
๐ญ Dya masih memeluk istrinya, yang sekarang sudah membaik dari demamnya.
" Dek, sekarang sudah baikan. Mau makan di sini atau makan bersama di bawah? "
" Makan bersama saja bang, lagian Nera sudah sehat kok. Apalagi umi sudah masak banyak, bentar ya bang Nera siap-siap dulu" Nera mulai bangkit, namun Dya menahannya dan kemudian menidurkan lagi istrinya di kasur lagi.
Dya memeluk Nera, sambil menciuminya dengan penuh cinta. Nera tertawa kegelian, Dya malah menggoda terus.
" Dek, mau bikin anak , enggak? "
" Jangan sekarang, kita harus makan ke bawah, Nera malu kalau Umi dan abah mengira kita enggak sopan, sudah abang! "
Jawab Nera sambil tertawa kegelian.
Dya menghentikan candaan kepada Nera.
" Dek, minggu depan abang pergi ke Mekkah, buat anterin jemaah umrah. Abang dulu pernah bilang kan sebelum akad pernikahan? " tambah Dya menjelaskan.
" Ouh, minggu depan ya? cepat sekali ya, kita nikah baru 1 bulan tenyata ya bang? " jawab Nera lirih.
" Hemh, jangan kangen ya dek, kalau adek kangen telpon saja ke hape abang!,maaf kerja abang untuk nafkahi adek baru ini. InsyaAllah kedepannya lebih baik kalau abang sudah lulus kuliah. Do'ain ya dek! "
Tambah Dya mengelus kepala istrinya.
******************
โ Dimeja makan
Keluarga kiayi Hasan sedang makan, menikmati masakan Umi Syifa yang sangat enak.
" Dya, jadi minggu depan berangkat? " tanya ayahnya.
" InsyaAllah, jadi abah " jawab Dya singkat.
" Nera, sudah dikasih tahu? " tambah kiayi Hasan.
" Alhamdulillah, sudah abah " jawab Dya lagi.
" Ouh iya, Anto pun minggu depan pulang. Dya dan Anto belum tentu ketemu. Sayang sekali " kata Umi Syifa mengabarkan kepada semua.
" Kamu sudah mengenal Anto, nak Nera ?" abah menanyakan tentang Anto kepada Nera.
Mendengar pertanyaan kiai Hasan, tiba-tiba tiba Nera tersedak. Dan batuk, menandakan Nera terkejut.
" Emh.. emh kami suka latihan bareng di gor depan abah. Kami penyuka olah raga yang sama. Sering pulang bareng juga ,benar kan Yaser? " jelas Nera sambil melemparkan pertanyaan kepada yaser untuk meyakinkan kiayi Hasan.
" Iya , bah. Teh Nera sudah kenal lama sama bang Anto, ikut turnamen juga, sering ketemu juga, yaa pastilah teh Nera kenal " jawab Anto mencoba menjelaskan pada abahnya.
" Iya, Idam juga tahu, kalau teh Nera suka ketemu di sawah sama bang Anto " kata Anto berseloroh santai ikut menimpali obrolan Yaser.
" Lho di sawah? ngapain dek " seledik Dya pada Nera.
Mendengar kalimat yang di ucapkan Idam. Yaser dan Nera langsung membelalak pada Idam.
Nera sudah tidak enak hati. Kebingungan, keringat dingin. Nera mencoba menjelaskan kembali, dengan sedikit pengakuan.
__ADS_1
" Ehhm, jadi enggak enak sama umi dan abah. Awalnya kita ketemu di turnamen pas tanding, tapi alhamdulillah karena ada pelatih kita yang orang sini, dan kebetulan ada gor, kita latihannya enggak disekolah kita masing-maasing lagi. Ya salah satu nya kejauhan juga. Jadi untuk wilayah sini, disatukan di gor depan kompleks. Semenjak itu saya bisa kenal dengan Bang Anto. Bukan begitu Yaser? " jelas Nera deg-degan.
Yaser mengangguk, tanda mengiyakan.
" Terus yang disawah bagaimana? coba jelaskan ! Biar abang dan semua tidak su'udzon " tambah Dya penasaran.
Keringat Nera sudah bercucuran penuh ketegagangan.
**********
pov Nera
Mimpi *yang tadi itu seperti nyata, dan aku khawatir itu semua menjadi kenyataan.
