
Selepas shalat isya,dua sejoli ini sudah di kamar, saling mendekap erat.
Dan bercerita mengenang masa kecil satu sama lain.
Mereka tertawa terbahak, sesekali Dya menjaili istrinya. Dya dan Nera bak sepasang kekasih yang sedang dilanda jatuh cinta.
Mereka bercanda diatas kasur,
" De, kamu cantik ya de. Senang abang lihat kamu, sini tidur di dada abang! "
kata Dya merebahkan punggungnya setengah terduduk.
Nera, dengan malu-malu menghampiri pelukan suaminya, dan menempelkan kepalanya di dada di dada.
" De, mau anak berapa? " tanya Dya pada Nera.
" Sedikasihnya Allah saja, bang " jawab Nera.
" Iya, berapa? kalau abang pengen buat kesebelasan, enak de, kalau sudah tua entar banya keluarga, seru. Banyak yang diandelin nya. Anak sholeh itu, bisa mengangkat orang tua diakhirat, kalau satu enggak ada pilihan de "
" Aku ikut abang saja, terserah abang mau berapa pun, ade sebagai istri nurut saja" jawab Nera lirih.
" De , ade sudah siap abah buahi? " tanya Dya sambil terkekeh dan mencium kening Nera.
Nera mengangguk pasrah, mengisyaratkan bahwa iya siap untuk ditanami benih oleh suaminya itu.
Malam ini, adalah malam pertama yang begitu panjang.
Dua sejoli ,sedang mereguk manis nya cinta yang pertama kali mereka rasakan.
Nera, merasa di langit mengawang tinggi , Dya serasa menjadi raja dengan layanan yang tak pernah ia rasa sebelumnya.
Inikah yang asalnya dosa, dan berubah menjadi kenikmatan dan berpahala?
Oh, amboi benar kata orang, penyesalan kenapa tak dari dulu menikah?
Iya, ini hadiah terindah bagi setiap anak manusia, merasakan surga dunia setelah menikah.
Sesekali, Dya membisikan rasa cintanya ke telinga Nera, yang sedang meringis kesakitan atau malah menikmati.
Sesekali kuku-kuku Nera mencengkram punggung Dya, sakit dan menangis haru.
bahwa kini dia sudah benar-benar menjadi istri Dya.
Dya, bahagia sudah bisa menjadikan Nera miliknya, ya miliknya seutuhnya.
Sesekali, Dya membisikkan
" Ade masih kuat? kalau tidak kuat abang akan hentikan "
Nera tak melepas tubuh Dya, dia memeluk suaminya.
" Lanjutkan !" jawabannya lirih.
Dya tersenyum puas, akhirnya yang di harapkan para laki-laki sudah terlaksana.
Setelah merasakan itu semua, Dya dan Nera kelelahan. Mereka tertidur pulas.
__ADS_1
Tidur yang sangat nyenyak, tidur yang tak pernah senyenyak sebelumnya .
#################
Subuh.
" Mi, cik panggil Dya, itu shalat subuh ke mesjidnya mau bareng enggak? tumben lelet! " kata kiayi Hasan pada istrinya.
" Ih abah ini, kaya yang enggak pernah muda saja, biasa kan bah penganten baru! "
jawab Umi sambil siap-siap mau shalat subuh.
" Ya ,sana bangunin dulu, entar anak-anak shalat subuhnya kesiangan! abah duluan pergi kemesjidnya" jawab kiayi Hasan berlalu.
umi Syifa melangkah keatas dan mengetuk pintu kamar Dya.
tok... tok... tok.. tok
" Dya.. Nera.. ayo subuh, dan telat! "
Nera langsung terbangun kaget mendengar mertuanya mengetuk pintu. Dan menjawab tanpa keluar dari kamar.
" Astagfirullah ,iya umi terima kasih"
" Abang, abang bangun! shalat subuh abang! " kata Nera membangunkan suaminya.
Dya malah memeluk Nera dan menciumi Nera, " dua menit saja De, qade makasih. kayanya abang mau minta lagi habis shalat subuh, boleh ya De. Mandi bareng yuk De ,biar waktunya cepet , enggak lama, yah! "
Nera mengangguk saja ajakan suaminya, mereka akhirnya mandi bersama.
Kemudian Dya siap-siap langsung pergi ke mesjid dan Nera shalat berjamaah dengan mertuanya.
##############
" Basah, subuh-subuh! " goda abah pada Dya.
Dya tertunduk malu.
" Setelah ini, kamu harus mulai bertanggung jawab. Mendidik , memberi nafkah lahir dan batin, dan bertanggung jawab atas semua yang istri mu lakukan. Apalagi nanti kalau hamil terus punya anak! " Nasehat kiayi Hasan pada anaknya.
" Iya bah, maaf Dya masih merepotkan abah dan umi. Do'ain Dya biar kedepannya usaha Dya lancar, satu minggu lagi Dya berangkat bah, menjadi guide haji di travel haji dan umrah punya teman bah. Lumayan gajinya, untuk sementara bisa cukup untuk menafkahi Nera" jawab Dya menjelaskan pada abahnya.
" Sudah izin pada Nera, maksud abah Nera sudah dikasih tahu, kalau minggu depan kamu berangkat? " tanya kiayi Hasan.
