
Sepulang sidang Nera dijemput Anto.
Sore hari di mobil,
" besok, kata Umi kita makan bersama di rumah. Sekalian syukuran kamu beres sidang, sama yaa melepas Abang pergi ke luar negri kurang lebih selama satu tahun. "
" Insyaa Allah, Nera usahakan." Jawab Nera.
Mobil melaju, sesampainya di gerbang rumah Nera.
" Beneran, enggak pulang ke rumah ibu?" tanya Anto.
" Enggak, lagian rumah kosong sudah lama." jawab Nera.
" Kode nih, suruh masuk dulu." Goda Anto.
" Apa Abang, enggak baik. Duda sama janda dirumah berduaan, apa kata tetangga nanti nanti ?"ucap Nera sambil mengernyitkan dahinya.
Nera keluar dari mobil, di ikuti Anto.
" Nera, tunggu!" cegah Anto.
Nera menghentikan langkahnya, dan berbalik ke arah Anto.
Anto menyodorkan bucket bunga, sederhana namun elegant.
" Selamat atas lulus sidangnya, tinggal nunggu wisuda. Maaf, ini hanya sekedar ucapan sederhana. Jika senang masukin ke dalam pot, jika tidak suka tetep harus dimasukin pot, soalnya sayang, belinya pakai uang." Goda Anto lagi.
Nera menerimanya dengan malu-malu ditambah senyuman kecil. " Terima kasih, alhamdulillah segini juga uyuhan," Goda Nera memakai nada sunda khas.
" Besok, ditunggu kedatangannya." ucap Anto masih mematung melihat Nera.
Nera, tersenyum dan menciumi bucket bunga itu. " Sana Abang, cepat pulang!" pinta Nera.
" Sana kamu saja duluan, nanti kalau kamu sudah masuk, Abang pulang!" jelas Anto.
Nera pun berbalik meninggalkan Anto. Hanya punggung wanita itu yang kini terlihat dan akhirnya hilang setelah memasuki pintu rumah.
Antopun beranjak.
〰️〰️〰️
Hari yang cukup cerah, dimeja makan keluarga Kiai Hasan berkumpul anak mantu dan cucu.
Sudah lama tidak ada perkumpulan keluarga seperti ini.
Keluarga Teh Maryam , Keluarga Bang Musa, Yaser, Nisa, Idam , Anto dan Nera sebagai ganti Dya.
Baru kali ini, Nera dan Nisa melihat suami Maryam yang begitu tampan dan keturunan Arab.
Pantas saja jarang ke rumah Kiai Hasan, karena jadwal ceramah dan mengajar di sebuah Pesantren membuat waktunya tersita.
Nera terpaku, " ooh, ini yang dulu mau Teh Maryam jodohkan suaminya kepadaku ?" gumam hatinya sambil curi-curi pandang.
Dari tabi'at suami Teh Maryam, memang suami nya terlihat hanif, menyapa wanita bukan mahramnya pun hanya sekedarnya saja.
Dan dia kembali tertunduk lagi, mengobrol saat makan dengan Abah dan Umi dengan hangat.
" Pantas saja, Teh Maryam mencari madu, yang benar-benar buat suaminya. Suaminya maa syaa Allah tampan dan sholeh. Wanita mana yang memandang pasti langsung jatuh cinta. Bagaimana tidak jatuh cinta, saat Teh Maryam sedang makan, anak teh Maryam pup, dia langsung bertindak cepat menyeboki anaknya dulu, padahal dia sedang makan? Setelah itu dia menyuapi kedua jagoanya, Teh Maryam pas mau nyuapin anak-anaknya malah Teh Maryam juga ikut disuapin, aaaah romantiiis" gumam hati Nera kembali.
Tanpa sadar Anto melihat Nera yang sedang curi-curi pandang melihat kejadian di depannya. Anto tertawa simpul, dan kembali makan.
Mereka semua berbincang, meja makan saat itu cukup riuh dan ramai serta hangat.
Besok Anto berangkat, Anto meminta restu dan berpamitan.
Anto meminta tak usah di antar ke bandara, biar dirinya sendiri saja.
