
Di mall yang baru di buka, wilayah Bandung.
Anto dan Nera mencari counter handphone. Mereka sudah larut lagi dan tak saling diam lagi.
Sesekali mereka memasuki beberapa counter, sambil mencari-cari keinginan barang yang pas.
Pramuniaga berceloteh ,
" Pak, butuh apa pak, mungkin cari handphone buat istrinya, silahkan ada harga promo? "
Nera mendengar pramuniaga itu langsung terkejut, menelan salivanya dan beradu pandang dengan Anto.
Anto berdehem membuyarkan omongan si pramuniaga tersebut, dengan pura-pura melihat dan memilah-milah handphone yang berjajar di etalase.
" Teh, mau ambil yang mana? " lirih Anto pada Nera.
Nera menghampiri Anto, dan melihat sambil menimbang-nimbang handphone mana yang akan dia beli.
" Iiih..iri deh mba sama mas nya, romantis yang satu ganteng yang satu cantik, terus masnya meni so sweet beliin handphone buat istrinya" celetuk pramuniaga kepada Nera dan Anto.
Nera dan Anto saling bersitatap, salah tingkah.
Nera, memutuskan segera membayar handphonenya supaya tak ada guyonan lagi dari pramuniaga kepada mereka.
" Kamu lapar enggak, eh maaf teteh lapar enggak? " tanya Anto lirih pada Nera.
" Panggil Nera, Nera saja bang, itu lebih nyaman, biar akrab, dan Nera enggak suka abang panggil Nera, teteh. Geli dengernya! "
jawab Nera tersipu.
" Kan kamu kakak, aku ade, tapi pengennya sih suami" goda Anto lirih mengerlingkan matanya pada Nera.
" Iiih abaang, godain istri abangnya sendiri, kualat lho! " goda balik Nera sambil melotot manja pada Anto.
Anto tertawa terbahak mendengar dan melihat ekspresi Nera.
" Mau makan apa kakak ipar? kita cari makan yang anget-anget, sama-sama jomblo, wajib banget makan yang anget-anget, efek gak ada yang ngangetin" goda Anto membuat lelucon.
" Joroook, jangan gitu, malu didenger orang. Dan maaf saya bukan jomblo, saya sudah punya suami " jawab Nera meledek bercanda.
Anto mendengar itu langsung terdiam dan menghentikan langkahnya. Sedang Nera masih meneruskan langkahnya.
" Nera" panggil Anto.
Nera berbalik ke arahnya.
" Ish abaaang, ngapain matung gitu di sana, ayo cepetan kemalaman nanti kita pulangnya, tuh di depan ada burger, kita makan kentang sama burger saja ya! "
Mereka akhirnya sudah memesan makanan, dan duduk dan di meja yang sama.
"Nera " lirih Anto
__ADS_1
" Hmmm " jawab Nera sambil tersenyum dan membulatkan matanya ke arah Anto.
" Jika abang nikah, boleh?" tanya nya pada Nera.
" Kok nanya Nera, harus ke umi sama ke abah, masa ke Nera? " jawab Nera spontan.
" Emang kamu ridho aku nikahin wanita lain selain kamu? " lirih Anto menegaskan.
" Abaaaang " jawab Nera memelas.
" Kalau abang, denger kamu nikah sama lelaki selain abang saja, sudah cemburu dan sakit, kalau bang Dya bukan abangnya abang, abang patahin tulang lehernya" lirih Anto pilu.
Nera terpaku menunduk mendengarkan celotehan Anto.
" Sekali lagi, abang tanya, kamu ridho abang nikahin wanita lain? " paksa Anto menunggu jawaban.
" Abang, ingin mendengar jawaban Nera? jawaban Nera , emang ngaruh ya bang ,kalau Nera cemburu gimana? terus abang gak jadi nikah gitu ?" Nera menjawab sambil bercanda.
Namun Anto menanggapi candaan Nera serius,
" Ya sudah, abang enggak nikah! "
" Ckk, mana mungkin? Entar lihat cewe bening dikit, langsung di goda" goda Nera lagi.
" Emang kamu pernah lihat saya godain cewe? yang mana? " ketus Anto pada Nera.
