Berjanji Dan Merajut Asa

Berjanji Dan Merajut Asa
38. menambah luka


__ADS_3

Ranjang pasien berlari ke arah ruang operasi.


Nera, dilarang dokter untuk tidak ikut masuk ke dalam ruang operasi.


Nera, menghubungi lewat telepon rumah sakit, karena handphone barunya belum dia aktifkan.


Nera mondar-mandir tegang menunggu prosesi operasi Anto. Sesekali dia duduk dibangku, namun dia sesekali bangun lagi dari duduknya.


Kenapa operasinya begitu lama ? Kenapa keluarga Anto belum saja kesini? gemuruh hati Nera berkecamuk dengan penuh ketegangan.


Tiba-tiba segerombolan keluarga inti Anto sudah mulai berdatangan.


" Nera, bagaimana kondisi Anto? " tanya umi Syifa terengah-engah sambil menitikkan air matanya.


" Masih diruang operasi umi" jawab Nera terisak.


Mereka pun ada yang duduk ada yang berdiri, mereka semua kekhawatiran yang sama terhadap Anto.


Namun baru Nera sadari, ternyata teh Maryam ikut, ya anak pertama kiayi Hasan dan Umi Syifa. Kakak perempuan satu-satu Dya dan adik-adiknya.


Nera tak pernah tahu karakter atau watak kakak iparnya yang satu ini.


Dari wajahnya terlihat wajah jutek tapi cantik, ya persis wajah Dya yang ke arab-araban tapi versi ceweknya.


Saat Nera bersitatap dengannya, mata Maryam seperti panah yang akan diluncurkan ke dada. Khawatir menyakitkan.


Sedari kedatangan nya tak menunjukkan senyum simpulnya kepada Nera.

__ADS_1


Pintu kamar operasi terbuka, Anto di masukkan ke ruang ICU karena Anto belum stabil. Semuany berlari mengikuti ranjang berjalan yang ditiduri Anto tuju.


Setelah selesai operasi Anto, umi menyuruh Nera untuk segera pulang.


Sedang Anto biar Umi dan kiayi Hasan yang jaga.


Tapi Nera masih meminta izin semoga dirinya juga masih bisa menjaga Anto di rumah sakit.


Hanya saja kiai Hasan menolak tawaran Nera.


Dan kiai Hasan menyuruh Maryam untuk mengantar Nera pulang.


Di dalam mobil hanya ada Nera dan Maryam yang sedang mengendalikan mobil.


Hening tanpa percakapan karena Nera masih syok dengan kejadian hari ini.


Pikiran kacau itu membuat Nera semakin tak bisa berbicara atau sekedar basa basi kepada kakak iparnya itu. Yang ada dia hanya terus berderai air mata dan sesekali Nera menyeka air matanya.


Maryam memarkirkan mobilnya ditepi jalan yang sepi.


Nera berbalik menatap Maryam.


" Kita turun dulu! " ajaknya pada Nera.


" Ada yang ingin teteh ceritakan kepadamu ,tentang laki-laki yang sama-sama adik saya, yang sama-sama mencintai wanita yang sama, yaaa Anto dan Dya! "


kata Maryam menjelaskan dengan muka masamnya.

__ADS_1


Nera menatap tanpa kata, hanya derai air matanya yang berjatuhan.


" Dia tahukah apa yang sedang terjadi? " celoteh hati Nera.


