
Ayah mertua Sarah nampak geram, dan meletakkan cangkir tehnya dengan kasar ke atas tatakan.
Tampak ibu mertuanya menepuk paha suaminya, agar kembali bersikap tenang.
"Sarah, maafkan kami. Kami memang salah karena sudah merahasiakan pernikahan Miko dengan Lidia dari kamu. Kami pun sudah mencoba menasehati Miko agar tidak bermain api. Tapi, dia bilang kalau dia sangat mencintaimu, dan sudah setahun lebih pernikahannya, namun Lidia tak juga mau mengandung anaknya. Menantu kami itu lebih sibuk dengan urusan pekerjaan ketimbang mengurus suami dan rumah tangganha. Jadi, kami berpikir tidak ada salahnya untuk membiarkan Miko untuk menikah lagi. Kami minta maaf, Sarah. Tolong urungkan lah niatmu itu, Nak," tutur ibunda Miko.
"Aku sudah memaafkan kalian semua. Tapi aku benar-benar lelah. Aku mohon maaf karena keputusanku sudah bulat," ucap Sarah mantap.
"Sudah, Bu. Kita pulang saja. Percuma! dDari awal memang semua ini sudah salah," ajak ayah Miko.
"Dan kamu Sarah, kalau memang kamu benar-benar mau meninggalkan Miko, itu artinya kamu juga harus meninggalkan anakmu pada kami. Karena kami akan merebut hak asuh anak itu dari kamu," ancam ayah mertua Sarah.
Sarah pun seketika membelalakkan matanya. Dia tak percaya jika mertunya bisa sekejam itu kepada dirinya.
"Tidak, Pak. Tolong jangan seperti itu. Aku mohon, Pak. Biarkan aku pergi." Sarah memohon agar mertunya itu tak melakukan ancamannya.
"Pilihan ada di tanganmu, Sarah. Kalau kau mau terus bersama dengan anakmu, maka tetaplah bersama Miko … … Ayo, Bu. Kita pulang," ucap Ayah mertua kepada Sarah lalu kemudian mengajak istrinya untuk pergi.
Keduanya pun meninggalkan sarah dalam kegalauan.
"Bagaimna ini? Kenapa harus seperti ini?" gumam Sarah dalam isaknya.
Dia tak menyangka jika mertuanya akan berbuat seperti itu kepadanya dan juga anak yang sedang berada di dalam kandungannya.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Kini sudah tiga bula berlalu, sejak kedatang mertunya. Kandungan Sarah sudah hampir menginjak sembilan bulan.
Dia pun semakin kesulitan melakukan aktifitas rumah tangga yang selalu ia kerjakan seorang diri. Perlengkapan bayi, perlahan mulai terkumpul dan ia masukkan semuanya ke dalam sebuah tas besar, yang bisa ia bawa sewaktu-waktu saat tiba waktu persalinannya.
Miko masih bolak balik antara rumah Sarah dan Lidia. Di saat Lidia, yang mulai mau menyempatkan diri demi melayani Miko, tapi terus diacuhkan oleh suaminya. Sedangkan Sarah yang sudah mati rasa dengan Miko, terus berusaha menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.
Ancaman mertuanya sungguh membuat hati Sarah galau. Dia masih menimbang antara pergi atau tetap tinggal bersama Miko.
Apa aku bisa hidup jauh dari anakku? Atau, aku memang harus berkorban demi anak ini? batin Sarah di suatu siang.
Dia sedang duduk di dalam kamar, memandang keluar melalui jendela yang terhubung langsung denga halaman samping rumahnya yang ia tananami dengan beberapa bunga yang ada di dalam pot.
Sarah teringat akan sesuatu. Dia pun kemudian meraih buku catatannya yang ia simpan di dalam laci nakas.
Terdapat sebuah daftar kebutuhan yang ia tulis dalam rangka menyambut kelahiran anaknya. Namun, Ada beberapa yang belum sempat ia beli untuk keperluan bayinya nanti, dan dirinya pasca melahirkan.
Dia pun kemudian mengambil ponsel, dan menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Halo, Sar. Ada apa?" tanya orang di seberang.
"Mur, aku mau minta tolong nih. Bisa anterin aku ke pasaraya nggak? Ada yang kelupaan ku beli nih," ucap Sarah kepada sahabatnya.
"Ehm ... butuh buat kapan nih? Aku kebetulan lagi ke luar kota bareng suami dan anak-anak. Baru balik semingguan lagi. Keburu nggak?" Jawab Murni.
"Ehm ... kamu lagi pergi toh. Ya udah nggak usah aja deh. Hehehe ...," sahut Sarah yang merasa tak enak merepoti temannya di sela acara keluarga.
"Nggak papa kok. Tapi ya itu, semingguan baru bisa ku beliin. Gimana?" tawar Murni
"Nggak usah deh, Mur. Aku coba tanya ke Susan. Atau coba tanya Tari kali aja dia punya stok. Bekas juga nggak papa," ucap Sarah.
"Emang mau beli apaan sih?" tanya Murni.
"Bedong bayi sama gjritanya. Aku lupa kalo bentar lagi musim hujan. Aku nggak siapin stok banyak-banyak," jawab Sarah.
