
Miko mengangkat wajahnya dan menatap Lidia lekat-lekat.
"Kamu mengidap kanker ovarium stadium lanjut, Lid," titur Miko.
"A … apa? Nggak … nggak mungkin! Aku baik-baik aja kok. Aku sehat. Mana mungkin aku kena kanker. Nggak, kamu pasti bohong. Ini cuma alasan kamu aja kan supaya aku nyerah pertahanin kamu, Ko. iIya kan?" elak Lidia.
Wanita itu nampak tak mau menerima penuturan dari suaminya itu.
Miko semakin mengeratkan genggaman tangannya, meski Lidia bersaha melapaskannya.
"Lid, aku mohon kamu sabar ya," ucap Miko.
"Nggak! Nggak mungkin! Aku nggak mungkin sakit," pekik Lidia yang histeris setelah mendapatkan kabar tentang kondisinya.
Miko berusaha menenangkan wanita itu dengan memberinya pelukan, namun Lidia terus mendorong Miko agar menjauh darinya.
Teriaka Lidia terdengar hingga keluar dan membuat seorang perawat masuk dan melihat kekacauan di dalam sana. Dia pun segera memberikan suntikan penenang kepada Lidia.
Beberapa menit kemudian, obat bekerja dan Lidia pun kembali tertidur.
Keesokan harinya, Lidia nampak diam. Pikirannya masih dilenuhi dengan kekalutan. Miko pun tak bksa membujuknya hanya untuk sekedar makan, sehingga dia memilih untuk meminta Yulis yang menggantikannya menemani Lidia.
"Lid, ini masih stadium lanjut. Masih ada harapan. Kamu masih bisa sembuh," ucap Yulis kepada sang adik.
"Sembuh? Tapi ini kanker ovarium, Mbak. Bagaimana kalau rahim ku diangkat? Bagaimana kalau aku tak bisa punya anak selamanya?" cecar Ledia.
"Setidaknya, kamu masih bisa hidup, Lid. Kamu masih bisa melakukan hal yang kamu suka. Soal anak, bukankah kamu masih punya Misa. Dia juga anakmu, Lid," seru Yulis.
"Tapi, Miko ingin punya anak sendiri, Mbak. Bagaimana aku bisa mempertahankannya kalau aku nggak bisa kasih dia anak? Aku nggak mau operasi. Aku nggak mau," tolak Lidia.
"Apa di hidupmu hanya ada Miko? Apa hanya dia yang kamu pedulikan? Ibu, aku, almarhum Bapak dan semua keluarga kita, apa kamu nggak peduli sama sekali dengan perasaan kami semua, Lid?" cecar Yulis.
Lidia seketika bungkam. dia menundukkan wajahnya, dan menyesali perkataannya yang terdengar sangat egois.
"Mbak tau kamu sangat mencintai Miko, dan ingin memberikan apa yang dia mau. Tapi, aku yakin dia pun ingin yang terbaik buat mu, Lid. Miko pasti ingin kamu sembuh. Dia ingin melihat Lidia yang bebas seperti dulu lagi," ungkap Yulis.
Lidia masih diam. Namun, isakan mulai terdengar dari mulutnya. Pundaknya nampak berguncang. Dia menangis.
"Apa ini hukuman buatku karena sudah menolak memberinya anak selama ini? Hingga aku harus kehilangan rahimku?" ratap Lidia.
Dia menyesali semua perbuatannya selama ini, yang selalu menolak saat Miko tengah berbicara mengenai anak. Ingatannya kembali pada saat dia yang selalu saja menyuruh Miko untuk mencari wanita lain yang mau memberinya anak, dan mengatakan jika dia tak mau mengorbankan karirnya demi mengandung seorang bayi.
"Ini karma ku. Ini karma ku," ucapnya Lirih dalam isak tangis yang terdengar pilu.
Yulis yang melihat pun, hanya bisa memeluk sang adik dan memberinha dukungan.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Tiga hari kemudian, Lidia yang baru saja selesai melakukan operasi pengangkatan rahim, kini tengah menjalani proses pemulihan.
__ADS_1
Serankaian pengobatan kemoterapi dan rutin mengkonsumsi obat-obatan, menjadi kegiatan Lidia sehari-hari.
Miko baru saja sampai, dan hendak menemui Lidia di ruangannya. Namun, keberadaan ibun mertunya yang sudah sangat marah pada Miko, serta merta mengusirnya.
"Mau apa kamu ke sini lagi? Pergi kamu. Aku sudah tak sudi lagi melihat wajah yang menjijikan itu," hardik Ibu Lidia.
Miko diam bergeming. Dia menatap ke arah Lidia, yang juga menatapanya.
"Apa yang kamu tunggu? Cepat pergi!" seru ibu mertuanya.
"Bu," panggil Lidia.
