
Miko menatap curiga ke arah Lidia yang nampak buru-buru mengambil sesuatu dari si petugas pengantar surat.
Istrinya jelas-jelas terlihat panik saat melihat Miko yang berjalan hendak menghampiri si petugas pos itu. Dia pun menatap curiga ke arah Lidia, namun seperti biasa, pria itu tak menunjukkan ekspresinya sama sekali.
Nampak petugas itu telah pergi, dan Lidia pun keluar dari mobil dan membuka pagar rumahnya. Dia kembali masuk ke mobil dan memasukkan kendaraan roda empat tersebut ke dalam pekarangan rumah.
Lidia pun keluar, dan benda yang tadi diterimanya sudah tidak ada. Wanita itu sudah menyimpannya di dalam dash board mobilnya, karena saat itu, dia hanya membawa dompet saja, sedangkan surat itu tidak muat untuk dimasukkan ke dalam sana.
Wanita itu berjalam ke arah sang suami. Lidia pun bersikap biasa saja dan setenang mungkin di hadapan Miko, seolah tak ada apa-apa.
"Assalamualaikum, Ko," sapa Lidia sambil meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan pria itu.
"Waalaikumsalam," sahut Miko datar.
"Kamu udah makan?" tanya Lidia.
"Hem," sahut Miko seperti biasa.
"Ya udah. Aku mau lihat Misa dulu yah," ucapnya.
Wanita itu bahkan bisa tersenyum sebegitu naturalnya. Dia pun kemudian berlalu dari hadapan sang suami.
Nyaris saja, batin Lidia.
Dia pun kemudian menemui Misa yang sedang berada di atas kereta bayi. Kedua ibu dan anak itu terlihat bercengkerama dengan bahasa yang unik, di mana sang ibu berbicara seperti biasa, sedangkan Misa hanya berceloteh tidak jelas.
Namun, keduanya nampak paham apa yang tengah dikatakan masing-masing, hingga saling sahut layaknya orang yang sedang berbincang pada umumnya.
Kemudian, Lidia mendorong kereta bayi Misa masuk ke dalam, karena cuaca semakin terik. Miko masih duduk di teras, sambil memandangi mobil istrinya yang telah terparkir di halaman.
Apa yang kamu sembunyikan dariku, Lid. Aku jelas-jelas melihatmu begitu panik saat ada petugas pos datang tadi, batin Miko.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Malam hari, Lidia nampak tengah menidurkan bayi Misa, sedangkan Miko, dia berada di ruang tengah sambil menonton TV.
Pria itu teringat akan benda yang diberikan petugas pos siang tadi. Dia begitu penasaran, benda apa itu.
Aku sekilas melihat kalau itu mirip surat. Tapi surat apa memangnya, sampai Lidia menyembunyikannya? batin Miko.
__ADS_1
Dia pun beranjak dari duduknya dan pergi menuju ke ruang tamu. Dia mengambil kunci mobil sang istri dari dalam lemari pajangan yang ada di sana.
Pria itu kemudian pergi ke garasi, di mana mobilnya dan mobil sang istri berada. Dia membuka pintu mobil Lidia, dan masuk ke dalam. Miko duduk di kursi kemudi, dan mencoba mencari apa yang disembunyikan istrinya darinya.
Aku melihat dia tak membawa apapun saat masuk tadi siang. Nggak mungkin surat itu dimasukkan ke dalam dompet kecilnya kan. Pasti masih ada di sini, batin Miko.
Dia mencoba mencari di tumpukan kertas yang ada di dash board dan ternyata benar, dia menemukan sebuah surat di sana.
"Pengadilan Agama?" gumam Miko saat membaca sampul surat tersebut.
Pria itu pun kemudian keluar dari sana, dan memcari tempat yang lebih terang untuk membacanya.
Dia kembali ke dalam dan masuk ke kamar tamu. Di sana, cahayanya cukup terang, dan membuat Miko bisa dengan mudah membaca isi surat misterius itu.
Miko segera membuka amplopnya dengan terburu-buru. Surat itu cukup tebal, karena berisi beberapa lembar kertas putusan.
Miko pun mengeluarkan isinya, dan mulai membaca satu persatu kalimat yang tertulis di sana.
