amarahnya.


"CUKUP!" bentak Miko.


Pria itu sudah tak sanggup lagi mendengar semua penghinaan Lidia atas Sarah, yang semakin tidak berdasar.


"Cukup, Lid. Dari awal, Sarah nggak pernah salah. Dia wanita baik yang sudah ku bohongi. Aku salah. Aku minta maaf pada kalian berdua. Pernikahan kita sudah tak bisa lagi dipertahankan, Lid. Semuanya terlalu menyakitkan untuk kita, terutama untuk mu. Karena aku sudah tak ada perasaan untukmu lagi yang tersisa di hatiku,"


"Aku tinggalkan ini di sini. Aku harap, kita bisa bertemu di pengadilan, dan mengakhiri semua ini dengan baik-baik. Aku pamit," pungkas Miko.


Pamit? Apa maksdunya? batin Lidia.


Miko terlihat masuk ke kamar tamu. Lidia duduk di sofa sambil mengusap kasar wajahnya. Nampak buliran bening menghiasi wajah cantik itu.


Tak lama kemudian, Miko keluar dengan pakaian yang sama, namun terbalut jaket tebal. Yang membuat Lidia gemetar adalah, koper besar yang ditarik sang suami ke luar.


"Ko, kenapa kamu bawa koper malam-malam begini? Memangnya kamu mau kenama?" tanya Lidia yang mencoba mencari jawaban, namun berharap jika jawaban itu tak seperti hang dipikirkannya.


Miko berhenti tepat di depan wanita yang masih sah menjadi istrinya.


"Lid, mulai malam ini, aku akan keluar dari rumah ini. Aku tidak akan meminta hakku atas apa yang kita miliki bersama. Anggap ini sebagai kompensasi atas semua luka yang pernah ku torehkan di hatimu. Sampai berjumpa di pengadilan, Lid. Aku pamit," ucap Miko.

__ADS_1


Pria itu kembali berjalan dan menarik kopernya. Lidia yang sempat tertegun, kini berjalan mengekori sang suami yang menuju ke arah garasi, di mana mobilnya terparkir.


"Ko, aku mohon jangan seperi ini, Ko. Tolong kamu pikirkan sekali lagi. Aku nggak mau pisah sama kamu," pekik Lidia yang terdengar begitu putus asa.


Miko masih sibuk memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil dan tak menghiraukan sedikit pun bujukan dari Lidia.


"Ko, pikirkan tentang Misa. Bagaimana kalau dia kangen sama kamu? Dia sudah menganggap mu sebagai ayah kandungnya. Kasihan dia, Ko. Apa kamu tega melihat malaikat kecilmu sedih karena kehilangan ayahnya?" bujuk Lidia dengan berbagai macam cara.


"Jika memang Misa mau bertemu dengan ku, bawa saja dia ke rumah orang tuaku. Aku akan datang ke sana saat kamu membawanya. Tolong jaga dia baik. Kasihi dia seperti anakmu sendiri, meski bayi kecil itu hanya alatmu untuk membawaku kembali pulang ke sini," ucap Miko.


Pria itu pun kemudian masuk ke dalam mobil, dan menutup pintunya rapat-rapat, membuat Lidia mundur selangkah.


Wanita itu terus menggedor-gedor pintu mobil Miko, namun sang suami seolah menulikan pendengarannya dan bersikap acuh.


Mobil pun melaju meninggalkan pekarangan rumah yang menjadi saksi cinta mereka berdua yang sempat bersemi, namun kini layu diterpa keegoisan masing-masing.


Lidia nampak menangis meraung-raung, melihat mobil iko yang semakin menjauh. Dia tak percaya jika semua yang sudah dilakukannya selama ini akan menjadi sia-sia.


"Kamu jahat, Ko. Kamu jahat," ratap Lidia dalam tangisnya.


.


.


.


.


Hai, Guys. Setelah sekian purnama, othor baru nyapa kalian😁✌


Gimana … gimana … lumayan nggak cerita recehku ini?😅

__ADS_1


Semoga kalian suka dan selalu menunggu updatenya ya😘


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


__ADS_2