
Tino nampak sangat tidak bersahabat dengan Miko. Tatapan terus saja memburu mata hitam duda satu anak itu.
Namun, tekad Miko yang sudah bulat untuk mempersunting Sarah kembali, membuatnya tak gentar menghadapi intimidasi dari mantan dan calon kakak iparnya tersebut.
meski dalam hati, dia sangat gugup dan hal itu bisa dilihat dari keringat yang terus saja mengucur dari seluruh kelenjar keringat di tubuhnya.
“Apa alasan kamu rujuk dengan Sarah, setelah semua luka yang kamu berikan kepada adikku?” Tanya Tino memulai sidang perkara permohonan rujuk Miko dengan Sarah, di ruang tengah rumah Pak Riswan.
“Alasan saya yang jelas, satu, karena saya masih sangat mencintai Sarah. Bahkan dari dulu, rasa itu tak pernah hilang sama sekali,” ucap Miko.
Tino nampak tersenyum mengejek dengan jawaban yang diberikan oleh Miko. Dia merasa jika alasan semacam itu, hanyalah omong kosong belaka, tak ubahnya dengan nafsu semata.
“Yang kedua, putra Kami berhak bahagia dengan kedua orang tua yang lengkap, keluarga yang utuh, seperti putri Mas Tino dan Mba Maya yang pasti bahagia, karena bisa hidup di tengah keluarga yang harmonis seperti ini. Dan yang terakhir, saya ingin mengganti semua kenangan pahit Sarah dan juga luka yang telah saya berikan dulu, dengan kebahagiaan dan curahan kasih sayang, hingga dia lupa jika masa itu pernah ada,” lanjut Miko.
Pak Riswan dan Bu Riswan nampak manggut-manggut mendengar pemaparan Miko, perihal alasannya mengajak rujuk putri mereka.
“Semua alasanmu basi. Semuanya cuma kata-kata buaya. Aawww ...,” ejek Tino.
Pria itu mendapat cubitan di lengan oleh istrinya, Maya. Wanita itu merasa tak enak dengan sikap keras kepala suaminya, yang terus menyudutkan Miko. Ditambah, kedua orang tuanya yang sedari tadi terus geleng-geleng, setiap kali Tino menyanggah kata-kata Miko.
“Apa sih, May?” keluh Tino sambil mengusap lengannya yang terasa sakit.
Maya tak menjawab. Dia hanya menunjuk ke arah kedua mertunya itu dengan skor matanya.
Tino pun menyadari sikap kedua orang tuanya yang tak suka dengan caranya menghadapi Miko.
“Ehem... Baiklah. Kalau memang begitu alasamu, aku ada beberapa permintaan yang harus kamu penuhi,” ucap Tino menatap lurus ke arah manik hitam Miko.
Miko pun tak kalah tajamnya melihat ke arah pria keras kepala itu.
“Apa itu, Mas?” tanya Miko tak gentar.
“Yang pertama, buktikan pada kami bahwa kamu tidak sedang menjadi suami wanita manapun. Kami tidak mau kecolongan lagi tentang identitas mu seperti sebelumnya.”
“Yang kedua, gelar acara pernikahan nanti, baik ijab maupun resepsi, secara besar-besaran. Jangan pikir ini karena kami ingin pesta mewah, tapi mengambil pelajaran dari masa lalu, di mana kamu sengaja menggelar acara yang sangat sederhana, dengan hanya beberapa orang tamu saja, untuk menutupi semua kebohonganmu.”
“Yang ketiga, Kamu dan Sarah, juga Bagas harus tinggal di rumah ini, bersama dengan Bapak dan Ibu selama satu tahun, terhitung dari mulai kalian menikah. Ini dilakukan agar adik dan juga keponakanku, memiliki perlindungan penuh, jika saja kamu berbuat ulah lagi.”
__ADS_1
“Apa bila di tengah jalan, aku sampai menemukan sebuah kejanggalan atau kamu berbuat kesalahan, aku tak akan segan-segan untuk memberimu pelajaran, dan jangan harap kamu bisa tetap bersama dengan Sarah.”
“Jika kamu bisa memenuhi ketiganya, aku tidak akan bilang apa-apa lagi. Apa kau sanggup?” papar Tino panjang lebar.
Miko terlihat begitu tenang. Dia pamit kepada semuanya untuk keluar sebentar.
Tino nampak mencibirnya, dan mengatakan jika Miko ketakutan dan merasa keberatan dengan semua syarat yang diajukannya barusan.
