
Di kantor, Minati masih saja diam kepada Sarah. Entah ada apa dengan menejer personalia itu.
Meskipun Sarah sering kesal dengan rasa penasaran rekannya yang sangat besar, hingga terus mengganggunya hanya untuk mengetahui persoalan pribadinya dengan Miko, akan tetapi dalam hatinya, Sarah merasa rindu dengan sikap usil rekannya itu.
Saat itu, Sarah tengah duduk di belakang mejanya, dengan beberapa laporan dari tim humas yang harus ia pelajari untuk rapat rutin berikutnya.
Tiba-tiba saja, seseorang mengetuk mejanya dan membuat wanita itu mendongak ke atas.
"Min?" gumam Sarah.
"Besok akan ada staff untuk divisi humas yang baru saja dipindahkan ke mari dari cabang Blora. Ini berkasnya, kamu bisa lihat kualifikasinya di sana," ucap Minati datar.
"Makasih, Min," sahut Sarah yang antara sadar dan tidak.
Saat Minati sudah berbalik dan berjalan menjauh, dia baru sadar jika yang berdiri di hadapannya tadi adalah rekan kerjanya, yang beberapa waktu ini sudah tak pernah mengganggunya lagi.
Dia baru saja hendak memanggilnya, namun dari kejauhan, bayangan Miko yang lewat di ujung lorong membuatnya kembali memasang wajah dingin.
Rasa kesalnya karena ucapan Miko tempo hari, masih saja terngiang di telinganya. Sarah kembali melihat ke atas meja kerjanya, dan membuka berkas yang tadi di terima dari Minati.
"Jeni Maheswari? Ehm … dia pernah kerja di Kamaya Finance cabang Semarang? Sepertinya aku tau tempat itu," gumam Sarah.
Sarah kemudian melihat pas foto sang karyawan pindahan itu, dan seketika matanya membulat. Tangannya tiba-tiba saja lemas hingga berkas itu terjatuh ke atas meja tanpa ia sadari.
"Dia kan …," gumam Sarah.
Jemarinya terlihat gemetaran. Dia mencoba mengendalikan dirinya dengan mengepalkan tangannya, agar jemarinya yang gemetar bisa ia kendalikan.
Wajah ini. Aku masih ingat dengan jelas siapa dia. Rasa maluku di masa lalu, semua itu karena dirinya, batin Sarah.
Antara marah dan takut, Sarah merasakan jika masa lalunya akan segera terungkap di tempat barunya itu, setelah kedatangan wanita bernama Jeni di lingkungan tempat kerjanya.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Sore harinya, Sarah seperti biasa menjemput Bagas di playgroup. Dia terlihat tidak fokus sampai lupa jika putranya belum masuk ke dalam mobil.
Biasanya, Sarah selalu menuntun putranya sampai ke samping mobil dan membukakan pintu untuk Bagas, lalu memasangkan sabuk pengaman untuk putranya itu.
Bagas sampai mengikuti Sarah dan menarik-narik ujung blezer ibunya.
Sarah pun segera tersadar dan menoleh kebelakang. Nampak putranya mendongak menatap dirinya dengan tatapan bingung.
__ADS_1
"Kenapa, Nak?" tanya Sarah yang masih belum sadar betul akan kondisinya.
"Ibu nggak mau bukain pintu buat Bagas?" tanya Bagas.
Sarah pun seketika menoleh ke arah pintu seberang, dan menepuk keningnya.
"Maaf ya, Nak. Ibu lupa," ucap Sarah tersenyum kikuk.
Dia pun menuntun sang putra ke tempat duduknya, dan memasangkan sabuk pengaman untuk Bagas.
Rencana kepindahan perempuan bernama Jeni itu, sungguh menganggu pikiran Sarah. Dia takut jika hidup barunya yang sudah susah payah ia bangun, akan kembali hancur dengan kehadiran wanita kejam itu.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Keesokan harinya, Sarah memantapkan hatinya untuk bersiap menyambut kedatangan karyawan baru, yang dipindahkan dari cabang Blora ke cabang Surabaya.
Berkali-kali dia mengambil nafas dan menghembuskannya kembali.
"Aku harus bisa bersikap tenang di depannya. Aku harus tunjukkan kalau di sini aku pimpinannya," gumam Sarah pada dirinya sendiri.
Dia melajukan mobilnya menuju ke kantor seperti biasa, setelah mengantarkan sang putra terlebih dulu ke playgroup, tempat di mana Sarah selalu menitipkannya.