Sang ibu pun menoleh dan melihat ke arah putrinya.
"Tolong biarkan aku bicara berdua dengan Miko. Setidaknya, kami harus menyelesaikan semua masalah di antara kami secara baik-baik kan ,Bu," pinta Lidia.
"Apa lagi yang mau kalian bicarakan? Ibu tidak mau. Ibu akan tetap di sini. Biar dia saja yang pergi," tolak sang ibu.
"Bu, mereka sudah sama-sama dewasa. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Sebaiknya, kita keluar dulu dan memberi waktu buat mereka bicara," bujuk Yulis.
"Tapi, Lis …," sahut sang ibu.
"Bu, Lidia mkhon," pinta Lidia.
Dengan terpaksa, sang ibu pun menuruti permintaan putrinya. Dia menatap tajam ke arah Miko dan kemudian keluar dari ruangan tersebut.
"Apa kabarmu, Lid?" tanya Miko mencoba basa basi.
"Seperti yang kau lihat, aku sudah bukan wanita sempurna lagi," jawab Lidia dengan tatapan sendu.
Wajahnya masih terlihat pjcat dan lemah. Rasa sakit akibat kemoterapi dan guncangan batin gang dialaminya, membuat wanita itu terlihat begitu kurus dan layu. Tak ada lagi wajah berseri yang selalu tergambar di sana.
"Aku … aku berpikir untuk mencabut …," ucap Miko.
"Aku melepaskanmu, Ko," potong Lidia.
Dia seolah tau apa yang akan dikatakan oleh Miko padanya.
"Tapi, Lid, kondisi mu sekarang …," sahut Miko.
"Aku bisa melaluinya sendiri. Lagi pula, aku masih punya keluarga yang selalu mendukungku, bukan suami yang mau kembali karena kasihan padaku," sela Lidia lagi.
Miko terdiam. Dia sudah tak punya kata-kata lagi untuk diucapkan kepada istrinya itu.
"Aku minta maaf atas semua yang sudah kulakukan padamu. Sekarang, aku menerima hukumannya. Aku selalu menolak untuk memiliki keturunan, hingga Allah mengambil rahimku selamanya," ucap Lidia dengan mata yang mulai memerah.
Genangan pun tampak di pelupuk matanya.
"Jadi, kamu bebas untuk pergi sekarang, Ko. Aku tidak akan lagi mempertahankan mu di sisiku," ucap Lidia.
__ADS_1
Miko tertunduk. Dadanya terasa sesak mendengar ucalan lidia yang dengan rela melepaskannya pergi.
"Maaf. Maafkan aku, Lid," ucap Miko.
Nampak setetes bening keluar dari matanya, mengiringi perpisahan mereka yang sudah semakin dekat.
Begitupun Lidia. Linangan air mata luruh di pipinya, dengan isak yang coba ia tahan sekuat hati.
Sesakit ini melepasmu pergi, Ko. Tapi aku harus bisa merelakan mu bebas. Sekarang, aku tak bisa membanggakanmu lagi seperti dulu. Maaf atas keegoisanku selama ini. Maaf, batin Lidia.
Tak berselang lama setelah itu, sidang putusan digelar, dan ketuk palu hakim memutuskan bahwa Miko dan Lidia resmi bercerai.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Lima tahun kemudian, seorang wanita nampak tengah turun dari mobilnya sambil menggandeng dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Mereka tengah berjalan menghampiri seorang pria yang sedang duduk di dalam sebuah restoran.
"Papah!" panggil si anak peremouan yang berusia sekitar tujuh setengah tahun.
Pria itu pun menoleh dan tersenyum ke arah ketiga orang yang sedang berjalan menuju ke arahnya, sambil melambaikan tangan.
Kedua anak itu pun melepaskan genggaman tangannya dari wanita yang membawa mereka, dan berlari menghambur memeluk pria itu.
"Mas, maaf ya lama. Tadi ada klien yang minta meeting mendadak," ucap wanita itu yang baru saja sampai.
"Nggak papa kok, Sar. Lagian ini masih jam makan siang kan," sahut pria itu dengan tersenyum.
"Papah, ayo pesan makan. Bela lapar," rengek anak perempuan itu.
"Ayo. Bela sama Bagas mau makan apa?" tanya pria tersebut kepada kedua anak kecil itu.
"Aku mau wafel yang ada toping es krimnya," jawab Bagas.
"Bela juga, tapi eskrimnya yang banyak," sahut Bela.
"Eh … anak cantik nggak boleh kebanyakan es krim. Nanti disuntik papahnya mau?" bujuk wanuta tadi.
"Hayok, Kak Bela mau disuntik," ucap Bagas menakuti anak perempuan yang lebih tua dua setengah tahun darinya.
Mereka berempat terlihat begitu bahagia, bercengkerama satu sama lain.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏
__ADS_1