Berjanji Dan Merajut Asa

Berjanji Dan Merajut Asa
13. Mereka menggunjingku


__ADS_3

Hari ini Lesti resmi dipingit, karena kata ibu calon penganten itu tidak boleh sembarang keluyuran, takut ada hal - hal yang tak di inginkan terjadi. Hati - hati bolehkan? bukan menyikapi sebagi hal - hal tathoyur atau kemusyrikan. Lebih menjaga dari fitnah saja.


Nera membagikan undangan dengan sepeda motor.


Kepada saudara ,tetangga, kawan dan sahabat.


Ketika bertemu saudara, untuk memberikan undangan. Ada yang menangis sambil memeluk Nera, dengan niatan Nera bersabar dengan dilangkahi dirinya oleh sang adik.


Ada yang mencoba menggoda dengan menawarkan anaknya untuk menikahi dirinya.


Ada yang bergosip bahwa adiknya hamil duluan.


Sampai ada yang berani berkata, mba Kartini,


" Teteh ustadzah, kata orang dulu, kalau ada kakak perempuan dilangkahi, itu kakaknya akan sulit nikah. Teteh enggak nolak apa, atau minta tanjakan ( syarat) imbalan akibat dilangkahi nikah sama adik ?"


" Saya tidak berpikir seperti itu, saya mah ikhlas . Saya mah percaya dengan takdir baik dan buruk saya. Saya percaya setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan. Entah kapan saya menikah, biarlah. Saya akan bersabar menunggu itu tiba " jawab Nera lirih, walau kadang dia merasa lelah harus terus menjawab segala pertanyaan dan omongan padanya.


Dirumah itu keluarlah Dya, entah sedang apa dirinya dirumah bu Kartini?


Ohh, suami mba Kartini ,Angga adalah teman masa SMA nya dahulu. Hanya saja Angga sudah menikah sedang Dya masih single.


mungkin efek dia fokus mencari ilmu di luar negri.


Saat dia pamit ke mba Kartini dan melepaskan senyuman ke arah Nera, ada hal yang membuat hatinya sedikit ciut dan malu.


Entah lah rasa apakah itu.


Sepanjang jalan dia sudah tak berdaya dengan berbagai perlakuan orang-orang terhadap nya.

__ADS_1


Dia cukup lelah, dan sangat menguras emosi dirinya.Yang menyebabkan mood nya terjun bebas, sehingga menciptakan rasa sedih dan kecewa pada dirinya sendiri. Terutama saat melihat Dya, ia dia kakaknya Anto, rasanya semakin terjatuh dan tersungkur.


Setelah membagikan undangan Nera langsung masuk kamar dan mengunci dirinya sendiri.


Menangis lirih ,ada gumpalan berat di hatinya.


Yang awalnya dia menerima dirinya dilangkahi kini mulai tercabik-cabik menyesalinya. Ada rasa malu yang hebat, minder jika bertemu dengan orang - orang.


Apalagi harus bersitatap dengan keluarga Anto. Jiwanya akan terjun bebas, jatuh sejatuh jatuhnya. Entahlah rasa apa yang sedang ia alami, hanya Tuhan dan psykologlah yang tahu.


*********


Besok hari pernikahan Lesti, dekorasi sudah terpasang kerlap-kerlip warna lampu temaram. Semerbak wangi bunga sedap malam , Lesti sedang diberi luluran sekujur tubuhnya.


Rumah kediaman pak Edo dan bu Siwi di sibukkan dengan situasi persiapan pesta pernikahan Lesti besok.


Kadang Nera ingin menjauhi hiruk pikuk riuh dirumahnya.


Ekspresi sanak saudara yang tahu aku dilangkahi membuatku ingin mencakar wajah - wajahnya.


Kesedihan mereka terhadapku membuat ku ingin muntah. Sudahlah seperti biasa saja ,kalau ekspresi kalian semua seperti itulah yang bisa membuat aku mati berdiri.


seloroh dalam hati Nera bergerutu.


Nera pasang walkman ditelinganya biar dia tidak lelah mendengar belasungkawa orang - orang padanya.


Hey..


Ini itu biasa,

__ADS_1


Aku hanya sekadar dilangkahi.


Bukan di tinggal mati.


And i'm ok..


Kenapa kalian yang ribet berkomentar


Aku yang menjalani.


Aku sabar kok .


Dari awal aku sabar .


Please jangan lebay.


Gerutu Nera dalam hati kesal .


*******


**kadang manusia itu tak pernah mengerti


kadang berbela sungkawa itu tidak pada tempatnya..


Reader semoga menjadi manusia yang gak suka komenin hidup orang yah, kecuali selalu mengingatkan pada hal-hal positif.


ok jangan lupa like n komennya ya.. please !


biar aku rajin update**...

__ADS_1


__ADS_2