Berjanji Dan Merajut Asa

Berjanji Dan Merajut Asa
97. Tumbang


__ADS_3

Nera sibuk mengurusi berkas-berkas para jama'ah yang akan umrah.


Dikantor Nera masih berdiskusi dengan Sarah. Di acara diskusi itu, Sarah masih disibukkan dengan bayinya.


Nera masih menguras semua ide-ide supaya perjalanan umrah yang daftar di travel ini sukses karena ini adalah jamaah pengajian mertuanya.


Rudi, sambil melewat ke arah mejanya memberikan camilan dan minuman.


Karena sedari Nera sampai di kantor, Nera langsung mengajak diskusi Sarah.


Rudi menatapnya dari balik pintu ruangan, melihat semua tingkah semangat bicaranya pada Sarah.


Tapi Rudi melihat ada raut lelah di wajah Nera.


Dia sedikit pucat dan kantung mata yang seperti kurang tidur.


Rudi menghampiri lagi Nera,


" Makan dan minumlah dulu, diskusinya bisa sambil makan kan?"


Rudi, pergi lagi meninggalkan ruangan. Nera memandang punggung Rudi yang pergi meninggalkan ruangan.


Nera mengalihkan pandangan ke arah Sarah.


Sarah tersenyum ke arah Nera.


" Perhatiannyaa!" ledek Sarah pada Nera.


" Apa, sih, Sar?" sanggah Nera menepak tangan Sarah yang ada diatas meja.


" Makan dulu, emang kamu sedikit kurusan. Pucat lagi. Pantesan Rudi, bela-belain bawa makanan buat kamu. Ooooh coo cweeet !" Goda Sarah lagi.


" Iih, Sarah! Nanti kedengeran Rudi lagi!" jawab Nera khawatir.


" Emang, kalau kedengaran, Rudi mati gitu? emang maunya dia kali di ledekin ke kamu. Biar kamunya mau di jadiin wanitanya yang kedua?" jelas Sarah.


" Apa, kedua?" kaget Nera.


" Maksud aku, dia mah cinta pertamanya adalah ibunya. Yang kedua kamu. Mungkin? Dia itu ngebet pengen nikah, tapi ke perempuan susah banget. Wanita yang di ajak ngobrol dalam hidupnya itu aku dan kamu selain dari ibunya" Ujar Sarah menjelaskan.


" Satu dualah seperti Dya. Punya sahabat Dya. Boro-boro jatuh cinta ke perempuan atau cari istri atau kecengin perempuan. Mereka mah sibuk mencari prestasi dan bisnis. Kenapa ya laki-laki yang fokus usaha, sholeh, dan sukses itu pada susah nikah? Nah ini jawabannya terlalu setia pada kesendiriannya. Dan ragu serta khawatir pada wanita yang suka pada mereka. Giliran nemu yang cocok, eh ceweknya milik orang lain" jelas Sarah lagi.


Nera sudah tidak tahan kepalanya mulai berkunang-kunang. Tubuhnya demam.


Dia duduk terkulai lemas di kursi.


" Ner, kenapa? sakit?" tanya Sarah sambil menghampiri Nera dan memegang keningnya.


" Ner, kamu sakit lho! Kamu pulang gih, aku khawatir kalau dikantor mah " ucap Sarah cemas.


" Rudi, bang!" teriak Sarah memanggil Rudi.


Rudi menghampiri ke ruangan Sarah dan Nera.


" Abang bawa pulang Nera dulu, Nera nya demam bang, biar motor disompen saja disini!"


pinta Sarah pada Rudi.


" Gak usah Bang, Nera bisa pulang sendiri. Ini hanya masuk angin biasa." Sangkal Nera.


" Ayo, Nera. Abang antar pulang biar motor nanti abang bawa!" ajak Rudi.

__ADS_1


Dengan negosiasi yang cukup bertele-tele akhirnya Rudi berhasil meyakinkan Nera.


Nera memasuki mobil dan duduk tak berdaya di bangku belakang.


Di depan Rudi, berusaha menjalankan mobilnya supaya tidak ugal-ugalan.


Nera mulai membuka obrolan, walaupun sedikit sengau.


" Abang, terima kasih. Maaf sudah merepotkan!"


" Iya. Tidak mengapa. Jangan lupa sarapan.


kelihatan dari mata kamu, kamu seperti kurang tidur. Maaf, habisnya terlihat pas tadi lagi ngobrol, mata kamu berkantung dan sedikit pucat. Kalau boleh tahu, ada kegiatan apa sampai selelalh itu?" tanya Rudi mulai merasa khawatir.


" Ooh, Abah akan akreditasi sekolah boarding IT nya. Dan aku bersama team fokus lagi menyiapkan semua yang dibutuhkan para pengawas. Otomatis saya kuramg tidur, plus kurang makan. Apalagi kita beberapa minggu lagi akan umrah. Lumayan terkuras Bang tenaga dan pikiran. Qadarullah sekarang lagi enggak enak badan. Plus saya harus sidang skripsi minggu depan." keluh Nera dengan lemah.


" Jaga kesehatan mu, jangan mendzalimi diri sendiri " Nasihat Rudi sambil menyetir mobil.


