
“Hehehehe... Iya... Iya, maaf. Habisnya, kamu kayak panik gitu, tiap kali aku singgung masalah yang dulu-dulu,” sahut Sarah.
“Aku cuma nggak mau lihat kamu menangis karena kesalahanku yang lalu itu. Aku ingin semuanya kita mulai dari awal lagi. Kalau pun nanti kita jadi menikah lagi, aku akan ajak kamu untuk tinggal di Jogja. Di sana, kita akan mulai hidup baru. Tempat baru, di mana tak ada yang mengenal kita. Kalau pun ada, kita bisa cuekin mereka,” ujar Miko.
Sarah tersenyum tipis mendengar perkataan miko. Dia tak menyangka jika pria itu telah merancang semuanya dengan matang.
“Mas, kalau masalah julukan pelakor, aku sudah kebal kok. Terserah mereka mau bilang apa, aku nggak peduli. Yang aku takut cuma pengaruhnya untuk Bagas, saat dia sudah besar nanti. Aku takut dia benci sama ibunya. Aku takut di jadi di luar kendali karena kecewa. Aku...,” ungkap Sarah.
“Sar, aku yakin Bagas itu anak yang pintar. Dia akan paham dengan sendirinya, seperti apa ibunya ini. Tidak ada seorang wanita hina, yang bisa membesarkan anaknya dengan begitu baik dan penuh kasih sayang sepertimu. Aku dengar, wanita seperti itu hanya mencari pria-pria berduit. Tapi kamu, malah sibuk menjaga dan membesarkan Bagas seorang diri kan. Jadi, jangan khawatirkan hal seperti itu yah. Percaya sama Bagas,” ucap Miko.
Sarah nampak menyeka air matanya. Namun, isaknya terdengar hingga ke telinga Miko di ujung telepon sana.
“Tuh kan, nangis lagi. Mending tadi kamu ketawa-tawa. Biarin deh aku dikira badut sama kamu selamanya, asal kamu nggak nangis lagi,” keluh Miko.
Andai kamu ada di sini, Sar. Pasti kamu sudah ku peluk dan ku tenangkan dalam dekapan ku, batin Miko.
Sarah terkekeh di seberang mendengar candaan Miko, yang sebenarnya tengah merutuki dirinya sendiri karena mengungkit lagi masa pahit itu.
"Makasih ya, Mas. Kamu udah ngehibur aku,” ucap Sarah
“Gantian dong. Aku juga butuh dihibur nih,” rengek Miko.
“Emangnya kamu kenapa, Mas? Ada masalah di kantor?” tanya Sarah khawatir.
“Nggak sih. Bukan soal kerjaan,” sahut Miko.
“Terus apa dong?” tanya Sarah lagi.
“Tadi siang, aku ke rumah orang tuamu,” tutur Miko.
Sarah yang tadinya berbaring, kini bangkit dan duduk bersandar di head board. Dia mendengarkan dengan seksama apa yang pria itu katakan.
Miko pun menceritakan hasil dari kunjungannya itu.
“Jadi, masih harus nunggu ya?” gumam Sarah.
“Ehm...,” sahut Miko lemas.
“Kamu yang sabar ya, Mas. Kalau memang kita jodoh, sekeras apapun Mas Tino, dia pasti akan setuju juga. Percaya saja sama diri kamu, Mas. Dan tunjukan pada semua orang kalau kamu memang sudah berubah,” seru Sarah.
Bagai gurun gersang yang di siram hujan sehari. Hati Miko terasa begitu sejuk mendengar perkataan Sarah barusan.
Lama mereka berbincang, hingga tak terasa mereka tidur dengan sambungan telepon yang sama-sama masih terhubung, hingga ponsel Miko kehabisan daya, dan membuat sambungan berakhir.
__ADS_1
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Beberapa hari kemudian, saat Miko tengah menghadiri rapat dari divisi marketing, sebuah telepon masuk ke dalam ponselnya.
Kebetulan saat itu, fajar, sang sekretaris, yang tengah memegang alat komunikasi atasannya itu.
Fajar pun mendekat ke arah bosnya dan membisikkan sesuatu. Miko menegang saat sekretarisnya memberitahukan perihal panggilan tadi.
“Ehm... Apa rapatnya masih lama?” tanya Miko kepada menejer pemasaran yang duduk di Sampingnya.
“Sebentar lagi, Pak. Ini presentasi yang terakhir,” jawab menejer tersebut.