"Oh … iya, bener. Coba aja kamu tanya sama si Tari. Kali aja dia masih punya stok banyak," sahut Murni.
"Ya udah. Kalo gitu aku coba tanya Tari dulu ya," kata Sarah yang kemudian menutup sambungan teleponnya.
Tak berselang lama, dia pun kembali melakukan panggilan. Kali ini dia menghubungi sahabatnya yang baru beberapa waktu lalu melahirkan anak ke empatnya.
"Halo, Sar. Ssstttt … sssttt …," Tari terdengar sedang menenangkan bayinya yang menangis.
"Ehm … maaf, Tar. Aku …," ucap Mira terjeda.
"Eh … cuma mau tau kabar kamu aja, kok," ucap Sarah.
Wanita itu merasa tak enak jika harus merepotkan sahabatnya yang jelas-jelas sedang kerepotan mengurus keempat anaknya. Apalagi satu di antaranya masih bayi.
"Oh … aku baik-baik aja. Kenapa? Deg-degan ya bentar lagi mau lahiran?" tanya Tari.
"Ehm … yah gitu deh. Cuma, aku berusaha supaya tetap tenang aja biar nggak sepaneng," sahut Sarah tertawa lirih.
"Harus dong. Ibu hamil, apa lagi yang sudah hampir mendekali HPL, memang harus selalu tenang dan berpikir positif," ujar Tari.
"Ehm … bener banget. Ya udah deh, Tar. Aku masih ada urursan nih." Sarah pun pamit menutup teleponnya.
Tinggal Susan yang belum dia mintai tolong. Tapi sepertinya, wanita karir itu pun sibuk dengan urusannya sendiri.
"Ah … lebih baik, aku beli sendiri saja lah, itung-itung sambil jalan-jalan," gumamnya seraya mengusap-usap perutnya yang sudah sangat besar.
Sarah pun lalu beranjak dari duduknya, dan bersiap untuk ke supermarket. Tak lupa ia memesan taksi online terlebih dahulu sebelum berganti pakaian, agar dia tak terlalu lama menunggu.
__ADS_1
Selang beberapa saat, taksi online pesanannya datang tepat setelah Sarah menutup pintu kamarnya. Wanuta itu pun keluar dan langsung menuju ke supermarket.
Setibanya di sana, wanita hamil itu pun langsung menuju ke toko perlengkapan bayi. Dia membeli beberapa barang yang menurutnya perlu di tambahkan, mengingat musim hujan sebentar lagi akan datang, serta beberapa benda lainnya yang belum sempat ia beli.
Setelah selesai berbelanja, Sarah berencana untuk segera pulang. Namun, saat menuju ke pintu keliar, dia tanpa sengaja berpapasan dengan Lidia, yang kebetulan saat itu sedang berjalan-jalan seorang diri.
Lidia berusaha mengabaikan Sarah, akan tetapi madunya itu tak bisa berpura-pura untuk tak melihatnya. Sarah pun menyapanya dan membuat Lidia berhenti melangkah.
"Mbak," sapa Sarah.
Lidia pun berbalik dan menatap nyalang ke arah Sarah.
"Harusnya kamu juga pura-pura nggak kenal aku. Enek tau nggak harus ketemu kamu di tempat seperti ini," maki Lidia kepada madunya.
"Maaf, Mbak. Tapi, aku nggak bisa mengabaikan Mbak begitu aja. Ehm … mbak buru-buru? Atau mungkin, kita bisa ngopi dulu di sana?" ajak Sarah.
"Heh, wanita murahan! Apa kamu nggak puas udah ambil Miko? Apa sekarang kamu mau ngejek aku karena akan diceraikan oleh Miko, iya? Aku yakin pasti Miko udah bilang ke kamu, kan. Seneng kamu sekarang, hah!" bentak Lidia yang membuat Sarah ciut.
"Mbak, aku sama sekali nggak mau sampai hal itu terjadi. Aku justru berencana mundur, supaya kalian bisa memperbaiki hubungan kalian," ucap Sarah sambil meraih tangan Lidia.
"Jangan sentuh aku!" pekik Lidia.
Wanita itu tampak sangat emosi, karena Sarah berani menyentuhnya. Dia pun menghempaskan tangan madunya dan mendorong Sarah hingga jatuh terduduk di lantai.
"Aaaaahhhh … sa … kit …," pekik Sarah yang merasakan kesakitan di sekitar pinggang dan perutnya.
Lidia acuh. Dia membuang mukanya dan tak mau melihat Sarah yang tengah kesakitan.
"Mbak, tolong … aku …," pinta Sarah yang memegangi perutnya.
Tak ada orang yang mau mendekat, hanya untuk sekedar membantu wanita hamil itu berdiri. Semua orang tak ada yang mau peduli, saat wanita bercap pelakor mendapat kesusahan. Mereka malah cenderung senang jika Sarah menderita.
Lidia masih acuh. Namun, dia sempat meirik sekilas dan betapa terkejutnya ia saat melihat darah mengalir di sela-sela kaki Sarah.
"To … long … aku …,"
.
.
.
.
__ADS_1
Apa yang akan terjadi dengan Sarah dan bayinya?🤧🤧🤧🤧🤧🤧
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