
Hari ini dia kembali, ke Kairo. Nera akan merasakan rindu lagi, rindu yang lama, menanti lama.
Handphone ,telekomunikasi genggam, yang bisa di bawa kemanapun.
Tapi tak secanggih handphone zaman sekarang.
Handphone pada awal tahun 2000 an memiliki bentuk besar dan berat.
Fungsinya hanya menelpon, terima telpon, menerima pesan singkat dan mengirim pesan singkat. Mengirim pesan itu disingkat denga SMS ( short massage sending ( mengirim pesan pendek)).
Pada saat itu satu kali mengirim pesan harganya cukup mahal, beda dengan zaman sekarang free jika sudah paket dengan kuota apalagi mengirim ke luar negri. Ditambah kalau mau telpon, harganya lebih mahal lagi.
Handphone pada masa itu, tak sembarangan orang memilikinya.
Handphone menjadi barang orang - orang yang memiliki bisnis dan orang menengah atas.
Belum seperti handphone seperti zaman sekarang yang bak kacang goreng, sampai bocah Sekolah Dasar juga punya dan bisa mengoperasikannya.
Nera berpikiran untuk membeli handphone, tapi dia malu meminta pada bapaknya.
Karena harga nya cukup menguras isi dompet bapaknya.
Apalagi dua minggu lagi pernikahan Lesti, bapak dan ibu pasti lagi pusing. Ditambah persiapan bayar daftar ulang kuliah .
Akhirnya Nera memutuskan untuk tidak dulu membeli handphone.
**********
Hari ini, Nera jalan - jalan sama Lesti dan kedua saudara yang lainnya.
__ADS_1
Karena seminggu lagi Lesti akan melepas lajang, dan setelah resepsi Lesti akan diboyong Raihan ke Kalimantan.
Kita berempat menghabiskan masa - masa kebersamaan dengan makan - makan dan bermain - main di taman kota Bandung. Melihat gedung - gedung yang jarang didapat di kampung. Belanja baju - baju buat acara resepsi pernikahan.
Karena zaman tahun 2000 an, masih jarang resepsi walimahan pakaian nya serempak seragam. Tak seperti zaman sekarang semuanya seperti di permudah dari segala aspek kebutuhan.
Mereka kesorean ,menunggu bus yang tak kunjung datang. Damri pun begitu, trayek bus umum yang sangat legenda di zamannya. Harga yang murah meriah dengan karcis panjang penanda kami sudah bayar. Ya harganya Rp. 500,- saja. Murah bukan?
Mereka terkatung - katung di jalanan ,berharap ada bus kosong jurusan daerah xxx. Namun berjam - jam nunggu di terminal bus.
" Assalamualaikum, neng Nera ?" Sapa Umi Syifa,sumringah tertawa pada Nera.
" Umi, apa kabar? umi sama siapa ada di terminal?" Tanya Nera keheranan, sambil sun tangan pada Umi Syifa. Dan kemudian Nera menyuruh semua adiknya sun tangan juga pada Umi Syifa.
" Sama Dya, tadi habis nganterin ponakan mau pulang ke Solo. Neng Nera lagi apa atuh disini, habis dari mana? ini adik - adiknya kah? " Tanya Umi Syifa penasaran.
" Iya, ini adik - adik saya, Mi. Mau pulang habis main hihihi, ehh kebablasan mainya enggak tahu waktu. Nunggu bus, tapi jurusan ke xxx belum muncul saja" Jawab Nera lirih.
Nera dan ketiga adiknya akhirnya ikut di mobilnya Umi Syifa. Yang disopiri oleh Dya kakaknya Anto.
" Minggu depan itu siapa yang nikah itu Neng Nera?" Tanya Umi Syifa menghilangkan kesunyian di dalam mobil.
" Adik saya, Lesti. Yang Ini! " Jawab Nera sambil menepuk pundak Lesti.
" Oalaaah dikira umi, itu kakaknya! Maaf yaa neng Lesti !" Jawab umi syifa menggoda.
Semua yang dimobil tertawa tak terkecuali Dya.
" Kalau Nera ,sendiri kapan nikahnya? " susul Dya sambil menyetir basa basi.
__ADS_1
" Kalau enggak sabtu ya ahad, bang " Jawab Nera bercanda. Disusul tertawa Lesti dan kedua adiknya, namun Dya tak faham kenapa ketiga adik Nera tertawa setelah mendengar jawaban dari pertanyaannya.
" Siapa orangnya ,abang kenalkah? orang sini atau jauh ?" Tanya nya lagi.
" Gak tahu bang, masih rahasia. Tapi saya bukan jomblo saya pastikan pasangan saya sudah tertulis dalam lauh mahfudz "
Sekarang Umi baru sadar kalau tadi jawaban Nera bercanda,
" Kamu tuh neng,dikira umi bener ya sabtu ahad kamu nikah. hahaha ternyata guyonan"
" Iya mi, kalau selain hari itu saya khawatir semua tamu undangan tak bisa hadir karena masih sibuk kerja, maka dari jauh - jauh hari saya sudah rencanakan, kalau nikah mau hari sabtu atau ahad,walau entahlah siapa jodoh saya" Jawab Nera memberi lelucon .
semua tertawa termasuk Dya, dia sudah kena lelucon Nera.
****
Sampai di gang menuju rumah,
Nera mengucapkan terimakasih ke Umi syifa dan Dya. karena sudah mempersilakan dirinya dan ketiga adiknya menumpangi mobil mereka.
" Umi dan bang Dya zajakumullah khairan katsiran, atas kebaikannya. Oh iya jangan lupa hadir dipernikahan nya Lesti. Ditunggu ya umi . Assalamualaikum " ucap Nera sambil turun dari mobil.
" Wa ' alaikumussalam " Jawab merena berdua.
********
next
ayo reader saya harap like dan krisan serta komen positif nya..
__ADS_1
biar saya semangat membuat kelanjutan ceritanya..