
masih bersuka cita bisa ngobrol dengan si cinta.
" Jawab Abang" rengek Nera.
" Ok, sayang nanti malam, Abang akan jawab, Abang isi dulu pulsanya ya, biar nanti kita berceloteh panjang lebar, Abang yakin pulsa kami sebentar lagi habis, hahaha" ledek Dya pada Nera.
" Hallo, hallo kok enggak ada suaranya lagi? hemm beneran abis pulsanya" Nera melihat hapenya manyun.
" Haus" kata Nera sambil turun ke dapur.
" Teh Maryam ngomong sama Umi, kalau Sarah sepupunya Rudi itu minta dinikahi oleh Dya, soalnya Sarah dari Dya belum lulus, sudah suka dan naksir. Sampai sekolah di Jerman , Sarah setia sama Abang kamu. Nah sebelum Abang mu menjenguk ayahnya Sarah, Ayahnya Sarah minta Dya menjadikan istri ke duanya. Tapi katanya Dya itu nolak enggak , nerima enggak, Umi itu jadi gemes sama Dya,kenapa enggak kasih kejelasan gitu lho ?" curhat Umi pada Yaser.
Nera yang tadinya ingin minum, dia urungkan tuk mendengar curhatan Umi Syifa.
" Tahu Bang Dya kan, mi? enggak mungkin dia grasak grusuk tanpa dia cerna dan dia pikir dulu, apalagi dari setiap obrolan bang Dya itu selalu keluar kata-kata berfaedah, ya walau nasihat halusnya itu terkadang disangka orang penuh teori agama, sok sucilah. Tapi Bang Dya itu the best, mungkin kenapa Bang Dya nolak enggak, nerima enggak malah pas ada kerjaan di Maroko, bukannya Rudi yang kesana , malah Sarah yang ditugaskan ke sana. Pasti Bang Dya memiliki rencana tersendiri, Mi. Tapi umi , nerima kalau Bang Dya berpoligami? " goda Yaser pada Uminya.
" Ya, terima, masa enggak? Kan sudah halal bukan kemaksiatan, masa Umi benci sama syariat? cuman dari sikap wanita memang kalau hati yang menilai itu menyakitkan, tapi jika berkata taqdir, harus bilang apa?. Bukankah setiap kelahiran setiap mahluk itu, sudah Allah catat di lauh mahfudz lima puluh ribu tahun lalu dengan segala tektek bengeknya, termasuk kematian , rizki, jodoh dan dari siapa dia akan dilahirkan? " jelas Umi Syifa.
" Ditambah, kita pun tak bisa apa-apa jika sudah ketentuanNya. Bang Dya juga tidak berselingkuh, kalau pun iya dia poligami. Toh, Umi tahu , keputusan Bang Dya selalu membawa yang mendamaikan walau terkadang sulit ditebak. Bang Dya, itu kebanggaan keluarga , maa syaa Allah yah mi " sahut Yaser .
" Umi khawatir justru sama mba mu, kalau yang dijenguk Abah dan Dya adalah ayahnya Sarah. Dan meminta pas dirumah sakit untuk menikah. Tapi abah dan Dya enggak cerita apa-apa sama Umi" keluh Umi Syifa.
" Menurut Umi, Sarah dan teh Nera cantikkan mana?" tanya Yaser menggoda ibunya.
" Menurut Umi, dua-duanya memiliki jiwa halus. Hanya Sarah yang berani lantang mengungkapkan dan memutuskan, sedang Nera dia tipikal Abangmu, Dya. Lemah, legowo, mengalah, dan lebih baik diam, dan mengandalkan waktu yang berbicara. Hemmh, Umi akan bicara sama Abah, bener enggak Dya sudah menikah atau masih digantung Sarahnya?" kata Umi Syifa penuh seledik.
" Kalau kata teh Maryam, curiganya sudah nikah, soalnya Sarah sudah ikut sama Bang Dya ke Maroko, sekalian honeymoon ,katanya!" ujar Yaser menambahkan opini ke Uminya.
" Masa, abangmu itu tak beradab? Maen ajak-ajak honeymoon anak orang, disini ada tetehmu, mantu Umi juga, kalau enggak adil gitu awas saja! Sudah sana , jangan sampai Teh Nera tahuen obrolan ini" Seloroh Umi Syifa dan mereka berdua meninggalkan dapur. Tanpa merasa bahwa Nera sudah menguping apa saja yang telah mereka obrolkan.
Nera, masih berjaga di balik tembok dapur. Dari tadi dia mengepalkan tangannya, dan menutup mulutnya supaya tidak bersuara .
Kini tubuh dia berseluncur yang tertahan tembok menuju lantai.
Lutut nya lemas tak mampu mengangkat bebannya lagi.
Nera mulai menangis, dan menangkup mukanya dengan kedua telapak tangannya.
Perih di dadanya lagi padahal baru saja dirinya bahagia, menerima kabar kekasih hati.
" Abang Anto..." lirih nya dalam tangisan.
Ada gurat penyesalan dalam menyebutkan nama Anto.
Nera kembali ke dalam kamar nya, dan kemudian menangis lagi.
Hapenya akan menghubungi Rudi, tapi setelab di hubungi ternyata pulsanya kosong.