Anto berencana disana kurang lebih setahun, dia pun berjanji setiap hari akan menghubungi kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya.
〰️〰️〰️〰️〰️
Sembilan bulan berlalu.
Kepergian semua orang-orang yang Nera kasihi semakin membuatnya sibuk.
Rudi semakin gencar mendekati Nera, terkadang Sarah berusaha menjodoh-jodohkan dirinya dengan Rudi.
Nera belum memberikan jawaban pasti pada Rudi. Jika ya dirinya di terima maka Rudi akan segera melamarnya.
Nera meminta saran darinorang tuanya. Orang tuanya menyerahkan semua keputusan pada Nera.
Ibunya lebih meminta Nera untuk fokus kuliah S2 nya. Setelah lulus baru dia bisa menikah.
Travel Nera semakin maju pesat, sekolah yang dipegangnya pun sudah mulai bertaraf internasional. Pencapaian Nera, dalam hitungan bulan sudah kentara.
Kiai Hasan begitu bangga pada Nera.
Semangat juang yang di amanahi Kiai Hasan padanya dia lakukan dengan baik dan teliti.
Kerja keras yang dia lakukan membuat orang-orang takjub padanya. Tak ayal dengan Rudi, Travel cabang Bandung yang harusnya dulu dipegang Dya, sahabatnya kini digantikan posisinya oleh Nera, yang kinerjanya pun tak kalah bagus dengan suaminya dulu.
Dya tidak mau menyerah untuk mendapatkan hati Nera.
Dari mulai memberikan sms, sarapan dan makan siang yang sudah tersaji di meja kerjanya.
Yang membuat Nera semakin tak enak dengan sikap hangat yang diberikan padanya.
Ibunya sering mengingatkan Nera untuk makan.
Tubuhnya yang kentara semakin langsing, membuat sang ibu khawatir.
Anaknya semakin sibuk bekerja dan kegiatan, dia sudah jarang kerumah ibu ataupun mertuanya.
" Nera, akhir-akhir ini ibu perhatikan. Kamu semakin sibuk dan jarang bertemu dengan kami. Ibu mertuamu pun meminta, agar sekali-kali kamu menemuinya. " suara ibu Siwi di balik telepon.
" Iya ibu, insyaa Allah minggu ini Nera libur tiga hari. Rencana, Nera mau kerumah ibu, sekalian nginep, terus mau nginep dirumah Umi. Dirumah si Bibi saja sendiri, biar dia bawa anaknya juga untuk nemenin." jawabnya dibalik telepon.
Keduanya menutup telepon.
〰️〰️
Malam hari, tepatnya malam minggu.
Nera menginap dirumah ibunya.
" tok..tok..tok.."
suara ketukan dibalik pintu.
Nera sigap dengan mencari krudung dan cadarnya.
Setelah siap Nera memutuskan untuk membuka pintu.
" Wa'alaikumussalam" ucapnya membuka pintu.
" Ru..diii..! maa-masuk!" ucapnya lagi dengan terkejut.
" Si-silakan duduk!" ucap Nera lagi kikuk.
" se-sebe-sebentar" ujarnya lagi, sambil melangkah menuju ibu dan bapaknya.
Rudi mengangguk tanpa kata.
" Pak, Bu. Itu ada Bang Rudi. Temenin Nera." pinta Nera pada kedua orang tuanya yang sedang asyik nonton sinetron Indra L Brugman , Nafa Urbach, dan Wulan Guritno.
sinetron ala-ala film kuch-kuch hotahai versi Indonesia.
" Ayolaaah, temenin!" Nera merajuk pada bapaknya.
" Sudah gede, masih saja, pacaran ajak-ajak bapaknya!" goda pak Edo.
" Eh, nak Rudi. Apa kabarnya?" sapa Pak Edo.
__ADS_1
" Alhamdulillah, Pak." Ucap Rudi santun.
Mereka cukup lama terduduk dan ruang tamu hening.
Pak Edo mencoba mau bicara memecah kesunyian, namun hal itu saling menyilakan karena mereka akan bicara dengan waktu bersamaan.
Akhirnya Pak Edo menyilakan Rudi terlebih dahulu.
