Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Pertemuan kembali


__ADS_3

Akhir-akhir ini, dia lebih sering tidak pulang dengan alasan dinas luar kota.


"Kenapa dinas luar kota terus, Lid. Apa nggak bisa digantiin yang lain?" keluh ku kesal.


"Nggak bisa, Ko. Ini tuh proyek besar. Kalau asal nyuruh orang, bisa bahaya. Kamu tau nggak, gara-gara kita bulan madu, perusahaan ku jadi kehilangan klien potensial. Mereka itu butuh aku. Udah deh ya, aku lusa pulang kok," ucapnya saat aku melarang pergi.


Aku menatapnya tajam, namun dia seolah tak peduli dan balik melipat tangan di depan dada sambil memandangi wajahku.


"Kamu ngga lagi curiga sama aku kan, Ko?" tanyanya.


"Aku percaya sama kesetiaan kamu, Lid. Tapi kamu bisa ngertiin aku sebagai suami nggak sih? Aku juga butuh kamu di sini. Aku mau kamu ngurus aku, ngelayanin aku. Aku masih bisa memaklumi kesibukanmu, dan melakukan berberapa hal sendiri. Tapi, ini sudah keberapa kalinya dalam bulan ini, kamu ninggalin aku sendiri di rumah, Lid. Aku ini suamimu yang lebih berhak atas kamu, dibanding bos dan perusahaanmu itu," ucapku yang mulai geram dengan sikap Lidia.


"Hah … perdebatan bo*doh lagi ... sudahlah, Ko. Yang penting aku nggak macem-macem ini, apa susahnya sih ngijinin. Pokoknya, mau diijinin atau nggak, aku akan tetap pergi. Ini demi karir ku. Kamu ngertiin aku dong," ujar Lidia sambil terus mengemas barang-barangnya.


Hari-hari berlalu, hingga bulan pun berganti. Usia pernikahanku dengan Lidia sudah menginjak usia hampir setahun. Namun, Lidia tak kunjung hamil. Dia selalu saja beralasan jika dia tak ingin mengorbankan karir hanya demi anak.


Saat ini, kami sedang bersantai di depan TV, dan sebuah acara yang menayangkan kegiatan sebuah keluar kecil artis, membuatku teringat kembali akan hal itu. Aku pun mengutarakan lagi masalah tersebut


"Berapa kali harus ku bilang sama kamu, Ko. Aku masih mau berkarir. Punya anak itu cuma menghambat karir aku aja. Kamu tau itu nggak sih?" keluh Lidia padaku yang sering menanyakan perihal keturuan.


"Lid, kantor pasti bisa kasih kebijakan sama kamu. Kamu itu kan bintangnya di sana, pasti mereka nggak akan segampang itu ngelepas kamu. Lagi pula, anak itu membawa rejeki lho," bujukku dengan terus mengusap-usap lembut puncak kepalanya.


"Udah deh, Ko. Aku males bahas ini mulu sama kamu. Kalau kamu emang ngebet banget pengen punya anak, cari aja wanita lain yang mau ngasih kamu keturunan," ucapnya sambil berlalu dengan emosi.


Aku hanya mampu menghela nafas kasar mendengar semua perkataannya. Kenapa dia selalu ingin semuanya sesuai dengan yang dia inginkan. Apa aku tak boleh meminta sesuatu juga.


Sejak hari itu, Lidia selalu menghindar setiap kali ada hal yang bisa memancing pembicaraan mengenai anak, dan lagi-lagi aku hanya bisa sabar.


Dia semakin sibuk bekerja di kantornya, hingga tak jarang aku ketiduran menunggunya pulang. Terbalik bukan. Yang ku tau, biasanya istri yang menunggu di runah, tapi untuk ku, itu tidak berlaku.


🥀


Suatu hari, aku menerima undangan reuni dari teman-teman semasa SMA.


"Ko, kamu ikut reuni kan?" tanya Dodi saat waktu istirahat.


"Datanglah. Ngapain di rumah juga. Lidia kan sekarang jadi jarang banget di rumah," keluhku pada sahabatku itu.


"Bener dugaanku kan. Bisa-bisa kamu yang diatur sama dia," ucapnya yang membuatku menghentikan gerakan tanganku.

