Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Kejarlah bahagiamu


__ADS_3

Di ruangan serba putih itu, pemandangan yang mengharukan terjadi di sana. Tampak pertemuan antara ayah dan anak, yang selama lima tahun ini terpisah, bahkan sang ayah mengira jika anaknya sudah tak ada lagi di dunia ini.


Sarah masih berada di ambang pintu, menyaksikan semua kejadian itu dengan haru. Wanita itu pun tak kuasa menahan tangisnya, saat melihat sang anak akhirnya bisa bersama dengan ayahnya, tanpa harus berpura-pura tidak mengenalinya.


"Sar," panggil sebuah suara yang begitu lembut.


Sang ibu mendekati Sarah, dan menepuk pundaknnya. Sarah yang sudah tak bisa menahan perasaan sesak di dadanya, seketika menghambur memeluk ibundanya, dan menumpahkan tangisnya di dada wanita tua itu.


"Kamu sudah melakukan hal yang benar, Sarah. Yakinlah, semua akan baik-baik saja setelah ini," ucap Bu Riswan.


Sarah belum menyadari, jika di dalam sana ada seseorang yang turut menyaksikan kejadian itu dengan hati teriris pedih. Namun, dia hanya mampu menyembunyikannya di balik senyuman, dan berharap agar kebahagiaan akan selalu menyertai Sarah dan Bagas.


"Nak Fadil, Bapak tau perasaan mu. Tapi yakinlah, kalau kamu dan Sarah memang berjodoh, kalian pasti akan bersama, meskipun Miko sudah hadir di tengah-tengah kalian," ucap Pak Riswan.


Pria tua itu menepuk bahu Fadil, yang jelas terlihat tersenyum getir melihat semua itu. Pak Riswan paham betul apa yang tengah dirasakan oleh dokter tampan yang sudah lama menaruh hati pada putrinya.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Seharian itu, Miko dan Bagas terlihat seperti dua sejoli yang sedang kasmaran. Mereka tak mau berpisah barang sebentar saja. Bahkan, untuk hal kecil seperti urusan ke kemar mandi pun, Bagas meminta Miko yang mengantarnya.


Sarah sampai dibuat jengah melihat kelakuan kedua orang ayah dan anak itu.


"Oke, mulai besok Ibu akan masuk kerja. Bagas sama Ayah saja yah," ucap Sarah merajuk.


"Bagas kan masih sakit, Bu. Kenapa Ibu sudah mau kerja lagi. Jahat," sahut Bagas cemberut.


"Ya habisnya, Ibu di sini nggak ada gunanya juga. Bagas mau apa-apa selalu sama Ayah, kan?" tutur Sarah.


"Oh … Ibu lagi ngambek tuh. Bagas sih dari tadi nyuekin Ibu terus," seru Miko.


Pria itu nampak tersenyum tipis melihat interaksi yang manis antara kedua orang yang sangat ia sayangi itu.


"Apa kamu senyum-senyum, Mas? Ngeledek aku, gara-gara udah nggak dipeduliin sama anakku sendiri?" sungut Sarah.


"Udah toh, Nduk. Kamu ini jangan iri sama Miko. Wajar kan kalau Bagas lebih suka bareng sama ayahnya. Kan mereka juga baru ketemu setelah sekian lama," tutur Bu Riswan.

__ADS_1


Sarah menghampiri sang bunda yang duduk di sofa bersama ayahnya.


"Yah, Sarah cuma merasa tersisih aja, Bu," ucap Sarah tanpa redeng aling-aling.


"Wis toh, Sar (Sudah, Sar). Biarkan mereka saling melepas rindu. Sekarang, fokusmu cuma menyediakan hal-hal yang diperlukan oleh anakmu. Untuk seterusnya, biar Miko yang mengurusnya untuk Bagas," seru Pak Riswan.


Terdengar helaan nafas panjang dari mulut Sarah. Dia benar-benar merasa tersisih dengan kedatangan Miko di hidup Bagas.


Tingkahnya yang merajuk bak anak kecil, membuat semua orang yang ada di sana tertawa, karena merasa lucu dengan tingkah Sarah yang jarang mereka lihat itu.


