Berjanji Dan Merajut Asa

Berjanji Dan Merajut Asa
15. Mulai merasakan Cinta.


__ADS_3

Dirumah kediaman kiayi Hasan


Malam ini Dya masih terjaga ,balik kanan balik kiri di atas kasur. Dia sibuk memikirkan sesuatu hal yang membuatnya tak bisa tertidur.


Dia turun dari ranjangnya ,dan turun dari kamarnya di lantai atas ke lantai bawah.


Dya melihat ibunya, sedang duduk di ruang keluarga.


Dya melihat uminya sedang memilah - milah foto dan melihat satu - satu kenangan foto anak-anaknya ketika masih kecil.


" Foto Dya ,waktu kecil yang mana mi? " memecahkan keheningan malam hari di ruang keluarga.


" Kaget ,Dya. Duuuh kamu tuh. Kenapa belum tidur sudah jam 11 lho? " jawab Umi


Dya duduk disamping ibunya, sambil bermanja menyandarkan kepalanya kepaha ibunya.


" Teman Dya, dah pada nikah mi, ada yang sidah punya anak 3 , 2 , 1 dan baru hamil. Umi malu enggak kalau Dya masih membujang? "


lirihnya pada Umi Syifa.


" Umi sih lebih ke khawatir bukan malu, ndo. Umi khawatir kamu melupakan sunnah dan qadratmu, ndo. Kalau sudah ada calon segeralah menikah , bilang sama umi mu ini,ndo. Siapa wanita itu? biar umi dan abah yang kan melamarnya untuk kamkou " jawab umi syifa menjelaskan kekhawatiran dirinya terhada Dya.

__ADS_1


Dya mendengar itu hanya tersenyum bahagia, bangun dan memeluk ibunya.


Dia merasa ibunya telah memberikan lampu hijau agar dirinya segera melepas masa lajang.


" Tapi ,adakah yang mau sama Dya mi?, wanita mana yang mau ditinggal suaminya berbulan-bulan dengan status mahasiswa, yang belum mapan seperti Dya. Bahagiain umi sama abah pun belum tentu Dya sanggup mi "


" Iskkk,istigfar Dya umi itu enggak pernah berharap kalian balas semua kebaikan kami dengan materi, cukup menjadi manusia yang taat kepada Allah, sudah cukup buat umi sama abah. Kamu sudah menjadi hafidz, dosen mu juga bangga dengan kecerdasan mu. Umi mu ini apalagi abahmu maa syaa Allah nak, bangga. Tinggal nimang cucu dari kamu" jelas Ibunya pada Dya.


Dya tertunduk malu, tersenyum lirih sambil menggaruk kepalanya.


" Mi, Dya ke kamar dulu, pamit ya ,selamat malam mi " jawabnya meninggalkan uminya.


*****


suara telpon berdering di rumah kiayi Hasan,


kiayi Hasan yang mengangkatnya


" assalamualaikum, hallo "


" Anto, yaa Alhamdulillah. Bagaimana kamu di Mesir ?"

__ADS_1


" Iya.. iya.. nanti abah sampaikan. Syukur atuh ari kitu mah ( syukur kalau begitu) , sok sing rajin, getol, sing tawakal nya ! eunya - eunya, sing sholeh bager kasep nya ( iya - iya, semoga jadi sholeh, baik, dan ganteng). wassalamu'alaikum warahmatullah "


Umi menghampiri kiayi Hasan, penasaran siapa yang tadi menelpon.


" Abah, siapa? "


" Si Anto ,dia sudah ujian, nilainya baik, Alhamdulillah, katanya dia mau ngajuin smester pendek. Sekalian capek katanya biar cepet lulus. Cek abah teh, nya sok we ari mampu mah ( kata abah teh, ya sok saja kalau mampu) " jawab kiai Hasan pada umi Syifa.


" Mi abi pergi dulu ke depan ya ,ba'da ashar insyaa Allah pulang. Ya abah angkat hela nya ( abah berangkat dulu ya) . Assalamualaikum" izin kiai Hasan pada istrinya dan berlalu pergi.


*************


tok..tok...tok.... tok...tok..tok...


Suara ketukan pintu dari luar.


Pak Edo berlari menuju pintu dan membukanya,


" Iya ,euuuh pak kiai. masuk - masuk pak! "


Kiayi Hasan pun masuk ke rumah pak Edo.

__ADS_1


" Duh pak kiai, ada apa gerangan? Gak mendung, gak hujan pak kiai bertamu ke tempat saya ,maaf rumah saya sempit " sapa pak Edo mempersilahkan pak kiayi Hassn masuk dan duduk.


**** next


__ADS_2