
Dikampus
Seminggu lagi acara resepsi walimahan Nera dan Dya.
Nera sudah membagikan undangan , dibantu Astuti.
" Wuih kamu undang banyak orang ya Ner?" tanya Astuti.
" Kalau aku sih karena aktif di BEM, masa iyah , enggak diundang semua anggota BEM ?, terus paling teman seangkatan dan dosen-dosen" jawab Nera lunglai.
" Suami kamu, kapan balik dari Mekkah? " tanya Astuti.
" Di sms mah, entar kalau dah nyampe Indonesia di kabari, gitu doang, kalau sms lamaa balesnya, di telpon jarang angkat telpon, dia nelpon akunya tidur, iskk males deh " gerutu Nera.
" Btw, bagaimana kabar Anto? hahaha" goda Astuti.
" Main geh ke rumah, dia semakin hari semakin ganteng, tapi aku sudah menganggap ipar saja, enggak mau kebablasan. Lagian ada teh Maryam yang selalu grecokin kita. Padahal aku sama Anto cuman bercanda kaya ke teman " seloroh Nera menjelaskan.
" Whattt? yakiiiiin cuman nganggap ipar? kalau ada yang nikung, emang enggak cemburu? " selak Astuti.
" Kan aku sudah punya suami , aku juga ingin sedikit-sedikit menghilangkan rasa ini, yaa rasa yang seharusnya enggak boleh ada buat Anto. Aku ingin hati ini hanya milik Dya seorang, karena dia imam ku sekarang " lirih Nera mengeluarkan napas berat.
" Kalau Anto, nikah, kamu akan bagaimana? "
Tanya Astuti penasaran.
" Biasa saja kali, enggak tahu tapi. Tapi untuk saat ini aku pyur hanya ingin menjaga hati orang-orang disekitar keluarga Dya. Aku gak mau Dya dan Anto bertengkar atau apalah itu "
Nera dan Astuti rencana pulang, mereka sudah ada di parkiran, ternyata diparkiraan ada yang berdiri di mobil putih, sambil melambaikan tangan dan memanggil Nera.
Ternyata yang memanggil tak lain adalah Anto.
Nera dan Astuti menghampiri Anto.
" Lagi ngapain, bang?" tanya Nera pada Anto.
" Habis pulang daftar kuliah " jawab Anto singkat.
" Assalamualaikum, Astuti, sudah lama yah enggak ketemu, hehehe" Sapa Anto kepada Astuti.
Astuti masih menatap takjub melihat ketampanan wajah Anto, dan sembari menjawab dengan gelagapan " ba.. ba.. baik Anto , ehh bang Anto "
__ADS_1
" Kakak ipar, ade ipar laper, mau makan, anter ke kantin dulu ya, yu Astuti mau makan juga, entar ade ipar yang traktir " ajak Anto sumringah.
" Hey, adik ipar, emang sudah ngantongin izin abah, pindah kuliah ke Indonesia? jangan jadi anak durhaka? dikutuk jadi batu tahu rasa lo? " gerutu Nera.
" Jadi jomblo, ditinggal pacar nikah sama abang aku juga aku mah rela, apalagi jadi batu, demi dekat sama kekasih hati, benar enggak Astuti? " kesal Anto pada Nera sambil memandang Astuti.
Astuti masih tak tahan melihat kegantengan Anto semakin kesini-kesini semakin kelinglap, semakin matang, semakin keren, semakin ganteng , itu mah jangan di bahas lagi.
" As, nanti Nera pulangnya mau sama aku, gak apa-apa kan? lagian ngajak kamu naik mobil aku, kamu nya bawa motor" kata Anto minta izin pada Astuti, Astuti hanya mengangguk mengiyakan.
***********
Di mobil menuju pulang kerumah
Nera dan Anto masih saling diam, entah kenapa dari sepulang makan dikantin, wajah Anto sudah tidak bersahabat. Mendadak Anto tidak ceriwis seperti biasanya.
" Abang, sakit perut? " tanya Nera lirih.
Anto masih terdiam tak menjawab.
" Abang haus? " tanya Nera lagi.
Anto malah mengebutkan laju jalan mobilnya.
Anto masih tetap tak bergeming dengan celotehan Nera.
" Sudah diam saja, kalau pun tabrakan bukan kah itu lebih baik? " jawab Anto ketus.
