Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Kedatangan Tino


__ADS_3

Pesta pun berlangsung dengan meriah. Bagas terlihat begitu senang, terlebih dengan kehadiran Miko di sana. Bagas selalu menggandeng tangan pria itu dan tak mau jauh-jauh darinya.


Awalnya Miko risi, karena dia harus berada di tengah keluarga mantan istrinya, yang pernah ia bohongi di masa dulu. Namun, melihat keceriaan Bagas, membuat Miko tak sampai hati merusak semua itu malam ini.


Saat pemotongan kue, dia memberikan potongan pertama kepada Miko. Hal itu mengundang tanya Pak Riswan dan istri, karena Bagas terlihat begitu dekat dengan pria itu.


Bukan hanya kedua orang itu saja yang terkejut, Miko pun begitu. Dia tak tahu kenapa Bagas sangat mengistimewakannya.


Potongan demi potongan diberikan oleh Bagas kepada orang-orang terdekatnya. Kedua untuk ibunya, ketika dan keempat untuk kakek neneknya, kelima untuk Bela, keenam dan tujuh untuk Fadil dan juga Rianti.


Setelah selesai acara pemotongan kue, pesta dilanjut dengan permainan sulap tradisional dan juga pertunjukan badut dan hewan-hewan lucu seperti anjing, kucing dan juga kelinci.


Anak-anak terlihat sangat menyukainya. Yang tadinya sempat mengantuk bahkan tertidurpun, kini sudah kembali bersemangat dan menikmati semua acara yang disiapkan oleh tuan rumah, dalam hal ini Sarah yang dibantu oleh Fadil dalam melobi para pengisi acaranya.


Bagas yang tak mau jauh dari Miko, dan selalu menggenggam tangan pria itu, membuat sang ayah mau tak mau terus menemani putranya melihat semua persembahan dari para pengisi acara pesta tersebut.


Saat itu, para orang tua membuat kelompok masing-masing dan berbincang bebas sambil mengawasi anak mereka bermain.


kedua orang tua Sarah, Fadil dan Rianti pun membuat kelompok sendiri dan berbincang-bincang. Sementara Sarah, menyapa para orang tua teman putranya yang turut hadir dalam acara tersebut.


"Maaf ya, Bu. Tadi mulainya lama," ucap Sarah.


"Nggak papa, Bu. Wajar, anak-anak kalo ngerasa belum lengkap, suka gitu," sahut salah satu orang tamu.


"Ehm … anak-anak emang suka ya, Bu. Syukurlah kalo semuanya bisa memaklumi," ucap Sarah.


"Iya, nggak papa kok, Bu," sahut yang lain.


Semuanya nampak bisa memaklumi keadaan Bagas yang sempat membuat pesta tertunda.


"Silakan nikmati hidangan seadanya. Saya mau ke sana dulu," tutur Sarah.


Semuanya mengiyakan. Setelah Sarah menjauh, mereka mulai bergosip tentang laki-laki yang ditunggu Bagas dan sampai saat ini masih menemani anak kecil itu.


"Eh, lihat deh anaknya Bu Sarah. Dia lengket banget sama laki-laki itu. Jangan-jangan, dia bapaknya yah? Kan Bu Sarah janda. Bisa aja kan," tutur salah satunya.


"Iya ih. Lihat nggak tadi pas laki-laki itu dateng. Bagas kelihatan seneng bangetkan. Tapi, kenapa bisa cerai yah? Padahal serasi lho," timpal yang lain.


Dan pembicaraan itu pun berlanjut terus hingga merembet ke mana-mana.


Sarah berjalan menuju ke arah di mana orang tuanya, Fadil dan Rianti berada.


"Hah … akhirnya pestanya jadi juga," ucapnya sambil duduk dan menyandarkan punggungnya di sofa.


Wanita itu terlihat sangat lelah. Rianti mengambilkan segelas minuman yang ada di atas meja, dan menyodorkannya kepada Sarah yang tengah duduk di antara dirinya dan Bu Riswan.

__ADS_1


"Sar, kanapa Miko bisa di sini?" tanya Pak Riswan.


"Bagas yang undang, Pak. Bukan aku," jawab Sarah.


Dia tau kalau semua orang pasti penasaran dengan kedatangan orang itu, terlebih kedua orang tuanya yang belum tahu kenapa Miko ada di Surabaya.


"Terus, apa dia sudah tau kalau Bagas itu …," tanya Bu Riswan.


"Belum, Bu. Dia belum tau," potong Sarah cepat sebelum ada yang mendengar ucapan sang bunda.


"Tapi, kenapa mereka terlihat sangat dekat?" tanya Bu Riswan lagi.


"Sarah juga tidak tau. Tapi yang jelas, Bagas tau siapa Miko," ungkap Sarah.