" Dulu, Dya pernah bercerita, dia akan menikah dengan wanita yang umi dan abah suka. Dya tidak mau sama sekali mengecewakan umi dan abah. Pada saat kepulangan Dya kemarin, abah menyuruh Dya untuk segera menikah, tapi Dya menolak kalau harus mencari sendiri, apalagi dia sibuk dengan kitab dan buku-buku yang ia baca. Umi tak pernah tinggal diam mencarikan Dya calon istri, dari kalangan keluarga besar kami dan anak sahabat umi dan abah pun sudah di aju-ajukan kepada Dya, tapi umi dan abah masih ragu pada perempuan-perempuan yang mereka jodohkan untuk Dya. Akhirnya ketika kamu ke rumah, abah baru menyadarinya kamu juga masuk dalam kriteria umi dan abah, apalagi abah untuk mempertahankan kamu di madrasah caranya menikahkan Dya dan kamu Nera. Apalagi umi suka dengan kamu dari dulu. Dari acara musyawarah itu, abah ajak Dya salah satunya untuk mengenalkan kamu padanya. Abah dan umi memuji kamu pada Dya, abah dan umi mengajukan perjodohan pada Dya dengan kamu. Tanpa disangka Dya dengan cepat mengiyakannya. Malah teteh sendiri tak pernah menyangka, Dya siap langsung menikah dengan kamu. Dya bercerita waktu ke Jakarta. Waktu itu kalian lagi marahan hanya gara-gara secarik kertas dari seorang laki-laki yang meminta kamu menunggunya. Dya kalap dan marah pada kamu, tapi dia luluh dan kembali pulang karena dia tidak bijak karena dia belum mendengarkan penjelasan dari kamu, akhirnya dia bertekad akan mencoba mengerti kamu dan selalu memaafkan kesalahanmu selama bukan kesalahan fatal. Dya mencintai kamu Nera! "


jelas Maryam menegaskannya pada Nera.


Nera semakin merasa bersalah pada Dya, hatinya memang belum bisa sepenuhnya mencintai suaminya. Semakin deraslah air mata Nera mengalir.


" Dan kau tahu, aku begitu bodoh pada saat Anto curhat, untuk mengambil semester pendek, demi wanita yang akan dilamarnya, tapi tiba-tiba dia ingin keluar dari Al-Azhar dan memutus ingin kuliah saja di Indonesia . Aku tahu adik-adikku, ku merasa Anto yang semakin hari semakin parau dalam telepon, kutanya dia kenapa dia seperti ini? tidak bersemangat dan tak seceria biasa jika ditelpon. Tadinya dia tak mau mengungkapkannya, tapi dia bercerita lewat telpon, katanya wanita yang dia tunggu dan akan ia lamar telah di nikahi kakaknya sendiri, Anto menangis tersedu ditelpon bahwa dia memutuskan ingin kuliah di Indonesia saja, mengambil jurusan yang di sukai. Dan bodohnya teteh baru tersadar bahwa wanita yang dinikahi kakaknya itu kamu. Teteh enggak ke bayang, bagaimana rasa sakit dan kecewanya Anto setiap hari melihat kamu serumah dengannya. Itu menyiksa Nera! " jelas Maryam.


" Apa ini semua salah saya? apa ini kemauan saya? seolah-olah teteh sedang menjadikan saya tersangka! " jawab Nera terisak.


" Teteh akan usahakan sehabis acara walimahan, Dya dan kamu harus pisah rumah dengan umi dan abah, setelah itu teteh akan ngobrol dengan Dya agar membawa kamu ke Maroko. Teteh tidak menyalahkan kamu sepenuhnya, tapi teteh harap kamu jangan ke rumah sakit dulu, dan kalau di rumah kamu jangan sekali-kali memberikan perhatian lebih pada Anto. Perhatian mu itu akan terus membuat Anto berharap banyak, jika Anto menanyakan lagi perasaanmu padanya, walau kamu masih ada rasa, jawab saja kau sudah menganggapmu adik ipar tak lebih, teteh pinta kamu melakukannya, biar Anto semakin sadar kalau kamu istri abangnya. Walau menyakitkan tapi itu adalah kebaikan, kecuali kamu ingin kembali padanya" nasehat Maryam berharap Nera memahaminya.


" Teteh, serendah itu kah aku dihadapanmu? " lirih Nera pada Maryam.


" Apa kau sudah melakukannya dengan Dya sebagai sepasang suami istri?" tanya Maryam tegas.


Nera mengangguk, mengiyakan.


" Baguslah, kamu harus benar-benar menjauhi Anto, khawatirnya nanti kamu hamil anak Dya, bagaimana? Sekarang kamu fokus pada rumah tanggamu dengan Dya. Teteh tidak mau mendengar ada cerita lagi antara kamu dan Anto, Teteh mohon, teteh khawatir umi dan abah tahu, menjauhlah dari Anto, semoga kamu memahaminya! "


Pinta Maryam kepada Nera penuh harap.


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2