
Hari ulang tahun Bela pun tiba. Sarah dan juga Bagas tengah bersiap-siap untuk menghadiri pesta perayaan hari jadi gadis kecil itu.
Sarah memilih mengenakan dress terusan dengan panjang di bawah lutut, dan berlengan sesiku. Terdapat renda di ujung lengan dan lehernya. Baju berbahan lace dengan paduan warna merah dan hitam itu memiliki aksen ikat pinggang, yang membuat kesan ramping orang yang memakainya.
Sedangakn Bagas, pria kecil itu memilih mengenakan kemeja casual berwarna senada dengan baju sang bunda, yang dipadukan dengan celana jeans berwarna gelap, dan sepatu sneakers yang membuatnya tampil menawan.
"Bagas, Nak!" panggil Sarah.
Bagas pun keluar dari kamarnya dan berjalan menghampiri sang bunda.
"Sudah siap kan?" tanya Sarah.
"Ehm …," sahut Bagas mengangguk.
Mereka berdua pun segera berangkat menuju ke tempat acara, yang kebetulan bertempat di rumah Rianti.
Jarak antara rumah mereka dan rumah mertua Fadil itu cukup jauh. Butuh waktu hampir satu jam untuk sampai ke sana.
Setibanya di tempat tujuan, Bela yang sudah menunggu kedatangan mereka berdua pun seketika berlari menghampiri Bagas dan Sarah yang baru saja terlihat memasuki pintu.
"Ibuuuuu … Bagaaaaaas …," panggil Bela.
"Eh … anak cantik jangan lari-lari, nanti jatuh," seru Sarah kepada gadis kecil yang memeluknya itu.
"Bela udah nungguin Ibu sama Bagas dari tadi," ucap Bela.
"Maaf yah, Ibu kelamaan datengnya," ujar Sarah.
"Ayo, Bu. Bagas, kita masuk," ajak Bela kepada dua orang itu, dengan menarik tangan Bagas agar segera mengikutinya.
Sarah melihat kedua anak kecil itu dengan tersenyum senang.
"Akur sekali yah mereka," tegur Rianti yang ternyata sudah ada di samping Sarah.
"Eh, Ibu," sapa Sarah.
Wanita itu pun menyalami Rianti sebagai bentuk penghormatan kepada yang lebih tua.
"Ayo kita ke tempat acara. Semua sudah nungguin lho," ucap Rianti.
"Duh, aku jadi nggak enak, Bu. Harusnya dimulai aja, nggak usah nungguin kami segala," ujar Sarah merasa tak enak.
"Nggak papa kok, Sar. Lagian, Belanya juga bersikeras buat nungguin kalian. Jadi ya, kami cuma bisa nurutin dia aja. Yuk ke sana," ajak Rianti.
Sarah pun mengangguk dengan tersenyum. Mereka berdua berjalan menujuk ke taman belakang di mamn pesta ulang tahun akan dilangsungkan.
__ADS_1
Sudah ada teman-teman sekolah Bela dan orang tua mereka, Fadil yang berdiri di sebelah kanan Bela, dan Bagas di samping kirinya.
Rianti mengajak Sarah untuk bergabung dan memintanya untuk berdiri di samping kiri bersama dengan Bagas.
Lagu selamat ulang tahun mulai dinyanyikan, di susul dengan lagu tiup lilinnya. Seusai lagu-lagu itu dinyanyikan, Bela pun meniup semua lilin kecil yang berada di atas kue tart yang ada di depannya.
Semuanya bertepuk tangan, saat semua lili telah padam. Bela mulai memotong kue, didampingi oleh Sarah yang sigap membantu gadis kecil itu.
Potongan pertama, Bela berikan untuk papahnya, Fadil. Potongan kedua, dia berikan kepada Sarah.
"Ini buat ibu?" tanga Sarah.
"Ehm …," angguk Bela.
Sarah merasa tak enak karena Rianti justru tak mendapat kue ke dua. Dia menatap wanita tua itu, namun Rianti justru ternyum hangat ke arahnya.
"Ini buat Nenek," ucap ela memberikan potongan ke tiga.
Dan keempat diberikan untuk Bagas.
"Makasih, Kak," ucap Bagas.
Seorang juru foto, mengabadikan semua momen yang terjadi. Nampak mereka semua terlihat bak sebuah keluarga yang lengkap dan bahagia.
