
Nera pulang ke rumah meetuanya, Nera minta maaf karena tidak mengangkat nomer telepon suaminya.
Umi Syifa menasehati menantunya itu,
" Jika suami mu, berahlaq jelek atau melakukan kekhilafan padamu, jangan ceritakan kejelekan suami mu kepada orang lain, karena tidak akan menyelesaikan masalah. Coba ceritakan pada orang tuanya, agar dia bisa di nasehati oleh orang tuanya. Karena jika kau masih ingin selamanya hidup dengannya, jangan sekali-kali kamu menceritakan aib suami mu kepada orang yang tidak tahu watak asli suami mu, ceritakanlah pada orang terdekatnya, seperti pada kami atau orang yang dianggap disegani oleh suamimu, karena sejelek-jeleknya suami, dia adalah pakaian seorang istri, begitupun suami terhadap istri , agar kamu dapat solusinya, karena rumah tangga itu adalah belajar seumur, bersabar seumur hidup, dan menerima seumur hidup kekurangan dan kelebihan setiap pasangan"
Nera menerima nasihat mertuanya itu.
πΆπΆπΆπΆπΆπΆπΆπΆ
Umi Syifa, ngobrol dengan Bi Minah di dapur.
" Minah, obat-obatan itu kemarin disimpen dimana, Umi mau bawa obat-obatan itu ke rumah sakit, mau nanya itu obata apa saja, Umi kepikiran dari kemarin, kenapa obat sebanyak itu ada di sembarang tempat, tapi anehnya disimpan ditempat yang enggak bisa difahami, kok aneh di simpen nya ditempat-tempat ngumpet, ini ada yang enggak beres?"
" Iya, Mi, kemarin saya menemukan obat itu dilemari kamar tamu, seplastik kecil. Dan macam obatnya persis yang ditemukan di dapur, kira saya punya Kiayi Hasan, tapi kata neng Nera Kiayi Hasan sudah lama tidak minum obat. Saya pikir punya Umi, tapi bukan juga" jawab Bi Minah.
" Saya lagi khawatir , diantara dua anak laki-laki saya, khawatir penyakit kecilnya kambuh lagi, Dya dan Anto, dulu pernah punya penyakit yang bikin khawatir kami berdua, dua-duanya pernah punya riwayat lemah jantung. Yang sering saya khawatirkan Anto, tuh anak asma nya kambuhan, makanya ketika dia mau pindah kesini, saya senang dan bahagia karena saya khawatir asmanya itu di akibatkan jantungnya yang bermasalah. Tapi Anto suka bingung, kalau dia pulang siapa yang mengurusi tokonya disana? Tapi saya tidak peduli dengan tokonya, saya bilang jual saja, pulang dan urus salah satu toko oleh-oleh kami saja yang ada di Indonesia. Yang kedua Dya, sakit apapun dia enggak pernah bilang, tahu-tahu waktu di Maroko dia sudah masuk rumah sakit, sampai tak sadarkan diri selama tiga hari, akibat kelelahan . Dya selain kuliah, dia sibuk sama tokonya disana, padahal abahnya tak pernah meminta mereka untuk buat usaha, cuman mereka itu ngeyel, jatah 20% dari laba perbulan usaha abah untuk anak-anak itu bukan untuk usaha tapi fokus cari ilmu. Tapi entahlah, mereka begitu semangat buka usaha masing-masing, apalagi Dya dengan uang itu , dia bisa gaji guru-guru ngaji di TPA disini, abah kan nyuruh Nera sebagai mudir di TPA, insyaa Allah kalau Dya sudah lulus, mau buat SDIT dan SMPIT. Biar Dya tidak terlalu capek, abah akan meminta Dya menjual toko-tokonya di sana" Kata Umi Syifa menjelaskan pada Bi Minah.
Nera tak sengaja mendengarkan curhatan mertuanya itu. Dia duduk di tempat meja makan, didapur tanpa mertuanya menyadari kalau ada Nera.
" Kelainan jantung itu, emang turun temurun, keluarga saya , lemah jantung saya apalagi, saya cape sedikit asma dan langsung lemah, letih, lesu, lelah, dan lunglai. Saya belum mengecek lagi, jantung saya dan dua anak saya. Maryam tahu nya kalau uminya ini asma di akibatkan alergi dingin atau cuaca. Padahal tidak, saya dan dua anak laki-laki saya itu punya riwayat lemah jantung" Curhat Umi Syifa pada Bi Minah.
