
Sarah terlupa akan sesuatu. Dia baru menyadari jika kakaknya dan Miko tidak akur. Apalagi sejak Miko ketahuan berbohong akan status pernikahan pertamanya, dan menikahi sang adik begitu saja.
Tino yang melihat adiknya bengong, mengernyitkan keningnya dan berlalu ke tempat yang sempat ditunjukkan.
"Taman sampingkan? Mas ke situ dulu ya," ujar Tino.
"Eh … Mas! Mas Tino!" panggil Sarah yang menyusul sang kakak menuju ke taman samping rumahnya.
Namun sayang, niat hati ingin mencegah, tapi Miko dan Bagas yang hendak masuk, justru berpapasan dengan Tino di depan pintu.
"Kamu …," ucap Tino sambil menunjuk langsung ke wajah Miko yang tengah berhadapan dengannya.
Gawat! batin Sarah.
"Pak Dhe …," sapa Bagas yang hendak menyalami Tino.
Namun, Tino yang berang melihat keberadaan mantan adik iparnya, pria yang sudah menyakiti hati Sarah tengah berada di sana, maju dan meraih kerah bahu Miko tanpa mempedulikan Bagas yang hampir terjatuh karenanya.
Miko dengan sigap menarik Bagas untuk berlindung di belakangnya, agar terhindar dari amukan Tino.
Sejak berpapasan dengan pria pemarah itu, Miko sudah paham jika kakak mantan istrinya itu tidak terlihat bersahabat. Ditambah pengetahuannya tentang Tino yang adalah seorang bertemperamen tinggi.
"Ngapain kamu di rumah Sarah? Mau apa lagi kamu dekat-dekat dengan dia, hah?" bentak Tino.
Sarah maju dan meraih pundak Tino, mencoba untuk menenangkan kakaknya.
"Mas, tenang dulu. Kita bisa bicara baik-baik," seru Sarah.
"Nggak perlu bicara baik-baik sama b*jingan br*ngsek ini. Apa kamu yang ngundang dia ke sini, Sar? Apa selama ini kalian masih berhubungan?" cecar Tino dengan tangan yang masih mencengkeram baju Miko hingga nyaris mencekik mantan adik iparnya itu.
"Bukan Ibu yang undang, Pak Dhe, tapi Bagas," tutur Bagas yang masih disembunyikan Miko di belakang tubuhnya.
"Apa?" Tino melepaskan kerah baju Miko dengan kasar dan membuat pria itu sedikit terhuyung ke belakang.
Tino lalu berbalik dan memandang sang adik yang berada di sampingnya.
"Kamu … kenapa kamu masih saja bodoh, Sarah. Dia itu laki-laki yang sudah membohongi kamu. Dia orang yang sudah merusak nama baikmu, menjadikanmu sebagai seorang pelakor! Apa kamu lupa semua itu, hah?" cecar Tino sambil bolak balik menunjuk Sarah dan Miko secara bergantian.
"Mas, tenang dulu. Aku bisa jelasin. Tolong jangan seperti ini. Ingat ada Bagas, Mas," mohon Sarah.
Dari arah kamar tamu, nampak kedua orang tua mereka keluar dan berjalan menghampiri kedua kakak beradik yang tengah berdebat.
"Ada apa ini, No? Kenapa datang-datang langsung marah-marah?" tanya Bu Riswan.
__ADS_1
Tino maju menghampiri ke dua orang tuanya.
"Bapak sama Ibu dari tadi di sini kan? Kenapa diam saja saat orang itu juga ada di tempat ini? Apa Bapak sama Ibu dukung Sarah balikan lagi dengan pria br*ngsek itu?" cecar Tino kepada kedua orang tuanya.
"No, kamu tenang dulu. Kita bisa bicara pake kepala dingin. Tidak dengan emosi seperti ini," seru Pak Riswan.
"Kepala dingin apa? Ini sudah keterlaluan. Lihat itu," tunjuk Tino ke arah Miko yang terus melindungi Bagas, yang bersembunyi di belakang punggung ayahnya.
"Lihat itu. Apa kalian lupa apa yang akan terjadi kalau mereka sampai bertemu? Bukan kah selama ini kita susah payah menyembunyikannha?" tutur Tino.
"Mas! Cukup, Mas!" seru Sarah.
Dia mulai takut jika sang kakak akan lepas kendali dan mengatakan semuanya saat itu juga.
"Cukup apa? Memangnya kamu sudah siap kehilangan Bagas, Sar? Sudah relakalau laki-laki ini akan membawa Bagas pergi dari kamu, hah?" cecar Tino.
"Cukup, Mas! Pak, Bu, tolong kasih tau Mas Tino untuk berhenti!" pinta Sarah yang semakin ketakutan.