Saat dia sampai di lantai dua, tepat di depan tangga, dia bepapasan dengan Minati dan juga seorang perempuan yang berjalan sedikit di belakangnya.
"Kebetulan sekali. Perkenalkan, ini Bu Sarah. Menejer bagian humas kita yang akan menjadi atasan anda," ucap Minati kepada wanita itu.
Sarah mencoba melihat wajahnya, dan matanya membola saat mendapati jika perempuan bernama Jeni itu sudah berdiri di hadapannya dengan tersenyum begitu ramah.
"Selamat pagi, Bu. Saya Jeni Maheswari. Karyawan yang baru dipindahkan dari cabang Blora ke mari. Saya akan bergabung di tim Humas, di mana Ibu yang menjadi pemimpinnya. Mohon bantuannya untuk kedepan," sapa Jeni memperkenalkan diri.
Melihat sikap Jeni yang biasa, membuat Sarah meyakinkan dirinya jika semua akan baik-baik saja.
Mungkin dia sudah lupa. Syukurlah, batin Sarah.
Dia pun membalas jabatan tangan Jeni dan tersenyum ramah ke arah karyawan pindahan itu.
"Kami tunggu kontribusi terbaik anda untuk cabag Surabaya ini. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik," sahut Sarah.
Minati jelas menangkap kegugupan yang sempat terlihat di wajah Sarah sebelumnya, meskipun wanita itu kembali memasang wajah biasa saja. Namun, si biang gosip itu seolah tahu semuanya tentang gerak gerik rekannya tersebut.
Setelah menyapa Sarah, Minati kembali mengajak Jeni berkeliling dan memperkenalkannya kepada karyawan yang lain.
__ADS_1
Sarah pun berjalan kembali ke mejanya, dan memulai mengerjakan tugas sesuai yang tercatat di agenda.
Hari ini, adalah rapat rutin bulanan tim humas, di mana diagendakan jika Miko juga akan turut hadir di sana.
Sarah menyiapkan semua yang akan di bahas di dalam agenda rapat kali ini, sesuai temuan di lapangan yang telah dilaporkan setiap harinya oleh anggota tim humas yang bertugas.
Wanita itu pun berhajan menuju lantai tiga, di mana ruang rapat berada. Di sana, Sarah melihat Jeni yang tengah berbincang santai dengan anggota humas lainnya.
Karyawan pindahan itu nampak cepat sekali membaur dan akrab, mengingat keahliannya di bidang public relationship, yang memang mengharuskannya memliliki pembawaan yang menyenangkan ketika berbicara dengan orang lain.
"Pagi, Bu!"
"Pagi, Bu!"
"Pagi, Bu!"
Sapaan dari para peserta rapat mengiringi kedatangn Sarah di tempat tersebut, dan membuat fokus sebagian orang tertuju padanya, begitu pun juga Jeni yang menoleh dan membetulkan duduknya menghadap ke depan.
Sarah duduk di barisan paling depan, bergabung dengan semua tim humas yang hadir. Meskipun sebenarnya, tim sudah menyiapkan kursi untuknya yang berjejer dengan kursi kepala cabang. Namun, Sarah lebih memilih untuk duduk di tempat lain.
Sesaat kemudian, Fajar nampak membuka pintu dan mempersilakan seseorang masuk. Miko pun muncul dari balik pintu dan membuat atensi para peserta pun tertuju pada sosok pemimpin itu.
Jeni yang turut berada di sana pun, ikut melihat ke arah kedatangan Miko, dengan ekspresi terkejut akan keberadaan mantan suami temannya di sana.
"Itu kan Miko. Dia sekarang jadi kepala cabang di sini?" gumam Jeni.
Dari kejauhan, nampak Fajar berjalan menuju ke arah Sarah, dan berbicara sesuatu kepada wanita itu. Sang sekretaris nampak menunjuk ke kursi yang sudah disiapkan sebelumnya, seolah tengah meminta wanita itu untuk pindah tempat duduk.
Karena berada di depan karyawan lain, Sarah pun memilih untuk menurut dan berjalan mengikuit arahan Fajar, meski sebenarnya dia malas untuk dekat-dekat dengan mantan suaminya itu. Dia pun duduk di samping Miko, dan hal itu sedari tadi mengundang tanya di benak Jeni.
"Wanita itu, aku sepertinya pernah melihat dia … tunggu dulu, dia kan?" gumam Jeni.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏
__ADS_1