Betapa terkejutnya dia saat mengetahui jika pengadilan telah memutuskan bahwa dirinya dengan Sarah, sudah resmi berpisah.
Dia semakin tak percaya jika selama beberapa bulan ini, pengadilan terus mengirimkan surat panggilan, namun tak satu pun dia menerimanya.
Miko meremas surat itu. Dia seketika tau kenapa Lidia nampak buru-buru mengambil surat ini dari petugas pos, agar sampai akhir Miko tidak pernah tau tentang persidangan ini.
Kurang ajar kamu, Lid. Beraninya kamu sembunyiin semua ini dari ku, batin Miko geram.
Ditengah amarahnya, ada rasa sedih dan sesak yang menyergap di dadanya. Dia sama sekali tidak mau menggugat cerai Sarah, karena dia masih sangat berharap jika istri keduanya itu mau kembali dengannya.
Namun, karena ulah Lidia, dia bahkan tak tau jika perceraian ini ada.
Kalau saja aku tau, aku pasti akan mempertahankanmu, Sar. Meski kamu menolakku seribu kali, aku akan tetap mempertahankanmu. Apa kau tau, aku sama sekali tidak bahagia hidup dengan Lidia, batin Miko.
Miko sadar jika dirinya begitu egois. Ketika belum bisa melepaskan Lidia, dia masih saja ingin mendapatkan Sarah kembali.
Tanpa terasa, air mata mengalir dari pelupuk matanya, menetes di atas kertas surat yang ia remas hingga nampak kusut itu.
Miko memegangi dadanya yang terasa nyeri hingga ke ulu hati. Raungannya kembali terdengar, dan begitu menyahat hati. Pilu? Ya, begitulah yang dirasakan Miko saat ini.
Dia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak, berharap agar bisa mengurangi sakitnya. Namun, hal itu justru tambah membuatnya tak bisa bernafas.
__ADS_1
Rasa sedih, kehilangan dan frustasi itu kembali terlihat di wajah tampannya, setelah terakhir kali terlihat saat kedatangan Misa di hidupnya, yang membuat harinya yang suram kembali cerah.
Namun lagi-lagi, perbuatan Lidia telah membuatnya begitu muak dan murka. Dia tak peduli lagi jika harus berpisah dari Misa. Karena dia sudah tak tahan dengan sikap istri pertamanya.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Malam semakin larut. Lidia yang terbangun setelah ikut ketiduran saat menidurkan Misa, kini berjalan keluar kamarnya. Dia teringat akan surat yang ia sembunyikan di antara sampah kertas yang ada di dalam dash board mobil.
"Semoga masih ada di sana," gumam Lidia.
Dia pun berjalan mengendap-endap, melewati Miko yang nampak tertidur di sofa ruang tengah, dengan TV yang masih menyala.
Wanita itu pun kemudian menuju ke lemari pajangan dan mengambil kunci dari sana, yang sudah diletakkan kembali oleh Miko.
Lidia bergegas menuju garasi dan segera masuk ke dalam mobilnya. Dia mengobrak abrik semua isi dash board yang sengaja ia penuhi dengan kertas-kertas pembayaran tol dan struk pembelian lainnya.
"Mana yah? Kok nggak ada," gumam Lidia.
Dia mencari dengan teliti satu persatu kertas di sana. Padahal jelas-jelas ukuran surat itu paling besar di antata yang lainnya, yang hanya kertas-kertas kecil.
Dia melihat sesuatu terlipat di pojokan, dan dia pun meraihnya.
"Ah … ini dia. Tapi kok …," gumamnya saat meraih kertas yang ternyata adalah amplop surat pengadilan.
Lidia nerasa aneh karena surat itu terasa lebih tipis dari sebelumnya. Setelah dia membukanya, wanita itu begitu terkejut kala mendapati jika amplop tersebut telah kosong.
"Lho, kok nggak ada? Masa iya pengadilan nge-prank?" gumam Lidia.
Sejurus kemudian, sebuah ketukan disertai lampu sorot dari kamera ponsel seseorang, mengusiknya. Dia pun mencoba mengahalau sinar yang menyilaukan itu dari matanya dengan tangan.
"Apa kamu mencari ini?"
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