
" Saya tak peduli, walau nanti saya ditolak. Tapi mudah-mudahan saya diterima" ujar Dimas.
Nera menggaruk dahi sebelah kanannya yang tak gatal.
Menelan saliva dan keheranannya.
Laki-laki itu memang tampan, tampan orang keturunan Sunda dan Jawa.
" Tapi, saya tidak menjanjikan. Saya masih mengenang suami saya." Sahut Nera.
" Saya tahu dan faham. Tapi setidaknya saya bisa jadi kandidat. Saya menunggu jawabannya."
" Saya izin pamit. Karena ada urusan lain. Maaf Nera, saya laki-laki kaku bak kanebo. Yang tak tahu harus seperti apa berhadapan dan memperlakukan wanita. Permisi." Ucap Dimas dan pamit pergi.
Nera membuka pesan di handphonenya.
Saya sebentar lagi sampai.
Mau memberikan spanduk dan atribut yang di butuhkan untuk market travel kita, yang akan dipasang di sekolah Kiai Hasan.
Nera membalas.
Siap. Ditunggu.
Saya di rumah ibu saya.
Mungkin, bisa saya kenalkan pada teman saya.
Mudah-mudahan bisa ta'arufan.
Rudi membalas.
Bukannya kita sedang ta'arufan?
Nera membalas.
Hahaha. Pengen ta'arufan? bilang dong!
Nanti di bilangin sama teman aku?
Rudi membalas.
Ih bukan gitu maksudku.
Rudi menunggu balasan Nera.
Namun Nera tak kunjung membalasnya.
〰️〰️〰️〰️〰️
" Ner, jadi janda itu gimana rasanya?" celetuk Astuti.
" Yaa, seperti ini. Jomblo. Jalan sendiri melulu, gak bisa gandengan tangan. Kangen enggak kesampaian. Sedih ya, jadi janda?" jawab Nera sambil bercandain Astuti.
" Tuh, sudah ada yang daftar. Malah jadi kloter pertama. Ikhlas deh jadi adik ipar dirimu. Asyik kalau tiap hari bisa ketemu." Jawab Astuti balik menggoda tapi serius.
" Hahaha, ogah paling tiap hari disuruh beli camilan mulu." Ledek Nera sambil terkekeh.
" Nera, ada teman Dya. Kalau enggak salah Rudi deh namanya atau Dudi gitu? Tuh ada di ruang tamu.
Nera bangkit dari tempat duduk yang berada di dapur menuju ruang tamu. Karena setelah kepergian Dimas, Nera dan Astuti bikin rujak di dapur.
" Bang Rudi. Sudah sampai." Sapa Nera sambil membawa nampan bersis air dan cemilan.
" Nera, maaf merepotkan. Ini brosur sama spanduk. Kebetulan Abang mau pulang ke Jakarta, sekalian mampir. Tadinya mau sama karyawan yang lain anterin kesininya. Tapi sekalian silahturahmi ke rumah orang tua Nera. Hahaha"
__ADS_1
" Kapan libur kuliah?" Kata Rudi.
" Sekarang masih libur masa tenang, buat ujian. Kenapa memangnya?" tanya Nera.
" Saya mau ajak kamu, melihat toko milik Dya. Cuman empat harianlah. Setelah itu pulang lagi. Jangan khawatir ada Kiai Hasan dan kemungkinan Umi Syifa ikut. Karena toko khas Indonesia milik Dya katanya kan mau dijual. Kalau toko kitabnya tak akan dijual. Makanya kamu sebagai istrinya dan pewaris juga disuruh ikut menjadi saksi. Biar dikemudian hari enggak ada persengketaan." Jelas Rudi.
" Aku percaya sama abah dan umi. Insya Allah mereka amanah. Lagian saya pun tak begitu menguruskannya. Saya fokus untuk memajukan Sekolah milik Kiai Hasan saja. Karena abah, berharap banyak padaku." Jelas Nera.
" Tapi kamu tak akan selalu sendiri terus, kan?"
kata Rudi penasaran.
" Untuk saat ini, Nera ingin sendiri dulu. Entah sampai kapan? Yang jelas Nera 'gak akan menikah dulu. Mau fokus ke pendidikan dan Sekolah abah." jawab Nera.
" Eh, tapi bulan sekarang itu ada jadwal umrah dari pengajian majlis taklim pondok pesantren besannya Kiai Hasan yang di Banten itu lho?. Rencana semua team travel cabang Bandung mau di ikut sertakan ikut. Otomatis dirimu ikut, tapi belum dibicarakan, sekalian sabtu depan kita bicarakan di rapat." Ujar Rudi menjelaskan kerja dari perusahaan tour dan travel miliknya yang sedang mulai pesat.
" Terus ke Marokonya, kapan?" tanya Nera penasaran. Rudi tersenyum simpul.
" Mungkin sebelum ke Mekkah, kita ke Maroko dulu. Masa tenang kamu, kayaknya harus di isi traveling beberapa negara. Kamu enggak akan capek?"