Bi Minah mengangguk-angguk mendengarkan curhatan majikannya itu.
" Saya lagi khawatir, itu obat berserak punya siapa? Kalau terus diobat saja, khawatir efek kedepannya, rencana mau ajukan terapis dan herbal saja. Khawatir ginjalnya dan hatinya juga, Min " keluh Umi Syifa pada Minah.
" Astagfirullah, kaget Umi, Nera. Sejak kapan kamu disini?" kata Umi Syifa memegang jantungnya terkejut melihat Nera yang sedari duduk mendengarkan keluhan mertuanya itu.
" Sejak Umi curhat ke Bi Minah,hehehe" jawab Nera senyum kecil.
" Jadi kamu dengar semuanya?" tanya Umi Syifa.
" Iya" jawab Nera sambil mengangguk.
__ADS_1
" Bentar ya, Umi ada yang ingin didiakusikan dengan kamu Nera.
Ibu pergi ke kamarnya untuk mengambil sesuatu yang akan ditunjukkan kepada Nera. Nera masih menunggu di meja makan di dapur.
βββββββ
Umi membawa beberapa foto perempuan, dan menunjukkan kepada Nera.
" Foto siapa ini, Umi?" tanya Nera penasaran.
" Umi lagi milih, calon buat Anto. Biar Anto pas disini sudah ada yang ngurusin, dan bisa mudah melupakan kekecewaannya ke Umi, ke kamu dan Dya. Umi mau bantuin, tolong pilihin , wanita mana yang cocok.
Ouh iya ini ada biodatanya, kamu tolong baca dan rekomendasikan mana yang kira-kira cocok dengan Anto" Kata Umi Syifa menjelaskan.
Nera melihat beberapa foto perempuan, kumplit dengan biodatanya.
Nera membaca satu persatu.
Ya, yang satu adalah sahabatnya dan yang satu adalah adiknya.
Nera membulatkan lagi matanya, saat membaca yang punya Annisa.
" Umi enggak salah, ini Nisa adik saya, dia masih kelas dua SMA umi?" tanya Nera mencoba meyakinkan kepada Umi Syifa.
" Setahun lagi lulus kan?, kenaikan kelas tinggal empat bulan lagi ini, lagian Umi sudah minta izin ke pak Edo dan bu Siwi, mereka sudah setuju, tapi itupun kalau Anto bersedia memilih Nisa" jelas Umi Syifa sambil terkekeh.
" Neng enggak cemburu, sama Astutikah, dia juga calon kuat loh neng?" timbrung Mba Minah meledek Nera.
Nera langsung menoleh ke Bi Minah, aneh.
" Umi, cerita ke Minah kalau kamu pernah saling taksir dan surat-suratan sama Anto, habisnya Umi perlu curhat. Kalau enggak curhat, pikiran Umi tuh suka mentok. Cuman ke Minah saja kok Ner" jawab Umi Syifa mencoba melindungi Minah .
" hemmmh, orang tua " gumam Nera memelas dalam hati.
__ADS_1
Nera memilih wanita-wanita yang ada dikertas itu.
Nera sedikit iri dan cemburu melihat calon-calon Anto.
Dia mulai , tak bersemangat.
Apalagi melihay biodata-biodata perempuan yang Umi akan pilih.
Ada anak dari kalangan pejabat, ada anak dari seorang pemilik pondok pesantren terkenal, hafidzah dan cantik-cantik.
Nera, minder membaca semua biodata perempuan-perempuan yang akan dijodohkan untuk Anto. Ternyata mereka kelas atas dan memiliki latar pendidikan dan dari kalangan keluarga yang tak bisa disepelekan plus cantik-cantik.
Apa jadinya, jika benar-benar Anto nikah dengan salah satu perempuan yang Umi pilihkan.
Nera minta izin untuk pergi ke kamar.
" Umi , Nera ke atas dulu ya. Nera lagi enggak enak badan, mau rebahan dulu ya. Maaf Umi ya" izin Nera pada mertuanya.
" Kenapa, hamil mungkin kamu, Neng?" kata Umi Syifa, asal menebak.
Nera senyum, dan menggelengkan kepala, karena hari ini memang dia sedang haid.
Nera naik ke atas dan kemudia rebahan dan akhirnya tertidur.
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Ayo readee jangan lupa
like, koment, vote atau mau kasih point juga boleh.
jazakumullah khairan katsiran reader semua
ππππ
__ADS_1