Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Tugas yang berat


__ADS_3

Seusai pemakaman bayi malang itu, Miko memilih untuk tinggal di rumah orang tuanya. Dia terus meratapi kepergian anak yang selama ini sangat ia nantikan.


"Kamu tega, Sar. Sebenci apapun kamu, harusnya jangan sakiti dia. Apa kamu nggak sayang sama darah dagingmu sendiri?" ucap Miko dalam tangisnya.


Pria itu terlihat begitu menyedihkan. Air mata terus berderai dari matanya. Tak ada lagi wajah tampan yang biasa tergambar di sana.


Dia terus menangis sambil memeluk bantal guling yang ia anggap seperti anaknya yang dikiranya telah meninggal.


Kedua orang tuanya pun begitu prihatin melihat putra mereka menjadi seperti itu.


"Sepertinya, ini semua juga kesalahn kita, Pak. Kita yang sudah mendesak Sarah untuk memilih, sehingga dia melakukan hal se nekat ini kepada anaknya," ucap Ibu Miko yang terisak memikirkan nasib cucunya yang malang dan putra mereka yang seperti orang depresi.


"Memangnya kita salah apa? Sudah sewajarnya anak itu kita yang urus. Toh dia yang selalu minta pisah kan. Hak asuhnya sudah pasti akan jatuh ke tangan Miko. Tapi tak disangka, rupanya dia bisa berbuat hal sekeji itu. Wajah polosnya tak berarti apa-apa, jika hatinya sebusuk itu. Mengorbankan darah dagingnya demi kebebasannya sendiri. Keterlaluan," maki Ayah Miko.


Kedua orang tua Miko tak tahu bagaimana kejadiannya, sampai Sarah bisa melahirkan tiba-tiba seperti itu. Yang mereka tahu dan dengar dari mulut Miko adalah, Sarah yang telah tega membunuh bayinya sendiri.


Sehingga, mereka berdua mengira jika Sarah tega melakukan hal sekeji itu, dan tak tau jika anak itu meninggal saat dilahirkan.


"Sudah lah, Bu. Jangan ungkit wanita kejam itu lagi. Anggap saja itu kesialan karena kita sudah mengijinkan Miko untuk menikahinya," seru Ayah Miko yang pergi dari depan pintu kamar putranya.


Sedangkan Ibu Miko, masih berdiri di sana ,dan memandangi anak laki-lakinya yang terlihat menyedihkan dari balik pintu.


"Maafkan kami, Nak. Ini semua tak lepas dari kesalahan kami juga. Maaf," gumam Ibunda Miko lirih.


Wanita tua itu pun kemudian menutup rapat pintu kamar putranya, dan pergi dari sana.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Hari-hari berlalu. Miko yang dirundung kesedihan yang amat sangat, melupakan Lidia yang sudah berhari-hari ia tingal sendirian di rumahnya.


Meskipun tak ada yang meyalahkannya atas apa yang terjadi, akan tetapi justru kediaman ini membuatnya tersiksa.


Dia merasa menyesal karena sudah mengikuti permainan Sarah. Namun, tak dipungkiri jika ini lah jalan satu-satunya agar Miko bisa lepas dari jerat istri mudanya.


Akan tetapi lain cerita, jika Sarah memilih meninggalkan anaknya demi kebebasannya sendiri. Dia sangat tak ingin untuk mengurus anak tiri yang sudah pasti akan diserahkan kepadanya.


Bagai buah simalakama, semua pilihannya terasa sulit untuk ia tanggung di kemudian hari.


Padahal, dia sudah sangat senang ketika berpikir bahwa madunya akan pergi, dan lambat laun Miko akan kembali mesra dengannya. Membangun kembali rumah tangga mereka yang sempat retak oleh keegoisan masing-masing.


Dia bahkan mulai mengurangi beban pekerjaan yang biasa ia pegang. Namun, Miko tak kunjung pulang ke rumah.

__ADS_1


"Apa sebaiknya aku menyusulnya ke rumah orang tuanya yah?" gumam Lidia.


Terbersit pikiran untuk pergi berkunjung ke rumah mertuanya sekaligus melihat kondisi Miko saat ini.


Keesokan harinya, Lidia pun mengendarai mobilnya menuju ke sebuah rumah yang berada tak jauh dari pusat Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah itu.


Sebuah rumah dua lantai dengan gaya minimalis dan terkesan modern, disertai halaman yang luas khas rumah-rumah keluarga besar di Jawa, mulai terlihat dari posisi Lidia saat ini.


Setelah sampai di depan gerbang, dia pun membunyikan klakson. Tak berselang lama, seorang satpam nampak datang dan segera membukakan pintu gerbang untuk menantu majikannya.


