Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Sidang


__ADS_3

Sore hari sepulang kerja, Miko langsung menuju ke rumah mertuanya. Dia berniat untuk mengunjungi ibunda Sarah yang kabarnya sedang sakit, dan menjemput sang istri yang sudah terlebih dulu berada di sana.


Keluarga Sarah bukanlah keluarga berada. Namun, kegigihan orang tuanya lah yang mengantarkan anak-anak mereka menjadi manusia sukses dalam berkarir. Begitu pun Sarah yang bisa disebut gemilang dalam pekerjaannya, sebelum memutuskan resign.


Mereka tinggal di pinggiran kota Semarang, di sebuah rumah bergaya joglo dengan teras yang begitu luas.


Ditambah, halaman depan yang bak lapangan bola, dengan tanaman yang tumbuh subur dan terawat.


Semua itu adalah hasil jerih payah kedua anaknya, yang berusaha mengangkat derajat ekonomi keluarga. Hingga kini, pasangan orang tua itu memiliki sawah ladang berhektar-hektar dengan berbagai macam tanaman sayur mayur yang tumbuh di sana.


Butuh waktu sekitar empat puluh lima menit dari pusat kota Semarang, menuju ke rumah orang tua Sarah. Kini, Miko telah memasuki pekarangan rumah joglo itu.


Dia keluar dari mobil, dan berjalan menuju ke arah dalam.


"Assalamualaikim," salam Miko ketika baru saja memasuki rumah.


"Waalaikumsalam," jawab Tino yang menyambut sang adik ipar.


"Mas," sapa Miko bermaksud menyalami kakak iparnya.


BUG!


Sebuah pukulan telak mendarat di pipi kiri Miko, hingga membuat pria itu jatuh tersungkur ke lantai.


"Kurang ajar. Berani kamu datang ke sini setelah apa yang kau lakukan pada Sarah!" maki Tino pada adik iparnya.


Miko diam. Dia mengusap sudut bibirnya yang terasa perih akibat pukulan tadi. Dia pun lalu berdiri, dan kembali menghadap Tino.


Namun, Tino langsung menyergapnya dan mencengkeram kerah baju sang adik ipar


"B*jingan! Sudah punya istri, tapi dengan teganya kamu merusak adikku yang polos itu," ucap Tino penuh penekanan tepat di depan wajah Miko.


"Tino, lepaskan dia!" seru sang ayah yang tiba-tiba telah berada di belakangnya.


"Tapi Pak ...," sahut Tino.


"No ...," panggil sang ayah sekali lagi, seolah perintah mutlak untuk putranya.


Tino dengan geram melepaskan Miko dengan kasar, hingga pria itu sedikit terhuyung ke belakang.

__ADS_1


Dia pun meninggalkan adik iparnya bersama sang ayah dengan masih menyimpan amarah.


Pak Riswan, ayah Sarah, menatap menantu laki-lakinya itu yang terus saja menunduk.


"Hah ... Miko, ikut Bapak," seru Pak Riswan yang berjalan masuk ke arah dalam.


Tanpa menyahut, Miko pun berjalan mengikuti mertuanya itu, dan masuk menuju ke ruang tengah, di mana sudah ada Tino dan istrinya.


"Duduklah, Nak Miko." Pak Riswan duduk dan mempersilakan menantunya untuk ikut duduk bersama.


"Maya, panggilkan Sarah kemari," seru pak Riswan kepada menantu perempuannya.


"Nggih, pak (Baik, Pak)," sahut Maya, istri Tino.


Suasana begitu kaku dan canggung di ruang tengah. Miko pun mempersiapkan dirinya untuk menghadapi kemarahan dan kekecewaan mertuanya atas apa yang telah dia lakukan terhadap putri mereka.


Tak berselang lama, Sarah dan Maya datang, beserta sang ibu.


"Lho, Ibu kan masih belum kuat. Kenapa ikut keluar," tanya Pak Riswan khawatir dengan kondisi istrinya.


"Ibu cuma pengin dengar penjelasan dari Nak Miko, Pak," ucap sang istri.


"Baiklah. Ibu duduk sini sama Bapak ... Sarah, duduk di samping suamimu sana," seru Pak Riswan kepada istri dan anak perempuannya.


"Nak Miko, bisa jelaskan semuanya kepada kami di sini? Kenapa Nak Miko berani membohongi kami hingga seperti ini?" tanya Pak Riswan mencoba berbicara setenang mungkin.


