
Mereka kini telah berada di sebuah restoran, dengan menu masakan nusantara yang tersaji di meja panjang. Konsep dari restoran ini adalah prasmanan, di mana setiap tamu yang datang bisa mengambil sendiri makanan apa saja yang mereka mau.
Dokter Fadil memilihkan menu yang baik untuk ibu hamil, seperti daging merah, sayuran hijau, dan kacang-kacangan. Dokter itu tak mengizinkan Sarah untuk mengambil makanan semaunya sendiri.
Sarah pun hanya menurut saja, karena dia tau kalau dokternya ini lebih paham apa yang dibutuhkan olehnya dan juga anak dalam kandungannya.
"Minumnya air putih aja. Kalau emang mau yang berasa, ya jeruk hangat saja. Hindari makan es dulu, takutnya nanti kamu kena radang atau flu," cerocos Dokter Fadil seolah tengah memberi arahan untuk anak kecil.
"Baik, Pak Dokter." Sarah pun hanya mencibir sikap protektif dokter duda itu.
Setelah selesai mengambil makanan, mereka berdua pun menuju ke meja yang masih kosong. Fadil meletakkan terlebih dahulu piringnya, dan membantu Sarah untuk duduk.
"Terimakasih," ucap Sarah.
"Sama-sama," sahut Fadil tersenyum.
Mereka nampak menikmati hidangan yang telah dipilih. Makan siang yang cukup terlambat itu pun terasa begitu berbeda untuk Sarah. Dia bisa setenang dan se-rileks itu saat sedang bersama sang dokter.
Pembawaan Fadil yang selalu bisa menciptakan candaan yang mampu membuat Sarah tertawa ceria, sungguh menjadi obat hati bagi wanita yang kini tengah terluka itu.
Tanpa sadar, kedekatan di antara mereka, disaksikan oleh seseorang dengan tatapan marah. Baik Sarah dan Fadil, tak menyadari kehadiran orang itu di restoran tersebut.
Seusai makan, keduanya pun kembali masuk ke dalam mobil Fadil. Dokter itu lalu kemudian mengantarkan Sarah pulang, karena hari sudah semakin sore.
Sesampainya di depan rumah, Sarah langsung pamit. Dia tak berani mengajak Dokter Fadil mampir barang sebentar, karena menghindari gunjingan yang lebih buruk lagi dari para tetangga.
"Terimakasih ya, Mas. Maaf nggak suruh mampir dulu," ucap Sarah.
"Nggak papa, kok. Aku ngerti. Ya udah, aku langsung pulang ya," sahut Fadil.
Sarah pun mengangguk dan melambaikan tangan ke arah mobil yang melaju pergi meninggalkan rumah wanita itu.
"Syukurlah kamu masih baik-baik saja dan bisa tertawa lepas seperti tadi. Aku sangat khawatir dengan mu saat melihat vidio itu di sosmed," gumam Fadil saat mobilnya telah meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Malam hari, saat itu Sarah tengah menyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri, karena Miko baru akan kembali ke rumahnya besok.
Sarah baru akan duduk dan mengambil nasi di mesin penanak otomatis, saat pintu depan rumah dibuka dan ditutup dengan kasar oleh seseorang.
Wanita itu pun terperanjat karena terkejut dengan suara gaduh itu.
Ada apa lagi ini? batinnya.
Sarah pun kembali berdiri, dan berjalan menuju ke arah ruang tamu. Dia begitu terkejut saat melihat Miko yang berjalan ke arahnya, dengan wajah yang memerah dan mata yang menatapnya dengan tajam.
"Mas," panggil Sarah lirih karena tak bisa menebak apa yang tengah terjadi pada suaminya, hingga dia nampak sangat marah seperti itu.
"Bagus ya. Jadi begini kelakuan kamu saat suami tidak di rumah?" teriak Miko seketika itu pada Sarah.
Wanita itu nampak mengerutkan keningnya, karena dia sama sekali tak tau dengan apa yang diucapkan oleh suaminya tersebut.
"Apa maksud kamu, Mas?" tanya Sarah.
"Ah, nggak usah pura-pura polos kamu!" bentak Miko tepat di hadapan sang istri.
