
Malam pun datang, Sarah dan Bagas memutuskan untuk pulang setelah cukup lama bermain. Sarah mengemudikan mobilnya sendiri, sedangkan Bagas merengek untuk ikut pulang dengan menumpang mobil ayahnya, Miko.
Sarah hanya bisa memutar bola matanya melihat sikap manja Bagas, setia kali dia sedang bersama dengan Miko.
Setelah kejadian di mall sebelumnya, Sarah masih terlihat kesal dengan mantan suaminya itu. Miko yang selalu saja berpikir egois, membuat Sarah muak.
Sesampainya di rumah, Miko dan Bagas tiba terlebih dahulu. Mereka berjalan bergandengan tangan dan duduk di bangku teras depan.
"Ayah, malam ini nginep di sini yah. Temenin Bagas bobo," pinta Bagas.
"Ehm … Bagas, Ibu kan belum bolehin Ayah bobo di sini. Coba Bagas bujuk Ibu dulu. Siapa tau kalau Bagas yang bilang, Ibu bakal bolehin," seru Miko.
"Yah … Bagas udah sering bilang ke Ibu, tapi katanya kalau Ayah sama ibu nggak boleh tinggal satu rumah lagi," jawab Bagas murung.
Tepat saat itu, mobil Sarah nampak memasuki pekarangan depan rumahnya. Miko memperhatikan mantan istrinya yang semakin hari semakin terlihat menawan dengan sikap tegasnya itu.
Hah … ternyata mendapatkan hatimu sekarang tidak semudah yang dulu. Apa aku juga harus menggunakan Bagas untuk memikatmu kembali, seperti si dokter brengsek itu? batin Miko.
"Ayah … bobo di sini, temenin Bagas," rengek Bagas lagi.
Tepat saat itu, Sarah tengah melangkah ke arah teras di mana ayah dan itu berada. Sarah pun bisa mendengar dengan jelas rengekan putranya dari posisi saat ini. Namun, dia berusaha berpura-pura tak mendengarnya karena tak ingin membuka kesempatan Bagas untuk berbalik merengek padanya.
"Ehm … Bagas, nanti aja ya. Ayah belum bisa nginep di sini," sahut Miko yang berpura-pura membujuk Bagas, padahal dalam hati, dia sangat ingin anak laki-lakinya itu merengek pada Sarah dan membuat mantan istrinya itu mau mengalah dan mengijinkannya untuk tetap tinggal.
Namun, melihat sikap Sarah yang tetap acuh, bahkan berjalan melewati mereka begitu saja dan masuk ke dalam rumah, membuat nyali Miko seketika menciut.
Dia pun mengurungkan niatnya malam itu, dan memilih menundanya di lain waktu.
Bagas masih saja merengek kepada Miko. Akhirnya, dia pun menjanjikan putranya itu untuk kapan-kapan bisa gantian menginap di rumahnya.
Pria kecil itu pun sangat senang, dan melupakan permintaannya tadi.
Tak lama berselang, Sarah kembali keluar karena sang putra tak kunjung masuk ke dalam. Sarah hanya memakai pakaian rumahan, sebuah dress terusan bertali bahu kecil dengan inner kaus putih polos over size berlengan sesiku, serta rambut yang dicepol ke atas memperlihatkan leher jenjang Sarah yang putih dan mulus.
Miko nampak terpesona melihat penampilan Sarah yang begitu sederhana, namun mampu menggugah jiwa kelelakiannya.
Entah setan dari mana yang membuatnya berfantasi, dan mengingat kembali masa di mana wanita itu masih menjadi istrinya, dan saat mereka memadu kasih dengan tubuh polos Sarah yang berada di bawahnya, menggeliat dengan tatapan sayu dan pasrah sepenuhnya.
Miko sampai susah menelan salivanya, saat pikiran liar itu mulai berkelebat di otaknya.
Namun, sang mantan istri terus saja acuh dan tak peduli dengan tatapan Miko, yang seolah mengulitinya.
__ADS_1
"Bagas, sudah malam. Kamu nggak mau masuk dan ganti baju, Nak?" tanya Sarah yang masih berdiri sembari bersandar di kusen pintu.
"Hem … ehem … Bagas, sudah malam. Ayah pamit pulang dulu yah. Anak Ayah yang nurut sama Ibu," seru Miko yang mencoba menghilangkan rasa gugupnya, terlebih rasa sesak yang semakin menghimpit pangkal pahanya.
"Ehm … tapi janji yah, nanti Bagas boleh nginep di rumah Ayah," rengek Bagas lagi sambil menggoyang-goyangkan tangan sang ayah, yang masih digenggamnya.
"Iya, Nak. Tapi ijin dulu sama Ibu yah," seru Miko.
Bagas pun menoleh dan menatap Sarah dengan pandangan memohon.
