
“Bagas nggak mau ke rumah kakek dan nenek. Bagas mau ikut ayah sama ibu aja ke Jogja!” rengek Bagas.
Anak kecil itu merasa kesal karena kedua orang tuanya hendak meninggalkannya sendiri dan pergi hanya berdua ke kota Jogja.
Awalnya, Miko dan Sarah hendak pergi diam-diam tanpa sepengetahuan Bagas. Namun, Bu Riswan tanpa sengaja memberitahukan cucunya akan hal tersebut.
“Aduh. Maaf ya, Sar. Ibu kelepasan bilang ke Bagas. Tadinya, cuma bujukin Bagas supaya mau ikut kakek neneknya yang di sana, karena di sini kalian kan bakalan pergi. Eh, taunya dia malah ngambek,” tutur Bu Riswan menyesal.
“Nggak papa, Bu. Biar Sarah coba bicara sama Bagas,” sahut Sarah.
Wanita itu pun mencoba mendekati sang putra yang terus merajuk. Anak kecil itu berdiri di sudut ruang tamu, tepat di belakang sofa.
“Bagas, sini deh sama Ibu. Ibu mau ngomong sesuatu,” ucap Sarah yang mencoba membujuk sang putra.
“Nggak mau. Bagas nggak mau dengerin Ibu. Pokonya Bagas mau ikut ke Jogja, titik!” pekik Bagas.
“Kalau Bagas ikut, nanti Ayah sama Ibu nggak bakalan kasih Bagas adik bayi lho,” seru Tino yang tiba-tiba saja datang berkunjung ke rumah orang tuanya.
Dia tak sengaja mendengar teriakan Bagas dari arah luar, dan bertanya pada salah satu pekerja yang tengah menyapu halaman.
Dari situ lah dia tahu jika keponakannya tersebut tengah merajuk dan meminta sesuatu.
Bagas menoleh ke arah Tino, sedangkan Sarah hanya memijat keningnya seraya menutupi rasa malu, karena perkataan sang kakak.
“Adik bayi?” tanya Bagas yang terlihat tertarik.
Tino pun kemudian duduk di sofa, sambil menyilangkan kakinya ke atas.
“Iya, adik bayi. Bagas mau?” tanya Tino.
Bagas nampak berjalan menghampiri Pak dhe nya itu dan duduk di sampingnya. Sarah pun turut duduk di kursi yang berada di seberang mereka berdua.
“Apa Ayah dan Ibu ke Jogja mau beli adik bayi?” tanya Bagas seraya menoleh ke arah sang bunda.
Sarah pun hanya bisa mengangguk bingung, sambil menatap ke arah kakaknya.
“Kenapa Bagas nggak boleh ikut, Pak dhe?” tanya Bagas.
“Kalau Bagas ikut, adik bayinya nanti malu. Kalau malu, dia nggak mau diajak ke sini. Terus, kalau bobo, Bagas bobo sendirian, biar Ayah dan Ibu bisa siapin tempat bobo buat adik bayi,” tutur Tino.
“Oh ... Gitu ya, Pak dhe. Jadi, kalau Bagas mau adik bayi, Bagas jangan ikut ke Jogja, dan bobo sendiri? Tapi, Bagas kan takut kalau bobo sendiri,” ucap Bagas.
“Kan Bagas bisa bobo sama nenek, sama kakek juga,” sahut Bu Riswan yang sedari tadi menyimak pembicaraan antara paman dan keponakan itu.
“Oh iya, yah. Bagas mau deh kalo gitu. Ibu, Bagas mau adik bayi. Nanti bawain dari Jogja yah! “ seru Bagas senang.
Sarah hanya bisa tersenyum tipis melihat sang putra yang akhirnya bisa diberi pengertian, akan bulan madunya bersama Miko.
“Makasih ya, Mas. Udah mau kasih tau Bagas,” ucap Sarah.
“Kamu itu, gitu aja nggak bisa,” ejek Tino.
Pria itu kemudian beranjak dari duduknya, dan menghampiri sang ibu untuk menyalaminya.
__ADS_1
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Malam harinya, Miko bingung karena tak melihat keberadaan Bagas di kamar mereka.
“Sar, Bagas mana? Udah malem lho. Dia nggak tidur?” tanya Miko yang baru saja selesai mandi setelah pulang lembur.
Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi, dengan hanya mengenakan sebuah handuk yang melilit di pinggangnya.
“Oh, Bagas tidur sama Bapak dan Ibu,” jawab Sarah yang terlihat sedang mengambilkan pakaian tidur untuk suaminya.
“Tumben?” tanya Miko.
Pria itu berjalan menghampiri Sarah dan meraih piyama yang diambilkan oleh Sarah, dan memakainya begitu saja di depan sang istri.
“Mas! Gantinya di kamar mandi sih. Mesum!” keluh Sarah sambil memalingkan wajahnya, karena saat ini Miko tengah bertel*njang bulat..
Pria itu justru menyeringai, dan memakai kembali handuk yang tadi sempat dilepas nya. Dia kemudian menghampiri sang istri yang masih tak mau melihat ke arahnya, karena mengira Miko masih memakai pakaian.
“Sudah belum?” tanya Sarah.
“Belum,” sahut Miko tepat di samping telinganya.
Sarah terkejut dan menoleh seketika.
“Kan udah dibilang belum. Kenapa malah lihat? Dasar mesum,” ledek Miko yang terkekeh melihat sang istri kesal.