"Siapa laki-laki yang bersama kamu tadi siang, hah?" tanya Miko geram.
Sarah kembali mengernyitkan keningnya, dan mencerna perkataan Miko.
"Apa? Mau pura-pura nggak tau? Aku lihat sendiri kamu ketawa-ketawa sama pria lain di restoran, Sar. Aku kecewa sama kamu," ungkap Miko.
Sarah kembali terkejut dengan penuturan sang suami. Rupanya, Miko lah orang yang melihat kedekatan antara Sarah dan Fadil dengan penuh emosi.
"Aku bisa jelasin, Mas. Aku sama dia nggak …," jawab Sarah.
"Nggak ada hubungan apa-apa? Itu yang mau kamu bilang?" sela Miko dengan nada tinggi, hingga membuat Sarah mengerutkan pundaknya dan menunduk sangkin kaget.
"Aku nggak nyangka kalau kamu kaya gitu di belakangku. Kamu ketawa-ketawa sama pria lain, sedangkan sama aku, kamu selalu diam. Kamu cuek. Mau bilang nggak ada apa-apa? Tapi yang aku lihat nggak gitu, Sar. Kalian deket banget. Kamu bener-bener udah bikin aku kecewa, Sar. Aku kecewa sama kamu," tutur Miko yang memijat keningnya sambil berkacak pinggang.
__ADS_1
"Kecewa? Aku yang kecewa sama kamu, Mas! Kamu nuduh-nuduh aku main dengan pria lain di belakang kamu, sedangkan kamu sendiri menjadikan aku simpananmu. Kamu egois, Mas. Dia itu dokter yang menanganiku. Dia dekat dengan ku karena aku selalu berkonsultasi dengannya seputar kehamilanku. Apa salah? Dan tadi, kami cuma makan bersama. Ketawa-ketawa? Apa iya aku harus mendiami orang yang nggak bersalah? Makin ke sini aku makin nggak kenal sama kamu, Mas. Sepertinya, selama ini bukan Mba Lidia yang salah, tapi kamu, Mas. Kamu terlalu egois," jerit Sarah dengan isak tangis yang sudah membuat pipinya basah.
Miko Seolah tertampar dengan semua yang diucapkan Sarah. Dia sadar akan keegoisannya. Harusnya, dia tak serta merta menuduh Sarah melakukan hal yang tidak-tidak.
Dia pun mencoba meraih pundak istrinya, namun Sarah segera menghindar.
"Pernikahan kita memang dari awal sudah tidak sehat. Kita hanya saling menyakiti saja, Mas. Aku akan segera menggugat cerai kamu saat anak ini lahir," ucap Sarah yang kemudian berbalik dan berjalan ke arah kamarnya.
Miko tertegun mendengar perktaan Sarah barusan. Dia seolah tak menyangka jika Sarah memikirkan tentang rencana perpisahan.
Dia pun hendak mengejar sarah ke kamar, tapi sayang, pintu sudah tertutup, dan Sarah menguncinya dari dalam. Sehingga Miko tak bisa masuk.
Sarah menangis sambil membekap mulutnya dengan kedua telapak tangan, mencoba agar Miko tak mendengar isaknya yang begitu membuat sesak di dada.
Sedangkan Miko, dia begitu menyesal telah menuduh Sarah yang tidak-tidak. Wanita yang seharusnya ia jaga hatinya, setelah ia hancurkan berkeping-keping.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Keesokan harinya, Sarah memutuskan untuk tidak keluar kamar dan menunggu sampai Miko berangkat kerja.
Dia sudah tidak ingin lagi berurusan dengan pria yang sudah menghancurkan hidup dan nama baiknya.
Setelah cukup siang, sekitar pukul sembilan pagi, Sarah pun akhirnya keluar dari kamar, karena rasa lapar yang sudah ia tahan sejak semalam.
Ia melihat sesuatu di atas meja makan. Sarah pun membuka tudung sajinya, dan ia mendapati sepiring nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi di atasnya.
Sebuah sticky note tertempel di salah satu sisi piring.
[Makanlah. Maaf kalau rasanya kurang enak. Maaf juga untuk semalam. Kita akan bicara lagi nanti ya. Aku harap, kamu sudah mau bertemu denganku,] pesan Miko.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