"Sebelumnya, saya minta maaf, Pak. Tapi perlu Bapak tau, kalau saya sangat mencintai Sarah," ucao Miko yang sedari tadi terus menunduk, tetapi mengucapkannya dengan begitu penuh keyakinan dan menatap langsung ke arah mata sang mertua.


"Hah ... omong kosong. Itu cuma rayuan gombalmu yang hanya mempan untuk Sarah, bukan kami. Dasar laki-laki busuk!" maki Tino yang tak mau percaya begitu saja dengan ucapan sang adik ipar.


"Aku sungguh-sungguh, Mas. Aku sangat mencintainya, hingga aku melakukan hal gila ini," ucap Miko.


"Baik. Sekarang, coba jelaskan alasanmu, kalau memang kamu cinta dengan putri kami, kenapa kamu tega membohobgi dia, dan menjadikannya istri keduamu tanpa sepengetahuannya. Kenapa tak kamu ceraikan dulu istri pertama mu?" cecar Pak Riswan.


"Sekali maaf, Pak ...,"


Miko pun memceritakan semuanya dari awal. Tentang masalah rumah tangganya dengan Lidia, pertemuan kembalinya dengan sarah yang membuat dia merasa nyaman dan menghadirkan romansa masa lalu yang sempat hilang.


"Nak Miko. Apa Nak Miko tau, kalau yang kamu sebut sebagai alasan, itu semua adalah godaan syaiton. Mereka sangat senang, jika sebuah pasangan yang halal bercerai berai. Harusnya Nak Miko selesaikan masalah keluarga Nak Miko, bukan malah mencari pelarian seperti ini." Pak Riswan nampak kecewa dengan penuturan menantunya itu.

__ADS_1


"Mungkin saya terkesan menjadikan Sarah sebagai pelampiasan saja. Tapi, sungguh, Pak. Saya sangan mencintai dia, hingga tak berani untuk menyentuhnya sedikitpun di awal pernikahan kami," ucap Miko.


Sarah seketika memejamkan mata. Hatinya sakit mendengar perkataan Miko.


Jadi, aku salah saat meminta hak ku sebagai istrimu, Mas? Batin Sarah pedih.


"Namun, setelah itu, saya sadar jika saya sama saja mendzolimi Sarah kalau terus seperti itu, hingga kini membuat sarah hamil dan harus terjerat dalam lingkaran kusut ini," lanjut Miko.


"Hah ... alasan macam apa itu? Sama sekali tak bisa diterima," sindir Tino dengan sinisnya.


"Lalu, apa rencanamu selanjutnya? Apa istri pertamamu bisa menerima semua ini?" tanya Pak Riswan.


Miko menggeleng pelan. Sudah lebih dari sebulan dia mencoba membujuk Lidia untuk menerima pernikahannya dengan Sarah. Namun, wanita itu seperti biasa tak pernah mau mendengarkan perkataan Miko. Apalagi untuk urusan seserius ini.


Hati perempuan mana yang tak sakit, saat menemukan kenyataan jika suaminya telah menikah lagi. Meski pada dasarnya, ini juga termasuk kesalahan Lidia yang mengabaikan tugasnya sebagai seorang istri.


"Baiklah. Bagaimana pun juga, sekarang Sarah sedang hamil. Jika pun harus berpisah, tak bisa sekarang. Tunggu hingga Sarah melahirkan, dan kita bahas masalah ini lagi. Bapak harap, saat itu kamu sudah bisa mengambil keputusan, Miko." Pak Riswan kembali menegaskan.


Pisah? Apa tidak ada jalan lainselain pisah? batin Miko seolah tak ingin pergi dari hidup Sarah.


Malam mulai larut, Miko dan Sarah pun pamit pulang.


"Sar, walaupun dia sudah menyakiti mu seperti ini, tapi dia masihlah suamimu. Selama kalian belum berpisah, tetap perlakuakn dia dengan baik," pesan ibunda Sarah saat sang putri berpamitan pulang.


Sarah hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan ibundanya.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Seminggu sudah sejak kejadian di rumah keluarga Pak Riswan. Kini, Sarah perlahan-lahan mau menerima Miko dan kondisinya sepenuhnya.


Siang itu, Sarah tengah berada sendirian di rumahnya. Tiba-tiba, pintu diketuk dari luar.


"Sebentar!" teriak Sarah dari dapur, karena dia kebetulan sedang memasak untuk makan siang.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


__ADS_2