Jujur saat ini aku takut bang Dya kecewa padaku.
Walau cinta ini masih bukan miliknya.
Aku tak tahu, apa yang akan terjadi selepas bang Dya berangkat ke Mekkah dan di susul Anto cuti di rumah ini?
Aku khawatir aku yang tergoda.
Atau malah aku yang menggoda lelaki yang bukan makhramku.
Padahal jelas-jelas aku sudah bersuami.
Keluarga ini terlalu baik padaku.
Aku takut suatu saat nanti, mereka kecewa dengan sikapku pada Anto.
Jujur dulu aku ingin bersamanya, memiliki nya, dan membangun asmara yang halal bersamanya.
Ahh, Nera.
Serakahnya aku, punya suami cerdas, berkepribadian hangat, baik, penyayang dan bertanggung jawab.
Apalagi?
Anto pun mungkin tidak jauh beda dengan Dya. Sama-sama baik hanya saja jalan kami waktu dulu itu banyak khawatir, kenapa tak coba di obrolkan kepada orang tua masing-masing.
Kenapa harus nunggu lulus, toh aku menikahi bang Dya juga belum lulus kuliah dan pekerjaan nya pun belum tetap?
Kenapa Anto enggak langsung bilang saja sama abah, minimal khitbah ( tunangan) dulu, sudah lulus baru nikah. Eh tapi, dari prosesi khitbah enggak boleh lama-lama kan?
Saat di meja makan ini, aku sudah tegang subhanallah.
Apalagi Idam, dia nyeletuk yang dapat memantikan hal buruk terjadi.
Dan aku bingung harus mulai dari mana agar aku tak mengatakan kalau kami saling cinta satu sama lain?
Jujur aku sayang bang Dya, tidak mau membuat dia marah lagi. Sakit hati lagi, sudah terlihat jelas dia begitu mencintai ku.
Perangai yang halus, membuatku sejenak melupakan Anto.
Saat bercinta pun, dia begitu lembut dan begitu hati-hati.
__ADS_1
Dia mengambilkanku minum, menjaga aku saat sakit, menyuapi ku.
Dan yang paling aku senang, dia ingin punya anak dariku.
Bang Dya aku bahagia saat kau selalu menanyakan pendapat ku.
Jika memang kita berjodoh panjang, aku berharap kau selalu setia padaku.
******
pov Yaser
Aku kaget ketika bang Dya akan menikahi teh Nera.
Aku kasihan sama bang Anto, dia begitu mencintai teh Nera.
Dulu saat mau ngasih surat buat teh Nera, awalnya mau dititipin aku.
Tapi aku tolak, takutnya fitnah.
Brondong suka sama teteh-teteh.
Kan enggak lucu?
Bang Anto suka curhat, pengen nikah muda.
Saat aku tanya siapa akhwatnya ( perempuan )? dia bilang aku kenal dan sering ketemu. Hemmh ternyata teh Nera.
Kadang aku sering lihat kemarahan bang Anto , kalau teh Nera suka ada yang godain ketika latihan.
Aku sering memperhatikan emosi bang Anto itu naik turun.
Kadang pas pulang dia pulang sendiri ninggalin aku.
Kupikir akan bareng sama teh Nera.
Ehh ternyata pulang sendiri, dan marah-marah dirumah terus ngurung di kamar sampai berjam-jam.
Jujur kaget melihat yang nikah sama teh Nera itu bang Dya.
Saya lihat gantungan kunci itu dipakai di tas favorit teh Nera.
Belanja hadiah buat teh Nera itu, aku yang anter. Makanya saya tahu apa saja hadiah yang diberikan bang Anto kepada teh Nera.
Kadang saya berpikir, bagaimana nanti ketika bang Anto pulang ? Khawatir bang Anto dan bang Dya berantem hanya gara-gara teh Nera.
Tapi aku mengenal mereka, mereka perkepribadian baik-baik .
Mudah-mudahan bang Anto bisa memahami dan mengerti.
Apakah, dia mau melanjutkan rasanya?
Atau bersikap seorang laki-laki yang dewasa ,bahwa itu adalah bagian dari taqdir, dan bisa melupakannya.
bersambung๐๐๐๐*
__ADS_1
***////*****///