
Di ruang ganti pengantin, nampak mantan suami istri itu tengah duduk saling berhadapan. Miko terlihat tengah menyimak dengan sungguh-sungguh setiap kata yang keluar dari mulut Sarah, saat menceritakan semua yang telah terjadi antara dirinya dan juga Fadil.
"Jadi, dalam waktu sebulan kalian sudah mencobanya tapi …," ucap Miko.
"Gagal," sela Sarah.
Miko nampak meraih tangan lembut mantan istrinya itu, dan menggenggamnya erat.
"Sar, maafkan aku. Aku tau kesalahanku terlalu besar padamu. Namun percayalah, hanya kamu yang benar-benar ada di dalam hatiku," ucap Miko dengan bersungguh-sungguh.
Sarah menatap lekat manik hitam yang nampak bergetar itu. Meskipun di bibir dia berkata sangat ingin pria itu pergi, namun dalam hatinya justru dia merasa kehilangan saat Miko tak lagi ada di sekitarnya.
Miko melepas satu tangannya, dan mengambil sesuatu dari saku kemeja batiknya. Nampak sebuah kotak beludru berwarna biru keluar dari sana.
"Apa itu?" tanya Sarah.
"Ini hadiah yang waktu itu ingin ku berikan padamu, hanya saja ku tunda sampai sekarang. Bukalah!" sahut Miko.
Pria itu meletakkan kotak kecil itu di atas telapak tangan Sarah, dan meminta jandanya untuk membuka hadiah tersebut.
Sarah mengangkat sebelah alisnya karena sedikit menebak apa isi di dalamnya. Perlahan, ia membuka kotak biru beludru itu dan terlihatlah sebuah benda berkilau di dalamnya.
Sarah nampak membekap mulutnya dengan satu tangan, karena takjub akan keindahan benda tersebut.
"Mas, ini … ini cantik sekali," ucap Sarah.
Dia mengambil benda panjang berantai halus dengan bandul berbentuk matahari yang memiliki mutiara besar di tengahnya.
Miko lalu meraih benda tersebut dari tangan Sarah, dan berdiri.
"Biar kupasangkan," ujar Miko.
Dia kemudian berjalan memutar dan kini berada di belakang Sarah. Dengan lembut, Miko memakaikan kalung itu ke leher jenjang mantan istrinya yang memang terbuka, karena rambutnya disanggul ke atas.
"Cantik," gumam Miko, seraya membelai kalung yang telah menepel dengan kulit mulus Sarah.
Wanita itu mer*mas kain bawahannya karena meremang oleh sentuhan lembut dari jemari Miko di sekitar tengkuknya.
"Sudah?" tanya Sarah agar pria itu segera menyingkir dari sana.
__ADS_1
Dia merasa tak tahan lagi jika harus berlama-lama dalam posisi itu. Namun, bukannya menyingkir, Miko justru mendekap wanita itu dari belakang, dan membuat Sarah seakan berhenti bernapas.
"Mas, kamu …," ronta Sarah.
"Sebentar. Tolong sebentar saja. Biarkan aku beristirahat sejenak di pundakmu. Aku lelah karena beberapa waktu ini selalu memikirkan hal yang menyakitkan tentang kita," pinta Miko.
"Iya, tapi kan kita …," sahut Sarah.
Namun, Miko semakin mengeratkan pelukannya dan membuat Sarah terdiam seketika. Wanita itu hanya mampu tertunduk sembari terus mer*mas kain bawahannya semakin erat.
Miko menyandarkan kepalanya di pundak Sarah, sembari memejamkan mata. Detak jantungnya bisa Sarah rasakan dengan jelas. Awalnya terasa begitu kencang, tapi kini berangsur melamban dan teratur. Begitupun juga dengan napasnya yang tadi sempat memburu, kini perlahan mulai normal.
Sarah pun demikian. Dia awalnya merasa gugup dengan perlakuan Miko yang bisa dibilang terlalu berani. Apa lagi mengingat hubungan mereka yang masihlah berstatus orang asing. Namun perlahan, Sarah pun merasakan ketenangan pada hatinya.
Nyaman. Apa ini rasa nyaman dari orang yang kita cintai? Rasa nyaman yang berbeda saat aku bersama Mas fadil, batin Sarah.
Saat Sarah latut dalam lamunannya, Miko perlahan mengurai peluaknnya dan berjalan kembali ke depan Sarah.
"Apa sudah tenang?" tanya Sarah.