"Apa Miko ada?" tanya Lidia sesaat setelah keluar dari mobil.


"Mas Miko ada di kamarnya, Mbak." Satpam itu kemudian kembali berjalan menuju ke posnya.


Lidia pun bergegas masuk. Untuk menuju ke kamar yang biasa Miko tempati, wanita itu harus melewati ruang tamu, ruang tengah, ruang makan, kemudian naik tangga dan sebuah kamar, baru lah dia bisa menemukan kamar dengan pintu kayu yang dipenuhi sticker-sticker band jaman 90'an yang nge-hits. Itulah kamar suaminya, Miko.


Saat melewati ruang tengah, Lidia tak sengaja berpapasan dengan ibunda Miko.


"Assalamualaikum, Bu." Lidia menyapa ibu mertuanya, dan menyalaminya dengan hormat.


"Waalaikumsalam. Mau ketemu Miko?" tanya Ibu mertua.


"Nggih, Bu (Iya, Bu). Mikonya di kamarkan?" tanya Lidia dengan sopan selayaknya berbicara dengan orang tua dalam adat Jawa.


"Nopo nggih, Bu? (Apa ya, Bu?)" tanya Lidia.


"Ikut dulu saja. Kita bicara di taman saping sambil ngeteh. Miko ndak akan ke mana-mana, kok. Dia masih betah di kamarnya." Ibu Miko pun berjalan mendahului menantunya.


Lidia pun mengangguk. Dia mengekori ibu mertuanya yang selalu bersikap lembut, meski dirinya sebagai menantu sering sekali membuatnya kecewa, terlebih jika sudah menyangkut urusan anak.


Mereka pun duduk di kursi taman. Ibu Miko, mengambil sebuah pot berisi bunga mawar yang hampir layu, dan ia coba untuk menyingkirkan batang busuknya.


"Kamu tahu, Lid. Setiap tanaman akan ikut sakit, jika bagian tubuhnya yang busuk tidak segera disingkirkan," ucap sang ibu mertua.


"Nggih, Bu (Iya, Bu). Lidia akan ingat," sahut Lidia yang tak paham dengan maksud sebenarnya dari perkataan mertuanya tersebut.


Dari kejauhan, nampak seorang asisten rumah tangga membawakan teh poci dan juga cangkir yang terbuat dari tanah liat yang dibakar dan khusus dugunakan untuk menikmati teh.



Sepotong gula batu dimasukkan ke dalam masing-masing cangkir, dan dituangkan teh yang sudah diseduh sebelumnya di dalam poci.

__ADS_1


"Monggo, Mbak, Bu (Silakan, Mbak, Bu)," ucap sang asisten rumah tangga mempersilakan.


"Suwun yo, Mah (Terimakasih ya, Mah)," sahut Ibunda Miko.


Asisten rumah tangga itu pun pamit undur diri setelah menyajikan minuman khas tegalan tersebut.


"Ayo, Lid. Dicicipi dulu. Bapak kemarin habis dari Cirebon, pulangnya mampir dulu ke Tegal cuma buat beli satu set poci ini. Katanya, ngeteh bisa jadi tambah nikmat kalau pake beginian," ucap sang mertua.


"Nggih, Bu. Matur suwun (Iya, Bu. Terimakasih)," sahut Lidia sopan.


Keduanya pun menikmati teh yang disajikan itu. Seteguk, dua teguk mereka nikmati dengan tenang. Setelah itu, Ibunda Miko meletakkan cangkirnya kembali ke atas meja.


"Kamu tahu, Lid. Miko saat ini sedang terpuruk karena kehilangan anaknya," ucapnya.


Lidia pun ikut meletakkan cangkirnya ke atas meja.


"Apa Miko baik-baik saja, Bu?" tanya Lidia.


"Miko aka baik-baik saja, kalau dia punya pengganti anaknya yang telah tiada," ucap sang ibu mertua.


"Ma … maksudnya, Bu?" tanya Lidia.


"Bagian tubuh yang busuk dari tanaman harus dibuang bukan, itu berarti, singkirkan ingatan Miko tentang Sarah dan anaknya. Ini adalah tugas kamu sekarang, untuk memberikan Miko pengganti anaknya yang telah mati, agar dia mau kembali lagi denganmu," ucap Ibunda Miko.


Lidia seperti mendengar ancaman halus yang begitu menyesakkan dadanya dari sang ibu mertua.


Bagaiamana caranya aku punya anak dari Miko, kalau sekarang saja dia nggak mau lagi menyentuh aku, batin Lidia.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏


Oh iya, sambil nunggu next eps up, aku mau kasih rekomen novel nih🤭ini novel pertama ku😁


__ADS_1



Sudah End lho, yuk mampir, kali aja suka😘


__ADS_2