Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Surat Undangan


__ADS_3

Beberapa bulan telah berlalu. Setelah memutuskan untuk pergi dari kota pahlawan, dan kembali ke kota asal, Miko benar-benar menepati janjinya untuk tidak lagi menggangu hidup Sarah.


Pria itu bahkan tak lagi berkomunikasi walau hanya berkirim pesan.


Meski begitu, hubungannya dengan Bagas masih tetap terjalin. Setiap akhir pekan, Miko selalu menjemput Bagas di playgroup, sebagaimana yang sudah disepakati oleh Sarah dan juga dirinya sebelum berpisah.


Sarah akan menitipkan barang-barang keperluan Bagas kepada Nisa, salah satu pengajar di yayasan tersebut, yang nantinya akan diberikan kepada Miko saat pria itu datang untuk menjemput putranya.


Nisa sangat tahu betul akan masalah yang tengah dihadapi oleh wali murid dari anak didiknya itu. Meskipun begitu, dia hanya bisa memakluminya dan berusaha memberi pengertian kepada Bagas, saat anak kecil itu mulai bertingkah.


Hari ini adalah hari sabtu, di mana Miko akan menjemput Bagas untuk diajak pulang ke rumahnya di kota Semarang. Di sana, Miko akan membawa Bagas ke tempat kakek dan neneknya yang sudah pasti merasa sangat senang dengan kehadiran cucu laki-laki, yang dulu pernah sempat dikabarkan telah meninggal dunia.


Semua kasih sayang tercurah untuk Bagas baik dari kedua orang tuanya dan juga kakek dan neneknya. Namun sayangnya, keluarga itu masih harus tercerai berai karena kedua orang dewasa yang sama-sama masih saja egois.


Miko nampak memasuki halaman depan playgroup, di mana terdapat area bermain anak, tempat sang putra biasa bermain sambil menunggu orang tuanya datang menjemput.


"Nak," sapa Miko yang melihat putranya berada di sebuah prosotan bersama teman dekatnya, Bela.


"Ayah!" pekik Bagas saat melihat kedatangan ayahnya.


Miko pun berjongkok dan merentangkan tangannya menyambut kedatangn Bagas. Ia pun memeluk pria kecil itu dengan erat sembari melepas rasa rindu setelah seminggu tak bertemu.


Dia kemudian mengurai pelukannya, dan beralih melihat ke arah gadis kecil yang berdiri tak jauh dari tempatnya berada.


"Bela juga lagi nunggu jemputan ya?" tanya Miko ramah.


"Iya, Oom," sahut Bela.


Anak itu sekarang sudah mulai terbiasa dengan keberadaan Miko yang sering berada di sekitar Bagas. Rasa takutnya yang dulu perlahan hilang, seiring sikap Miko yang terus mencoba lebih baik kepada dirinya dan juga sang papah saat mereka bertemu.


Miko berdiri dan berjalan menghampiri Bela.


"Nunggu siapa kali ini? Nenek atau …," tanya Miko.


"Papah!" pekik Bela memotong pertanyaan Miko.


Semua menoleh dan Bela segera berlari menyongsong laki-laki yang sudah ditunggunya datang dari tadi.


"Uhm … anak papah. Lama yah nunggunya yah. Maaf yah, tadi ada macet dikit," ucap Fadil sembari menggendong putri kecilnya.


Dari kejauhan, Nisa melihat kehadiran Miko yang hendak menjemput Bagas. Dia pun kemudian mengambilkan barang titipan yang Sarah berikan kepadanya pada pagi hari.


Di sisi lain, Miko yang masih berada di sana, bangkit berdiri dan menggandeng tangan putranya. Dia berjalan menghampiri Fadil dan mengulurkan tangannya untuk menyalami duda satu anak itu.


"Selamat sore, Dok. Apa kabar?" sapa Miko.

__ADS_1


"Sore, Pak Miko. Alhamdulillah, kabar saya baik," sahut Fadil tersenyum ramah.


"Bagas, ayo salim sama Oom dokter," seru Miko.


Pria kecil itu pun menurut dan menyalami Fadil.


"Hai jagoan. Mau ikut Ayah ke Semarang yah?" sapa Fadil.


"Iya, Oom. Bagas mau main ke rumah nenek dan kakek Bagas lagi," jawab Bagas dengan cerianya.


"Jangan nakal yah di sana," pesan Fadil.


"Oke, Oom," sahut Bagas.