Nera beranggapan Anto sudah mulai kesal lagi padanya. Nera tak paham, apa yang membuat Anto marah pada Nera, sepanjang jalan Nera campur aduk antara takut dan kesalahan apa yang telah ia perbuat sehingga dia dapat angkara murka Anto lagi.
Seperti biasa ,kawasan Bandung masih hijau dan masih banyak daerah hutan namun dekat kota. Yaa bisa disebut hutan kota.
Anto memarkirkannya di sebuah hutan, namanya Hutan Raya Bandung.
" Abang, mau kemana? sudah sore, nanti abah nyariin kita. Pulang yuk bang, marahnya jangan disini, nanti orang nyangkanya kita pacaran, abang yuk pulang! " pinta Nera memelas. Lagi-lagi Anto tak bergeming, malah dia terus berjalan dan Nera mengekor seperti anak itik mengikuti induknya.
Nera pun semakin kesal dengan ulah adik iparnya itu.
Nera tak mau lagi mengikuti langkahnya Anto.
Dia mencoba berbalik arah dan meninggalkan Anto. Lebih memilih menunggunya di mobil saja, sampai Anto kembali ke mobilnya.
__ADS_1
Menyadari Nera tidak lagi ada di belakangnya, Anto langsung berlari dan mencari Nera.
" Greppp... " tangan Nera diambilnya oleh Anto. Nera terkejut dengan tingkah Anto yang tiba-tiba berani menggandeng tangannya.
Nera tak menyangka, Anto yang begitu anti memegang tangan perempuan yang bukan makhramnya, kini tiba-tiba seberani ini.
Sadar dengan perilaku yang salah ini, Nera mencoba melepaskannya. Namun Anto masih tak bergeming dan terus menggandeng tangan Nera dengan kuat.
Tibalah disuatu tempat, dimana kota Bandung terlihat bak kota kecil diatas gunung. Indah dihiasi kanan kiri gunung dan pohon pinus serta pohon-pohon lainnya.
Angin sepoi-sepoi menjadi saksi gejolak emosi antara Nera dan Anto.
" Lepas abang! " Pinta Nera pada Anto.
Akhirnya Anto melepaskan nya,
" Kenapa kamu, takut padaku Nera?. Kau tahu dulu aku bercita-cita kalau saja akau menikah, aku ingin disini. Indah bukan? " kata Anto memelas.
Nera sejenak terdiam, otaknya kini meracau.
Nera mengira keakrabannya selama ini sudah merubah mereka benar-benar saling menerima dengan status satu sama lain.
Ternyata dugaannya salah, Anto masih mencintainya, Anto masih berharap padanya.
" Abang " kata Nera lirih.
" Aku tak perlu kasihani kamu, tak butuh iba kamu, tak butuh. Aku hanya mau bilang seandainya jika kelak aku menikah, aku akan menikah disini. Wanita itu mungkin bisa saja kamu atau bisa jadi orang lain, tapi entah lah siapa dia? " seloroh Anto merana.
" Abang, itu tidak mungkin aku. Aku punya suami! " kata Nera menegaskan.
" Kalau merasa punya suami, jangan memberi asa kepada laki-laki lain. Menggoda laki-laki lain, ketawa bersama dengan laki-laki lain, apalagi jalan-jalan berdua dengan laki-laki lain, kamu tahu itu disebut apa namaya? kamu sedang berselingkuh. Jelas kamu bukan istri yang baik" jelas Anto meledek Nera.
Mendengar penjelasan Anto, Nera meradang dan marah. Bulir-bulir air di matanya kini mengalir, menandakan Nera kecewa dan merasa terhina.
Nera tidak mau membalas ocehan Anto, Nera berbalik untuk pulang saja.
Namun baru saja berbalik, tangan Nera kembali di rebut dan dipeganng paksa, supaya tidak pergi. Nera dengan sekuat tenaga melepaskan cengkraman tangan Anto darinya.
" Aku sudah terhina saat kamu hina, dan aku akan semakin terhina saat kamu memegang tangan ku lagi, lepaskan" kata Nera lirih.
Namun Anto masih memegang tangannya, akhirnya emosi Nera menjadi,
__ADS_1
" Lepaskan! Antoooo !?" tegas Nera penuh emosi.
bersambung