Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Akan kubuat mereka baikan


__ADS_3

Di lantai atas, Fadil mengajak Bagas duduk di tepi balkon sambil memegangi sekotak jus buah instan.


"Bagas, apa Bagas Marah sama Ibu karena nggak mau bilang kalau Ayah Bagas sudah datang?" tanya Fadil.


Bagas tak menoleh. Namun, pria kecil itu hanya mengangguk pelan.


"Bagas tau kan kalau Bela juga nggak pernah ketemu sama mamahnya," tanya Fadil.


Bagas kembali mengangguk pelan.


"Tapi, Bela nggak marah sama Oom dokter lho," lanjut Fadil.


"Tapi kan, Oom dokter nggak bohongin Bela di mana mamahnya tinggal," jawab Bagas lirih.


"Ibu Bagas juga nggak mau bohong, lho," sanggah Fadil.


Bagas akhirnya menoleh dan memandangi wajah Oom dokternya.


"Bagas pasti pernah marahan sama temen Bagas kan?" tanya fadil.


Pria kecil itu kembali mengangguk.


"Apa Ibu sama Ayah juga lagi marahan? Tapi, kenapa marahannya lama banget, Oom? Kata Bu guru, kalo marah, nggak boleh lebih dari tiga hari. Dosa," ucap Bagas.


Fadil pun tersenyum mendengar perkataan anak kecil yang polos itu.


"Mungkin, karena Ayah nakal sama Ibu. Jadi, Ibu marahnya lama. Tapi, ibunya Bagas selalu ceritain soal Ayah kan?" tanya Fadil.


Bagas mengangguk cepat. Raut wajah sedih anak itu, kini berangsur-angsur hilang, dan terlihat semakin antusias dengan pembicaraanya dengan Fadil tentang ibu dan ayahnya.


"Tapi, kenapa Ayah nggak kenal sama Bagas yah?" gumam Bagas tertunduk kembali.


"Memangnya, kapan Bagas ketemu sama Ayah?" tanya Fadil.


"Kemarin, waktu Oom dipukul pas jemput Kak Bela. Itu Ayah Bagas kan," ucap Bagas.


Bahkan, dia sudah tau sampai situ, batin Fadil.


"Ehm … mungkin karena marah, Ibu jadi lupa kasih tau ayah soal Bagas," jawab Fadil sekenanya.


"Kalau gitu, Bagas mau bantu Ibu supaya bisa baikan lagi sama Ayah. Jadi, Bagas bisa bareng-bareng lagi sama Ayah dan Ibu," seru Bagas dengan riang.


Fadil hanya tersenyum tipis ke arah anak kecil di sampingnya itu. Ada rasa sakit di hatinya karena Bagas yang begitu menginginkan ayahnya sendiri.


Semua perhatian yang coba ia berikan kepada anak itu, seolah tak bisa mengurangi rasa rindunya akan sosok seorang ayah.


Mungkin, aku memang harus menyerah padamu, Sar. Bahkan anakmu pun, selalu menolakku dengan sangat halus, batin Fadil.


Setelah berhasil menenangkan Bagas, Fadil mengantarkannya kembali ke bawah, dan mempertemukan kedua ibu dan anak itu.

__ADS_1


Sarah nampak merentangkan kedua tangannya ke arah Bagas. Anak kecil itu pun berjalan menghampiri sang bunda dan memeluk wanita itu.


Senyum terlukis di wajah Sarah, namun mata sembabnya tak bisa ia tutupi. Dia memandang ke arah Fadil dan tersenyum tipis.


"Makasih ya, Mas," ucap Sarah.


"Sama-sama," sahut Fadil.


Pria itu mendekat dan berjongkok di belakang Bagas yang masih memeluk ibunya. Dia mengelus kepala belakang Bagas, hingga anak kecil itu pun berbalik menghadap ke arah Oom dokternya.


"Bagas, ingat harus nurut sama Ibu ya, dan jangan buat Ibu sedih lagi," ucap Fadil.


"Ehm … terimaksih ya, Oom," sahut Bagas mengangguk.


"Kita pamit dulu ya, Bu, Mas," pamit Sarah.


"Kamu hati-hati ya," ucap Rianti.


"Bagas pulang dulu, Nek," pamit Bagas.


"Iya, Sayang. Hati-hati ya," sahut Rianti.


