
Di perjalanan, Miko dan Sarah tak mengucapkan sepatah katapun. Keduanya saling membuang muka. Sarah menatap keluar jendela, sedangkan Miko terus fokus ke arah depan.
Sesampainya di rumah, Sarah pun segera pergi ke kamarnya, dan meninggalkan Miko yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Hah …," helaan nafas terdengar dari mulut pria itu.
Dia pun berjalan ke arah kamar, dan mencoba mengetuk pintunya.
"Sar! Sarah! Boleh aku masuk?" panggil Miko dari luar.
Namun, tak ada sahutan sama sekali. Dia pun mencoba memutar handle pintu, dan rupanya, pintu itu tidak terkunci.
Miko pun bernafas lega.
"Aku masuk ya, Sar," ucapnya sembari melangkah ke dalam kamar.
Dilihatnya, Sarah tengah berdiri di depan jendela, memandang ke arah luar. Kedua tangannya memeluk badannya sendiri sambil mengusap-usao kedua lengannya.
"Sar," panggil Miko yang berjalan mendekat dan menyentuh bahu istrinya.
"Aku sudah putuskan, Mas. Bapak dan Ibu pun menyerahkan semua keputusan padaku. Mereka sangat menyayangkan hal ini, tapi mereka hanya ingin yang terbaik untuk semuanya," ucap Sarah.
Miko seketika membalikkan badan sang istri agar menghadap ke arahnya
"Sar, kenapa kamu nggak bicarain ini dulu sama aku, hah?" tanya Miko yang merasa kecewa dengan keputusan Sarah.
"Aku lelah, Mas. Aku nggak mau terus-terusan hidup seperti ini. Aku lebih baik mundur dan pergi dari hidupmu," jawab Sarah dengan suara yang meninggi.
"Tapi, Sar. Aku sangt mencintai kamu. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu, Sarah. Tolong urungkan niatmu itu," bujuk Miko dengan nada yang melembut.
Namun, wanita itu sepertinya sudah kuat dengan pendiriannya. Sarah menggeleng, meski Miko mengiba padanya.
"Kita lanjutkan semua kekacauan ini sampai anak ini lahir, Mas. Setelah itu, tolong kau lepaskan aku," ucap Sarah.
Bulir bening kembali menetes dari pelupuk mata indahnya yang beberapa bulan ini semakin terlihat sembab.
"Nggak! Aku nggak mau, Sar. Aku mau sama kamu. Aku janji akan segera ceraikan Lidia, supaya kita bisa hidup tenang berdua," ucap Miko.
Sarah semakin geram dengan perkataan suaminya tadi.
__ADS_1
"Tenang? Siapa yang kamu maksud, Mas? Aku? Atau kamu?" cecar Sarah menatap nyalang pria di hadapannya.
Miko mengerutkan kedua alisnya, dan mencerna maksud dari pertanyaan-pertanyaan Sarah.
"Kamu bener-bener egois, Mas. Kamu mau ceraikan istri pertamamu, supaya bisa tenang hidup denganku? Lalu bagaimana denganku, Mas? Apa kamu pikir dengan semudah itu aku bisa hidup tenang, hah?"
"Kamu mikir nggak sih, aku akan tetap dihujat orang sebagai pelakor yang berhasil menyingkirkan istri pertama. Aku akan dihina di mana pun aku berada. Terlebih lagi, anakku akan dicap sebagai anak dari seorang wanita yang tega merebut lelaki orang. Aku sama sekali nggak mau itu, Mas. Aku nggak mau!" teriak Sarah yang meluapkan semua kekeceewaannya kepada sikap Miko yang selalu memikirkan dirinya sendiri.
Miko terperangah dengan penuturan Sarah. Dia sama sekali tak berpikir sampai sejauh itu.
Jadi, semenderita itu kah kamu menjadi istriku, Sar? batin Miko.
"Aku akan bersikap selayaknya istri bagi mu, hanya sampai masa persalinanku tiba. Setelah itu, aku akan segera urus semuanya, dan kamu bisa selesaikan masalahmu dengan Mbak Lidia tanpa melibatkan aku di dalamnya. itu yang aku mau kalau kamu memang benar-benar mencintaiku, Mas," tukas Sarah.
Wanita itu pun menepis kedua tangan Miko yang bertengger di bahunya sedari tadi. Dia pergi melangkah keluar dan menuju ke dapur.