" Enggak sih, bercanda abaang! " pukas Nera menenangkan situasi yang memulai panas.
" Kita serasa lagi kencan, berantem kemudian akur lagi, kalau kamu nanti jadi janda, mau ya jadi istri kedua abang?" goda Anto sambil menyedot minuman.
Anto tertawa puas mendengar jawaban Nera dengan ekspresi yang sangat lucu.
" Aku senang kita bisa bersahabat dan normal kembali komunikasi seperti ini, bersahabatlah denganku dan menjadi adik ipar yang baik" kata Nera memelas pada Anto.
" Sahabat sudah banyak Ner, tapi sahabat hidup seperjuangan belum ada, tadinya sudah sedia, tapi keburu diambil orang lain.
Betul kata pepatah, jangan tunggu lama-lama, nanti lama-lama, jodohnya di ambil orang " sahut Anto memelas juga.
" Apa, itu mah bukan pepatah tapi lirik lagu dangdut ,hahahaha " jawab Nera tertawa.
" Nera, yaah? " sahut Anto.
" Apa? " tanya Nera penasaran.
" Nanti kalau jadi janda, mau kan jadi istri kedua abang? " goda Anto pada Nera.
" Abang, pulang ah..! sudah gila abangnya, ngedo'ain itu yang bagus-bagus jadi keluarga sakinah mawadah warahmah gitu, do'ain jadi janda, hadeuuuh abang... abaaang! "
Mereka berjalan menuju mobil diparkiran.
" breeeeet.... "
__ADS_1
Seorang lelaki mengambil paksa tas Nera, lalu laki-laki itu kabur, Anto dengan sigap mengejar laki-laki penjambret itu.
Anto terus mengejarnya sampai keluar dari parkiran.
Banyak orang yang membantu mengejar, namun penjambret itu sangat lihai. Sulit untuk di tangkap. Namun Anto masih penasaran, dia terus mengejar penjambret itu.
Saat di kejar, saking fokus mengejar si penjambret, Anto tidak peduli kanan kiri ada mobil, tapi beruntung Anto masih sigap dan terus berlari mengejar si penjambret.
**********
Ditempat berbeda, Nera mencoba menunggu di ruang pusat informasi di mall tersebut.
Tadinya, dia pun ingin mengejar nya, tapi dia masih terkejut dengan kejadian tadi.
Dia meminjam telepon di pusat informasi, untuk menghubungi orang rumah, khawatir kalau umi dan abah menunggu mereka.
Nera pun menceritakan tentang kejadian penjambretan itu kepada Umi Syifa.
Dan umi Syifa memaklumi kalau nanti, mereka berdua pulangnya telat.
Di dalam tas itu ada dompet, handphone baru, dan data-data pribadi.
Entah kenapa, Anto begitu sigap sekali saat memgejar penjambret itu.
Padahal Nera sendiri pun sudah meridhoinya.
Tapi untuk Anto mungkin berbeda, entah apa yang sedang dia cari?
******
Anto sudah tidak tahan kelelahan, tapi Anto terus mengejar penjambret itu.
Tanpa tedeng aling-aling, pundak si penjambret kena oleh tangan Anto.
" Berhenti !" teriak Anto pada si penjambret.
Namun entah kenapa si Penjambret mulai bersiul keras.
Anto mendapatkan si penjambret,
"Ayo kita ke kantor polisi, aku tak akan mukul kamu" ajak Anto.
Kembali si penjambret menyiulkan mulut nya lagi.
Tanpa disangaka-sangka ada lima orang berbadan kekar dan menghampiri Anto.
Anto di hajar secara berkelompok, namun apa daya Anto sudah mulai kelelahan dan lemas pada saat mengejar tadi.
Mereka terus memukuli Anto, ternyata penjambret ini bekerja tak sendirian tapi berkelompok.
Di gang kosong Anto, dipukuli oleh teman-teman si penjambret.
__ADS_1
Dan tanpa disangka salah satu teman si penjambret mengeluarkan belati dan menusukkan belati ke perut Anto.
Ssssssssrrr, darah keluar dari mulut Anto dan perut nya.