Berjanji Dan Merajut Asa

Berjanji Dan Merajut Asa
76. Kepulangan Nera


__ADS_3

Maryam terkejut setelah Dya mendatanginya.


Maryam tak pernah bermaksud apa-apa menceritakan tentang Sarah yang ingin dipoligami oleh Dya.


Umi selalu khawatir dengan Dya akhir-akhir ini.


Umi sendiri pun curiga ada hubungan apa Sarah dan Dya?


Apalagi melihat Nera yang selalu murung dan semakin kurus.


Umi khawatir terhadap menantunya itu.


Akhirnya Umi mendesak pada Maryam untuk menceritakan apa yang terjadi antara Dya dan Nera.


Umi sadar pernikahan Dya dan Sarah, masih pertanyaan besar.


Karena Kiai Hasan dimintai konfirmasinya, tetap tak bergeming. Dan selalu diam ketika ditanya perihal Dya dan Sarah.


Akhirnya mau tak mau Maryam membuka curhatan adiknya itu kepada sang ibu.


Walau dia tahu, sang ibu memiliki jantung lemah.


〰️〰️〰️〰️


Pagi-pagi Dya sudah berangkat.


Kiai Hasan bertanya,


" Rek kamana isuk ke'ne'h , Dya ? ( mau kemana , masih pagi, Dya?) "


" Mau ke kampus Nera, Bah " jawab Dya lirih sambil mencium tangan abahnya.


" Dya , Ari maneh teh emang bodas kitu atawa keur geuring, kawat pias kitu? ( Dya, kamu itu emang putih banget atau sakit, muka kamu pucat begitu?) " kata Kiai Hasan.


" Dya baik-baik saja Abah, Dya izin berangkat dulu " jawab Dya sembari pergi berlalu.


Di mobil.


Dya berharap kali ini Nera masuk kuliah, karena sebelumnya Dya mencoba ke kampusnya. Dya memang belum menemukan keberadaan Nera, dan Dya pun menanyakan kesetiap teman sekelasnya dan kepada dosen-dosennya.


Hanya satu orang yang belum Dya orek ceritanya. Dia belum bertemu Astuti. Kalau saja Dya menemui di rumahnya, khawatir ibunya Astuti cerita pada Umi.


Dan Dya tak bisa lagi menutupi apa yang telah terjadi jika Umi curiga jika dirinya menemui Astuti.


Tanpa rasa malu dan canggung, Dya mencoba menunggu Astuti didepan kelasnya.


Dan Astutipun tiba.


" As, tunggu! jangan hindari aku . Aku hanya mau minta tolong, bantulah yah!" kata Dya lembut.


" Ba-bantu apa?" tanya Astuti terbata, pura-pura tidak tahu.


" Saya mau minta nomer handphonenya Nera" kata Dya dengan muka pucat, bibir kering dan tubuh yang sudah melemah.


Dya terduduk sudah tak kuat berdiri, dengan napas lelah serta memegang dada kirinya.


Astuti terkejut, Astuti berpikir dengan tubuh Dya yang seperti itu, dia pastikan . Dya sedang sakit.


Tak lama, pas Astuti jongkok.


Dya langsung melemas dan pingsan.


Astuti, dibuat kaget kembali dan meminta bantuan kawan-kawannya membopong ke ruang kesehatan kampus.


Tapi dari medis kampus, Dya dibawa ke Rumah sakit. Astuti ikut ke rumah sakit dan mengabari keluarga Dya.


" Apa, teh ? Baik-baik, iya nanti kami kesana"


jawab Yaser menerima telepon rumah dari Astuti.


Yaser mencari Anto , tapi Anto tidak ada.


Yaser mengetuk pintu kamar orang tuanya.


" Nya, sok lebet ( iya , masuk ) " kata Kiai Hasan.


Yaser melihat umi sedang dipijitin sama abah.


" Aya naon, Ser? ( ada apa, Ser?) " kata Abah.


Umi, izin pinjam Abahnya dulu ya , Umi" kata Yaser lembut.


