
Nera masih terjaga, tidurnya nyenyak di kamar Anto.
Untungnya jilbab yang dikenakannya tidak copot dikepalanya.
Hanya Nera, merasa silau saat gorden jendela ada yang membuka, dan cahaya matahari silaunya mengenai mata Nera yang masih terkantuk.
Mata Nera bergerak-gerak pelan, membuka kelopak matanya perlahan.
Karena kelopak matanya masih rada sedikit panas akibat tangisan semalam.
Disana, ada sekelebat tubuh berdiri.
"Siapakah orang itu, kenapa ada di kamar haha di kamar? " gerutu hati Ner terkaget langsung bangun dan duduk baru tersadar bahwa dirinya telab tidur di kamar Anto.
Nera langsung bangun, dan berlari membuka pintu lalu keluar dari kamar Anto.
Tanpa sadar Anto memperhatikannya dari tadi.
Nera terbangun dari tidurnya nya hampir jam 09: 00 .
Anto sudah sampai rumah dari Mesir.
Anto terkaget, saat dirinya membuka pintu kamarnya, terlihat Nera yang sedang nyenyak sambil memegang diari miliknya.
Ada , rasa curiga, dalam pikirnya.
Mata Nera membengkak, dan tidur di kamar Anto.
Anto berpikir, " kenapa, Nera seperti itu? , sedang punya masalah apa, sampai Nera tertidur dikamarku? hemmh mungkinkah dia kangen padaku?" gerutu hati Anto.
***********************
Nera sudah mandi, dan turun ke dapur.
Di daput ada bi Minah dan Umi.
" Lho, sudah pulang , Nera ?" tanya Umi Syifa kaget melihat Nera tiba-tiba muncul.
" Pulang? pulang dari mana Umi. Kan Nera semalaman emang ketiduran di kamar, hehehe bablas, maaf Nera haid " jawab Nera sambil garuk kepala , duduk di meja makan.
" Lhah, tadi malam bibi ke atas Neng, ke kamar tapi di kasur enggak ada, mau bangunin buat makan malam" seloroh Bi Minah.
Nera menelan air minum sampai tersedak,
" ohok..ohok..ohok "
" Nera Ketiduran di kamar mandi, deh kayaknya. Entah gara-gara kecapean kemaren dari kantor bang Dya. Pas di kursi melamun, ketiduran, hehehe" Nera terpaksa berbohong. Nera tak mau, orang-orang tahu, kalau semalam suntuk dia tertidur di kamar Anto.
" Mata kamu bengkak, Nera, semalam kamu nangis?" tanya Umi Syifa lagi.
" Bukan Umi, tapi kayaknya kebanyakan tidur. hihihi " sangkal Nera lagi.
" Maaf ya Umi, Nera bangunnya siang banget" jawab Nera lagi.
" Biasa perempuan lagi haid mah, asal jangan jadi kebiasaan " kata Umi Syifa sambil mengusap kepala Nera , sayang.
Tiba-tiba Anto muncul.
" Anto, makan?" tanya Umi Syifa.
Mendengar suara Umi Syifa menyebut Anto, Nera yang fokus pada minumannya, langsung berbalik menuju pintu dapur yang cukup lebar.
Anto berdiri disana, dan tersenyum pada Nera.
Mata Nera membulat dibuat terkejut dengan keberadaan Anto.
__ADS_1
Anto, duduk di meja makan dan saling berhadapan dengan Nera.
Nera masih terpana dengan kedatangan Anto.
" Iya , Umi Anto mau makan, tapi biar Anto yang ambil sendiri" jawabnya masih memandang Nera, yang matanya sedang bengkak efek menangis tadi malam.
" Teteh, sehat?" tanya Anto pada Nera.
" Ehm.. alhamdulillah se-sehat " jawab Nera terbata.
" Saya izin dulu ke taman sebentar, mau menggerakkan tubuh, permisi semuanya " Kata Nera sambil berlalu.
" Mi, apa kabar bang Dya di Marokonya? " tanya Anto pada Umi Syifa.
" Alhamdulillah, dia kabar nya baik " jawab Umi datar karena sibuk sedang mengadon kueh.
" oooh " jawab Anto beranjak dari meja makan.
" Makan nya enggak jadi, To?" tanya Umi Syifa.
" Enggak, Mi. Nanti saja" jawab Anto berlalu.
****************************
Nera sedang joging mengitari taman walau tak begitu luas , tapi cukup untuk membakar kalori beberapa keliling.
Muncul Anto dan mata mereka beradu pandang.
Anto masih selalu melempar senyumnya .
Nera berhenti dan berdiri mematung di depan Anto.
Entah mengapa, Nera langsung meneteskan air mata. Seolah-olah dia ingin mengadu pada Anto tentang Dya padanya.
Anto, masih berdiri di hadapan Nera yang sedang menangis.
Entah mengapa, ada sembilu di hati Anto. Melihat kekasih hatinya menangis.
Kadang dia ingin memeluknya, tapu ia urungkan lagi.