"Apa? Kamu serius?" pekik Bu Riswan.


"Bu, jangan keras-keras ngomongnya. Ingat, masih banyak tamu," seru Pak Riswan kepada sang istri.


"Benar, Bu. Bagas sudah tau. Dia dengar obrolan kami tempo hari, saat Miko baru pertama kali bertemu dengan Bagas," tutur Fadil membantu menjelaskan.


"Kamu sudah tau, Mas? Kenapa nggak bilang?" tanya Sarah.


"Maafkan aku. Aku hanya nggak mau kamu kepikiran, Sar. Saat itu, kamu sudah sangat sedih dan aku pun tak mungkin menambah kesedihanmu dengan mengatakan jika Bagas sudah tau siapa ayahnya dan sangat ingin bertemu dengan orang itu," ungkap Fadil.


Sarah nampak memejamkan matanya, sembari mendongakkan kepalanya bertumpu pada sandaran sofa.


"Yah, cepat atau lambat semuanya pasti akan terbongkar," sahut Sarah.


Bu Riswan paham betul apa yang sangat dikhawatirkan oleh putrinya. Dia meraih tangan Sarah, dan mengusap lembut punggungtangan sang putri.


"Nduk, Bu Rianti bener. Sebaiknya kamu beritahukan saja semuanya sama Miko. Biar dia tahu kalau anaknya masih ada," seru Bu Riswan.


"Bu, Ibu tau sendirikan apa akibatnya kalau dia tau? Kita bisa kehilangan Bagas, dan aku nggak mau itu terjadi," tepis Sarah cepat.


"Sarah, coba kamu turunkan sedikit egomu, dan lihat betapa bahagianya anak dan ayah itu saat bersama. Bahkan, meski Miko belum tahu identitas Bagas yang sebenarnya, dia bisa dekat dan terlihat begitu menyayanginya. Apa kamu tega membuat mereka terus terpisah seperti sekarang ini?" ujar Pak Riswan.


Terdengar helaan mafas panjang dari mulut Sarah. Pembicaraan itu pun buntu, karena janda beranak satu itu yang masih bersikeras, untuk menutupi semuanya dari sang mantan suami.


Pukul setengah sepuluh, pesta pun berakhir. Tamu undangan berangsur-angsur pulang meninggalkan tempat acara.


Keluarga Sarah mengantar semua tamu-tamu pulang sampai ke pintu depan, bersama dengan Fadil dan juga Rianti.


Bagas masih terlihat digendong oleh Miko, dan tak mau untuk turun.


"Nak, ayo turun. Oom Miko harus pulang. Ini sudah malam," seru Sarah.

__ADS_1


"Nggak mau … Bagas mau sama Ayah …," ucap Bagas yang dilanjutkan dalam hatinya.


"Bagas, nurut sama Ibu!" seru Sarah tegas.


Namun bukannya turun, Bagas justru semakin mengeratkan pelukannya di leher sang ayah.


"Nggak papa kok, Sar. Aku masih bisa nemenin Bagas," sahut Miko.


Sarah hanya mendengus kesal, lalu berbalik dan berjalan ke arah orang tuanya.


Miko kembali ke taman samping dan membantu Bagas membuka kado-kado miliknya.


"Sar, kita pulang dulu yah. Kasihan Bela. Dia udah capek banget," pamit Rianti.


Nampak gadil kecil itu berada di gendongan papahnya, dan terlihat mengantuk.


"Iya, Bu. Terimakasih ya udah bantuan seharian ini," ucap Sarah.


"Sama-sama," sahut Rianti.


Kini, sudah tidak ada tamu lagi. Pak Riswan dan istri tengah berganti pakaian di kamar tamu, sedangkan Miko dan Bagas masih asik dengan kado-kado. Sarah terlihat duduk di sofa sambil melepas lelahnya.


Tak lama setelah kepulangan keluarga Fadil, datang seseorang yang harusnya sudah berada di sana sejak awal acara.


"Assalamualaikum," salam orang tersebut.


"Waalaiakumsalam, Mas Tino. Alhamdulillah, akhirnya ke sini juga," sahut Sarah kepada sang kakak yang baru saja datang.


"Tadi mogok. Rusaknya lumayan, tapi untungnya bisa dibenerin. Oh iya, Ponakan Mas mana? Ini ada kado dari Seva. Maaf, dia nggak bisa dateng," kata Tino.


"Nggak perlu repot-repot, Mas. Itu Bagas lagi di taman samping sama …," ucap Sarah terhenti.


Dia mendadak beku dengan mulut yang terbuka dan mata yang membola sempurna saat terlupa akan sesuatu.


Gawat! Masih ada Miko. Mas Tino bisa ngamuk kalo lihat dia, batin Sarah.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏

__ADS_1


__ADS_2