Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Gunjingan


__ADS_3

Sarah melangkah menuju ke ruang tamu, dan sejenak mengintip dari balik gorden yang menghalangi kaca jendelanya.


Nampak seorang ibu-ibu bersama dan seorang perempuan yang usianya lebih tua beberapa tahun dengan Sarah, tengah berdiri di depan pintu.


"Siapa ya?" gumamnya lirih.


Sarah pun kemudian membukakan pintu, dan menyembul keluar dari balik papan kayu itu.


"Maaf. Ibu berdua cari siapa ya?" tanya Sarah.


Ibu yang lebih tua diam. Namun, bisa dilihat jika wajahnya sedang marah.


"Kami sedang mencari Sarah. Apa betul ini rumahnya?" tanya perempuan yang lebih muda.


"i … iya. Saya sendiri," ucap Sarah yang masih bingung dengan kedatangan kedua orang tersebut.


Belum tuntas kebingungannya, Sarah kembali dibuat terkejut dengan perlakuan si ibu yang lebih tua.


PLAK!


Sebuah tamparan mulus mendarat di pipi Sarah. Wanita hamil itu begitu terkejut. ia pun memegangi pipinya yang terasa panas dan perih, sambil menoleh dan memandang ibu yang sudah menamparnya.


"Sakit? Baru ditampar segitu sakit, hah? Lebih sakit mana hati anak saya yang suaminya sudah kamu rebut!" maki si ibu yang menampar Sarah tadi.


Seketika itu juga, Sarah langsung tau siapa mereka.


"Sudah, Bu. Jangan marah-marah. Jaga emosi Ibu. Malu kan kalau dilihat orang," ucap perempuan yang lebih muda. Rupanya dia adalah anak si ibu tadi.


"Kamu bela dia, Lis. Wanita s*ndel ini sudah merusak rumah tangga adikmu," maki ibu yang rupanya adalah orang tua dari Lidia, istri pertama Miko.


"Iya, Bu. Yulis tau. Tapi, nggak gini caranya. Kita orang yang bermartabat, jangan selesaikan masalah dengan cara kasar," bujuk Yulis, kakak Lidia.


"Kamu juga perempuan, Lis. Kalau apa yang menimpa Lidia terjadi sama kamu, apa masih bisa setenang ini. Pelakor ini harus diberi pelajaran lagi," ucap ibunda Lidia, sambil mengayunkan lengannya kembali.


Yulis berusaha menahan tangan sang ibu. Namun, Sarah terlebih dulu jatuh berlutut di depan ibu dari istri pertama suaminya.

__ADS_1


Air matanya sudah luruh dan berserak di wajah ayunya. Pundaknya berguncang, dan isaknya mulai terdengar.


"Saya minta maaf, Bu. Saya nggak tau kalau kebahagiaan saya justru menjadi kesedihan untuk putri Ibu. Saya benar-benar tidak tau kalau Mas Miko sudah punya istri. Maafkan saya," ucap Sarah berlutut sambil memegangi kaki ibunda Lidia.


wanita tua itu tampak geram, dan seketika itu juga menarik paksa kakinya, sehingga membuat Sarah tersungkur ke depan, mirip seperti orang yang tengah bersujud.


"Maaf? Maaf kamu bilang? Kamu kira segampang itu, hah? Enak saja! Tinggalkan Miko. Pisah darinya. Kembali suami putriku, baru maafku kau dapat!" ucap ibunda Lidia.


Setelah mengatakan hal itu, wanita tua itu pun berbalik dan pergi, di susul oleh wanita bernama Yulis.


Kejadian itu, tak luput dari sorotan warga yang sudah ramai berkerumun di luar pagar rumah sarah. Mereka mendengar keributan dari arah rumah wanita hamil itu, dan segera menyerbunya untuk mencari bahan ghibah.


Cibiran, sindiran dan makian terus saja mereka tujukan kepada Sarah.


Sementara wanita malang itu, hanya bisa menangis meratapi nasibnya, yang harus menerima kenyataan menjadi seorang pelakor.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Tiga minggu berlalu, Sarah yang sudah tak terlalu mengalami morning sickness, mencoba untuk melakukan pekerjaan rumah yang sebelumnya terkendala akibat kondisi tubuhnya yang sedang kurang baik yang disebabkan oleh kehamilan di usia trimester pertama.


