
Sebuah ketukan disertai lampu sorot dari kamera ponsel seseorang membuat Lidia terusik. Dia pun mencoba menghalau sinar yang menyilaukan itu dari matanya dengan tangan.
"Apa kamu mencari ini?" ucap suara yang sangat dikenal oleh lidia.
"Miko," gumamnya
Wanita itu pun seketika membuka pintu mobil dan turun dari sana. Dia mencoba meraih kertas yang ada di tangan Miko, namun sang suami mengangkatnya tinggi-tinggi ke atas, hingga Lidia tak bisa meraihnya.
"Kembalikan, Ko. Itu punyaku," seru Lidia yang masih mencoba meraih kertas tersebut.
"Punyamu? Lalu kenapa kalau ini punya mu, ada namaku dan Sarah di dalam sini, hah?" tanga Miko yang sudah tak bisa lagi berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
"Memangnya kau tau apa isinya, hah?" sanggah Lidia sengit.
"Kamu benar-benar keterlaluan, Lid. Kenapa kamu tidak pernah sekali pun memberitahukannku soal gugatan cerai Sarah. Bahkan hingga akhirpun kamu masih mau menutupinya. Apa maksud kamu sebenarnya, Lid?" cecar Miko yang begitu geram dengan perbuatan Lidia.
Lidia seketika menghentikan gerakannya. Dia terdiam dan tersenyum sinis ke arah Miko.
"Jadi, kau sudah membacanya? Itu surat keputusannya? Hah … selamat, karena akhirnya kalian resmi berpisah," ucap Lidia yang terdegar mengejek.
Wanita itu pun berbalik dan hendak pergi dari tempat itu. Namun, Miko segera meraih lengan Lidia dan menyeretnya kembali ke tempat semula.
Punggung wanita itu sampai terbentur ke pintu mobil yang sedari tadi berada di belakangnya.
"Ko, sakit!" pekik Lidia.
"AKU YANG SAKIT, LID! Hatiku lebih sakit dari rasa sakit di punggungmu itu!" teriak Miko yang sudah tak tahan dengan sikap Lidia terhadapnya.
"Lalu mau kamu apa? Semuanya sudah berakhir antara kamu dan Sarah. Termialah, Ko. Wanita itu juga sudah tidak mau lagi dengan mu. Kenapa juga kamu masih memikirkan dia, hah?" balas Lidia tak kalah sengit.
"Kamu keterlaluan, Lid. KAMU KETERLALUAN!" teriak Miko.
PLAK!
Sebuah tamparan tepat mendarat di pipi Miko. Lidia tak bisa lagi bersikap tenang. Selama ini pun, dia juga hanya mencoba bertahan dengan sikap Miko yang selalu acuh padanya.
"Kamu yang keterlaluan, Ko! Kamu sudah selingkuh dari ku, menikah lagi tanpa sepengetahuanku, dan sekarang kamu terang-terangan ingin kembali dengan maduku? Di mana hatimu, Ko? Di mana? Apa kamu sama sekali nggak bisa lihat sehancur apa hati ku ini, hah?"
"Setelah aku baru saja merasa lega, karena akhirnya suamiku bisa kembali lagi padaku, aku berusaha untuk berubah lebih baik, dan menjadi seorang istri yang kamu mau. Tapi apa? Sekali pun kamu nggak pernah kasih apresiasi untuk usahaku sedikit pun. Jadi, nggak usah berlagak yang paling sedih dan sakit. Aku … aku yang paking sakit, Ko. AKU!" pekik Lidia yang meluapkan semau isi hatinya yang selama ini ia pendam.
Miko tertegun dengan penuturan Lidia yang memang benar adanha. Dalam hatinya yang paling dalam, pria itu pun mengakui jika semua tak lepas dari kesalahannya.
"Mari kita bercerai," ucap Miko kemudian.
__ADS_1
Lidia membola. Dia tak mengira jika kalimat itu akan meluncur dari mulut pria yang beberapa bulan ini dia coba pertahankan.
"Apa?" tanya Lidia seolah takmendengar ucapan suaminya.
Miko mengangkat wajahnya. Dia menatap lekat wajah wanita yang pertama kali ia nikahi. Wanita yang beberapa tahun ini sudah menemaninya, meski sering terjadi ribut dan cekcok di antara keduanya.
"Kita bercerai saja. Kita akhiri semua ini. Rumah tangga ini sudah hancur dan tak bisa bertahan lagi," ucap Miko.
Lidia menggeleng tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Miko.
"Nggak! Aku nggak mau, Ko. Aku nggak mau," tolak Lidia.
"Maafkan aku, Lid. dari awal, aku memang tak pernah menganggapmu sebagai seorang istri. Kamu hanya sebuah piala untuk ku. Piala kegengsianku, yang bangga karena bisa memiliki si bintang finance," ungkap Miko.