__ADS_1


"Bukan diataur, tp dia yang nggak mau ku atur. Masa punya anak aja dia nggak mau. Udah gitu, dia selalu sibuk kerja sampai-sampai dia lupa kalau ada suami yang nunggu di rumah. Aku minta dia resign dari pada sibuk pontang panting gitu. Toh gajiku juga lebih besar kan. Pasti cukuplah untuk hidup kami berdua, tapi dia nggak mau," keluhku.


"Ya udah. Kita have fun aja bareng teman-teman lama nanti malam," ucapnya.


Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Sepertinya, rumah tangga ku semakin terasa toxic saja.


Malam hari sepulang kerja, Aku dan Dodi menuju ke tempat reuni berlangsung. Tempatnya tak terlalu jauh dari kantorku, karena panitia mengambil tempat yang berada di pusat kota.


Sebuah caffe telah di pesan untuk acara tersebut. Aku dan juga Dodi sampai di sana sekitar pukul delapan malam.


Sudah banyak orang yang datang.


"Weh … Bro! Apa kabar nih bos kita?" sapa salah satu temanku.


"Bos … bos … apaan sih. Suksesan kamu lah, usahawan yang lagi viral," sahutku.


Ramai sekali suasana di sana. Banyak wajah-wajah sudah yang lama tidak ku lihat, salah satunya Sarah. Mantanku yang juga turut hadir dalam acara itu.


Melihat dia berada di sana, membuatku tiba-tiba merasa aneh. Aku seketika kembali mengenang masa-masa itu. Masa di mana kami masih menjalin kasih di sekolah dulu.


Tak sadar, aku terus memperhatikan dia, hingga dia pun menatap ke arahku. Dia tersenyum begitu manis.


"Heh, Ko. Ngapai bengong di situ? Ayo gabung ke sini," panggil Dodi yang membuat ku seketika tersadar.


Aku pun berjalan ke arah teman-temanku berada. Kami saling berbincang-bincang. Namun, pandanganku terus tertuju pada sosok Sarah yang tengah tertawa-tawa dengan teman perempuannya.


"Ko, lihatin apa sih?" tanya temanku Anton yang melihatku terus menatap ke arah lain.


"Oh … ehm … nggak kok," jawabku gugup karena tertangkap basah.


Aku kembali menoleh, Namun wanita itu sudah tak ada di tempatnya. Kemana dia? Aku menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaannya, tapi tak ku temukan.


"Aku ke toilet bentar yah," pamitku.


Aku berjalan ke arah toilet, dan tak sengaja bertemu Sarah yang baru saja keluar dari sana.


"Miko," sapanya dengan suara yang masih sama seperti dulu, sangat lembut.


"Oh … hai, Sar. Apa kabar kamu?" sahutku yang beralih menanyakan kabar wanita itu.

__ADS_1


"Aku baik. Katanya, kamu sekarang udah sukses ya," katanya.


"Hoax itu. Jangan percaya," elakku.


"Ah … kamu, Ko. Aku sering lihat kali foto kamu di spanduk dekat simpang lima. Jelas-jelas di situ ditulis kepala cabang. Selamat yah," ucapnya dengan senyum yang entah kenapa membuatku terpesona.


Seperti biasa, Sarah selalu bisa meluluhkan hatiku. Ambisiku di masa muda dulu yang membuat kami berdua terpaksa memilih jalan masing-masing.


"Oh, iya. Aku balik ke dalem dulu yah," pamitnya yang berbalik dan hendak pergi.


"Tunggu, Sar!" panggilku kemudian.


Sarah pun menoleh, dan kembalik berbalik mengahadap ke arahku.


"Iya, Ko. Ada apa?" tanya Sarah.


"Ehm … bisa tukeran nomer nggak?" tanyaku.


Sarah tersenyum dan mengambil ponselnya yang berada di dalam tas. Ia terlihat menggulirkan beberapa kali layar ponselnya.


"Berapa nomermu, Ko?" tanya Sarah.


Aku pun memberikan nomorku padanya, dan setelah itu tiba-tiba ponselku yang berada di saku berdering.


Ku ambil dan kulihat nomor asing di sana.


"Itu nomorku. Save yah," ucapnya yang kemudian pergi.


Sungguh, perasaan aneh apa ini. Aku merasa sangat senang mendapat nomor ponsel wanita itu. Layaknya remaja kasmaran yang berhasil berkenalan dengan gebetan, seperti itulah yang kurasakan saat ini.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏

__ADS_1


__ADS_2