Nera mulai gelap mata. Dia turun lagi ke bawah , sambil terburu-buru.
" Grapp"
Nera memegang gagang telepon rumah, mencoba menghubungi Rudi.
Namun teleponnya tak kunjung ia angkat.
Sudah sekian kali nomer Rudi , terus ditekannya. Tapi tetap saja tak ada jawaban.
Nera semakin naik pitam.
Pikirannya buntu, naik lagi Nera ke atas.
__ADS_1
Didalam kamar, Nera ingat kata-kata Yaser, menyuruhnya sesekali untuk masuk ke kamar Anto.
Nera mulai kalap, untuk menutup semua kekesalan hatinya.
Nera mencoba menekan gagang pintu kamar Anto. " kreek " ternyata tak di kunci.
Nera memberani kan diri masuk, walau ragu.
Tapi akhirnya Nera masuk ke kamarnya.
Bukalah pintu kamar Anto dengan leluasa dan Nera menutupnya kembali.
Setelah masuk di dalam kamarnya, ternyata hanya biasa-biasa saja. Nera melangkah untuk keluar dari kamar Anto. Namun Nera melihat ada pigura foto yang berdiri berjejer selintas di meja belajarnya, lalu Nera menghampiri meja belajar itu.
Setelah Nera dekati, dia mengambil pigura kecil itu, ternyata di dalam pigura itu ada foto dirinya yang sedang menerima medali ketika taekwondo.
Kemudian ada dirinya yang sedang berpidato wakti perlombaan disekolahnya dulu. Ada buku di meja itu berwarna hitam berhurufkan kafital A.N.
Nera mencoba membuka buku bercover berwarna hitam .
Nera membukanya, karena penasaran.
Setelah di buka dan di baca, itu buku harian Anto selama belajar di Mesir.
Pov Diari Anto.
in Egypt
Hari 1
Aku masih merindukannya
Walau aku belum memberikannya kepastian.
Hari 2
Aku beradaptasi dengan cuaca disini, makanan disini dan kebiasaan teman-temanku disini.
Nera, semoga kau menunggu ku sampai aku pulang
Hari 3
Aku , tadi ke pasar ada dompet lucu berbentuk boneka.
Aku membelinya , kan ku berikan pada Nera ku.
" Nera ini hadiah pertamamu dari Mesir hahaha "
Pov Nera
Aku terduduk di kamar Anto.
Aku tak tahu , setelah Yaser cobalah ke kamar Bang Anto. Tadinya aku tak akan pernah ke kamar Anto kalau Anto belum mengizinkan ku.
Tapi jujur, setelah mendengar ada wanita yang mengajukan diri sebagai istri bang Dya , aku sebal dan jijik sama bang Dya.
Apalagi spekulasi , Teh Maryam yang mengatakan Dya dan Sarah sudah menikah dan sekarang sedang honeymoon.
Terus aku?
Aku pun ingin bahagia. Jika memang kamu menduakan aku, aku pun akan menyerah untuk mencintaimu. Dan aku akan berbalik mengejar asa ku saja.
__ADS_1
Ku membuka diari bercover kulit hitam milik Anto dengan bertuliskan A.N .
Aku tak tahu, dan aku tak mau ke ge-er-ran bahwa A untuk Anto dan N untuk Nera.
Ku coba membukanya. Benar dia menuliskan banya namaku.
Dia banyak membeli hadiah untukku.
Dia berharap pada Allah, agar kita berjodoh.
Aku tercekat dan berlinang air mata , ketika membaca tiap bait tulisan di diari hitam ini.
Aku memeluk buku diari hitam itu, sambil menangis.
Aku ingin berteriak , sungguh menyedihkan kamu Anto.
Menanti dan terbunuh duri sendiri , itu tulisan
yang membuatku luka.
Aku terbunuh duri sendiri. Ku kira musuhku adalah yang tak pernah mengenali ku, tapi musuh hatiku adalah kakakku.
Hari ini dia bersanding dengan bungaku, mawarku kini benar-benar berduri.
Dan aku terkapar sendiri dalam penantian tak pernah pasti.
Nera, kesalahan ku adalah membiarkan cintaku tak berbuat apa-apa karena aku tak memberikan mu kepastian.
Nera, mau kah kau menungguku lagi?
Tak mengapa jika kau bekas aku terima.
Hahahaha..
Setelah ku baca buku diari itu, aku menangis sejadi-jadinya dan aku tertidur.
Pov Author
Nera kebetulan hari ini masih haid.
Mertua dan ipar serta bi Minah mencari Nera ke kamarnya, namun tak ada siapa-siapa.
Umi menganggap makan malam ini, mungkin Nera pergi ke rumah orangtuanya lagi . Dan mungkin dia lupa minta izin.
*********************************
Malam semakin larut,
Nera masih tertidur pulas di kamar Anto.
Matanya sembab dan bengkak karena menangis. Ya menangisi kisah cintanya denngan Anto dan menangis kecewa pada bang Dya.
Selarut ini, handphone Nera berbunyi.
Ya, Dya masih mencoba menepati janjinya untuk menelpon istrinya.
Namun gagal
Karena Nera tak membawa hape saat ke kamar Anto.
bersambung
__ADS_1