"Nggak! Kamu pasti bohong kan. Ini cuma alasan kamu supaya aku setuju bercerai dari kamu kan," ucap Lidia yang berusah keras mengelak semua perkataan Miko.
"Aku jujur, Lid. Memang itu kenyataannya. Maafkan aku. Tapi, aku sudah tak bisa lagi bertahan denganmu. Mari kita berpisah saja," seru Miko.
Lidia menutup kedua telinganya, seolah tak ingin mendengar perktaan Miko yang begitu menyakitkan hatinya.
"Aku nggak denger! Aku nggak denger!" Lidia berbalik dan berjalan cepat menjauhi Miko dengan terus merapalkan kalimat itu sambil menutup rapat telinganya.
"Lid! Lidia!" panggil Miko yang berusaha mengejar sang istri.
Pria itu hanya bisa menatap nanar pintu kayu di hadapannya. Helaan nafas terdengar begitu berat keluar dari mulut pria itu.
Miko mengacak rambutnya. Dia merasa frustasi dengan semua kekacauan ini.
"Aaarrrggghhhhhh!" teriak Miko yang ingin melepaskan semua sesak di dadanya.
Sedangkan di dalam kamar, Lidia bersandar di pintu sambil membekap mulutnya. Tubuhnya berguncang karena terisak. Dia merosot ke bawah, dan bersimpuh di lantai.
Wanita itu menangis dalam diam. Di kamar yang sudah menjadi saksi cinta antara dia dan suaminya. Namun, di kamar itu juga dia menangisi keputusan sang suami yang mengajaknya berpisah.
Kamu jahat, Ko. Kamu jahat. Di sini, aku juga korban. Aku juga sakit, bukan cuma kalian, batin Lidia merintih.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Beberapa hari telah berlalu sejak pertengakaran antara Miko dan Lidia. Wanita itu masih tetap berusaha untuk menjalankan perannya sebagai seorang istri yang baik.
Sedangkan Miko, dia sama sekali tak peduli. Bahkan untuk sekedar menyahut dengan gumaman saja pun tidak.
Lidia benar-benar terabaikan oleh suaminya sendiri. Setiap malam, dia selalu menangis di tempat tidur. Miko yang awalnya mau tidur satu kamar dengannya, meski mereka tak melakukan apapun kecuali tidur. Namun sekarang, pria itu lebih memilih tidur sendiri di ruang tamu.
__ADS_1
Suatu sore, Miko terlihat baru pulang ke rumah. Dia mendapati sang istri yang tengah bermain dengan sang putri, Misa.
"Ko, sudah pulang?" sapa Lidia yang melihat kedatangan suaminya.
"Assalamualaiakum," salam Miko.
"Waalaikumsalam," sahut Lidia sambil mencium punggung tangan suaminya.
"Lid, bisa kita bicara sebentar?" ajak Miko.
Lidia nampak mengerutkan alisnya. Dia menerka hal apa yang ingin dibicarakan oleh sang suami.
Dengan wajah kusut seperti itu, apa yang mau dibicarakan? batin Lidia.
"Bisa ikut sebentar?" tanya Miko lagi, karena tidak mendapat jawaban juga dari sang istri.
"Bisa kita bicara nanti malam saja, kalo Misa sudah tidur? Kasihan dia nggak ada yang jagain," ucap Lidia.
"Hem," sahut Miko.
pria itu pun berlalu pergi.
Miko masuk ke dalam kamar, dan mengeluarkan sebuah koper besar. Dia mulai memasukkan semua pakaiannya ke dalam benda tersebut. Tak lupa juga, dia pun mengambil beberapa berkasnya yang tercampur dengan berkas Lidia di dalam laci lemari.
Miko langsung memasukan berkas dengan map atau amplop coklat yang bernamakan dirinya, dan memeriksa satu persatu amplop-amplop yang tak bernama. Tak disangka, dia menemukan semua surat undangan yang selama ini di sembunyikan oleh Lidia di dalam salah satu amplop tersebut.
Dia mundur ke belakang, dan mengeluarkan semua isinya, kemudian meletakkannya di atas tempat tidur.
Dia memandangi semua surat pangggilan sidang yang harusnya sampai ke tangannya, namun justru di simpan sendiri oleh sang istri.
"Sampai sebanyak ini, dan aku baru tahu saat surat putusan itu datang. Sebodoh itukah aku, bisa dikelabui oleh Lidia selama ini," ucap Miko.
Dia nampak terduruk di tepi kasur, sambil mendekap semua surat-suadt dari lengadilan yang berhasil ia temukan di dalam lemarinya sendiri.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏
__ADS_1