Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Miko dan Lidia


__ADS_3

Miko Santanu Aji POV


Dua tahun lalu, aku bertemu dengan seorang wanita cantik dan pintar di sebuah acara yang diadakan sebuah lembaga keungan di kota Semarang.


Aku datang sebagai perwakilan dari kantorku, begitu pun wanita itu.


Dia sangat terkenal di bidangnya, hingga ia dijuluki bintangnya perusahaan finance. Aku kagum pada sosoknya yang supel, mudah berbaur dengan siapapun ia bicara.


Ayu Lidia Mirnawati, atau yang akrab disapa Lidia. Dialah wanita cantik si bintang finance itu.


"Ko, lihat tuh. Namanya Lidia. Udah cantik, pinter, prestasinya banyak, orangnya nggak sombong. Pokoknya, beuhhhhhh.... cocok deh buat kepala cabang yang sukses kaya kamu," seru Dodi, teman sekaligus rekan kerjaku yang kebetulan ikut menemani di acara tersebut.


Meski posisinya dibawahku, namun dia tetap teman sejak masa SMA dulu. Aku dan dia sering bertukar cerita perihal apapun, bahkan hal yang paling gila sekalipun.


"Embat aja sana," celetuk ku sambil meminum minuman yang ku ambil.


"Aku? Kaya pungguk merindukan bulan dong, Ko. Apalah aku dimatanya yang cuma karyawan biasa. Nggak kaya kamu yang bos," sahut Dodi.


"Halah! Kalau cewe lihat cowo dari isi dompet, berarti dia matre. Terus juga, dia kan cantik, katamu pinter juga, masa jomblo sih. Nggak mungkin," ucapku.


"Buktinya masih single kok. Selama janur kuning belum melengkung, pepet teruuuusssss," ujar Dodi dengan tangan yang meniruka sesuatu mirip ular yang meliuk-liuk.


Aku tak menghiraukannya, hingga ketika acara hendak dimulai, Lidia tiba-tiba duduk di kursi yang berada disebelahku. Aku pun seketika menoleh.


"Kosongkan?" tanyanya setelah duduk begitu saja.


"Kosong," jawabku singkat.


Ketika acara dimulai, dan beberapa pengisi acar memaparkan materi-materinya, Lidia mengajakku untuk berdiskusi. Rupanya, wanita itu sangat menyenangkan. Pantaslah banyak yang menyukainya.


Acara itu pun selesai. Kami berpisah, namun sebelumnya, kami saling bertukar nomor ponsel. Hubungan kami pun berlajut di luar acara.


Sesekali, aku iseng mengajaknya untuk makan siang. Kebetulan kantornya dan kantorku berjarak tak terlalu jauh. Hanya butuh sekitar tiga puluh menit perjalanan menggunakan mobil untuk sampai di sana.


Entah mengapa, rasa gengsi muncul ketika semua rekan-rekanku mulai menjodohkan kami. Dia sosok yang begitu sempurna, yang sangat pantas untuk bersanding dengan diriku yang seorang kepala cabang perusahaan yang lumayan besar.


"Ayolah, Ko. Dia sama kamu tuh klop banget. Kaya raja sama ratu tau nggak. Sama-sama bintang," ucap salah satu teman se profesiku.


Aku pun semakin gencar mendekatinya, hingga ikrar cinta pun terucap. Kami resmi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, lebih tepatnya couple goal yang sangat dielu-elukan keserasiannya oleh semua rekan dan karyawan.


Bagaimana tidak, aku yang adalah seorang kepala cabang, yang bisa dibilang cukup sukses dalam memimpin timku, sedangkan dia seorang marketing finance yang gemilang dengan segudang prestasi yang ia dapatkan selama berkarir.


Aku bangga memilikinya, layaknya seorang pemenang yang berhasil mendapatkan piala, begitulah yang ku rasakan saat menunjukkan kepada semua orang saat aku berhasil meminangnya. Akhirnya kutuskan untuk mengikatnya dalam sebuah pernikahan.


"Nih undangan buat mu, Bro," ucapku yang menyerahkan sebuah undangan pernikahan kepada Dodi.


"Weeezzzz ... Mantap! Baru dua bulan yang lalu aku nyuruh deketin, ini udah mau tanjap gas aja," sahutnya yang menerima undangan dariku.

__ADS_1


"Barang bagus kudu cepet dibawa pulang. Kalo nggak, ntar keburu diborong orang," ucapku.


Dodi tertawa mendengar perkataanku.


"Gila … gila … eh, Ko. Dia itu manusia, bukan barang. Tapi emang bener sih, cewe se oke dia kudu cepet-cepet dipinang, biar aman." Dodi kembali berujar.


"Ya udah. Dateng yah. Jangan sampe nggak," seruku.


"Siaaaap … oh iya, udah dapet MC sama pengisi acarnya belum? Aku ada nih kalo butuh," tawarnya.


"Aku terima beres. Semua yang atur dia. Lidia tuh orangnya serba pengin sesuai sama yang dia mau, jadi ya udah serahin sama dia aja lah," ucapku.


"Wah … ati-ati tuh, Ko. Bisa-bisa nanti kamu yang diatur sama dia," ujar Dodi.


