
Malam hari, Miko memilih untuk pulang ke rumah Lidia. Dia tak mungkin sendirian di rumah Sarah ketika sang istri tidak ada.
Dia memang tipe pria yang sangat ingin dilayani oleh pasangannya, sehingga Lidia yang lebih fokus meniti karir, membuatnya merasa kekurangan perhatian.
"Assalamualaikum," sapa Miko setibanya di rumah istri pertamanya.
"Waalaikumsalam. Kenapa ke sini? bukannya ini giliran kamu ke tempat simpananmu itu, Ko," ejek Lidia saat suaminya baru saja masuk ke rumah.
Meski Lidia tak mau melepas Miko, dan bertahan di dalam rumah tangga yang kacau balau ini, akan tetapi, istri mana yang rela dan ikhlas seratus persen membiarkan suaminya mempuanyai istri lain selain dirinya.
Miko berjalan begitu saja melewati Lidia, dan menuju ke kamarnya. Pria itu membersihkan diri dan menunaikan sholat maghrib yang hampir tidak keburu.
Setelah itu, dia memilih untuk menonton TV di ruang tengah, sedangkan Lidia, wanita itu malam ini nampak menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
Setelah sejam berlalu, Lidia menghampiri Miko dan meraih remot TV dari tangan suaminya, dan mematikan layar datar itu.
"Ayo makan. Aku sudah siapkan makan malam untuk kita," ucap Lidia kepada suaminya.
Namun, Miko tak bergerak. Dia justru merebut kembali remot yang dipegang boleh Lidia.
"Aku nggak lapar. Kamu habiskan saja sendiri," ucap Miko yang kembali menyalakan TV.
"Ko, aku udah capek-capek masak buat kamu. Seenggaknya hargain dong jerih payahku. Aku bela-belain buat siapain makan malam, padahal kerjaanku numpuk …," cerocos Lidia.
"Siapa yang suruh?" potong Miko dengan ada sindiran.
Lidia pun seketika diam, dengan mengerutkan alisnya. Dia nampak emosi karena Miko tak mau menghargai perubahan sikapnya saat itu.
"Kamu kan yang mau istri yang kayak gini. Masak, ngelayani kamu, …," ucap Lidia yang mulai kesal.
"Apa sekarang semua itu penting, hah?" sela Miko lagi.
Setiap yang diucapkan Lidia, seolah sudah tak mau lagi didengarkan oleh Miko. Pria itu merasa menyesal karena memilih pulang ke tempat Lidia, hanya karena Sarah sedang tak ada di rumah.
"Ko, seenggaknya aku sedang mencoba memperbaiki diri," ujar Lidia geram dengan sikap suaminya.
"Kenapa baru sekarang? Kenapa setelah aku menemukan sosok istri yang ku mau, baru kamu mau melakukan permintaanku, Lid?" cecar Miko yang kemudian bangkit berdiri berhadapan dengan Lidia.
"Apa mau kamu sekarang? Apa ada yang bisa berubah kalau kamu mau mencobanya?" lanjut Miko dengan tatapan kesal ke arah istri pertamanya itu.
__ADS_1
"Aku cuma mau mempertahankan rumah tangga kita aja, apa itu salah? Lagian apa hebatnya sih simpananmu itu, hah?" cela Lidia yang lagi-lagi menyebut Sarah sebagai simpanan.
"Yang jelas dia itu istri impuanku, Lid. Nggak kaya kamu yang selalu mentingin egomu dibanding kewajibanmu sebagai seorang istri," bentak Miko yang marah atas ucapan Lidia yang terus merendahkan Sarah.
"Hah … hahahahaha … istri impian? Istri impian katamu, Ko? Wah … kalau begitu aku harus bilang apa dong ke kamu? Selamat? Turut berduka cita? Atau apa?" ejek Lidia yang semakin membuat Miko geram.
"Apa maksudmu Lidia?" tanya Miko yang berusaha menahan amarahnya.
"Maksudku? Maksudku adalah, istri impianmu bilang kalau dia akan pergi dari hidupmu. Dia akan minta pisah setelah anak haramnya itu lahir," sarkas Lidia.
PLAK!
Sebuah tamparan mulus mendarat di pipi Lidia. Wanita itu menatap nyalang ke arah suaminya itu.
"Kau … kau berani kasar padaku gara-gara wanita murahan itu, Ko?" pekik Lidia kecewa dengan Miko yang berani main tangan padanya.
"Aku masih bisa tahan saat kamu dengan seenaknya mengacuhkanku. Tapi, aku nggak bisa diam kalau kau berkata hal-hal yang tidak masuk akal seperti tadi," teriak Miko.