Umi hanya mengangguk.


Yaser dan Kiai Hasan keluar dari kamar.


" Abah, Bang Dya masuk rumah sakit"


" Naha? naa kunaon? lain tadi teh ka ka kampus ? jeng si Nera ka rumah sakitna? ( apa? emang kenapa? bukannya tadi itu ke kampus? Sama si Nera ke rumah sakitnya ?) "


" Sama teh Astuti" jawab Yaser.


" Nanti Yaser ceritain di mobil , ya Bah. Kalau disini takut Umi kaget dan kepikiran "


" Minaaah" panggil Kiai Hasan.


Bi Minah langsung menghampiri Kiai Hasan.

__ADS_1


" Muhun, Pak haji?" jawab Bu Minah.


" Itu si Umi, nitip. Abah rek indit heula sakeudeung ( abah mau pergi dulu sebentar ) "


Yaser dan Kiai Hasan pergi.


Di mobil Yaser bercerita panjang.


Tentang awal kenapa Dya seperti itu.


Abah tak habis pikir, kenapa anak-anaknya tak mau bercerita padanya.


Padahal ini bukan masalah besar.


" Hey Yaser, Abah kasih tahu. Rumah tangga itu emang tempatnya masalah. Masalah kecil saja bisa jadi besar. Rumah tangga itu jika punya masalah dua-duanya ini harus punya hati yang besar untuk selalu berdiskusi. Kalau dalam rumah tangga satu saja yang diam dan tak mau menjelaskan dan satunya lagi tak mau mendengarkan , ya sudah rusak itu tumah tangga. Karena point utama dalam rumah tangga adalah komunikasi. Namanya komunikasi, ya kayak kita nelpon orang. Yang satu ngomong , yang satu mendengar. Jangan dua-duanya ngomong atau dua-duanya diam. Kalau gitu terus siapa yang mau denger dan menjelaskannya? Ada saatnya bicara dan ada saatnya diam, ada saatnya mendengarkan , dan ada saatnya di dengarkan"


" Dalam pernikahan itu, harus ada yang mengalah. Tapi harus ada yang tegas juga. Biar pasangan kita faham apa yang kita mau. Komunikasikan. Jangan diam dan nunggu di tanya. Tapi diskusikan dan ceritakan. Seharusnya pasangan suami istri itu deal-dealan dulu, agar segala sesuatu itu di bicarakan. Bukan peka-pekaan, atau nunggu ditanya dulu. Karena pasangan kita bukan tuhan yang selalu tahu. Masalah kecil ini itu, tinggal jelasin dan buktikan, enggak perlu sampai begini " nasehat Kiai Hasan menyesal.


Yaser terdiam mendengarkan Nasehat abahnya, jelas itu nasehat bermanfaat baginya, karena toh sebentar lagi Yaser akan mengkhitbah Nisa.


〰️〰️〰️〰️〰️


Dirumah sakit.


Diruangan ICU lagi, selang-selang kecil sudah terpasang di tangan Dya.


Begitupun alat bantu pernapasan, karena Dya sulit bernapas.


Pas Yaser dan Kiai Hasan masuk.


Dya masih pingsan.


Kiai Hasan mencoba pergi ke dokter yang menanganinya.


Sebetulnya apa yang sedang terjadi pada anaknya?


〰️〰️〰️〰️〰️


Astuti menghubungi Nera,


" Assalamu'alaikum, Ner. Kamu pulang deh, Dya diruangan ICU"


"Wa' alaikumussalam, astagfirullah. Kamu enggak bohong kan?" tanya Nera dibalik telepon.


" Ish, masa doain orang sakit sih? Aku kalau bohong emang sekejam itu? Dia kena jantungnya, dia lagi stres" jawab Astuti .


" Cepetan pulang, temuin suami kamu dulu. Dya masih pingsan, tubuhnya sudah terpasang banyak alat, aku serius Nera!" tegas Astuti.


Astuti mematikan hapenya.


Mendengar berita dari Astuti Nera terkejut.