Sesekali Anto menelan salivanya, menahan kata-kata apa yang harus ia katakan pada Nera?
" Ada apa Teteh? Masalah apa yang kau hadapi, ceritakanlah, dan semoga aku bisa membantumu !" jawab Anto tercekat ikut terluka.
Anto faham betul, kekasihnya itu tak pernah semenangis itu . Pasti ada hal-hal yang membuatnya terluka.
***************************************
Yaser tanpa disengaja melihat Nera yang sedang menangis.
Anto tahu, dan kemudian langkah Yaser ia hentikan dengan tanda telapak tangan di tahan. Menandakan jangan dulu kesini.
Mata dan gelengan kepala memberi tanda kepada Yaser untuk meninggalkan tempat itu. Dan meminta hanya dirinya saja yang ada disana.
Yaser mencoba memahami dan akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua.
**************************************
"Berceritalah !" pinta Anto.
Nera mendongkakkan wajahnya ke arah Anto yang masih berdiri.
" Maafkan segala kesalahanku, padamu Abang" pinta Nera yang terisak.
" Maaf, atas apa?" jawab Anto.
__ADS_1
" Atas luka yang telah ku beri, selama kau menanti disana. Kau bertahan dengan rasa rindumu dan aku tak bisa melakukan hal yang sama" balas Nera terisak.
" Sudah taqdir, tak ada yang perlu yang disalahkan, bukankah kita sudah melupakannya, dan saling memaafkan satu sama lain? berdirilah, duduklah " ucap Anto .
Nera bangun dan kemudian duduk di bangku taman, yang memanjang.
" Sebetulnya, apa yang sudah terjadi? apa ada kaitannya dengan Bang Dya?" tanya Anto.
Nera mengangguk sambil mengusap tangisnya.
" Apa yang tengah terjadi?" tanya Anto lagi.
" Kenalkah Abang dengan Rudi?" tanya Nera kembali.
" Iya, ada apa dengan Rudi?" jawab Anto memastikan.
" Sarah?" sambung Nera
" kenal tidak, tapi tahu" jawab Anto.
" Ada hubungan apa Sarah dengan Dya?" tanya Nera.
" Kamu curiga pada Bang Dya?" tanya Anto.
" Iya, Nera mendengar Sarah mengajukan diri untuk di nikahi bang Dya, menjadi istri kedua, dan itu disetujui oleh ayahnya Sarah " ujar Nera kembali matanya berembun.
" Bang Dya yang bilang?" tanya Anto.
Nera menggelengkaan kepalanya.
" Terus siapa yang bilang?" tanya Anto.
" Yaser, kata mba Maryam. Mba Maryam curhat ke ibu juga. Aku nguping mereka, saat mereka di dapur. kalau bang Dya sudah nikah sama Sarah dan sekarang honeymoon sama bang Dya disana" jawab Nera terisak kembali.
Anto mengernyitkan dahinya,
" Teh, sudah ah. Teh!" kata Anto.
" Kalau masih kabar , katanya, katanya. Kenapa enggak Teteh coba tanyain langsung ke Bang Dya?" sambung Anto lagi.
" Ya, kalau aku yang nanyain emang Bang Dya bakalan ngaku kalau dia sudah nikah lagi? mana ada maling ngaku !" ucap Nera kesal.
" Hahahahahaha.. dasar perempuan ! Coba tanyain langsung jangan terus-terusan berprasangka, enggak baik. Abang kenal Bang Dya itu seperti apa, dia itu ferpecksionis orangnya. Semua yang menjadi keputusannya itu akan direncanakan , dipikirkan dan dipertimbangkan secara matang. Enggak mungkin grasak grusuk, Teh. Bang Dya, anak paling cerdas dikeluarga kami, dia faham betul apa-apa yang dilakukan. Semut saja dia ajak ngomong ketika berbaris banyak di dinding kamarnya untuk pindah dari kamarnya, tanpa satupun disakitinya. Apalagi masalah nikah lagi, Teteh akan menjadi orang pertama yang menjadi pertimbangannya " jawab Anto sambil tertawa lucu.
" Abang mah, malah ketawain Nera. Nera lagi sedih abang, isk " ucap Nera manja.
" Kirain kenapa? mudah-mudahan enggak ya Teh, coba ngobrol baik-baik jangan berprasangka terus. Jangan sampai menyesal untuk kedua kalinya. Ok! Abang permisi dulu, laper, mau makan " jawab Anto pergi berlalu.
Nera terpaku sendiri di meja taman, mendengar ucapan Anto dan nasehatnya.
Betul juga apa yang telah disampaikannya , Nera kembali mengusap air matanya.
Dan mencoba untuk berprasangka baik lagi ke suaminya.
Mudah-mudahan kali ini dirinya tak lagi terbawa perasaan dan pikiran yang tidak-tidak lagi tentang suaminya.
Nera kembali memberikan sms kepada suaminya.
Abang sibuk?
kalau tidak sibuk telepon Nera ya
bersambung
*****************
__ADS_1