
Seminggu kemudian, tepatnya hari sabtu. Akhir pekan yang biasanya selalu diisi oleh kesibukan, kini Lidia lebih memilih bersantai di rumah, menemani suami dan putri kecilnya.
"Misa, hari ini bunda ajak kamu jalan-jalan ke taman yah " seru Lidia pada putrinya yang bahkan belum paham perkataannya.
Miko saat itu duduk di sampingnya, dan terus bercengkerama dengan Misa yang tengah berada di dalam kereta bayi.
"Ko, kamu ikut juga kan?" tanya Lidia memastikan.
"Hem," sahut Miko yang hanya sebatas gumaman.
Lidia yang mulai terbiasa dengan sikap Miko terhadapnya pun, sudah tak mempedulikan hal itu lagi. Dia percaya jika ini hanya sementara. Yang dia inginkan hanyalah, kembali mebangun rumah tangganya yang sempat diujung tanduk.
Wanita itu sangat berharap, dengan perginya Sarah dan hadirnya Misa di tengah mereka, Miko lambat laun akan melunak padanya dan kembali harmonis seperti dulu.
Mereka berdua pun berjalan berdampingan, dengan Lidia yang mendorong kereta bayi, sedangkan Miko membawa tas berisi keperluan sang bayi, sambil terus bercanda dengan Misa.
"Nah, udab sampe." seru Lidia.
Lidia membawa putri kecilnya dan sang suami ke sebuah taman yang dekat dengan rumah mereka. Hanya perlu berjalan kaki sebentar dan mereka akan sampai di sana.
Mereka berdua tiba di depan sebuah bangku taman yang berada di bawah pohon rindang. Lidia yang memilihnya agar sang putri tidak kepanasan.
"Ko, tolong taruh tasnya di bangku aja," ucap Lidia yang berjongkok di depan kereta dorong sang bayi.
Miko hanya melakukan apa yang dikatakan oleh Lidia begitu saja. Setelah itu, dia lebih memilih duduk sembari memandangi wajah mungil dengan pipi yang bersemu merah.
"Anak bunda seneng ngga di ajakin ke taman? Seger kan udaranya?" ucap Lidia.
Tangannya memainkan jemari kecil Misa, sambil sesekali membelai pioi gembulnya.
Miko melihat semua itu dengan raut yang datar saja. Tak ada rasa tersentuh akan sikap keibuan yang Lidia coba keluarkan selama ini.
Di saat mereka sedang menikmati suasana taman yang pagi itu cukup ramai dikunjungi warga sekitar, tiba-tiba ponsel yang Lidia bawa di dalam tas bayi berdering.
Miko hanya melirik sekilas ke arah sumber suara. Dia mengela nafas panjang, dan setelah itu, ia pun kembali membuang pandangannya. Pria itu lebih memilih memandangi opemandangan di hadapannya dari pada harus memperhatikan sang istri.
Lidia yang mendengar ponselnya berdering pun, segera menoleh dan bangkit berdiri, kemudian menghampiri tas bayi yang berada di samping Miko.
Wanita itu mengambil ponselnya, yang memang sengaja ia letakkan di dalam sana. Lidia pun melihat siapa yang meneleponnya saat itu.
"Ko, bisa minta tolong jagaain Misa bentar nggak? Aku mau angkat telepon dulu," ujar Lidia sambil menggeser tombol hijau ke kanan.
Tanpa menyahut, Miko pun berdiri dan menghampiri bayi kecil yang ada di atas kereta bayi itu.
__ADS_1
"Hai, Misa. Kamu kepanasan nggak sih?" tanya Miko.
Pria itu melihat ada cahaya matahari yang menerobos dedaunan, dan jatuh tepat mengenai leher sebelah kiri Misa.
Miko pun menggeser posisi kerete bayi tersebut, ke tempat yang lebih teduh.
"Nah, begini kan pas. Kamu nggak kepanasan lagi deh," ucap Miko tersenyum ke arah sang putri.
Tiba-tiba, Lidia menghampiri mereka dengan wajah panik.
"Ko, kamu aku tinggal dulu sama Misa nggak papa ya?" ucap Lidia.
Miko sempat menghentikan jemarinya yang memainkan dagu Misa kecil. Namun, pria itu kembali bersikap acuh dan tak peduli dengan perkataan Lidia.
"Ko," panggil Lidia karena tak juga mendapat jawaban dari sang suami.
"Hem …," gumam Miko yang selalu keluar dari mulutnya setiap kali berbicara dengan Lidia.