“Paling juga dia mau kabur gara-gara nggak sanggup sama syarat ku tadi,” Ejek Tino.
Pak Riswan, Bu Riswan, dan juga Maya, nampak menghela napas panjang mendengar penuturan Tino. Mereka pun khawatir, jika memang Miko ternyata merasa keberatan dengan semua syarat tersebut.
Di balik dinding pemisah antara ruang tengah dan dapur, Sarah tengah berdiri sembari mendengarkan semua percakapan anggota keluarganya dengan Miko.
Dia pun turut cemas, jika pria itu menyerah setelah menghadapi kakaknya yang keras kepala.
Namun, semuanya kembali bernapas lega, saat melihat Miko berjalan kembali masuki tempat di mana semua orang berada. Pria itu nampak duduk di tempatnya semula.
Miko terlihat membawa sebuah paper bag yang berisi dokumen-dokumen yang ia kumpulkan, dengan bantuan Dodi, perihal statusnya baik di Kantor Catatan Sipil, maupun Pengadilan Negeri Agama Semarang.
“Silakan Mas Tino, tolong Terima jawaban saya atas syarat pertama,” ucap Miko.
Di belakang sana, Sarah nampak tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca, mengetahui keseriuasan Miko dalam mendapatkannya kembali.
Tino bahkan terpaku melihat dokumen yang sudah disiapkan dengan baik oleh Miko, bahkan sebelum dia memintanya.
Pria temperamen itu pun mengambilnya, dan membukanya satu persatu. Dibacanya dengan teliti semua berkas tersebut hingga tak satu pun yang terlewat.
Sebagai salah satu karyawan bank swasta ternama, Tino pun biasa mengurus berkas-berkas pribadi para nasabah, sehingga dia tahu berkas yang falid dan tidak, begitu pun cara mengkonfirmasi nya.
Dia nampak membawa semua berkas tersebut, dan menghubungi sebuah nomor yang tersimpan di kontak ponselnya.
“Assalamualaikum, Bas, bisa tolong periksa keaslian berkas dengan nomor.....,” ucap Tino sambil berjalan menuju ke teras samping meninggalkan semua orang.
Semuanya nampak kagum dengan sosok Miko yang begitu sigap, dan berinisiatif perihal masalah ini.
“Nak Miko, jangan tersinggung dengan sikap Tino yah. Dia hanya ingin yang terbaik untuk adiknya,” ucap Bu Riswan, mencoba memberikan pengertian kepada pria itu.
__ADS_1
“Saya paham dengan maksud Mas Tino, Bu. Oleh karena itu, saya pun ingin memberikan yang terbaik untuk Sarah, agar semuanya yakin untuk menyerahkan Sarah kembali kepada saya,” sahut Miko.
Sarah masih belum mau menampakkan dirinya. Dia masih terlalu gugup untuk ikut masuk ke dalam pembicaraan yang seserius itu, apa lagi ini menyangkut dirinya.
Dia memilih untuk memberikan Miko waktu, untuk bisa meyakinkan semuaorang, tanpa tahu jika dirinya ada di sana.
Sebaiknya, aku di sini dulu. Kalau aku tiba-tiba nongol di tengah pembicaraan, mas Miko bisa-bisa jadi gugup dan nggak se pe de ini, batin Sarah.
Tak berselang lama, Tino kembali menghampiri semua orang yang sedang menunggunya.
“Bagaimana, No?” tanya Pak Riswan.
Semuanya menunggu jawaban Tino, begitu pun Sarah yang harap-harap cemas. Meski dia yakin jika Miko tak mungkin memalsukan identitasnya.
Tino duduk di tempatnya, dan meletakkan semua berkas yang dibawa oleh Miko di atas meja.
Dia menyandarkan punggungnya ke belakang dan menghela napas panjang.
“Kapan orang tuamu ke mari untuk melamar Sarah lagi?” tanya Tino.
Semua orang ternganga. Mereka tak percaya jika Tino akan berkata demikian.
“No, bagaimana dengan berkas-berkas itu?” tanya Pak Riswan lagi.
“Semuanya asli dan bisa dipertanggung jawabkan. Nomer dan isinya sama persis dengan salinan yang ada di kantor catatan sipil dan pengadilan agama,” jawab Tino.
“Alhamdulillah,” ucap syukur dari semua yang ada di sana, mendengar jawaban dari Tino.
.
.
.
.
Siap-siap nunggu undangan dari Miko dan Sarah ya guys, yg mau dibuatin undangan, mana komennya😁
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