
Semua sarapan di meja makan bersama-sama .
Maryam mulai bersuara menghilangkan suara keheningan di meja makan.
" Abah, maaf izin. Maryam mau ada nasehat ke Dya dan Nera, boleh? " tanya nya pada ayahnya.
Kiai Hasan menganggukkan, tanda menyilakan.
" Begini, kalau boleh saran. Nanti habis walimah biar Nera bebas dalam beli perabot atau mengurus rumah tangga, bagaimana Dya dan Nera itu pindah rumah, yaa walau misal harus sewa rumah mungkin? bagaimana Nera? " tanyano
" Nera tergantung bang Dya teh, kalau kata bang Dya sewa rumah atau apalah, Nera cuman bisa nurut saja, tapi saran teteh bagus biar kita semakin mandiri " jawab Nera.
" Dya berencana seperti itu, cuman kan habis walimah Dya harus berangkat ke Maroko, kalau Dya sewa rumah kasihan Nera sendirian, terus malam-malam takut terjadi sesuatu kan? hehehe Dya sekalian saja nih abah dan umi, Dya mau minta izin titip Nera selama Dya di Maroko, tadinya Dya mau ajak Nera kesana, tapi khawatir Nera akan jenuh dan bosan apalagi Dya akan over sibuk dengan tugas-tugas Dya selama disana. Ditambah Nera masih kuliah, Dya mau Nera fokus kuliahnya sampai lulus, jadi intinya Dya juga tidak mau ego, membiarkan Nera tanpa pengawasan, bukan berarti Dya tidak percaya pada istri, cuman kan, setidaknya Nera masih perlu pengawasan dan makhram " jelas Dya.
Anto pun ikut nimbrung dalam bahasan meja makan kali ini.
" Kebetulan Anto pun mau ada sesuatu yang ingin Anto sampaikan kepada Abah dan umi. walau keluar dari tema, yaa mumpung semua pada ngumpul juga sih. Dengan kondisi tubub Anto yang seperti semuanya tahu, kalo Anto kan alergi cuaca, Asma kambuhan dan kalau sudah kambuh obat apapun gak mempan selain cuaca itu segera berlalu. Berhubung keadaan tubuh Anto yang manja, Anto mau izin resign dari Mesir dan mulai kerja sekaligus kuliah ditempat baru. Kebetulan Anto sudah diangkat jadi team editor islami ternama ******* , jadi Anto minta izin abah untuk Anto ambil jurusan Jurnalis atau penyiaran. Karena dua hal tersebut cocok dengan pekerjaan Anto sekarang, dan dakwah pun bisa lewat cara broadcast seperti ini, Anto harap Umi dan Abah bisa merestui keputusan Anto " Jelas Anto berharap semoga abah dan uminya memberikan izin.
" Jawaban Anto, abah skip dulu ya! kita nanti ngobrol bertiga dengan Umi dibelakang. Sedangkan untuk Dya, abah dan umi tidak keberatan jika Nera ada disini, silahkan saja. Lagian dari sini kan dekat ngajar buat ke TPA, kalau nyari yang jauh kasihan Nera harus jalan kaki atau naik ojek. Sayang kan uangnya, lebih baik ditabung. Sok we abah mah nunggu Dya lulus heula, baru kalau sudah lulus, sok bawa istri kamu kemana saja, terserah!" jelas kiai Hasan mengizinkan.
Acara sarapan kali ini sudah selesai, Maryam menghampiri Anto.
" To , anter teteh ke pasar ya, yuk ah sekarang ! "
" Iya teh, bentar ambil kunci mobil dulu " jawab Anto berlalu.
***************
__ADS_1
Di mobil,
" Teteh enggak mau ke pasar, teteh pengen ke gunung, yaa! " pinta Maryam pada adek nya, Anto.
" Siap! " jawab Anto sambil nyetir mobil.
***********
Sesampainya di gunung..
" Hemmmh segaaaar " celoteh Maryam.
" Kamu sering kesini? " tanya Maryam ke pada Anto.
" Terakhir kali kesini dengan Nera! " jawab Anto jujur.