Aku? Mengambil Bagas? Kenapa? Ada apa ini? batin Miko bertanya-tanya.
"No, sebaiknya kamu ikut Bapak keluar. Kita bicara di sana saja," seru Pak Riswan.
"Bukan Tino yang harus keluar, Pak. Tapi dia. Bapak mau kehilangan cucu karena ayahnya membawa pergi Bagas dari kita?" ungkap Tino.
Wanita itu sudah sangat pucat. Dia takut jika Miko menyadari semua ucapan Tino barusan, yang secara tak langsung mengungkapkan kalau dia adalah ayah kandung dari Bagas.
Tino pun diam, meski dadanya terus naik turun menahan amarahnya, terlebih jika dia melihat keberadaan Miko di depannya.
Pak Riswan menarik putra sulungnya agar keluar dari rumah Sarah, dan mengajaknya bicara di luar.
Bu Riswan berjalan ke arah Sarah yang terlihat gemetar dan terus tertunduk tak mampu mengangkat wajahnya.
"A … apa maksud ucapan Mas Tino, Sar? A … ayah Bagas? Memangnya siapa ayahnya?" tanya Miko sembari menoleh ke belakang melihat Bagas yang mendongak memandangi dirinya.
"Bu, tolong bawa Bagas ke atas. Sepertinya, sudah waktunya aku harus bicara dengan Mas Miko," seru Sarah.
Bu Riswan pun berjalan ke arah Miko dan Bagas.
"Bicaralah baik-baik dengan Sarah, Ko," ucap Bu Riswan pada mantan menantunya itu.
"Bagas, ayo Nak kita ke atas ikut Nenek," ajak Bu Riswan.
Bagas pun melepas pegangannya dari Miko, dan meraih uluran tangan neneknya.
__ADS_1
Keduanya pun berjalan meninggalkan dua orang dewasa, yang harus menyelesaikan masalah mereka yang sudah bertahun-tahun lamanya.
Miko berjalan menghampiri Sarah hendak meminta kejelasan atas semua ucapan Tino tadi. Namun, Wanita itu berbalik dan berjalan ke arah taman samping meninggalkan Miko.
Pria itu pun mengekor di belakang Sarah, dan wanita itu berhenti di depan sebuah kursi taman, yang sengaja disingkirkan dari teras samping karena digunakan untuk pesta ulang tahun sang putra.
"Sar, bisa jelaskan apa maksud perkataan Mas Tino tadi? Kenapa dia marah kalau aku dekat dengan Bagas? Kenapa dia bilang aku akan bawa pergi Bagas? Tapi kemudian, kenapa dia bilang ayah Bagas akan membawa dia jauh dari kalian semua? Sebenarnya, siapa ayah …," cecar Miko.
"KAMU!" potong Sarah.
Miko diam seketika saat mendengar pekikan Sarah. Wanita itu berbalik dan menghadap ke arah mantan suaminya.
"Kamu adalah Ayah Bagas, Mas. Kamu ayah yang akan merebut Bagas dariku. Kamu Ayah Bagas yang akan membawanya jauh dari sisiku!" ungkap Sarah.
Matanya sudah memerah dan terasa sangat pedih. Tangannya mengepal kuat dan nafasnya terlihat memburu menahan gejolak di dalam dadanya.
Miko terhenyak mendengar semua penuturan Sarah barusan. Dia masih tak bisa menerima semua kenyataan yang baru saja dia ketahui perihal putra sang mantan istri.
"Ka … kamu bercanda kan, Sar? Aku … aku lihat sendiri, bayi itu … bayi itu sudah dingin dan tak bergerak sama sekali. Bahkan, aku yang menguburkannya waktu itu, Sarah," elak Miko yang masih bingung dengan semua yang diucapkan wanita di hadapannya itu.
"Bagas itu anakmu. Dia masih hidup dan aku telah menyembunyikannya dari mu selama ini, Mas," tutur Sarah.
Isak tangisnya tak bisa lagi ditahan. Air mata luruh menganak sungai di pipi wanita itu.
Miko maju dan meraih pundak Sarah, dan mengguncangnya dengan kencang.
"Apa maksudmu, Sar? Jadi … jadi selama ini kamu udah bohong sama aku? Kenapa, Sarah? Kenapa kamu tega berbuat seperti itu pada ku? KENAPA? AAAAARRRGGGGHH!" cecar Miko.
Dia melepaskan cengkeramannya di pundak Sarah dan menjambak rambutnya sendiri. Rasa frustasi, marah, sedih dan lega bercampur aduk membuat Miko seperti orang gila.
Sarah hanya bisa menangis sesenggukan setelah melepas semua rahasia yang menyesakkan dadanya selama ini.
.
.
.
.
Dah tuh, kebuka juga kan😁yang nungguin, mana komennya🤭
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏
__ADS_1