" Saya kesini, mau meminta re-restu dari bapak sekaligus izin, untuk melamar Nera." pintanya Rudi dengan jentle.
Pak Rudi terkejut dan menoleh ke arah Nera.
" Nera, bagaimana?" tanya pak Edo.
Nera hanya menelan salivanya, terkejut dengan apa yang dilakukan Rudi.
" Abang, Nera meminta waktu. Untuk mencoba merenung dan meminta petunjuk Allah. Kiranya Abang mau menunggu, tapi insyaa Allah secepatnya, biar Abang nanti bisa dengan mudah mencari ta'arufan yang baru." pinta Nera.
Rudi mengangguk.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan.
" Anto kapan kamu pulang?" telepon Umi Syifa pada Anto.
" Insyaa Allah, bulan depan. Anto sekarang lagi di Green land, kadang-kadang sinyalnya susah, Mi. Jadi maaf, Anto jarang menelpon Umi." jawabnya Anto dibalik telepon.
" Jaga kesehatan. Oh iya, bulan depan Nera menikah. Kamu dimintai datang, jangan lupa kamu harus pulang. Biar kamu bisa melepaskan dan melupakan mantan kamu itu. Kamu harus datang ke pernikahan Nera. Ya, Nak?" ucap Umi Syifa.
Dan sambungan pun berakhir karena pulsa Umi Syifa habis.
Kabar itu membuat tulang-tulang kaki Anto lemas tak berdaya.
Semoga apa yang didengarnya adalah kesalahan telinganya saja.
Entah kenapa, air matanya menetes lagi.
Tak terasa salju turun sedikit demi sedikit.
Baju Anto tertimpa serutan salju yang berjatuhan.
Situasi itu menambah getir sakit dihatinya.
Dia mulai terjatuh dan sulit melangkahkan kaki.
Rasa ini pernah dia alami sebelumnya. Di ikuti dinginnya dunia yang tak bertepi.
Dia kini menunduk dan sedikit menangis.
" Aaaaaaaaaaaaargh" teriaknya, mencoba memuncahkan kekecewaan pada semesta.
Untungnya, disana malam hari.
〰️〰️〰️
[Selamat kamu akan menikah.]
Sms daru Anto untuk Nera.
Nera membalasnya,
[ Iya, terima kasih, kamu datang kan? Aku sudah minta Umi agar Abang datang ]
Anto,
[ Bagaimana kalau aku tak mau datang? ]
Balas Nera,
[ Tidak maukah kamu bertemu dengan aku untuk terakhir kalinya? Yakin tidak menyesal ? ]
Anto,
[ Kamu tega! Siapa laki-laki itu?]
balas Nera,
Anto,
[ Aku tak mau datang!]
balas Nera,
[ Terserah! tapi ku harap datanglah !]
Anto,
[ wanita kejam, nanti aku pelet ya. Biar kamu lihat aku langsung lupa sama suami kamu ]
balas Nera,
[ Hush, istighfar. musyrik ! Sudah ah, nanti suami aku marah. Smsan sama yang bukan makhram.
Ku harapkam kehadiran mu, please! ]
Anto,
[ lihat saja nanti, enggak janji ]
Sms dari Umi Syifa pada Anto.
[ Jangan lupa, pulang!! jangan jadi anak durhaka !]
Balas Anto,
[ Iya, Umi. Semoga Allah mudahkan. Siap laksanakan. Besok Anto beli tiket dulu ya. Umi jangan khawatir ]
Umi Syifa,
[ Jangan lupa, cukur kumis, rambut, pokoknya rapihkan. Biar Nera itu menyesal melihat kamu sekarang jauh lebih ganteng, daripada calonnya yang dulu!]
balas Anto,
[ Apa sih, Mi? Iya, Anto cukur rambut dan janggut.]
〰️〰️〰️〰️
Besok acara pernikahan Nera.
Rumah Nera dirias dengan sederhana.
Anto sengaja ketika naik taksi dari Bandara langsung meminta supir taksi untuk berdiam di arah rumah Nera.
Mata Anto begitu lesu, melihat dekoran rumah Nera untuk acara pernikahannya.