"Aku tinggal dulu ya. Aku harus pulang dan cek berkas yang kemarin ku kerjain. Ini urusannya mendadak banget. Titip Misa, bisa kan?" ucap Lidia yang terlihat tergesa-gesa.
"Hem …," sahut Miko.
"Ya udah. Aku titip misa … Nak, kamu sama ayah dulu yah. Bunda ada urusan bentar," seru Lidia.
Mau bagaimana pun, sifat sudah mendarah daging. Mau dirubah seperti apapun, nggak akan bisa menutupi keasliannya, batin Miko.
Pria itu menatap kepergian Lidia. Miko seakan menganggap jika usaha Lidia hanyalah sia-sia belaka. Satu-satunya yang menjadi alasan Miko mau kembali tinggal bersama adalah Misa.
Bayi kecuil yang membuatnya bisa melupakan kesedihan atas kehilangan anaknya.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Beberapa saat kemudian, Lidia yang sudah sampai di depan pagar rumahnya, tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan petugas pos yang berhenti tepat di hadapannya.
"Permisi," sapa petugas pos itu.
"Ya, ada perlu apa ya?" tanya Lidia yang berjalan mengahmpiri petugas pengantar tersebut.
"Apa benar ini alamatnya Miko Santanu Aji?" tanya si petugas pos.
"Benar. Ada apa ya?" tanya Lidia lagi.
Petugas itu pun menyerahkan sebuah surat dengan amplop putih bertinta hijau kepada Lidia.
__ADS_1
"Ada surat dari pengadilan agama untuk Miko Santanu Aji. Mohon disampaikan kepada yang bersangkutan," seru petugas pos.
Lidia tertegun melihat amplop surat itu.
Pengadilan Agama? Apa jangan-jangan …, batin Lidia.
"Mbak," panggil si petugas pos.
"Oh … ehm … iya, nanti akan saya sampaikan. Terimakasih ya," ucap Lidia sambil meraih surat itu.
Petugas pos pun menyerahkan lembar penerimaan dan meminta Lidia menandatanginya. Setelah itu, dia pun pergi.
Lidia cepat-cepat masuk ke dalam rumah dan menutup rapat pintunya. Dia masih berdiri di belakang pintu, dan segera mengeluarkan surat tadi, lalu kemudian dia buru-buru membukanya saat itu juga.
"… benar kan dugaanku. Ini dari Sarah," gumam Lidia sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan.
Lidia membaca dengan seksama isi dari surat gugatan cerai tersebut.
"Jadi, sidangnya minggu depan. Aku akan kasih tau Miko sekarang juga, biar dia sadar kalau istri kesayangannya itu benar-benar ingin bercerai," ucap Lidia sambil memasukkan kembali surat ke dalam amplopnya.
Wanita itu pun berbalik dan nampak memegang handle pintu. Namun, sedetik kemudian, terbersit sesuatu dibenaknya.
"Tunggu dulu … bagaimana kalau Miko tetap tak mau berpisah dengan wanita itu? Bagaimana kalau Miko justru bisa mendapatkan hati Sarah kembali saat proses mediasi berlangsung? Ditambah lagi, kalau Miko sampai tahu anaknya masih hidup, pasti dia akan lebih berusaha keras untuk bisa rujuk dengan wanita itu."
"Tidak … tidak … ini nggak bisa dibiarin. Aku harus buat supaya Miko nggak pernah hadir di persidangan, dan proses perceraiannya bisa cepat selesai," ucap Lidia.
Wanita itu pun kemudian berbalik arah, dan berjalan menuju ke dalam kamarnya. Dia mengambil sebuah amplop coklat dan memasukkan surat dari pengadilan tersebut ke dalamnya.
"Aku nggak boleh biarin kalian bersama-sama lagi. Aku yang lebih berhak bahagia sekarang, setelah semua kepahitan ini. Bukan malah wanita itu. Akan ku pastikan, Miko kembali lagi padaku dan mencintaiku seperti dulu," gumamnya.
Lidia pun menyimpan surat tersebut ke dalam laci lemarinya, bercampur dengan berkas-berkas miliknya yang lain.
Setelah itu, dia teringat tujuannya pulang, yaitu untuk memeriksa sesuatu perihal pekerjaannya, dan dia pun pergi meninggalkan rumah untuk menyerahkan berkas tersebut.
.
.
.
.
Maaf, kemarin bolos up🙏ada yang harus diurus di real life😊semoga kalian masih setia menunggu kelanjutan cerita ini ya😘
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