" Aku bahagia sibuk. Daripada di rumah aku bengong, kesepian, tak ada teman bercerita. Lelah" kelit Nera


" Menikahlah denganku " gumam Rudi dalam hati.


Kemudian Nera pun tertidur.


〰️〰️〰️〰️〰️〰️


Sampai di rumah ibunya Nera.


" Nera, Nera. Kita sudah sampai" ujar Rudi membangun Nera yang tertidur.


Nera mengucek matanya, dan seketika bangun. Walau tubuhnya masih demam dan lemas.


Rudi dengan sigap turun dari mobil dan membukakan pintu untuo Nera.


" Tak apa. Terima kasih." Nera turun dari mobil sambil memijat pelipisnya yang pusing.


Nera, masuk rumah di ikuti Rudi dari belakang.


Namun sesampainya di ruang tengah, tubuh Nera ambruk, pingsan.


Ibu Siwi kaget dan Rudi spontan memeluk Nera yang sedang pingsan.


" Kenapa ini, nak Rudi?" tanya bu Siwi khawatir.


" Dari kantor Nera sudah pucat pasi, sepertinya dia kecapean" jawab Rudi yang ikut khawatir.


Tanpa pikir panjanh Rudi menggendong Nera, dan kepala tertahan di dadanya.


Rudi membawanya ke mobil lagi, dan memasukkan Nera ke mobil, Ibu Siwi ikut di belakangnya. " Dede, jaga rumah. Bilang ke bapa, ibu ke rumah sakit. Teh Nera pingsan. Awas jangan kemana-mana!, jaga rumah!" pinta bu Siwi pada gadis bungsunya yang masih SMP itu.


Rudi berangkat ke rumah sakit.


〰️〰️〰️


Nera harus di rawat, dia kurang darah dan terkena tipes.


Infus ditangan Nera yang sedang terbaring.


Nera perlahan membuka matanya,


" Bang Di..Dya" sahutnya lirih melihat ke arah seorang laki-laki.

__ADS_1


" Nera, kamu sudah sadar." ujar Rudi.


Nera memegang tangan Rudi.


" Bang Dya, Nera haus!" ujarnya sambil mata terpejam.


Kurang darah, memang membuat penderitanya sedikit berat untuk membuka mata. Karena dengan membuka mata, kepalanya akan pusing sekali.


" Aku Rudi, ibu lagi ke kamar mandi dulu !" jawab Rudi lirih.


Dengan terpaksa Nera membuka matanya dan melihat ke arah Rudi. Nera melepaskan genggaman jari ke tangan Rudi secara perlahan.


" Maaf." ucap Nera lirih.


Rudi bergegas mengambil minum diatas nakas dan memberikannya kepada Nera dengan sedotan digelasnya.


" Terimakasih, Bang." ucap Nera sambil bersitatap dengan Rudi.


Pandangan itu, membuat Rudi semakin dagdigdug tak karuan.


Dadanya serasa ingin meledak. Mata cantik dan lentik itu, berhasil membuat Rudi terpana.


Entahlah, keyakinan untuk memiliki Nera semakin melambung. Dirinya bergriliya dalam lamunan, semoga Nera bisa menerima cintanya.


Tatapan itu, terhenti seketika ketika pintu kamar terbuka.


Bu Siwi masuk dan segera menghampiri Nera.


" Nera, kamu sudah sadar sayang?" tanya Bu Siwi khawatir.


Nera mengangguk, mengiyakan.


" Bu Siwi, saya izin keluar dulu sebentar. Emh saya pulang nanti kalau Pak Edo kesini, biar kalau ada apa-apa enak ada yang bantuin." ujar Rudi.


" Aduh. Nak Rudi terimaksih banyak ya. Maaf sudah merepotkan. Silakan kalau mau keluar dulu mah "


" Saya izin keluar sebentar bu. Kalau ada apa-apa saya ada dikantin ya!" lirih Rudi sambil beranjak pergi.


" Nera. Nak Rudi kok baik banget ya? kalau lihat Rudi itu kaya lihat Dya gitu? Jadi kangen Nak Dya, haaaaah." ujar ibu Siwi menghela nafas panjang.


Nera menahan rindu lagi.


Dipikirnya pun, Rudi seperti Dya. Nera, pun menyesali tadi sudah memegangi tangan Rudi tanpa sadar.


Nera memejamkan mata karena tak tahan kepalanya pusing. Dan akhirnya dia tertidur kembali.


〰️〰️〰️


Rudi kembali dengan kresek penuh makanan dan buah-buahan serta minuman.


Dia pum sambil membawa pak Edo ke ruangan. Rudi izin pamit, walau pada saat itu tak bisa berpamitan dengan Nera.


bersambung.


〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️


Hallo reader, maaf ya bila saya telat up. Karena memang ada banyak hal yang harus saya selesaikan dulu.


Insyaa Allah 3 bab nanti akan saya selesaikan nanti malam.


Terima kasih atas saran, kritik, dan kesetiaan para reader untuk setia membaca novel ini.

__ADS_1


Tak lupa saya meminta vote, like, love, dan komennta yang banyak.


Terima kasih semuanya.


__ADS_2