Fadil kemudian nampak menurunkan Bela yang sedari tadi berada di gendongannya. Pria itu lalu nampak mengambil sesuatu dari dalam tas.


Sebuah benda tipis sebesar buku tulis, dan terbalut plastik dengan sebuah label nama di atasnya, dia serahkan kepada pria di depannya.


"Ini untuk Anda. Datanglah! Acaranya minggu depan di hotel X," seru Fadil sembari menyerahkan benda tersebut.


Miko menerima benda seperti kertas terlipat, dengan tulisan bertinta emas dan ada gambar dua cincin di atasnya, serta hiasan pita bergliter emas menghiasi surat undangan berwarna merah tua itu.


Dadanya bergemuruh. Seketika dia merasakan sesak hingga bernafas pun terasa sangat sulit. Matanya memerah dan lapisan bening mulai terlihat di sana.


"I … ini …," maksud hati Miko hendak bertanya, namun sebuah suara menghetikan usahanya.


Semua menoleh kecuali Miko yang masih tertegun memandangi benda yang ada di tangannya.


Penglihatannya mulai kabur karwlena genangan yang terbentuk di pelupuk matanya. Dia segera menyeka buliran yang menetes dan kemudian menoleh ke arah suara yang memanggilnya.


"Ya, Bu Nisa," sahut Miko.


"Ini titipan dari Bu Sarah," seru Nisa sambil membawa tas perlengkapan untuk Bagas yang akan dibawa Miko.


"Oh, iya. Terimakasih," ucap Miko.


Wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah lain, dan tersenyum dengan manisnya.


"Mas, sudah dateng?" sapa Nisa kepada pria satunya lagi, Fadil.


"Iya, Nis. Kamu masih lama?" tanya Fadil.


"Lumayan. Bela sudah mau pulang sama papah ya?" sahut Nisa kepada Fadil dan juga Bela.


"Iya, Bu," jawab Bela sambil menyalami wanita di depannya.

__ADS_1


"Kalau gitu, kita pulang dulu yah, Nis," ucap Fadil.


"Iya. Hati-hati ya, Mas … Bela juga hati-hati ya, Sayang," seru Nisa kepada pasangan ayah dan anak itu.


Fadil pun pamit kepada Miko dan juga Bagas, lalu kemudian pergi dari tempat itu.


Nisa pun kembali masuk ke dalam gedung meninggalkan Bagas dan juga Miko.


"Ayah, ayo kita pulang ke rumah ayah," ajak Bagas.


"Ehm … ayo!" sahut Miko.


Dia menggandeng tangan anaknya dan menuntunnya sampai masuk ke dalan mobil. Surat undangan yang tadi diberikan oleh Fadil, ia letakkan begitu saja di dalam dashboard mobil, tanpa membukanya sama sekali.


Dia mengemudi dalam diam. Bahkan celotehan sang putra tak ia tanggapi dengan benar. Hanya gumaman yang sesekali keluar dari mulutnya.


Pikirannya terus tertuju pada undangan pernikahan yang diberikan oleh Fadil. Meski dia tak mau membukanya karena terasa sangat menyakitkan saat harus melihat nama wanita yang dicintainya bersanding dengan nama pria lain, namun ada banyak tanya yang muncul dalam benaknya.


Kenapa Sarah tak memberitahukan hal ini padaku? Kenapa dia bahkan tak memintaku untuk tidak mengajak Bagas pergi minggu depan? Apa dia mau menikah tanpa sepengatahuan anaknya sendiri? batin Miko.


Dia terus mengemudikan mobilnya, meski pun hatinya masih terus bergemuruh seperti layaknya guruh di langit yang mendung.


Tanpa terasa, bulir bening mengalir dari sudut matanya.


"Ayah! Ayah!" panggil Bagas.


"Ehm … iya, Nak. Kenapa?" tanya Miko yang terkahet mendengar panggilan putranya.


"Kok Ayah nangis?" tanya Bagas.


Miko pun meraba wajahnya. Dia segera mengusap lelehan itu.


"Oh, ini cuma keringat kok. Pria sejati kan nggak boleh nangis," ucap Miko sembari mengulas senyum terpaksa untuk mengelabui anaknya.


Bagas pun percaya dan kembali diam.


Kenapa aku seperti ini? Bukankah aku sudah bertekad merelakannya untuk pria itu? Lalu, kenapa masih terasa sangat sakit saja, batin Miko.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


__ADS_2