
Sudah hampir dua minggu Dya dan Nera menikah. Namun masa - masa pengantin baru yang harus nya mereka rasakan, harus tertunda karena satu sama lain masih malu - malu kuda nil . Ditambah Nera yang sudah satu minggu datang bulan.
Pada hari ini ada Nisa datang ke rumah kiai Hasan dengan tujuan mengantarkan surat untuk kakak tercintanya Nera.
Dya yang menemui Nisa, Nisa tidak bisa berlama - lama karena Nisa ada jadwal les tambahan disekolahnya.
Nisa tidak bisa bertemu dengan kakaknya, karena lagi di kamar mandi.
Nisa izin pamit untuk pergi lagi pada Dya, dan menyampaikan salam nya untuk Nera.
Dya, melihat surat itu, ternyata dari luar negri.
Setelah melihat pengirimnya, muka Dya memerah kesal, membuka amplop surag dan membacanya.
Dengan wajah kesal dia pergi menuju kamarnya. Di dalam kamar Nera sedang merapikan kerudungnya, dia terkaget mendengar suara gagang pintu yang tergenggam kuat, kemudia terbuka lah pintu itu.
Dya masuk dengan wajah penuh amarah, memerah padam menahan emosi.
Dya melempar amplop, ke dada Nera yang sedang berdiri mematung melihat ekspresi suaminya yang tiba - tiba datang bermuka merah.
Nera menangkap amplop surat itu sontak mulai gemetar dan takut .
Ada apa, apa yang telah terjadi pada suaminya?
Dengan memegang pinggangnya, Dya mulai meluapkan emosinya. Wajah lelaki bengisnya keluar, sikap emosi lelaki sebenarnya keluar setelah selama ini, wajah manis dan kalemnya terpajang.
" Pantesan saja ,selama ini kamu tidur denganku kumplit dengan gamis, kerudung, dan kaus kaki. Aku pun tak berani memegang atau memcolek dirimu, ku pikir kamu masih belum siap, atau mungkin beradaptasi denganku. Aku masih menghormati dan aku masih bersabar dan aku masih menghargaimu. Kau pikir ,aku batu apa?!"
Kata Dya emosi berapi-api meluapkan isi hatinya yang sedang dilanda cemburu.
" A...a.. ada apa, a.. abang? kok marah? "
__ADS_1
tanya Nera gelagapan pada Dya.
" Pacar kamu, yang kamu nanti selama ini kirim surat " ketus Dya masih emosi sambil mengusap wajahnya kesal pada Nera.
Mendengar jawaban ketus Dya, Nera langsung teringat Anto. Dia langsung membuka surat itu.
Anto?
tidak mungkin? kenapa harus kirim surat? bagaimana umi dan abah kalau sampai tahu?
Mas Dya, pasti kecewa kalau selama ini aku menunggu Anto.
Astagfirullah, bagaimana ini?
Ibu,,, bapak,,, aku takut di cerai bang Dya.
Bagaimana ini ya Allah?
Nera meracau dalam hatinya mulai ketakutan.
Nera mulai membuka dan membaca suratnya, Nera mulai menangis sesenggukan.
Dia terkulai lemas dan terduduk dilantai.
Sedang Dya terduduk di kasur sambil melihat Nera masih dengan emosi.
Nera, masih sesenggukan dan bingung harus menjelaskan apa pada Dya?
Dya ,masih menunggu Nera untuk menjelaskan. Namun Nera, masih belum bisa berkata apapun pada Dya. Dya keburu emosi, dia keluar kamar sambil menutup pintu kamar penuh amarah " braaaaaak,,,,,,, "
Dya pergi menuruni tangga, mendengar suara gaduh diatas kamar , Umi menghampiri Dya yang baru turun.
__ADS_1
" Ada apa Dya? "
" Dya, pergi cari angin dulu ya mi, assalamualaikum " jawab singkat Dya dan salim ke uminya.
Dya pergi keluar dengan menjalankan mobil, untuk menenangkan hatinya yang sedang dibakar api cemburu.
Dia berteriak sambil memukul setir mobilnya.
Nera, sudah sedikit lega dan menghentikan tangisannya. Nera coba turun ke bawah, dan berusaha mencari Dya.
Nera ingin menjelaskan semua isi surat itu.
Kemudian Nera bertemu dengan umi Syifa.
" Umi, lihat bang Dya? " tanya nya lirih sambil menyeka air mata nya yang jatuh.
" Dya, tadi minta izin pergi cari angin dulu " jawab Umi syifa sambil memegang tangan anak menantunya itu.
Kemudian menuntun menantunya duduk dikursi bersamanya.
Nera dan umi Syifa, duduk.
" Ceritalah, umi ingin mendengar nya! " ujar Umi Syifa pada Nera sambil memeluk Nera.
Nera membenamkan mukanya pada dada ibu mertuanya sambil menangis.
" Dalam rumah tangga itu biasa sayang, kalau ada pertengkaran, itu bumbu dalam pernikahan biar ada yang dikangenin. Kalau mau cerita boleh, umi mah enggak akan apa-apa, umi mah akan selalu jadi penengah "
Akhirnya Nera mencoba menceritakan sebab Dya marah padanya.
Ibu mertuanya hanya mendengarkan dan sesekali memberikan nasehati bagaimana menghadapi anak laki-lakinya supaya lembut lagi.
__ADS_1
**********
bersambung