
Kabar kehamilan Sarah benar-benar membuat Miko senang bukan main. Dia merasa bahagia karena akhirnya, dia bisa menebus waktunya yang dulu hilang, akibat ulahnya yang justru menjauh dari Sarah.
Wanita itu tak mengalami mual muntah, namun badannya terus merasa meriang dan pucat.
Miko sangat khawatir, meski pun dokter sudah memberikan pengertian kepadanya, jika hal itu sangat wajar dialami oleh ibu yang sedang hamil, terutama di trimester pertama.
Setiap pulang kerja, Miko selalu bertanya akan apa yang tengah diinginkan oleh Sarah, meskipun terkadang sangat aneh untuk dipenuhi.
Seperti saat ini, ketika Sarah dan Miko tengah tidur berdua, karena Bagas yang sudah punya kamar sendiri, agar saat adik bayinya lahir nanti, dia sudah bisa terbiasa tidur sendirian.
Waktu menunjukan pukul tiga pagi lebih beberapa menit, dan semua orang masih terlelap dalam buaian si peri mimpi.
Namun, Sarah justru merasa gelisah, dan membolak balikkan badannya, karena ada sesuatu yang membuatnya tak bisa untuk kembali tertidur.
Dia pun akhirnya bangun dan bersandar di head board. Dia mengusap perutnya yang masih rata, dengan menelan saliva yang entah kenapa begitu banyak menggenang di dalam mulut.
Ingatannya kembali saat dirinya tengah berjalan-jalan disekitaran rumah, menyusuri jalanan desa dengan sang putra. Tak sengaja, dia melihat pohon mangga dengan buah yang ranum milik Bu Didi, seorang wanita tua yang terkenal galak dan selalu saja memakai rol rambut di kepalanya.
Bahkan suaminya saja selalu dimarahi, setiap kali salah dalam melakukan pekerjaan rumah. Di lingkungan tempat tinggal Pak Riswan, hanya Bu Didilah yang memiliki pohon mangga harumanis di halaman rumah, yang dikelilingi pagar besi tinggi.
Sarah melihat Miko yang telah terlelap di sampingnya. Dia pun lalu menggoyang-goyangkan tubuh sang suami.
Namun, Miko yang sangat lelah karena bekerja seharian di kantor, membuatnya seakan mati saat tidur.
Wanita itu kesal karena sang suami tak kunjung bangun.
“Mas! Mas Miko bangun! Mas!” panggil Sarah.
Dia ingin berteriak, namun takut mengganggu penghuni rumah yang lain.
Karena Miko tak juga bangun, akhirnya, Sarah pun menendang suaminya hingga terguling dan jatuh ke lantai.
Miko memekik kesakitan, dan bangun dari sana.
“Aduuuhh... Kenapa bisa jatuh ya?” tanya Miko bingung.
Dia nampak menggaruk-garuk kepalanya yang yang tak gatal, dan kemudian kembali hendak naik ke atas ranjang.
“Mas! Jangan tidur lagi,” tahan Sarah.
Miko pun mengurungkan niatnya untuk kembali berbaring. Dia akhirnya ikut duduk dan bersandar di head board bersama Sarah, dengan mata yang terasa begitu berat untuk dibuka.
“Kenapa, Sar? Kok kamu nggak tidur?” tanya Miko sambil menguap.
“Kamu tuh, dibangunin dari tadi nggak bangun-bangun. Giliran jatuh baru bangun,” keluh Sarah cemberut.
“jadi, kamu yang nendang aku sampe jatuh?” tanya Miko.
“Ya lagian. Susah banget bangunin kamu,” sanggah Sarah.
“Emang ada apa sih …,” Miko terlihat mencari ponsel, dan melihat jam di layarnya.
“… Masih jam segini, ngapain kamu bangunin aku?” tanya Miko.
__ADS_1
“Pengin makan yang seger-seger,” rengek Sarah.
“Ehm... Jadi kamu laper? Mau ku buatin apa? Mi? Roti?” tanya Miko yang seketika bersikap siaga.
“Pengen rujak mangga yang diserut utu lho. Yang makannya pake daun mangganya,” jawab Sarah cepat.
“Rujak buah? Jam segini mana ada yang jual? Aku juga nggak tau bikinnya kayak apa,” sahut Miko bingung.
“Ya udah aku yang buat, tapi kamu cariin mangganya ya. Tapi yang arumanis, ” pinta Sarah.
“Di kulkas ada?” tanya Miko.
“Nggak ada,” jawab Sarah.
“Di kebun Bapak?” tanya Miko lagi.
"Nggak ada. Di kebun Bapak adanya mangga manalagi sama lalijiwo,” jawab Sarah kemudian.
“Terus, mangga arumanisnya di mana?” tanya Miko bingung.
“Di halaman rumahnya Bu Didi,” jawab Sarah dengan memamerkan deretan gigi putihnya.