Semua tamu pun kemudian diarahkan untuk menikmati hidangan yang sudah disediakan oleh tuan rumah.
Sarah memilih duduk di sebuah bangku taman, sambil melihat keramain itu dari kejauhan.
Acara demi acara telah selelsai. Pukul sepuluh malam, semuanya sudah pulang dan tinggal Bagas dan Sarah yang masih berada di rumah Rianti.
Mereka tengah berkumpul di ruang tengah, sambil melihat Bela dan Bagas yang begitu antusias membuka satu persatu kado yang diberikan oleh semua undangan.
"Bagas, kamu ulang tahunnya bulan depan kan?" tanya Bela.
"Ehm …," angguk Bagas.
"Wah … ibu hampir lupa. Berarti, udah harus nyiapin hadiah buat Bagas nih. Bagas mau hadiah apa buat ulang tahun nanti?" tanya Sarah.
"Ehm … beneran Ibu mau kasih yang Bagas mau?" ucap Bagas ragu.
"Kenapa nggak? Emang apa yang Bagas mau?" tanya Sarah lagi.
"Ayah. Bagas mau Ayah datang," ucap Bagas.
Semua yang ada di sana diam mendengar jawaban dari Bagas, kecuali Bela yang sedang fokus pada tumpukan kado miliknya.
"Ehm … Bagas kan tau, kalau Ayah Bagas lagi ada di …," sahut Sarah.
"Ibu bohong! Bagas tau kalau Ayah sudah datang kan! Tapi Ibu nggak mau bilang itu ke Bagas," ungkap Bagas.
__ADS_1
Sarah, Fadil, dan Rianti seketika membola. Mereka tak percaya jika Bagas tau semua itu.
"Nak, siapa yang bilang itu ke kamu. Kamu pasti salah. Ayah masih ada di …," ucap Sarah mencoba meyakinkan putranya.
"Bagas denger sendiri Ibu dan Nenek bicara kemarin. Bagas juga tau kalau Ibu nangis tapi nggak mau ngaku ke Bagas," tutur Bagas.
Pria kecil itu nampak tertunduk sedih. Dia merasa kecewa karena Ibunya terus berkilah tentang keberandaan ayahnya.
Semua tertegun. Tak ada yang berani menjawab perkataan pria kecil itu.
Sarah tak menyangka jika putranya akan tahu secepat ini.
Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? batin Sarah.
Wanita itu pun tertunduk, dan menutup rapat wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Melihat kedua ibu dan anak itu diam, Fadil pun mengambil sikap. Dia mencoba mendekati Bagas, dan membawanya pergi menjauh sebentar dari Sarah, yang juga terlihat perlu waktu untuk menjawab semua permintaan sang putra.
"Bagas, ikut Oom dokter dulu yuk. Kita bicara berdua sebagai sesama laki-laki mau?" ajak Fadil.
Bagas menoleh, dan dia melihat ke arah ibunya yang masih diam sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Ehm …," angguk Bagas lemas.
Kedua pria beda usia itu pun berjalan menuju lantai atas, di mana ada sebuah ruangan yang biasa dipakai Bela dan Bagas bermain.
Rianti yang kebetulan duduk di samping Sarah, meraih pundak wanita itu dan mengusapnya perlahan.
"Tenanglah, Sar. Ibu tau ini berat buat kamu. Tapi seperti yang pernah Ibu katakan tempo hari, cepat atau lambat mereka berdua pasti akan tau," ucap Rianti.
Sarah mengangkat wajahnya dan menatap wanita tua itu.
"Aku tau, Bu. Tapi …," sanggah Sarah.
"Ibu paham ketakutanmu. Tapi, kamu juga harus memberi laki-laki itu kesempatan untuk tau. Siapa tau jika kamu menjelaskan sendiri semua ini, dia justru akan memahami semua alasamu, dan mau bersama merawat Bagas. Bukankah itu ebih baik" sela Rianti.
"Hah … entahlah, Bu. Aku masih bingung. Aku masih takut kalau dia akan memisahkan ku dengan Bagas," ucap Sarah yang kembali menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Rianti masih mencoba menenangkan Sarah, meski wanita itu kembali diam dan larut salam pikirannya sendiri.
.
.
.
.
Masih galau ya, guys😊nggak semudah itu ngasih tau kebohongan yang ditutupi bertahun2 begitu aja. so, nikmati aja kegalauan Sarah ya😁
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