Mendengar perkataan temanku itu, aku jadi sedikit memikirkan kemungkinan tersebut. Belum apa-apa, Lidia juga sangat mendominasiku dan mengatur semuanya sesuai yang diinginkannya.


"Woi! Ngelamun," seru Dodi yang menyadarkanku dari lamunan.


"Eh … udah dulu ya. Masih banyak nih. Mau bagi-bagi ke yang lain," ucapku.


Aku pun berlalu dari sana.


Entah kenapa, semenjak mendengar perkataan Dodi sebelumnya, aku terus memikirkan kemungkinan itu.


Terlambat untuk kembali memikirkan semua itu. Persiapan sudah hampir selesai, baju pengantin sudah jadi, dekorasi dan catering sudah di pesan, undangan pun sudah disebar. Jika tiba-tiba dibatalkan hanya gara-gara masalah yang belum jelas, pasti akan sangat memalukan semua pihak.


Akhirnya pernikahan pun terjadi. Aku resmi mempersunting sang bintang menjadi istri sahku.


"Lid, kalau aku minta kamu buat dirumah aja, mau nggak?" tanyaku disela-sela waktu bersantai kami, setelah bercinta di suatu pagi.


"Ehm … resign maksudmu, Ko?" sahutnya sambil menoleh ke arahku yang tengah memeluknya dari belakang.


"Ya, begitulah. Aku ingin kamu bisa terus mengurusku di rumah," ucapku sambil mengeratkan pelukan.


Tiba-tiba, Lidia menyingkirkan lengan yang melingkar di perutnya, dan dia bangun begitu saja tanpa mengenakan apapun untuk menutupi tubuh polosnya.


"Wanita itu multi tasking, Ko. Aku bisa terus mengurusmu sambil berkarir kok," ucapnya sambil berjalan menuju ke kemar mandi.


"Jadi, jangan pernah memintaku untuk resign," lanjutnya sebelum menghilang di balik pintu.


Aku memandangi pintu yang tertutup itu dengan dengusan nafas kesal.


"Baru juga ku bilang kalau, dia sudah marah. Ya sudah, jika memang dia bisa bagi waktu, aku tak masalah," gumamku.


Awal pernikahan, wanita itu memang membuktikan perkataannya jika dia bisa mengurus semua urusan rumah dan pekerjaan sekaligus, tanpa mengorbankan salah satunya.


Dia juga selalu menemaniku setiap malam, dan memberikan hak ku sebagai suami. Aku bahagia, sangat bahagia.

__ADS_1


Namun, kehidupan rumah tangga kami yang bisa dibilang biasa ini, semakin hari aku semakin merasakan jika Lidia lebih memikirkan pekerjaannya dibandingkan aku, suaminya.


Ketika pagi hari, dia memang membuatkan ku sarapan, akan tetapi tak pernah lagi menemaniku makan bersama.


"Ko, aku udah bikinin kamu kopi. Di meja makan juga udah ada roti sama selai. nanti kamu makan sendiri aja. Sorry banget aku harus buru-buru berangkat. Ada rapat penting," ucapnya hampir setiap pagi.


Namun, tak sampai di situ, setiap kali aku mengajaknya untuk makan siang bersama, dia yang sebelumnya bisa, sekarang selalu menolak.


"Maaf banget, Ko. Aku masih banyak kerjaan, gara-gara kemarin dulu sering pulang cepet. Jadi keteter gini deh. Lain kali aja ya," serunya.


Hampir setiap ku ajak, selalu seperti itu alasannya, seolah semua kesibukannya kini, disebabkan oleh tugasnya sebagai istri.


Bahkan, ketika di rumah pun, fokusnya masih tetap pada kerjaannya.


"Assalamualaikum," salamku ketika baru saja pulang.


"Waalaikumsalam," sahut Lidia.


Aku duduk di sofa ruang tamu, tepat di sebelah Lidia yang sedang sibuk dengan laptopnya.


"Masih sibuk?" tanyaku sambil memperhatikan sekilas layar empat belas inc itu.


"Iya nih. Kamu udah makan?" tanyanya.


"Belum. Kamu masak apa?" tanyaku.


"Maaf, Ko. Aku nggak masak. Kamu beli aja di depan yah," serunya.


"Kamu sendiri udah makan belum?" tanyaku.


"Udah tadi, bikin nasi goreng," jawabnya.


"Nggak bisa bikinin aku sebentar?" tanyaku.


"Udah deh, Ko. Kamu bisa lihat sendirikan, aku sibuk banget. Saling ngerti aja, Oke?" sahut Lidia menatapku tajam.


"Ya udah, bikinin kopi aja kalau gitu," ucapku.


"Ko, please yah. Kamu nggak lihat nih kerjaanku sebanyak ini. Udah ya, aku nggak mau debat sama kamu gara-gara perkara kopi doang. Mending kamu mandi aja sana biar seger," ucapnya.


Aku seketika seolah tak mengenal siapa wanita yang kunikahi. Lidia yang begitu baik, pengertian dan selalu bisa membagi waktunya, kini seolah tak ada lagi.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


__ADS_2