"Apa yang nggak masuk akal, hah? Apa? Semua yang aku katakan semua masuk akal!" ucap Lidia dengan nada tinggi.
Wajahnya nampak memerah karena amarahnya yang sudah memuncak.
"Oh, ya? Lalu, kenapa wanita murahan itu mendatangiku dan mengatakan kalau kalian akan berpisah, hah? Apa dia bohong? Istri idaman mu itu wanita pembohong rupanya. Hahahahha …," ejekan demi ejekan dilontarkan oleh Lidia.
Miko pun semakin dibuat jengah melihat tingkah Lidia yang selalu saja membuatnya emosi. Pria itu pun kemudian memilih untuk pergi dari rumah, dan menuju ke rumah kontrakannya bersama Sarah.
Setelah kepergian Miko, Lidia duduk seorang diri di meja makan. Dia membalikkan piring yang ada dihadapannya, dan mulai mengambil nasi, dan beberapa lauk.
Dia pun mulai menyuapkan sesendok demi sesendok makanan yang ada di piringnya. Namun lambat laun, dia seolah menjejalkan semua makanan itu, bahkan saat mulutnya masih penuh, hingga ia merasa sesak.
Air mata pun meleleh di pipinya yang masih terasa panas akibat tamparan Miko beberapa waktu yang lalu.
Kamu jahat, Ko. Apa aku nggak bisa menebus kesalahanku, dan memulai semuanya lagi dari awal? Aku sangat senang ketika mendengar wanita itu bilang akan pergi dari hidupmu. Tapi seperinya, kamu yang sudah tak mau lagi denganku, batin Lidia serasa begitu pedih.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Di tempat lain, Miko sudah sampai di rumah kontrakannya. Dia pun masuk ke dalam, dan rasa kesepian merasuk seketika dalam hatinya.
Bayangan Sarah yang mengatakan akan pergi dari sisinya, seolah begitu terasa saat itu juga. Dadanya tiba-tiba terasa nyeri, kala membayangkan hidupnya tanpa Sarah, wanita yang selalu bisa mengerti dirinya, dan memberikan semua perhatiannya hanya untuk suami dan keluarganya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Sarah … Maafkan aku," ucap Miko tepat di depan pintu rumah kontdakan, tempat dirinya tinggal bersama sang istri kedua.
Miko perlahan melangkah masuk lebih dalam dan menuju ke kamar mereka berdua. Sekilas bayangan kebersamaan mereka, terlintas diingatan Miko.
"Rasanya sakit sekali, saat membayagkan semua ini hanya akan menjadi kenangan," gumam Miko.
Tanpa terasa, air mata jatuh menetes di wajah tampannya. Miko benar-benar tak rela jika Sarah benar-benar meninggalkan dirinya.
"Aku akan terus mencoba menahanmu agar tetap di sisiku, Sar. Jika harus ada yang ku lepas, itu bukan kamu, tapi Lidia," ucap Miko penuh keyakinan.
Pria itu pun kemudian duduk di tepi tempat tidur, dan menaikkan kakinya satu persatu. Miko lalu tidur meringkuk di tempat Sarah biasa berbaring.
Malam itu, ia habiskan seorang diri meresapi jejak kehadiran Sarah di tempat tersebut.
Pagi harinya, miko memutuskan untuk mengambil ijin seharian penuh. Dia sebelumnya berencana menjemput Sarah setelah pulang kerja. Namun, dia merubah jadwalnya dan bergegas menuju ke rumah mertuanya pagi-pagi sekali, dan menjemput Sarah.
Setibanya di kediaman keluarga Pak Riswan, Miko masih disambut hangat oleh Ibunda Sarah. Namun, Pak Riswan nampak berbeda dari sebelumnya.
Beliau cenderung acuh, bahkan saat Miko meminta tangannya untuk bersalaman.
"Sarahnya ada, Pak?" tanya Miko.
"Bu, panggilkan Sarah. Suruh dia siap-siap pulang. Suaminya sudah menjemputnya," seru Pak Riswan kepada sang istri.
Bu Riswan pun berlalu meninggalkan keduanya, menuju kamar yang biasa di tempati oleh Sarah sebelum dia menikah.
Di ruang tamu, Pak Riswan menatap lekat wajah menantunya itu. Tatapan matanya sulit untuk di artikan. Beliau terus diam, hingga membuat Miko serba salah.
Hingga Sarah tiba di ruang tamu, Pak Riswan beranjak dari duduknya dan hendak pergi dari sana.
"Pulanglah. Suamimu sudah menjemputmu," ucap Pak Riswan yang pergi meninggalkan keduanya.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