Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Aku kangen ibu


__ADS_3

Lidia menoleh dan meraih tangan wanita yang berada di sampingnya itu.


"Sar, ada yang mau aku omongin sama kamu. Tolong dengarkan aku yah," ucap Lidia.


Sarah diam. Dia hanya bisa menuruti apa yang diinginkan oleh wanita itu.


"Ngomong apa ya, Mbak?" tanya Sarah.


"Sebelumnya, aku mau minta maaf sama kamu atas apa yang sudah terjadi di masa lalu. Aku tau itu pasti sulit. Tapi, aku ingin mencoba berteman dengan mu dan berdamai dengan masa lalu. Aku sudah nggak mau lagi menyimpan dendam dengan siapapun, baik kamu maupun Miko, karena bagaiman pun juga, semua ini tak lepas dari kesalahanku sendiri yang telah lalai dalam menjalankan tugas sebagai seorang istri," ungkap Lidia.


Sarah masih diam. Dia yang memang sudah tau akhir hubungan antara Lidia dan Miko, memilih untuk menjadi pendengar yang baik untuk wanita di sampingnya itu.


Lidia menceritakan semua yang terjadi, dari mulai kesengajaannya menyembunyikan semua surat dari pengadilan, hingga Miko yang marah karena mengetahui semuanya saat ketuk palu hakim sudah jatuh, sampai perceraian mereka yang harus berakhir dengan divonisnya Lidia yang tidak bisa lagi memiliki keturan, dikarenakan rahimnya telah diangkat.


Sarah tak habis pikir dengan apa yang baru saja dia dengar. Dia membekap mulutnya sendiri dengan kuat, karena sangkin terkejutnya dengan pengakuan Lidia.


"Aku tau ini karma buatku, yang selalu saja menolak memberikan Miko seorang anak, malah lucunya, aku sendiri yang memintanya untuk mencari wanita lain, yang mau memberikannya keturunan. Tapi anehnya, saat dia menikah lagi dengan mu, aku malah marah," ucap Lidia dengan tawa getirnya.


"Mbak, aku nggak nyangka kalau nasib Mbak akan jadi seperti ini. A … aku … aku minta maaf, Mbak," ucap Sarah yang berusaha menahan tangisnya.


"Tidak, Sar. Bukan kamu yang harusnya minta maaf. Di sini, kamu justru adalah korbannya. Aku baru bisa berpikir jernih, saat sudah benar-benar mampu merelakan Miko pergi dari hidupku. Aku sadar, jika yang paling tersakiti adalah kamu dan anakmu. Oh … iya, bagaimana kabarnya? Sudah besar pastinya kan," tanya Lidia.


"Yah, dia baru saja berulang tahun yang ke lima," jawab Sarah.


"Aku juga punya seorang anak angkat, namanya Misa. Dia adalah anak yang ku adopsi untuk menyembuhkan depresi Miko, saat dia mengetahui jika anaknya telah meninggal. Dia juga yang memberinya nama. Kamu tau nama panjang putri ku? Misa Amora yang artinya cinta Miko dan Sarah. Romantis sekali kan dia," ungkap Lidia.


"Ta … tapi, bukankah itu anak angkat Mbak dan Mas Miko? Kenapa namanya seperi itu?" tanya sarah yang terheran-heran.


"Jujur, awalnya aku sakit hati, namun sekali lagi, setelah aku benar-benar melepasnya pergi, aku hanya menganggap itu sebagai hal lucu. Sar, aku mengatakan ini padamu dengan tujuan agar kamu tau, sebesar apa cinta Miko ke kamu. Jika memang kalian berjodoh untuk bertemu lagi, aku mohon beri dia kesempatan sekali lagi untuk menjadi seorang suami dan ayah yang baik untukmu dan juga anakmu," seru Lidia.


Sarah tak menyangka, jika wanita yang dulu pernah kejam dan menghina dirinya, kini justru bersikap sangat baik dan ramah padanya.


Setelah perbincangan singkat dengan Lidia, Sarah kembali melangkah menuju kamar mandi, karena dia butuh menyegarkan wajahdan pikirannya.


Sedangkan Lidia, wanita itu masuk dan duduk di tempat Jefri berada.


"Lama yah?" tanya Lidia.


"Lumayan. Berarti, itu tadi madu mu?" tanya Jefri.

__ADS_1


"Yah, dia istri kedua Miko. Dulu, aku memang sempat marah padanya karena sudah mengambil Miko dari ku, tapi toh akhirnya rumah tanggaku dengan pria itu tak bisa lagi bertahan, meskipun Sarah sudah lebih dulu pergi," ucap Lidia.


Jefri nampak meraih tangan Lidia. Dia menggenggam erat tangan wanita itu dan menatapnya dengan keteduhan.