Namun, jauh di dalam hati wanita yang tengah menjadi bahan tertawaan keluarganya, terselip rasa tidak nyaman yang hadir, saat dia menyadari keberadaan orang yang sudah banyak berjasa pada dirinya dan juga sang putra.


flash back on


Bagas dan Miko saling berpelukan. Sarah pun menumpahkan keharuannya di dada sang bunda. Semua yang ada di sana, larut dalam suasana bahagia yang membuncah, membuat hati penuh sesak hingga tak mampu menahan tangis.


Terdengar sayur-sayup perkataan sang ayah kepada seseorang, yangtengah berada di sana juga.


Sarah mengangkat kepalanya dan melihat Fadil, yang ternyata juga berada di kamar rawat putranya. Dokter itu melihat ke arah dirinya berada, dan tersenyum tipis kepadanya.


Maaf, Mas. Tapi ini demi Bagas. Dia sangat menginginkan ayahnya, bukan haya sekedar sosok ayah saja, batin Sarah.


Setelah cukup lama Miko dan Bagas saling melepas kerinduan di antara mereka berdua, Fadil mendekat dan mengusap puncak kepala Bagas.


"Bagas, selemat yah. Ayah Bagas akhirnya dateng," ucap Fadil dengan senyum setulus mungkin, meski hatinya sebenarnya sangat sakit.


"Ehm … terimakasih, Oom dokter," sahut Bagas.


"Boleh Oom ambil hand phone-nya?" tanya Fadil.


"Ini, Oom. Oom dokter mau jadi pahlawan super lagi ya?" tanya Fadil.


"Iya dong. Oom dokter harus balik lagi ke markas, biar siap nolongin orang yang sedang membutuhkan," jawab Fadil.


Mereka berdua nampak akrab. Miko terlihat iri dengan kedekatan keduanya.

__ADS_1


Fadil menoleh ke arah Miko, di mana pria itu sudah lebih dulu menatapnya.


"Selamat ya. Akhirnya, kalian bisa berkumpul kembali. Kalau ada yang mau kamu tanyakan, cari saja aku di ruanganku," ucap Fadil.


"Sampai jumpa nanti, dan terimakasih untuk selama ini karena sudah berusaha menggantikanku," ucap Miko tegas.


Nampak jelas persaingan di antara keduanya. Sarah pun menyadari hal itu, dan merasa serba salah.


Di satu sisi, dia ingin agar putranya bisa kembali tersenyum. Namun di sisi lain, dia juga tak mau menyakiti hati orang lain, yang dalam hal ini adalah Fadil.


Namun, hidup adalah pilihan. Entah pilihan mana yang harus dipilih, namun sebisa mungkin itu adalah pilihan yang terbaik.


Saat Fadil pamit meninggalkan ruangan itu, Sarah pun turut beranjak dari tempatnya dan mengikuti Fadil pergi.


"Mas," panggil Sarah.


Fadil pun menghentikan langkahnya. Dia terlihat menghela nafas terlebih dahhlu sebelum akhirnya berbalik dan tersenyum ke arah Sarah.


"Ada apa, Sar?" tanya Fadil.


"Mas, maaf ya. Aku … aku cuma … cuma mau buat Bagas seneng aja kok. Nggak ada maksud lain," ucap Sarah.


Fadil semakin melebarkan senyumnya. Dia merengkuh pundak wanita itu dan sedikit mencondongkan wajahnga agar tepat berhadapan dengan Sarah.


"Sarah, kamu nggak usah merasa tidak enak padaku. Ingat, selama ini kita hanya teman baik bukan, dan aku Oom dokternya Bagas. Jika bahagianya Bagas memang bersama ayahnya, maka berikanlah itu. Tapi, coba kamu tanya pada hatimu sendiri, di mana bahagiamu, Sar? Jika memang dengan pria itu, maka benahilah semua yang sudah pernah hancur. Kamu wanita bebas, Sar. Ingat itu," tutur Fadil.


Sarah terdiam mendengarkan semua ucapan Fadil barusan. Dia pun tersenyum ke arah dokter tampan itu, dan membiarkan pria baik itu pergi mejauh darinya.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


__ADS_2