Ia melihat persediaan bahan makanan di lemari pendingin hampir habis. Sarah pun memutuskan untuk pergi keluar dan berbelanja di toko terdekat.


Sejak kejadian itu, sarah selalu di dalam rumah. Dia tak pernah sekalipun keluar, bahkan untuk sekedar membeli keperluan sehari-hari.


Miko yang biasanya melakukan semua itu, karena khawatir jika Sarah mendengar gunjingan para tetangga yang mulai menggosipkan hubungan mereka berdua.


Namoaknya, sangkin lamanya bertapa, wanita itu lupa akan apa yang sedang terjadi, hingga ia pun dengan santainya pergi keluar rumah.


Ditambah, pesan dari Dokter Fadil yang selalu memintanya agar terus berpikiran positif dan tidak terlalu terbebani dengan masalah yang ada, membuatnya mencoba untuk bersikap setenang mungkin.


Bahkan, sikapnya terhadap sang suami pun, tak sedingin sebelumnya. Ia sempatkan untuk makan bersama, walaupun belum mau berbicara sepatah katapun.


Namun, hal itu sangat di syukuri oleh Miko, karena sedikit demi sedikit, Sarah mulai mau menerima keadaannya sebagai seorang istri kedua.


Seperti biasa, sarah selalu saja mengulas senyumnya, karena dia adalah sosok yang selalu ramah dengan siapa saja.

__ADS_1


Dia benar-benar seakan lupa, bahwa mereka semua telah mengetahui apa yang terjadi padanya.


"Lihat tuh. Senyum-,senyum tebar pesona sana sini. Pelakor tuh gayanya gitu tuh. Nggak tau malu. Dasar!" sindir salah satu ibu-ibu yang sedang berkumpul di depan rumah salah satu tetangga yang dilewati Sarah.


"Iya. Nggak tau malu banget. Udah ngerebut, hamil, masih punya muka buat senyum-senyum gitu. Dih, amit-amit," sahut yang lain tak kalah pedas.


Sarah yang tadinya masih bisa tersenyum pun sadar, jika posisinya saat ini adalah orang jahat yang dibenci semua wanita yang ada di sekitarnya.


Wanita yang dengan tega merebut kebahagiaan wanita lain, dan mengambil suami yang dicintainya.


Mendung seakan tiba-tiba hadir di wajah ayunya. Sarah kembali merasa tertekan atas apa yang terjadi, setelah susah payah ia mengobati hatinya yang luka, kini justru semain berdarah mendengar omongan orang-orang tentang dirinya.


Toko sudah dekat. Hanya berjarak tinggal beberapa meter lagi. Namun, dia seakan tak kuat untuk melanjutkan langkahnya.


Ketika berbalik pun, rasanya jarak dari tempat ia berdiri menuju rumah begitu jauh, terlebih harus kembali melewati ibu-ibu yang menggunjingnya tadi.


Kepalanya terasa pusing, seakan bumi yang dipijaknnya bergoyang. Sarah berusaha untuk tetap berjalan pulang, dengan sekuat tenaga menahan rasa pening yang melandanya.


Sesampainya ia di rumah, Sarah segera mengunci diri kembali di kamar. Tangisnya pecah. Rasanya ia sangat malu, bahkan untuk sekedar pergi ke toko saja ia sudah tidak mampu.


Ingin rasanya ia pergi jauh, hingga tak ada lagi yang mengenalnya. Terbersit pikiran untuk kabur dari Miko, tetapi tiba-tiba, perutnya kembali terasa sakit.


Sarah mengalami kram untuk kesekian kali. Ia meraih obat yang berada di dalam laci nakas, dan segera meminumnya. Dia duduk bersandar di head board sambil mengatur nafas, berusaha mengurangi rasa sakitnya.


Semenjak mengetahui identitas Miko yang sesungguhnya, Sarah tak pernah lagi meminta bantuan atau memberikan kabar apa pun tentang dirinya dan sang janin.


Sarah lebih memilih menahan sakit sendirian, dan berusaha mencari bantuan dari orang lain.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


__ADS_2