" Apa teh, aku enggak pernah ngapa-ngapain sama Nera " kata Anto sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket kulit yang dipakainya.
" Hemmh bohong " jawab Maryam sambil menoyor kepala Anto yang sedang terduduk di sebuah bangku.
" Lupakan Nera, cari yang lebih dari Nera. Semenjak kamu pulang dari Mesir kamu itu lebih tampan, putih ganteng lah, kaya asli orang luar, orang lain gak bakalan ada yang nyangka kalau kamu lokal! " goda Maryam pada Anto.
" Aku belum bisa teh, lagian Nera masih membekas dihati aku, walau ada seribu wanita cantik teh dihadapan ku, sekalipun telanjang aku gak bakalan tergoda. Entahlah bagiku wanita di mataku hanya Nera " jawab spontan Anto pada kakaknya.
" Teteh marah lho, To! kenapa juga kamu harus cium Nera coba tadi pagi? " kesal Maryam pada Anto.
__ADS_1
" Nera cantik pagi itu, tak pernah aku melihat Nera memakai lipstik dan bersolek seperti tadi teh. Aku mencintainya sejak dari awal sampai sekarang, tapi kenapa Dya yang menikmatinya? " kata Anto mulai emosi kembali.
" Istighfar Anto, itu sudah taqdir, Nera sekarang sudah jadi istri abang kamu. Coba lah untuk mencari wanita lain! " kata Maryam mencoba mendinginkan suasana.
" Teh, teteh itu kejam berarti! Masa suruh adiknya mencari wanita hanya untuk pelarian? Apa kabar wanita yang nanti jadi pelarian ku, dan mungkin tak pernah mendapatkan hati aku teh? Anto enggak sekejam itu teh! " jawab Anto lugas.
" Terus, kamu akan terus bertahan mempertahankan kebodohan kamu sekarang, cium istri orang, godain istri orang, ngajak jalan istri orang?" ledek Maryam bertanya.
" Kamu sudah kaya orang gila, tahu enggak Anto? " ledek lagi Maryam.
" Biar enggak jadi gila, bilangin Dya cerain Nera, terus aku nikahin jandanya, Dya cari lagi wanita lain. Bisa enggak teteh bilang gitu ke Dya? Apa perlu Anto ceritain semuanya dsri awal sampai hari ini ke Dya tentang aku dan Nera? " Jawab Anto membalikkan pertanyaan pada Maryam.
" Plaaak " suara tamparan Maryam pada Wajah putih Anto.
Anto memegang wajahnya yang panas tertampar tangan Maryam.
Anto hanya bisa memandang kakaknya dengan lemah dan terduduk rapuh.
Kali ini Anto mengeluarkan air mata.
Karena sudah tak tahan lagi dia merasakan ke sakitan dalam hatinya.
Apalagi kakak yang menjadi sandaran hati nya saat terpuruk dan bahagi, kini malah tak berpihak padanya.
" Teteh, Anto tak pernah sehancur ini, Anto pun tak tahu, kenapa Anto sesulit ini menerima kenyataan? Kadang Anto lelah memikirkan Nera. Anto tak tahan teh, kenapa hati ini begitu berat melepaskan Nera. Anto jadi berani menyentuh Nera? Teh Anto tak tahan membayang Nera ada dipelukan laki-laki lain. Apalagi melihat Dya meciumi tangan Nera langsung didepan mata Anto. Anto laki-laki teh, Anto menunggu lama dan bersabar menanti pertemuan dengannya, tapi apa daya abah menjodohkan Dya dengan Nera. Dan pertemuan setiap tahun yang Anto impikan hancur. Teteh, lihat di kamar Anto, sudah banyak kado . Setiap Anto ke tempat bagus di Mesir, Anto kumpulkan barang-barang unik untuk dikasihkan ke Nera . Tahu kah teteh, banyak harapan jika aku menikah dengan Nera, barang-barang itu akan kita bagi ke anak-anak kita kelak" seloroh Anto terisak.
Maryam menghampiri Anto dan memeluknya sambil menangis pula. Begitu tragis kisah cinta pertama Anto baginya..
__ADS_1
bersambung