Miko nampak berlutut dengan sebelah kaki yang tertekuk ke atas dan satu lagi di lantai. Dia meraih tangan Sarah yang sedari tadi terlihat mengepal, mer*mas kain yang dipakainya.
Pria itu tertunduk tak berani menatap mata wanita di hadapannya. Sedangkan Sarah, dia terus melihat rambut hitam pria yang dulu pernah mengisi hari-harinya.
Jantungnya kembali berdebar saat Miko berpose seperti hendak melamarnya, seperti kejadian hampir enam tahun yang lalu.
"Mau kah kamu rujuk dengan ku, Sar?" tanya Miko.
Sarah menggigit bibir bawahnya. Lingkar matanya memerah saat kata itu terucap dari bibir mantan suaminya.
"Apa begini cara melamar orang?" ejek Sarah dengan suara yang kembali bergetar.
Miko pun mendongak dan melihat ke dalam mata wanita itu. Lapisan bening muncul di sana dan membuat hati Miko bertambah tak karuan.
"A … aku … aku gugup, Sar. Maafkan aku," ucap Miko.
"Apa ini pertama kalinya? Bukankah ini yang ke tiga kali? Apa kau sedang puber ke dua, Mas? Seperti ABG saja," ledek Sarah sembari tertawa di saat matanya justru berkaca-kaca.
Miko pun ikut tertawa kecil menimpali ledekan Sarah.
"Sar, Kita rujuk yah. Walaupun kamu belum bisa menerima ku sepenuhnya, setidaknya lakukanlah demi Bagas. Anak itu berhak memiliki keluarga yang utuh. Tidak terpisah-pisah seperti ini," ucap Miko.
__ADS_1
Sarah masih tetap diam. Dia memilih untuk memberi pria itu waktu, dan menyelesaikan perkataannya.
"Aku tau semua berawal karena salahku. Khilafku yang menjadikanmu istri ke dua tanpa kamu tau. Memaksamu menyandang status sebagai pelakor di mata masyrakat. Tapi, aku bersumpah cuma kamu yang aku mau utuk ku jadikan istri, Sar. Selama perpisahan kita, tak ada seorang wanita pun yang mampu menggantikan posisimu di hatiku,"
"Aku berjanji akan berubah lebih baik lagi. Aku akan selalu jujur sama kamu, sepahit apapun hal itu. Aku akan berusaha jadi sosok suami yang baik, tidak seperti dulu yang meninggalkanmu saat kamu memberitahu ku tentang kabar kehamilanmu. Aku memang br*ngsek, aku memang b*jingan, tapi si br*ngesek dan b*jingan ini hanya punya satu hati dan itu sudah menjadi hak milikmu. Aku nggak tau akan seperti apa aku kalau kamu sampai dimiliki orang lain, Sar." Miko mengungkapkan semua kegundahan dalam hatinya, yang selama ini ia pendam seorang diri.
Pria itu nampak sampai menitikkan air mata karena terlalu sesaknya rasa rindu yang ia tahan selama ini.
Semua untaian kalimat pengakuan yang diucapkan Miko, membuat Sarah tak kuasa menahan genangan di pelupuk matanya untuk turun mengaliri pipi.
Namun, bukannya menyeka pipinya, Sarah justru mengulurkan tangannya untuk mengusap lelehan bening di wajah tampan itu.
"Pria sejati mana boleh cengeng," ejek Sarah sembari mengusap lembut pipi mantan suaminya yang baru saja melamarnya kembali itu.
"Maaf. Aku pasti sangat memalukan," sahut Miko sambil menyeka hidungnya yang berair.
"Rujuk dengan alasan anak? Bukannya itu terlalu klise ya, Mas?" ucap Sarah.
Dia pun menyeka air mata yang membasahi wajah cantiknya yang sudah dipenuhi make up, hingga riasannya itu terlihat sedikit berantakan.
Miko menciut saat mendengar perkataan Sarah barusan.
"Jadi, apa kamu menolak?" tanya Miko berusaha memberanikan diri untuk bertanya.
Sarah kembali menatap tajam ke arah pria itu.
"Kalau kamu memang bersungguh-sungguh ingin rujuk dengan ku, aku mengajukan satu syarat untuk kau penuhi terlebih dulu," ucap Sarah.
.
.
.
.
Hayo tebak, apa syaratnya😁Intan berlian? Rumah mewah? Kapal pesiar? atau apa ya????
tunggu next eps😘
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏
__ADS_1