Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Semu


__ADS_3

Selepas sholat isha, Sarah menyiapkan makan malam untuk putranya. Dia tak memperkerjakan asisten rumah tangga full time, namun dia hanya meminta bantuan kepada salah satu tetangga yang membutuhkan pekerjaan untuk membantu Sarah mengurus rumah dari pagi sampai sore hari.


Sehari-harinya, Sarah dan Bagas tak pernah berada di rumah. Wanita itu bekerja dari pagi hingga sore, sedangkan Bagas dititipkan di play group selama seharian penuh.


Setiap malam, Sarah selalu menyempatkan memasakkan makanan untuk putra tercintanya, dan menemani Bagas bermain hingga waktunya tidur.


Tak jarang, putranya itu meminta Sarah untuk menceritakan kisahnya dengan sang ayah dulu, sebagai dongeng pengantar tidur. Tentu saja ini berat untuk Sarah, mengingat lagi masa sulitnya saat suami yang ia cintai ternyata membohonginya.


Namun, tak bijak jika dia pun memceritakan keburukan Miko pada putranya sendiri. Dia tak ingin ada kebencian di hati Bagas terhadap ayahnya, karena bisa saja, entah kapan waktunya mereka mungkin saja akan bertemu.


Menurut sebuah buku, ayah untuk anak laki-laki adalah seorang super hero, pahlawan pertama di muka bumi ini yang ia kagumi. Maka dari itu, Sarah tak ingin membuat sang anak justru menjadikan pahlawannya sebagai orang jahat, dan membuat psikologis putranya pun cenderung ke arah yang negatif.


"Bagas, ayo makan dulu, Nak!" seru Sarah kepada putranya yang tengah menonton acara TV kesukaannya.


"Iay, Bu. Bentar lagi," sahut Bagas.


Sarah terlihat masih menata hidangan di meja makan. Dia membuatkan ayam saus teriyaki kesukaan Bagas, dan sup jamur.


Wanita itu nampak melepaskan apronnya dan menggantungkan kembali di tempat semula. Dia pun kemudian berjalan menghampiri Bagas yang masih cekikikan menyaksikan kartun favoritnya.


"Nak, makan dulu yuk. Kartunnya bisa di-rewind lagi nanti," seru Sarah.


"Tapi lagi seru, Bu!" sahut bagas.


Terdengat helaan nafas dari mulut Sarah melihat tingkah putranya yang kadang susah sekali diatur.


"Ya udah, nanti jangan minta Ibu buat ceritain soal Ayah lagi yah," ucap Sarah sambil berlalu meninggalkan Bagas.


Anak kecil itu pun segera mematikan TV dan berjalan mengikuti sang ibu.


Sarah tahu betul jika satu-satunya cara agar Bagas mau menurut padanya adalah dengan hal-hal yang berkaitan dengan sang ayah.


Meski sebenarnya Sarah tak mau lagi mengaitkan apapun dengan Miko, namun putranya sangat ingin tau akan semua hal tentang pria itu.


Sarah hanya tersenyum tipis melihat tingkah putranya yang dengan cepat duduk tenang di meja makan, sambil melipat kedua lengannya di atas meja.


"Katanya lagi seru-serunya," sindir Sarah.


"Lebih seru cerita soal Ayah. Hehehe …," sahut Bagas.

__ADS_1


Sarah kembali tersenyum tipis mendengar jawaban dari putra semata wayangnya. Meski di dalam hati, ada rasa nyeri yang kembali hadir.


Namun, melihat mata putranya yang begitu berbinar saat dirinya menceritakan kisah tentang sang ayah, membuatnya mengesampingkan perasaan bencinya pada pria itu.


Seusai makan malam, Sarah membereskan semua peralatan makan yang kotor, dan mencucinya di washtafle.


Bagas terlihat kembali menghidupkan TV dan menonton ulang acara yang tadi sempat ia tinggalkan.


Setelah pukul delapan malam, Sarah mengajaknya untuk pergi ke kamar. Wanita itu selalu mengajarkan kebersihan seperti menyikat gigi sebelum tidur, buang air kecil, dan berwudlu sebelum baik ke tempat tidur.


"Bu, hari ini mau cerita apa?" tanya Bagas yang terlihat begitu antusias.


"Ehm … memangnya ada yang belum Ibu ceritakan?" ucap Sarah melempar tanya pada putranya.