Keduanya pun pergi dari rumah keluarga itu. Di perjalanan, tak ada omelan atau pun celotehan dari Bagas. Keduanya menjadi canggung karena kejadian sebelumnya.


Meski begitu, Sarah tetap melakukan tugasnya sebagai seorang ibu. Membantu puratnya mandi dan berganti pakaian, serta menemaninya tidur. Hanya saja, kali ini Bagas tidak meminta diceritakan soal ayahnya.


Sarahpun memilih tidak bertanya kenapa, dan mengambil sebuah buku dongeng untuk putra tercintanya.


Akhir pekan telah usai. Hari ini, Sarah telah kembali bekerja setelah sebelumnya mengantar putranya ke playgroup terlebih dulu.


"Sar, mana pesenan ku?" tanya Minati yang datang tiba-tiba ke meja kerja Sarah.


"Pesanan? Pensanan apa, Min?" tanya Sarah bingung.


Dia baru saja datang dan sudah ditodong oleh rekannya itu. Sarah pun tak mampu mengingat apapun.


"Foto copy kartu keluarga kamu mana? Kan pas haru jumat aku minta, katanya kamu nggak baca pesen. Hari sabtunya, kamu bilang lupa, dan janji hari senin. Ini udah senin, mau lupa lagi?" cecar Minati.


Sarah seketika menepuk keningnya.


Melihat tingkah Sarah, Minati pun langsung mendengus kesal.


"Maaf, Min. Sumpah aku beneran lupa," ucap Sarah.


"Hah … kamu ini. Ya udah, aku pake yang diarsip aja yah," ujar Minati.


"Ya udah deh. Pake yang itu aja," sahut Sarah.


Minati pun berlalu dan menuju ke ruang arsip. Dia mencari data diri Sarah di mana di sana terlampir juga foto copy kartu keluarga miliknya.

__ADS_1


Sore hari menjelang, saat Minati menyerahkan laporan perihal data diri semua karayawan kantor cabang di mana miko memimpin.


"Apa ini sudah semuanya?" tanya Fajar, sang sekretaris bosnya.


"Sudah, Pak. Dan ini arsip kartu keluarganya, barangkali nanti dibutuhkan untuk kroscek ulang di sana," sahut Minati.


"Baiklah. Terimakasih," ucap Fajar.


"Sama-sama, Pak. Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit Minati.


Seperginya manager personalia itu, Fajar pun masuk ke dalam ruangan Miko dengan berkas yang diberikan oleh Minati tadi.


"Permisi, Pak," ucap Fajar.


"Ada apa, Jar?" tanya Miko yang masih berkutat dengan pekerjaannya.


"Saya membawakan dokumen yang Anda minta beberapa hari yang lalu, tentang data diri semua karyawan di kantor cabang ini," tutur Fajar.


Miko seketika menghentikan pekerjaannnya dan menoleh ke arah sang sekretaris.


"Cepat kemarikan!" seru Miko.


Fajar pun segera menyerahkan laporan hasil rangkuman dari Minati, beserta seluruh arsip kartu keluarga masing-masing karyawan.


Miko meraih berkas itu dan langsung membukanya. Tujuannya satu, yaitu divisi humas. Daftar nama teratasnya adalah menejer humas, atas nama Sarah Amalia, sang mantan istri.


Di sana tercatatat, jika Sarah masih berstatus janda dan memiliki seorang putra bernama Bagaskara Adi Jaya.


"Jadi, Sarah masih janda?" gumam Miko.


Dia pun beralih mengambil setumpuk arsip yang juga diikutkan dengan laporan itu.


"Apa ini sudah semua?" tanya Miko.


"Menurut menejer personalia sudah, Pak," sahut Fajar.


Miko nampak membuka lembar demi lembar, dan mencari satu persatu kartu keluarga milik Sarah di antara tumpukan itu.


Setelah beberapa saat, dia pun menemukannya, dan melihat kertas dokumen itu dengan seksama.


Ini kartu keluarga lama. Lima tahun lalu, dan dia sudah bersama anak laki-laki itu? Siapa sebenarnya anak itu? Apa jangan-jangan … tidak … tidak … tidak mungkin itu anak kami. Apa mungkin Sarah sama dengan Lidia, yang mengangkat seorang anak sebagai ganti dari anak kami yang telah meninggal? batin Miko.


.


.


.


.

__ADS_1


Masih slow ya😅masih nyuruh miko berjuang dulu😁


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


__ADS_2