"Ibuuuuu … boleh kan?" tanya Bagas sambil memasang wajah memelas.
"Iya, boleh. Tapi, sekarang masuk yah. Sudah malam," seru Sarah.
"Hore! Hore! Bagas mau nginep di rumah Ayah!" sorak Bagas kegirangan.
Pria kecil itu pun mencium punggung tangan Miko dan pamit masuk ke dalam.
"Bagas masuk dulu ya, Yah," ucap Bagas.
"Iya. Yang nurut sama Ibu yah," sahut Miko sembari mengusap lembut puncak kepala putranya.
Bagas pun masuk dan diikuti Sarah yang masih saja ketus dan mengabaikan keberadaannya.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Awal pekan tiba, Sarah kembali mengantar Bagas ke playgroup sebelum pergi ke kantor. Saat itu, kebetulan Fadil pun baru saja sampai, hendak mengantarkan putrinya masuk ke dalam area pendidikan dasar dan usia dini itu.
Playgroup dan juga Sekolah Dasar tempat Bagas dan Bela dititipkan, masih lah satu yayasan dan berada di dalam satu pagar.
sehingga, kedua anak itu selalu saja dekat meski tingkat pendidikan mereka sudah berbeda.
"Assalamualiakum, Sar. Hai, jagoannya Oom," sapa Fadil saat menghampiri ibu dan anak itu.
"Waalaikumsalam. Baru dateng, Mas?" sahut Sarah.
Fadil terlihat tengah melakukan tos tonjok, di mana dia dan Bagas mengepalkan tangannya masing-masing dan menempelkannya satu sama lain dengan sedikit dorongan.
"Iya, kebetulan aku masuk pagi. Semalam juga, Bela tidur di tempatku karena neneknya belum bisa pulang. Jadi, yah … begini lah. Ribet juga ya ternyata pagi-pagi harus nyiapin semua keperluan anak-anak. Hehehe …," tutur Fadil.
Penampilan dokter itu terlihat tak begitu rapi. Kemejanya bahkan tak nampak licin. Rambutnya yang biasa tersisir rapi, kini terlihat hanya disisir jari dan begitu acak-acakkan.
Sarah pun menahan tawanya melihat hal tersebut.
"Mas, kayaknya kamu beneran butuh istri deh. Lihat nih … nih … nih … nih …, nggak ada yang rapi tau nggak. Hahaha …," kelakar Sarah sambil menunjuk ke beberapa bagian dari Fadil yang terlihat berantakan.
__ADS_1
Fadil hanya nyengir kuda, sambil memamerkan deretan gigi putihnya yang terlihat rapih, dengan menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal.
Sarah berjongkok di depan Bela. Dia kemudian mengusap surai hitam gadis kecil itu lalu kemudian mendongak ke atas menatap ke arah Fadil.
"Kamu lihat? Kunciran Bela juga nggak simetris. Masa tinggi sebelah gini sih. Hemp …," ucap Sarah sambil menahan tawanya, karena tak enak dengan Bela yang sudah pasti akan merajuk.
Wanita itu pun kemudian menuntun Bela untuk duduk di sebuah bangku taman, yang berada tak jauh dari tempat mereka berada saat itu.
Sarah mengambil sebuah sisir dari dalam tasnya, dan melepas kunciran ala Fadil yang sangat tidak terlihat bagus sama sekali.
Dia pun mulai menyisir rambut panjang Bela yang begitu halus, karena sang nenek, Rianti, selalu merawatnya dengan baik. Sarah terus menyisir rambut gadis kecil itu, dan membaginya menjadi dua.
Sarah mengambil sebagian rambut yang berada di bagian atas, dan mulai menguncirnya. Begitu pun bagian lainnya, lalu sebagian lagi yang berada di bawah, dibiarkan tergerai.
...(abaikan wajah bulenya😅)...
"Nah, sudah cantik deh sayangnya Ibu," seru Sarah sambil menepuk kecil pundak Bela.
Gadis itu pun meraba kepalanya dan tersenyum, seolah bisa melihat hasil karya Sarah yang membuat dirinya nampak cantik.
"Wah … Kak Bela jadi cantik," puji Bagas yang terus memperhatikan saat ibunya mendandani Bela sedari tadi.
"Makasih, Bu," ucap Bela.
"Sama-sama, Sayang," sahut Sarah.
Fadil memandang interaksi putrinya dan juga Sarah, dengan begitu terharu. Dia kembali berharap, jika Sarah mau menerima perasaannya, dan bisa menjadi ibu untuk Bela. Meski dia sadar hal itu akan sulit, terlebih saat ini sudah ada Miko.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏
Sambil nunggu, yuk mampir juga ke novel salah satu temen ku😁ceritanya bagus lho🤩
Jangan lupa favoritkan ya😘
__ADS_1