Miko terdiam. Dia mematung mendengarkan keputusan Sarah yang sepertinya sudah sangat mantap. Dia pun mundur bebera langkah, hingga kakinya menabrak pinggiran ranjang.
Pria itu terduduk. Ia mengusap kasar wajah dan menjambak rambutnya.
"Aaarrrgghhhhh …!" teriaknya yang terdengar begitu putus asa.
Wajahnya terus tertunduk. Kedua lingkar matanya memerah dan nampak air mata telah menggenang di pelupuk matanya.
Miko cepat-cepat menyeka genangan itu sebelum luruh di pipi. Ia pun berjalan cepat, dan keluar dari rumah.
Terdengar bunyi mesin mobil yang dinyalakan. Sarah yang sedari tadi berada di dapur, sempat melihat kepergian Miko. Namun, wanita itu sama sekali tak menghiraukannya.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Sore menjelang dan Miko belum juga kembali. Sarah sudah menyiapkan makan siang yang bahkan sudah dingin dari tadi.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu dari arah luar. Sarah yang sedari tadi duduk menonton TV pun, berjalan mendekat ke arah pintu. Ia mengintip sedikit dari balik jendela, dan setelah itu Sarah buru-buru membukakan pintu saat melihat siapa yang tengah berdiri di depan sana.
"Assalamualaikum," sapa orang yang datang itu.
"Waalaikumsalam. Pak, Bu," sahut Sarah kepada kedua orang itu yang tak lain adalah sang mertua.
Sarah pun meraih tangan keduanya dan menyalaminya secara bergantian.
__ADS_1
"Ayo masuk, Pak, Bu," ajak Sarah sambil merangkul Ibu mertuanya.
Mereka pun menuju ke ruang tamu. Kedua orang tua itu pun duduk, sementara Sarah pergi ke dapur dan membuatkan minuman untuk keduanya.
Tiga gelas teh manis telah siap, dan Sarah membawakannya ke ruang tamu untuk disajikan kepada tamunya.
"Silakan diminum, Pak, Bu," seru Sarah kepada keduanya.
"Terimakasih, Sarah." Ayah mertuanya kemudian meraih cangkirnya dan menyesap teh hangat yang di sajikan oleh Sarah.
"Kamu apa kabar, Nak?" tanya Ibu mertua.
"Alhamdulillah, Sarah baik, Bu," sahut Sarah sambil tetap tersenyum kepada mertuanya.
"Bapak dengar dari Miko, kalau kamu mau minta bercerai. Kenapa kamu mau lekukan itu, Sar? Apa kamu nggak kasihan sama anakmu?" tanya sang ayah mertua.
"Maaf, Pak. Tapi sejak dari awal, penikahan ini memang sudah salah, dan aku nggak mau semua ini terus berlarut-larut," jawab Sarah.
"Sarah, kamu nggak kasihan melihat anakmu tumbuh tanap seorang ayah? Apa kamu tega misahin Miko dan anaknya?" lanjut ibu mertunya.
"Maaf, Bu. Tapi keputusanku sudah bulat. Aku tak akan melarang Mas Miko untuk bertemu dengan anaknya, tapi untuk hidup bersama, aku sudah tak sanggup," tutur Sarah yang terus tertunduk, meski kata-katanya terdengar begitu tegas.
"Sebaiknya kamu pikirkan lagi keputusanmu itu, sebelum semua terlambat," ucap ayah mertua.
"Kenapa? Kenapa kalian diam saja saat Mas Miko meminangku? Kenapa kalian tak memberikan nasehat ini juga kepadanya? Kenapa kalian tega melakukan ini pada ku?"
"Apa Bapak dan Ibu tau bagaimana orang-orang melihatku? Apa kalian tau, sesakit apa aku menerima semua hinaan, cacian dan makian mereka padaku dan juga anak ini?"
"Seandainya saja mas miko tidak meminangku saat dia masih punya istri, mungkin akan berbeda ceritanya. Tapi, semuanya sudah terjadi, dan maaf, keputusanku sudah bulat," pungkas Sarah.
.
.
.
.
Mohon maaf, othor nggak bisa up date tepat waktu seperti biasa dikarenakan kesibukan di dunia nyata🙏tapi, othot usahakan untuk bisa up setiap hari😊jadi tetap tungguin kelanjutan kisah pelakor yang teraniaya ini ya😁
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