Anto menarik napasnya dalam-dalam,
" Dya dan Rudi adalah laki-laki beruntung, yang bisa mendapatkan cinta Nera. Sedang aku sudah mencoba membuktikan dan meyakinkannya tapi tak pernah dia beri kesempatan ." Gumam hatinya getir.
" Jalan, Pak!" Ucap Anto ke pada supir taxi.
Sesampainya dirumah.
" Assalamu'alaikum" ucap Anto memasuki rumah Ibunya itu.
" Alaikumussalam, Anto. " ucap Umi Syifa menghampiri anaknya itu.
" Aaahh, Umi kangen kamu, Nak."
" Pada kemana mi, rumah kok sepi?"
" Kan, lagi pada di rumah Nera. Buat persiapan besok!" jawab Umi Syifa.
" Abah?" tanya Anto lagi.
__ADS_1
" Di rumah Nera juga, maklum menantu kesayangan, sekarang pondok pesantren Abah sudah berbasis Internasional. Itu berkat kerja keras Nera. Mana mungkin, Nera mau nikah abah 'gak bantuin?" jelas Umi Syifa.
Anto menatap Umi Syifa dengan layu.
Hidupnya tak ada gairah. Dia izin naik ke atas masuk kamar.
Menjatuhkan tubuhnya yang semakin lemah.
Anto masih belum sanggup menerima kenyataan, dirinya memang tak pernah bisa berjodoh dengan Nera.
Malam tiba, keluarga Kiai Hasan berkumpul di ruang keluarga dan bersenda gurau sambil menyiapkan perlengkapan acara pernikahan Nera.
" Anto, ini baju seragam kita. Nera sudah desain khusus untuk kedua orangtuanya, termasuk Umi dan Abah, serta yang lainnya. Ini!" ucap Umi Syifa sambil memberikan satu set pakaian pakistan buat di pakai hari besok.
Anto menerima baju itu tanpa kata.
Anto ke belakang rumah, dia melamun dan masih merasakan rapuh dan kehilangan.
Yaser menghampirinya,
" Bang, lagi ngapain?"
" Ngadem, Ser!" jawab Anto lirih tak ada gairah untuk hidup.
" Sabar! Orang sabar di sayang Allah, siapa yang bersungguh-sungguh pasti dapat!" nasehat Yaser pada Abangnya.
Anto hanya tersenyum kecut mendengar semangat yang diberikan Yaser.
" Boro-boro semangat, yang ada pengen mewek. Ya udah, Abang ke kamar dulu. Takut besok ke siangan." jawab Anto beranjak dari kursinya.
〰️〰️〰️
" Antooo, cepat nak! telat ini!" teriak Umi Syifa.
Anto muncul, dengan pakaian yang kemarin Umi Syifa beri.
" Lho kok, wajahnya murung sih, Nak? Jangan gitu lah!" ucap Umi Syifa menasihati.
Anto masih diam.
Sesampainya dirumah Nera, karib, kerabat, handai , taulan, serta sahabat mulai berdatangan.
" Anto, turuuun!" kata Kiai Hasan.
Anto masih terdiam didalam mobil.
" Bang, kaya bocah aja sih, napa?" ledek Yaser.
" Hadapi dong Bang!" tandas Yaser lagi.
" Bang, lihat bang Rudi datang. Dia pakai jas dalemnya kemeja putih, waah cakepp. Rambut kelimis ah cocok sekali. Hayu atuh memberikan penghormatan kepada calon pengantin." Tunjuk Yaser kepada Rudi yang sedang melangkah dengan orangtuanya dan Sarah.
Wajah Anto sudah tak karuan.
Akhirnya Anto keluar dari mobil, melangkah dengan gontai.
Teh Maryam, berdiskusi dengan Abah.
" Mari Abah, Maryam papah. Penghulunya sudah datang. Abah akan memberikan khotbah nikah juga."
" Hemmm, Teh Maryam disini juga. Ada Bang Musa juga. Dikira pada enggak datang. Ternyata pada disini. Nera sudah menjadi keluarga, Umi sangat menyayanginya. Ini pelepasan Nera, merekapun semangat melepas Nera. Sebaiknya aku pun begitu. Walau sebenernya pengen aku hancurin semua aksesoris ini, kalau bisa aku bunuh saja si Rudi. Haaah, sampai kapan kekanak-kanakan seperti ini Anto?" gumam hati Anto.