" Enggak, salah satu fungsi aku masuk jurusan sastra arab, berarti gak salah dong. Lama-lama bisa jadi emh duta besar, mungkin? hahaha" jawab Nera sambil tertawa dan tanpa disadari Rudi memandangi Nera dengan takjub dan dalam.
Senyum Nera terhenti, saat dirinya merasa ada yang tak beres dengan pandangan Rudi terhadapnya.
Nera menundukkan pandangan dan kembali serius.
" Ada yang aneh dari saya , Bang?" tanya Nera, kikuk.
" Tidak. Cu-cuman, maaf mata saya spontan. Maaf!" jawab Rudi sambil meminta maaf.
" Apa sih, Bang? Biasa saja!" jawab Nera mencairkan suasana.
Astuti tiba-tiba muncul dari dapur ke ruang tamu.
" Ih Nera, kamu tuh ya!"
" Maaf, ganggu!" lirih Astuti malu dan masih terkejut.
" Sini, As! kenalkan Bang Rudi"
" Bang Rudi, ini Astuti. Jomblo!" ucap Nera memperkenalkan mereka berdua.
Astuti dan Rudi saling memberikan senyuman.
〰️〰️〰️
Setelah 2 jam dirumah Nera , Rudi pulang dan di ikuti oleh Astuti satu jam berikutnya.
Handphone Nera berbunyi lagi.
Ternyata ada pesan singkat masuk.
" Bang Rudi " gumam Nera.
Maaf, pandangan tadi spontan.
Jangan di anggap jelek ya?
Nera membalas.
Apa, Abang?
Enggak apa-apa?
Mungkin Abang lagi melamun, kebetulan matanya ke arah saya.
__ADS_1
Maaf, bikin Abang jadi enggak enak hati.
Rudi membalas.
Alhamdulillah.
Tegur saja, kalau saya aneh-aneh lagi.
Nera membalas.
Siap.
" Bu, Nera sepertinya mau pulang kerumah Nera dulu. Sayang kan kalau terus ditinggal-tinggalin. Nera ajak Nisa, ya, Bu?" pinta Ner.
" Iya. Bawa saja Nisa buat nemenin, ibu akan merasa enggak tenang justru, kalau enggak ada teman"
〰️〰️〰️〰️〰️〰️
Sebulan berlalu, Nera , Kiai Hasan, Umi Syifa dan Rudi baru saja sampai di Indonesia, setelah seminggu yang lalu ke Maroko.
Nama toko kitab Dya adalah " ABNERA" yang asal katanya abner artinya cerdas. Itu mengambil dari bahasa ibrani.
Nera bahagia, ternyata dia bisa menikmati dan napak tilas ke negara di mana sang suami mengenyam pendidikannya.
Malah beberapa hari disana, beberapa dari sahabat Dya ada yang mengkhitbah Nera.
Namun Neranya tetap menolak.
Nera di dampingi mertuanya, malah tambah tidak enak. Apalagi melihat Umi Syifa yang selalu menggelengkan tanda tak suka, kepada laki-laki yang mau mengkhitbah Nera.
Nera pun merasa tak nyaman.
Dengan setiap laki-laki yang melihatnya, ada yang meminta langsung kepada Abah, dan malah ada yang minta di comblangin sama Rudi.
Bertemu yang ingin joint ditravel pun berharap bisa menikahi Nera.
Rudi pun menolak kliennya tersebut jika syaratnya , Nera harus jadi istri kliennya.
Kemudian datanglah seorang Syeikh menasehati kepada Nera.
" Biar laki-laki tak banyak yang tergoda, coba pakai cadar. Agar kamu pun tenang. Atau milikilah suami. Karena menjadi janda, fitnahnya banyak. Mereka yang ingin menikahimu, bukan ingin menghinakan mu. Tapi ingin menjauhkan mu dari fitnah. Hak dasar seorang manusia itu, hidup berpasang-pasangan, sekalipun kita mencintai suami kita sudah tiada. Sudah menjadi fitrah seorang manusia dapat saling mencurahkan kasih sayang diantara pasangan. Silahkan menikah lagi, jangan menjadikan rasa cinta yang semu itu menjadikan kamu tak mendapatkan hak mu sebagai manusia yang masih hidup. Pikirkan dan renungkanlah!"
Nera mendengarkan nasehat seorang Syeikh itu dalam bahasa Arab.
Nasehat yang cukup memukau bagi dirinya.
Tapi apa daya, dirinya masih belum sanggup untuk memulai cinta.
Dan Nera masih bingung, " harus secepat inikah melupakan bang Dya?"
bersambung
〰️〰️〰️〰️
Gambaran wajah Rudi, yang para reader mau.
Saya tegaskan, di alam nyata wajahnya tidak seperti ini, tapi kurang lebih, sedikit jauh seperti ini😂
Sebagai pemanis saja.
Jangan lupa koment, klik love, like, dan vote.
Terima kasih readers.
__ADS_1
Love u all..