" Belum bah, rencana mau hari ini " jawab Dya.
" Berapa lama disana? " tanya abah menelisik.
" Sebulan, bah. Kan abah juga sudah tahu, kalau Dya jadi guide haji cuman sebulan " jelas Dya.
.
" Abah sama umi, rencana mau ngadain resepsi pernikahan kamu sama Nera bulan depan, kasihan Nera belum walimahan. Abah dan umi akan urus acara walimahan kamu selepas kamu pulang dari Mekah dan Madinah " kata kiayi Hasan.
Dya terkejut apa yang disampaikan abahnya itu.
" Aduh abah, maaf Dya merepotkan abah dan umi lagi. Dya malu abah, kalau terus-terusan seperti ini. Dya ada tabungan, walau sedikit mungkin bisa buat tambah-tambah acara walimahan kami, bah" jawab Dya terkejut.
__ADS_1
" Sudah, simpan tabungan mu itu. Buat usaha, sebelum kamu lulus kuliah, kamu masih tanggungan kami. Hidup yang bener sesuai perintah agama, turutin semua yang dicita-citakan umi dan abah mu ini. Hiduplah bahagia di dunia sampai surga. Itulah harapan kami " jelas nasihat kiayi Hasan pada anaknya.
Dya langsung mengambil tangan abahnya dan memeluk abahnya sambil berderai air mata.
" Terima kasih abah, Dya akan berusaha mengabulkan permintaan abah dan umi. Terima kasih sudah menjadi ayah terbaik di dunia, abah! "
#####################
Dirumah.
Dimeja makan sudah tersaji sarapan, mereka sarapan dan mengobrol.
Umi Syifa membuka obrolan,
" Tadi malam Anto telepon, katanya dia mau pulang dulu, boleh enggak, bah? "
" Kenapa, tumben? " tanya kiayi Hasan penasaran.
" Katanya mau cuti dulu, pengen istirahat dia alergi cuaca kan bah? sekalinya musim dingin asma nya kambuh. Sudah izin sama dosennya juga, lagian teman satu mesnya pulang, mau dinikahkan sama orang tuanya di Indonesia. Nah biasanya kalau ada temannya itu, ketika Anto kambuh suka dibantu sama temannya ini. Kebayangkan bah, kalau dia sendirian di Mes siapa yang bantu Anto, pas lagi asma. Apalagi kalau asmanya kumat, duuuh tuh anak manjanya enggak ketulungan, enggak mau makan dan enggak mau minum, apalagi obat" gerutu umi Syifa.
Nera, mendengar itu semua mulai berkeringat dingin, khawatir apa yang harus ia lakukan ketika Anto pulang?
Nera, sudah mulai tak fokus dengan makanan yang ia makan.
Dya yang sedari tadi memperhatikan istrinya, merasa khawatir juga.
" Ade lagi enggak enak badan? " tanya Dya mengusap punggung tangan istrinya.
Nera terkejut, " sedikit bang, Nera ke atas dulu ya. umi, abah, Nera izin ke atas dulu ya"
Abah dan umi, iya mengizinkan Nera meninggalakan meja makan disusul Dya dari belakang.
" De, apa yang sakit? ,apa efek tadi malam? " selidik Dya khawatir.
" Sepertinya iya bang, **** * Nera sakit banget, perih, dan jalan sedikit pun 'gak enak" jawab Nera meringis.
" De, kamu juga demam, mau ke dokter ?" ajak Dya khawatir.
" Abang, jahat banget ya de? kalau sakit bilang tadi malam tuh, abang kan sudah nanya, tapi ade bilang lanjut, yaa sudah abang lanjutin " goda Dya.
" Abang, Nera mau lagi, biar sekalian sakitnya " tantang Nera sama suaminya.
" Abang sih mau de, mau banget. Tapi ade lagi demam, terus katanya lagi sakit itunya juga! " jawab Dya berat, padahal dia sendiri menginginkanya.
" Kata teman aku dulu yang seorang dokter, kalau lagi sakit itu wajar karena baru pertama. Sering-sering saja, toh nanti juga akan beradaptasi anatara ph punya kita sama ph punya abang. Lagian kata abang, abang pengen cepet-cepet punya anak. Lecet ini bisa terobati oleh cairan punya abang, Hehehe Nera juga ngajak duluan biar dapet pahala. Justru kalau enggak sering ngelakuin lukanya akan baru lagi " jelas Nera pada suaminya.
" Yakiiin ? abang enggak mau atuh kalau kamu meringis kesakitan, entar abang kejam lagi. Sudah istirahat dulu, makan obat dulu, setelah mendingan kita lanjut lagi " jawab Dya bijak.
bersambung..
###############
Maaf reader, saya baru lanjutin nulisnya.
Hehehe, saya kira tulisan saya enggak ada yang baca, jadinya males wkwkwkwk..
Tapi Alhamdulillah sudah ada yang mulai menanyakan kelanjutan cerita novel ini dan mulai melike.
__ADS_1
Terimakasih.
Sudah mulai ada semangat lagi, insyaa Allah saya akan lanjut jika memang suka denga ceritanya.