" Rit, aku pulang ya. Maaf aku nebeng di kosan kamu" obrol Nera pada Rita.


Rita teman SMA dan teman di taekwondo.


Rita kuliah di UI , Depok.


Jadi ketika di bandara Nera pusing harus pulang kemana.


Nera , teringat ada Rita yang ngekost di Depok dan menghubunginya.


Rita teman dekat Nera waktu di SMA cuman beda kelas , dia juga teman satu ekschool juga yaitu taekwondo.


Selama hampir satu minggu ini , Nera menginap di kosan Rita.


Rita senang-senang saja, toh sudah lama ini Rita tidak bertemu dengan Nera.J


Nera sudah banyak cerita kepada Rita perihal rumah tangganya.


Dan kini Nera harus segera pulang, karena Dya sekarang terbaring di rumah sakit.


〰️〰️〰️〰️


Anto di telepon Kiai Hasan.


" Kamu dimana, To?"


" Lagi latihan, Bah" jawab Anto.


" Buru, balik!" perintah Abah.


Lanjut Maryam yang di hubungi Kiai Hasan.


" Yam, bisa ke Bandung? darurat! izin ka salakinya ! ( izin ke suaminya !) " pintanya.


" Muhun, Abah! ( iya, Abah !) " jawab Maryam.


Pun Musa dihubungi oleh Kiai Hasan.


Dirumah.


Anto baru pulang latihan, dan langsung buru-buru mandi.


" To, kok Umi dari tadi ngerasa enggak enak hati. Dari pagi Umi enggak lihat Abang mu. Kemana ya?" tanya Umi Syifa.


" Tadi, denger mah Dya ke kampus, mau jemput Neng Nera, Umi" pungkas Bi Minah.

__ADS_1


" Oh , kamu tahu toh , Nah? oalah bilang geh dari tadi, tapi Dya sarapan dulu, enggak, Nah?" tanya Umi Syifa lagi.


" Iya, sarapan roti dan susu. Cuman dari kemarin saya lihat, Jang Dya teh buka-buka lemari dapur sama buka-buka laci kamar tamu. Kaya yang nyari apaaaa gitu , Mi?" jelas Bi Minah.


" Ditanyain enggak, Bi?" sahut Anto.


" Ditaros Jang ! Cuman ngawaler na mung gagaro mastaka sabari seuri ning ? ( Ditanyain, Jang! Cuma jawabannya itu hanya garuk-garuk kepala sambil senyum simpul gitu? ) " jawab Bi Minah.


" Ya Allah, Minah. Jangan-jangan nyariin obat. Mungkin itu obat-obatan punya Dya? Anto telepon Dya. Obat-obatannya ada di Umi" sahut Umi Syifa khawatir.


Anto masih bingung harus berkata apa pada ibunya itu, kalau sekarang Dya sudah di rumah sakit belum sadarkan diri?


" Anto, Umi khawatir kalau Anto enggak makan obatnya , Dya kolaps. Duh Gusti, Umi jadi pusing dan tambah khawatir, Anto cepetin atuh telepon abang kamu !" kesal Umi Syifa mulai kesel.


" Umi jangan terlalu khawatir, kalau Umi stres, nantu Umi juga sakit. Sudah Umi, jangan dipikirkan , nanti Anto telepon ya, do'ain bang Dya sehat-sehat ya, Mi " lirih Anto sambil memeluk ibunya yang sedang terduduk pilu.


〰️〰️〰️〰️〰️


Semua sudah kumpul di rumah kecuali Yaser karena harus jaga Dya di rumah sakit.


Sedang Nera masih perjalanan, karena maklum Nera menggunakan kendaraan umum, yang otomatis akan lebih lambat daripada kendaraan pribadi.


" Kita ngobrol di halaman depan, di gazebo" pinta Kiai Hasan pada anak-anaknya.


" Umi, udara malam , dingin. Istirahat saja di kamar jangan keluar rumah dulu ! " perintah Kiasi Hasan pada isrinya.