“Bu Didi? Bu Didi yang mana?” Tanya Miko.
“Itu lho, Mas. Yang rumah paling ujung,” jelas Sarah memberi petunjuk.
“Oh, ya udah besok pagi aja ya,” seru Miko.
“Sekarang!” perintah Sarah.
“Tapi, Sar. Ini masih dini hari. Masa aku suruh ambil mangga orang? Ntar dikira maling gimana? Kamu mau aku digebukin warga se kampung?” elak Miko.
“Nggak mau tau. Pokoknya sekarang. Nanti anaknya ngiler lho,” ancam Sarah.
Miko hanya mampu menghela nafas panjang, saat Sarah lagi-lagi menjadikan sang calon bayi sebagai alasan atas permintaan anehnya.
Sarah terus merengek hingga akhirnya, dengan sangat terpaksa Miko pun menurut. Dia keluar dari rumah dengan sebuah kain sarung yang menyampir di salah satu bahunya.
Sarah pun turut ikut, dan memastikan jika sang sumi tidak berbohong, meskipun sudah dicegah oleh Miko.
Pria itu hanya mengenakan sebuah celana kolor pendek di atas lutut dan kaus oblong berwarna gelap. Dia berjalan sembari merem*s kain sarungnya dan melihat ke kanan dan kiri, berharap tak ada orang yang melihat.
Saat mereka berdua sampai di rumah itu, Sarah segera menunjuk ke atas, di mana banyak buah mangga arumanis yang bergelantung begitu menggiurkan di dahannya.
“Ayo, Mas. Cepetan manjat,” seru Sarah.
Miko pun melepas sandal jepitnya, dan mencoba memanjat pagar besi rumah Bu Didi. Miko tak tau jika rumah tersebut memiliki hewan penjaga yang sangat sensitif dengan suara gerakan sekecil apapun.
Miko sudah memanjat sampai ke atas pohon mangga, namun saat dia hendak mencari pijakan, dia justru menginjak ranting kering dan membuat suara berisik.
Guk! Guk! Guk! Guk!
Seketika itu juga, Sarah dan Miko terkejut dengan suara si penjaga rumah yang menyalak.
__ADS_1
Miko gemetar karena dia masih berada di atas pohon, dengan anjing yang terus menggonggong berada di bawahnya.
“Mas, turun! Cepetan turun!” seru Sarah yang nampak berbisik karena takut orang akan keluar dan melihat kelakuan mereka.
“Itu ada anjing, Sar. Kamu suruh anjingnya pergi dulu,” sahut Miko yang kebingungan hendak turun.
“Takut. Ayo cepet kamunya turun lompatin pagar aja,” perintah Sarah.
Akhirnya dengan kesusahan dan rasa takut, Miko mencoba meraih pagar dengan kakinya.
Susah payah, Miko pun berhasil meraih pagar besi dan bisa keluar dengan selamat, tanpa harus berhadapan dengan si penjaga galak itu.
Saat mereka kabur, penghuni rumah itu baru lah keluar, dan melihat anjing mereka menyalak ke sebuah arah.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Keesokan harinya, nampak Bu Didi bicara dengan Bu Riswan tentang sesuatu. Miko dan Sarah yang melihatnya, hanya berani mengintip dari balik pintu.
Terlihat Bu Didi menyerahkan sebuah kantung plastik hitam yang cukup besar kepada Bu Riswan, lalu kemudian pergi dari halaman rumah wanita tua itu.
Sang nyonya rumah pun kemudian masuk dan mendapati anak serta menantunya yang berdiri di belakang pintu.
“Bu, itu Bu Didi ngapain ke sini pagi-pagi?” tanya Sarah penasaran.
“Oh, ini. Dia kasih mangganya buat orang ngidam. Katanya biar nggak usah susah-susah nyuruh suaminya nyuri buah mangga subuh-subuh kayak semalem,” sindir Bu Riswan.
Sarah hanya nyengir dan segera meraih bungkusan hitam dari sang bunda. Miko hanya bisa menghela nafasnya kasar karena merasa kelakuannya semalam begitu konyol.
Tahu gini, mending nggak turutin aja semalem. Duh, malunya. Mau ditaruh di mana muka tampan ku? Keluh Miko.
Bu Riswan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua manusia itu.
Tak hanya sekali dua kali Sarah meminta hal aneh yang selalu berujung penyesalan Miko, karena mau saja menuruti permintaan sang istri.
Tapi semua itu akan menjadi cerita tersendiri, kelak saat mereka tua nanti.
.
.
.
.
Konyolnya nggak ketulungan bang miko🤣🤣🤣🤣
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏
sambil nunggu next eps, bisa dong kalian mampir ke novel temen aku. ceritanya bagus lho.
jangan lupa favoritkan ya
__ADS_1