Dia melihat Abah sudah terduduk di kursi akad. Ada penghulu serta pak Edo.
Acara akad akan segera dimulai.
MC memberikan sambutan-sambutan dari pihak mempelai perempuan dan laki-laki.
Sambutan dari mempelai perempuan dilakukan oleh Yaser dan dari pihak laki-laki adalah suami teh Maryam.
Setelah sambutan selesai, acara selanjutnya akad nikah.
Umi Syifa datang menghampiri Anto yang sudah tak semangat.
Umi Syifa memberikan tangan kanannya untuk dipegang Anto.
" Peganglah, Umi akan ajak kamu biar kamu lebih merdeka dan sedih seperti ini!"
Anto memandang ibunya dengan putus asa, memang lebih baik pergi daripada melihat ini semua terjadi.
Tangan ibunya dia genggam dan ikut melangkah kemanapun ibunya melangkah. Hari ini, tak ada asa dan tak mau Anto melihat lagi kesakitan-kesakitan yang terulang.
Umi Syifa berdiri sejenak di dekat kursi akad itu.
" Duduklah, Nak. Disini! Kamu yang akan mengikrar janji suci denga Nera." Ucap Umi Syifa sambil memeluk Anto.
Anto mencubit tangannya sendiri, dia pikir ini mimpi, tahu cubitan itu terasa sakit.
Kiai Hasan, segera memerintahkan Anto untuk segera duduk.
Anto duduk, sambil bingung.
" Pak Edo, apa benar saya yang akad?" tanya Anto kebingungan.
" Iya," jawab pak Edo.
" Abah, ini bukan mimpi?" tanya Anto kepada bapaknya yang kini tubuhnya sudah keringat dingin, wajah yang terlihat tegang, namun terpancar kebahaguan tak menyangka.
" Mari, kita mulai akadnya!" ajak Pak penghulu.
" Mangga-mangga!" serempak ucap Kiai Hasan dan Pak Edo beserta saksi.
Prosesi akad pun dimulai, Kiai Hasan sebelumnya memberi tahukan kalau diatas meja ada tulisan untuk Anto ikuti begitupun dengan mahar yang akan di berikan adalah cicin dan kalung emas putih 10 gram dan seperangkat alat shalat.
Ucapan akad itu pun telah terjadi Nera keluar menuju ruangan akad digandeng sang ibu dan adiknya Nisa.
Balutan pakaian hitam berenda serta cadar yang nampak terlihat anggun.
Mata Anto memandangi istrinya dengan lekat.
Nera duduk disamping Anto dan mulai mendatangani dokumen-dokumen pernikahan.
Kini Nera dan Anto sudah sah menjadi sepasang suami istri.
Nera dan Anto diminta penghulu untuk berdiri dan serah terima mahar.
Nera diminta penghulu untuk mencium punggung tangan Anto yang kini memang syah suaminya. Anto memberikan tangannya untuk segera Nera cium, Nera dengan malu-malu mencium punggu tangan Anto.
Terlihat wajah bahagia Anto, kemudia penghulu meminta Anto untuk mencium kening Nera. Anto cengengesan malu jika harus didepan khalayak, tapi itu luntur.
Akhirnya kening Nera, Anto cium.
Semua bersorak dan mengucapkan selamat
Hal paling mengharu biru adalah acara sungkeman, Anto sungguh tak menyangka dirinya hari ini begitu bahagia.
Dia memeluk Umi dan Kiai Hasan dengan penuh rasa terimakasih.
Ini seperti mimpi tapi ini memang nyata wanita disampingnya adalah Nera, istrinya, wanita yang dia damba selama ini dalam do'anya.
Tak henti, hati Anto berucap syukur pada Sang pemilik hati.
TAMAT
***********
Oke reader.
Extra partnya cuman satu ya. Ditunggu, gak akan lama kok.
Terima kasih yang masih setia baca cerita cinta Nera dan Anto.
Semoga semuanya tidak pelit like, love, vote dan koment positif.
__ADS_1
Selamat berbahagia.