" Emang mau bahas apa sih , Bah. Sampai Umi enggak boleh ikut. Kan disini juga bisa?" pinta Umi Syifa.


" Hem, sudah lama enggak ngobrol di gazebo, hanya mau kasih nasihat ke anak-anak kita saja. Sudah dirumah saja, entar abah kasih tahu apa yang disampaikan ke anak-anak " jelas Kiai Hasan.


〰️〰️〰️〰️〰️〰️


Nera tergopoh-gopoh berlari menuju rumah, setelah tukang ojeg mengantarnya sampai gerbang rumah Kiai Hasan.


" Umiiiiii... Assalamu'alaikum" Nera tiba-tiba muncul dan mencium tangan ibu mertuanya itu.


" Alaikumussalam, Neng Nera, sudah beberapa hari ini, Umi kangen. Bagaimana tugas kampusnya , sudah selesai?" tanya Umi Syifa.


Nera menitikkan air matanya.


" Bang Dya, belum pulang Umi?" tanya Nera.


" Bukannya tadi dia ke kampus, mau menjemput kamu pulang?" tanya balik Umi Syifa.


Nera terduduk sambil menangis menutup wajahnya.


" Kenapa kamu Nera ? Kenapa semuanya menjadi aneh seperti ini? Ada apa dengan Dya?" gugat Umi Syifa penasaran pada Nera.


" A-bang, ada di ruang ICU, dirumah sakit tadi kata Astuti. Ne-ra kira abang sudah pulang, hiks " jawab Nera terisak.


Umi Syifa terkejut dan langsung berjalan dengan cepat sembari memegang dadanya menuju gazebo.


" Kenapa kalian diam saja, sementara Umi seperti orang ****. Sekarang Dya dirawat dirumah sakit mana? " tanya emosi Umi Syifa.


" Ada apa Umi?" tanya Maryam sambil memeluk ibunya.


" Enggak , ah. Umi kecewa sama kamu Maryam, masa kamu diam saja ngelihat Dya di rumah sakit? Siapa yang jagain Dya dirumah sakit ?" bentak Umi Syifa.


" Umi, sabar. Nanti gula darah Umi naik lagi, jantung Umi nanti kambuh lagi, sabar. Dya di temani Yaser. Ya, kita lagi diskusi Umi" kata Maryam lembut mencoba menenangkan.


" Enggak nurut nya! tunggu di rumah saja" sahut Kiai Hasan.


" Nera" Sahut Anto tak menyangka dengan kehadiran Nera yang sudah berhari-hari tak ada kabar.


Nera masih tertunduk merasa bersalah.


" Assalamu'alaikum" sapanya .


" 'alaikumussalam" jawab mereka.


" Nera , minta maaf Abah!" Lirih Nera mengucurkan air mata penyesalan.


" Nera menyesal" ucapnya terisak.


" Bukan , ke Abah, tapi ke suami kamu" jawab Kiai Hasan tegas.


" Bukan kabur, tapi harusnya selesaikan. Jangan bertindak kekanak-kanakan. Sekarang sana , tengok suami mu. Maryam , Anto antar Nera ke rumah sakit " pinta Kiai Hasan pada anak-anaknya.


" Bilang sama Dokter, Kami setuju Dya dioperasi " tambah Kiai Hasan .


Nera dan Umi Syifa semakin terkejut,


" Abah , Dya sakit apa?" tanya Umi Syifa sambil memegang tangan Kiai Hasan, berusaha mencari jawaban.


" Ayo Nera ,sana berangkat "


Nera, Anto, dan Maryam akhirnya berangkat menuju rumah sakit.


bersambung


〰️〰️〰️〰️〰️〰️


Maaf kemarin efek edit sambil mengantuk, jadi ada bahasa yang rada aneh atau salah ketik. Mohon dimaklumi ya 😂🙏


Jangan lupa like, koment dan vote.


Insyaa allah setelah novel ini berakhir saya akan buat judul baru.

__ADS_1


Ditunggu ya..


Terima kasih readers .


__ADS_2