
Ketegangan terlihat dari raut wajah Dya, begitupun wajah pak Edo.
Tangan Dya seraya bersalaman lama dengan pak Edo. Kiai Hasan menuntun melafalkan kata - kata akad dalam bahasa arab untuk meminta mensyahkan dan menghalalkan Nera untuk diri anaknya kepada pak Edo.
Dengan tegas, lugas dan lancar, Dya melafalkannya. Begitu pun dengan jawaban pak Edo, dan semua para tamu bersorak sambil mengucapkan syah.
Dya merasa bersyukur, dan berpelukan dengan ayahnya kiai Hasan.
Nera, maju menghampiri Dya di ikuti oleh bu Siwi dan Umi Syifa.
Nera dan Dya bersalaman, dan memasangkan cincin pernikahan serta menyerahkan mas kawin berupa uang Rp. 2000.000 .
Mereka berfoto sebagai tanda bukti pernikahan mereka ,walau pun mereka masih terlihat canggung dan malu - malu. Masih berjauhan dan saling curi - curi pandang.
Ada yang meminta, Nera dan Dya untuk berpelukkan sebagai bahan untuk foto.
Tapi Nera tak bergeming, romantis itu bukan harus selalu ditampilkan dimuka umum.
Dya sesekali mencoba curi - curi pandang, berharap Nera mau memandangnya sekedar melempar senyuman. Namun Nera memang benar - benar pemalu.
Dilanjut dengan acara sungkeman kepada orang tua. Disana Nera memeluk ibunya demgan penuh deraian air mata. Entahlah apa yang Nera rasakan, begitupun dia bersimpuh di paha bapaknya, dia memohon maaf dan berterimakasih atas segala pengorbanan orang tuanya selama ini.
__ADS_1
Begitupun yang dilakukan Dya, dia pun memohon do'a restu kedua orang tua juga memohon maaf dan berterimakasih atas segala jasa - jasa orang tuanya.
Sebagian saudara sebagian sudah pada yang pulang. Yang tersisa hanya Kiai Hasan, umi Syifa ,Dya beserta adik-adiknya.
"Dya, kamu mau nginep disini?apa pulang dulu?! " tanya kiai Hasan menggoda Dya.
"Ahh, apa bah? " jawab Dya terkejut karena Dya pada saat ini lagi ikut membantu Nera membereskan bekas acara tadi.
" Nera, sudah biarin saja dulu, entar beres - beresnya! sok kesini dulu kamu teh. Ada hal yang akan kami bicarakan kepada kalian berdua, sini duduk! " sahut pak Edo duduk dikursi tamu.
Nera dan Dya menghampiri kedua orang tua yang sudah berkumpul sedari tadi.
" Dya, ari kamu malam ini mau pulang dulu atau mau disini? " kata kiai Hasan.
" Haar, kan kamu itu sudah nikah, masa kamu nanya balik ke abah? " jawab kiai Hasan.
" Nera, bagaimana? " tanya pak Edo pada Nera.
" Nera tergantung suami, pak? " jawab Nera tertunduk, malu.
" Bagus, itu jawaban istri yang taat pada suami! " kata kiai Hasan.
__ADS_1
" Kalau boleh usul, Nera tinggal di rumah umi dulu, nanti kalau Dya sudah lulus kuliah silakan kalau mau cari rumah sendiri mah " tambah Umi Syifa menjelaskan.
" Dya, bagaimana mau ajak istri mu ke rumah atau kamu yang nginep disini? tanya umi Syifa kepada Dya.
" Punten pada semuanya, bukan saya lancang bagaimana kalau malam ini Dya pulang dulu, dan Nera disini dulu biar Nera bisa membereskan apa - apa yang sekiranya diperlukan nanti dirumah jika tinggal dengan saya. Insyaa Allah besok saya jemput. Bagaimana ? Terimakasih untuk umi dan abah atas perhatiannya dan maaf sudah selalu sering direpotkan Dya. Kepada kedua orang tua yang Dya hormati do'akan kami agar selalu menjadi keluarga sakinah, mawaddah dan warahmah. Aamiin " jawab Dya denga lembut.
Kedua keluarga setuju kalau pada malam hari ini Dya dan Nera akan tinggal dirumah nya masing - masing dulu.
Sebelum pulang Dya ,menghampiri Nera dengan malu - malu bertutur
" Ner, abang izin pulang dulu ya. insyaa Allah besok abang jemput "
Dadanya seperti ada genderang perang atau mungkin bom waktu yang seakan - akan meletus. Dihadapannya adalah istrinya. Ya istri yang dari dulu tak pernah sedikit lun terpikirkan olehnya. Seorang istri yang membuatnya jatuh cinta saat dimulai akad tadi siang .
******
next
Jangan lupa berikan krisan dan vote serta like nya..
Biar saya bisa selalu menambah cerita dengan On time.
__ADS_1
terima kasih