"Sekarang, ada aku dan Misa yang akan menjadi penyemangat di hidupmu, Lid. Lupaka lah masa lalu mu yang pahit itu," seru jefri.


Lidia hanya tersenyum tipis menyahuti perkataan pria di depannya itu.


tanpa mereka tau, Minati yang juga duduk tak jauh dari mereka berdua, mendengar semua percakapan itu.


Jadi, Sarah itu pelakor? batin Minati.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Beberapa hari setelah pertemuannya dengan Lidia, Minati mulai bersikap aneh pada Sarah. Dia sekarang jarang menghampirinya di meja kerja janda itu.


Sarah pun merasakan akan hal tersebut, namun dia tak terlalu memikirkannya. Justru, Sarah merasa nyaman dengan ketidak beradaan Minati, yang selalu saja serba ingin tau perihal masalahnya.


Sore hari itu, Sarah menjemput Bagas di play group. Saat itu, ada Bela yang juga sedang menunggu seseorang datang menjemputnya.


"Bela, lagi nungguin Papah atau Nenek?" tanya Sarah saat melihat gadis kecil itu, tengah duduk di atas ayunan, bersebelahan dengan Bagas.


Wanita itu pun kemudian berjongkok di hadapan gadis kecil itu, dan meraih kedua tangan mungilnya.


"Bela Sayang, kenapa? Kok murung? Bela sakit?" tanya Sarah dengan lembut.


"Bela kangen Ibu," sahut Belas lirih.


Sarah hanya mendengarnya sayup-sayup.


"Apa, Nak? Bela bilang apa tadi?" tanya Sarah.


"Kak Bela bilang, kalau dia kangen sama Ibu," sahut Bagas mewakili Bela.


Sarah menoleh ke arah Bagas sekilas. Putrnya itu mengangguk dengan cepat. Dia kemudian kembali menatap lekat ke arah Bela, dan mengulurkan tangannya untuk membelai surai hitam gadis kecil itu.


"Bela Sayang, kalau Bela kangen sama ibu, Bela kan bisa nungguin Ibu pas jemput Bagas, terus kita bisa jalan sama-sama kayak dulu," ucap Sarah.


"Tapi, Bela takut sama ayahnya Bagas. Ayah Bagas udah mukul Papah. Terus kata Papah, Bela jangan deket-deket ibu lagi, karena bisa ganggu waktu Ibu sama Bagas dan Ayah Bagas," tutur Bela.

__ADS_1


Sarah terperanjat kala mendengar penuturan dari gadis kecil itu. Dia tak menyangka jika Fadil dan keluarganya seketika menjaga jarak saat Miko kembali hadir di kehidupannya san sang putra.


Dia kemudian kembali mengusap lembut surai hitam Bela.


"Bela Sayang, Bela boleh kok main ke rumah Ibu lagi, jalan bareng Ibu lagi, makan bareng Ibu sama Bagas lagi, pokoknya nggak ada yang berubah walaupun Ayah Bagas sudah kembali. Kalau Bela memang kangen sama Ibu, Bela tinggal ijin aja sama Papah atau Nenek, dan nanti Ibu yang akan jemput Bela bareng sama Bagas. Bela juga boleh kok nginep di rumah Ibu," seru Sarah.


Bela mengangkat wajahnya dan menatap lekat ke arah Sarah.


"Beneran boleh, Bu?" tanya Bela.


"Iya, Sayang. Boleh kok. Sekarang, Bela nggak usah sedih dan murung lagi yah. Ehm … gimana kalau sambil nunggu Papah atau Nenek Bela, kita makan es krim di seberang jalan kayak biasanya?" ajak Sarah.


"Asik, es krim," sorak Bagas kegirangan.


"Eeeeehhhh … Bagas cuma boleh makan satu scoop aja. Nggak boleh banyak-banyak," seru Sarah.


"Yah …," keluh Bagas.


"Hahahaha … Bagas, kamu kan baru keluar dari rumah sakit. Jadi, harus nurut apa kata Ibu dong. Hahahahaha …," ucap Bela tertawa terbahak-bahak melihat wajah cemberut Bagas.


Sarah tersenyum melihat interaksi kedua anak itu. Dalam hati, terbersit rasa sayang yang teramata akan gadis kecil yang harus kehilangan sang bunda, bahkan sebelum dia mengenali ibunya.


Kasihan, Bela. Dia hanya ingin merasakan kasih sayang seorang Ibu. Kenapa Mas Fadil harus bersikap seperti itu padanya. Aku harus bicara dengan dia, batin Sarah.


.


.


.


.


Kasihan Bela🤧🤧🤧🤧


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


Sambil nungguin next eps, boleh dong mampir di karya temen aku.


__ADS_1


__ADS_2