"Ada," sahut Bagas.


Sarah mengerutkan kening sambil memiringkan kepalanya sedikit menatap sang putra kecilnya.


"Apa itu?" tanya Sarah.


"Ehm …," Bagas pun nampak berpikir.


"Sepertinya sudab semua deh. Gimana kalau malam ini, Ibu bacain dongen aja buat kamu? Mau yah," bujuk Sarah.


"Hah … ya deh, iya," Sarah pun kembali mengorek luka lamanya demi membuat putra tercintanya senang.


Setelah berhasil membuat bagas tertidur, Sarah memilih untuk duduk di teras samping rumahnya yang menjadi tempat favorit saat dia sedang ingin menenangkan diri.



Dia selalu takut saat memikirkan reaksi putranya, ketika nanti dia sudah tahu arti kata bercerai. Apa Bagas masih bisa sesenang ini saat meminta diceritakan soal ayahnya.


Bukan tanpa alasan, Bagas meminta Sarah menceritakan tentang ayahnya. Dia sempat menjadi bahan ejekan temannya di playgroup, karena hanya dia yang tak pernah membawa ayahnya ke sana.


Mereka mengatakan jika Bagas tak punya ayah, dan beberapa dari mereka sering membuatnya iri dengan kedekatan serta kekompakannya dengan ayah mereka.


Hingga suatu hari, Bagas tak mau berangkat ke sekolah dan mengurung diri di rumah. Anak kecil itu terlihat murung.


Saat Sarah bertanya kepada putranya, ia tak pernah menyangka jika dia menginginkan sosok seorang ayah di hidupnya.

__ADS_1


"Bagas mau ayah, Bu. Di mana ayah Bagas? Kenapa cuma Bagas yang nggak punya ayah? Kenapa semua anak punya kecuali Bagas?" tanya anak kecil itu dengan linangan air mata.


Sarah tak mampu lagi berkata-kata. Dia pun mau tak mau menceritakan kisahnya dengan Miko, namun menghilangkan bagian menyedihkannya. Bahkan, dia mengatakan jika Miko saat ini sedang ada misi rahasia, seperti layaknya super hero kegemarannya, Thor, yang pergi ke dimensi lain untuk menangkap Loky yang jahat.


Beruntung, Bagas bertemu Bela saat gadis kecil itu masih di taman kanak-kanak yang satu yayasan dengan play group tempat bocah laki-laki itu berada.


Bela yang juga merasakan hal yang sama, bahkan lebih parah dari Bagas, menjadi satu-satunya teman yang selalu memihak dan mendukung pria kecil itu.


Sarah duduk di kursi, dan menyandarkan punggungnya, sambil melipat kedua lengannya di depan dada.


Ingatannya menerawang jauh ke waktu lima tahun yang lalu, di mana dia baru saja sah bercerai dengan Miko.


Awal titik balik kehidupannya yang selama beberapa bulan terakhir seperti neraka, dengan segala hinaan, caci maki dan cemoohan orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Nduk, kamu beneran mau pindah ke Suarabaya? Apa perlu ibu ikut kamu buat bantu ngurus Bagas?" tanya sang ibu.


"Nggak perlu, Bu. Sarah bisa minta tolong orang buat jagain Bagas kalau sudah mulai kerja nanti. Lagipula, masih lama kok, Bu. Ibu bisa puas-puasin dulu ngemong Bagas, sampai aku dapat pekerjaan," ucap Sarah.


"Emangnya kamu sudah coba ngelamar-ngelamar di sana?" tanya sang ibunda.


"Sudah beberapa, Bu. Tapi masih belum ada panggilan," jawab Sarah.


"Hah … ya sudah. Semoga kamu nanti-nanti saja dapat kerjanya," ucap Bu Riswan.


"Lho kok doanya gitu, Bu? Nggak beres Ibu ini," geruru Sarah.


"Biar Ibu puas momong si Bagas dulu. hehehe …," sahut bmBu Riswan yang berlalu meningglkan Sarah sambil menggendong bayi Bagas.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


Sambil nunggu next up, yuk bisa mampir ke novel temenku. ceritanya bagus lho, dan bagi yang suka romance modern, ini beneran recommended😎

__ADS_1



cus masukin ke rak😘


__ADS_2