“Nyebelin!” gerutu Sarah.
Dia kemudian naik ke atas ranjang dan duduk bersandar di head board. Sarah mengambil ponselnya dan mulai berselancar di dunia maya.
“Oh, itu. Tadi siang, Bagas bilang mau adik bayi. Jadi bobonya nggak mau sama kita lagi,” sahut Sarah dengan tak sadar.
Miko tak percaya dengan apa yang diucapkan Sarah barusan. Dia membuang kemeja piyama yang hampir dipakai, dan berjalan menuju Sarah yang tengah duduk sambil meluruskan kakinya di atas tempat tidur.
Miko naik dari arah bawah, merangkak hingga mendekat ke wajah Sarah. Wanita itu masih asik dengan gawainya, hingga Miko pun merebut benda itu dengan paksa.
“Mas...,” pekik Sarah tertahan saat melihat jarak antara dirinya dan sang suami yang sudah begitu dekat.
Terlebih posisinya yang saat ini tengah di kungkung oleh pria itu.
“Ka... Kamu mau ap.... Emmm...,” Sarah seketika dibungkam oleh ciuman Miko.
Pria itu tak membiarkan Sarah terus berbicara, saat mereka punya kesempatan untuk berdua.
Miko menahan tengkuk Sarah agar tetap di posisinya, dan membuat Miko dengan bebas menjelajahi setiap inci mulut istrinya.
Rasa manis bercampur mint dari pasta gigi, menjadi rasa yang begitu menggugah h*srat pria yang sudah lebih dari lima tahun tak menyentuh wanita manapun itu.
“Eeehhhhmmmm...,”
Erangan Sarah mulai menggema di ruangan tertutup itu, saat tangan Miko mulai turun dan menelusup masuk ke dalam piyama Sarah. Dia mengusap punggung sang istri, dan naik ke atas hingga menemukan pengait bra, yang membelenggu dua gunung kembar istrinya.
Sarah yang sedari tadi menahan dada Miko, kini perlahan melingkarkan lengannya di leher pria itu, sambil terus memperdalam pagutannya.
__ADS_1
Saliva mereka bertukar, dan lidah pun saling membelit, menyapu seluruh inchi rongga mulut masing-masing, menyesap manisnya rasa rindu bercampur g*irah yang membara.
Tanpa Sarah sadari, kini kedua gunungnya telah terbebas dari belenggunya, dan tengah di tangkup oleh tangan sang suami.
Miko mulai bermain di ujung mungil yang nampak menghitam, karena menyusui putra mereka. Dia memilin dan menarik buah mungil itu, hingga membuat Sarah memekik lirih.
“Aaahhhh...,”
Dia kemudian melepas pagutannya, dan turun ke bawah, lalu melahap buah dada yang begitu menantang di sana.
Bergantian antara satu dan lainnya, Miko terus memberikan sentuhan dengan lidah dan juga bibirnya, menjilat puncak indah itu hingga membuat Sarah menggelinjang.
Wanita itu terus merem*s rambut Miko, dan membenamkan wajah tampan itu semakin dalam di lembah dadanya.
Miko melepaskan kedua gundukan sintal itu, dan menatap wajah sang istri yang telah memerah di penuhi oleh g*irah.
“Apa aku boleh melakukannya sekarang?” tanya Miko meminta ijin.
Sarah hanya bisa menggigit bibir bawahnya, dan mengangguk pasrah.
Miko pun tersenyum tipis saat telah mendapatkan lampu hijau dari sang istri. Malam panas mereka pun tercipta, di antara remangnya cahaya lampu kamar, dan sinar rembulan yang masuk dari celah jendela, menjadi saksi bersatunya kedua insan itu, setelah sekian lama terpisah.
Mereka saling melepas rindu, seiring pacuan Miko yang menghujam milik Sarah, hingga membuat wanita itu terus mengeluarkan suara indah yang semakin membuat Miko tersulut g*irah.
Peluh bercucuran dari tubuh polos keduanya. Pujian dan ucapan sayang keluar seiring deru napas yang memburu, serta des*han yang terus bergema di seisi ruangan tersebut.
Sarah yang tak pernah tersentuh oleh pria lain sejak perpisahannya dengan Miko pun, kini baru merasakan kembali h*sratnya yang seakan hendak meledak di bawah sana.
Des*han panjang dan lentingan badan ke atas, menandai pelepasan Sarah, dan terlepasnya belenggu jiwa akan h*sratnya yang telah lama tertidur.
Miko semakin menghujam dalam milik Sarah, hingga akhirnya dia pun mencapai puncaknya, menyemburkan benih yang sekian lama tak pernah menyemai rahim siapa pun. Miko pun terkulai lemas di atas tubuh polos sang istri.
Sarah memeluk memeluk kepala Miko, yang masih berada di atas dadanya dengan erat, sembari mengusapnya lembut.
“I love you,” ucap Miko di sela nafasnya yang masih memburu.
“Ehm... Aku tau kok,” sahut Sarah.
“Iisshh... Dasar nggak ada romantis-romantisnya,” keluh Miko.
Sarah terkekeh dan Miko pun turut tertawa.
Keduanya saling berpelukan, mengatur debaran jantung dan napas mereka yang masih berkejaran.
Malam masih sangat panjang, dan rasa rindu di dada keduanya, membuat ranjang itu kembali memanas hingga ayam jantan berkokok di keesokan pagi harinya.
.
.
.
.
__ADS_1
Kipas mana kipas😝
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