“Baiklah. Teruskan,” seru Miko.
Dia kemudian beralih kepada sekretarisnya.
“Kalau nomor itu telepon lagi, kamu angkat saja dan bilang kalau aku akan menghubungi kembali nanti,” pesan Miko.
"Baik, Pak,” sahut Fajar.
Rapat kembali berjalan hingga satu jam berikutnya. Kini, Miko telah kembali ke ruang kerjanya diikuti oleh sang sekretaris.
Fajar menyerahkan kembali ponsel atasannya dan menyampaikan jika nomor tadi menelepon kembali.
"Hari ini?" tanya Miko memastikan.
"Benar, Tuan," sahut Fajar.
"Baiklah. Terimakasih," ucap Miko.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Sepulang kerja, Miko memutuskan untuk segera kembali ke rumah dan bersiap pergi ke kediaman orang tua Sarah. Sebelumnya, dia menelepon Pak Riswan terlebih dahulu dan mengatakan, jika dia akan datang pada sore atau malam harinya.
Di kediaman keluarga Pak Riswan, nampak sang kepala rumah tangga beserta istrinya, Tino dan juga Maya, sang istri, sedang duduk di ruang tengah sambil menunggu kedatangan Miko.
"Harusnya, Bapak dan Ibu langsung tolak saja b*jingan itu. Kenapa juga harus dipikirkan lagi?" keluh Tino yang memang paling menentang hubungan Sarah dan Miko.
"Awalnya, Bapak juga berpikir begitu, mengingat rasa malu yang sempat kita dapat dulu. Tapi, setelah Bapak diskusi sama Ibu, alangkah baiknya kalau kita bicarakan baik-baik beraama bagaimana bagusnya," ucap Pak riswan.
"Iya, No. Kalo diingat betul-betul, Nak Miko itu orang yang baik. Dia tak pernah sekali pun kasar atau menyakiti adikmu. Masalahnya hanya, dia menikahi Sarah saat masih memiliki istri," timpal Bu Riswan.
"Jadi, Bapak dan Ibu mau kasih si br*ngsek itu kesempatan? Apa nggak sayang sama Sarah? Kalau yang dulu terjadi lagi gimana?" sanggah Tino.
__ADS_1
"Kita tunggu saja orangnya, Mas," seru Sarah yang baru saja datang dan berjalan menghampiri keluarganya.
"Sudah datang, Nak?" tanya Bu Riswan.
"Assalamualaikum, baru saja sampai, Bu. Kebetulan lagi rame, jadi aku langsung ikut nimbrung," sapa Sarah sambil menyalami semua yang ada di sana.
Rupanya, Pak Riswan juga memanggil Sarah untuk ikut datang ke kediamannya.
"Kenapa nggak sama yang lain saja sih? Kenapa harus laki-laki itu lagi? Nggak laku sama yang lain apa?" sindir Tino.
Sarah duduk di samping ibunya, sambil menggenggam tangan wanita tua itu.
"Bisa jadi, Mas. Bisa jadi adikmu ini cuma laku sama Miko," sahut Satah enteng.
Bu Riswan langsung mencubit lengan putrinya yang bicara asal. Janda itu hanya menyeringai ketika ditegur oleh sang ibu.
"Bagas mana, Sar? Kenapa nggak ikut?" tanya Pak Riswan.
"Sarah titipkan di rumah Bu Rianti, Pak. Takutnya nanti dia ganggu pembicaraan kita," jawab Sarah.
"Ya sudah. Kita tunggu sana Miko. Sebentar lagi paling dia sampai," seru Pak Riswan.
Sarah pamit terlebih dahulu ke kamarny, hendak berganti pakaian dengan yang lebih santai sambil menunggu mantan suaminya datamg.
Tak berselang lama, Miko pun tiba. Dia langsung dibawa ke ruang tengah, di mana semua orang sudah menunggunya di sana.
Nampak Tino menatap tajam ke arah mantan adik iparnya, yang hendak meminta ijin untuk menikahi Sarah kembali.
Sedangkan Pak Riswan dan Bu Riswan, terlihat biasa saja dan selalu ramah dengan duda itu.
"Jadi, kamu mau menikah lagi dengan Sarah, setelah semua yang sudah kamu lakukan?" tanya Tino.
Miko yang sejak datang sudah melihat keberadaan Tino di sana, tiba-tiba nyalinya ciut hingga peluh bercucuran membasahi kemeja yang dia pakai.
"I … iya, Mas," sahut Miko.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