Berjanji Dan Merajut Asa

Berjanji Dan Merajut Asa
99. Surprise untuk Anto


__ADS_3

Nera, terima kasih. Dito datang ke rumah, mau ditolak isk enggak mungkin. Dia ganteng banget. Nera aku minta di comblangin ke Rudi atau Anto malah ke Dito? Tapi gak apa-apa, aku kaya dapat durian runtuh. Tak menyangka Dito yang aku pikir enggak akan sama sekali suka sama aku, eh malah dia yang akan ngajak menikahi aku.


Nera I Love u, makasih ya sayang.


Sms Astuti pada Nera. Nera membacanya dengan menyunggingkan senyuman.


" Nera hari ini kamu dibolehkan pulang. Umi Syifa dan Kiai Hasan mau kesini bantu jemput pulang juga. Ibu mau siap-siapin perlengkapan yang tercecer," ucap ibu Siwi.


Nera tersenyum, duduk bersandar di kasur pasien dengan infusan masih terpasang ditangannya.


〰️


Beberapa jam kemudian Umi Syiifa dan Kiai Hasan tiba.


Nera sudah duduk di kursi roda, karena masih lemas. Umi Syifa mendorong Nera, Pak Edo dan Ibu Siwi membawa beberapa tas. Sedang Kiai Hasan berjalan dengan tongkat kesayangannya.


Diluar lobi sudah ada mobil terparkir.


Dikursi roda Nera melihat sosok lelaki berjambang dan berambut gondrong di dalam mobil.


Pikirnya, itu supir baru yang dimiliki mertuanya.


Dia turun dari mobil dan bersalaman dengan pak Edo sembari membukakan pintu mobil.


Nera tak memandang lagi supir yang membukakan pintu.


Nera hanya memberikan ucapan terima kasih dengan lirih.


Mobil APV itu penuh.


" Kapan pulang, Nak Anto?" Tanya bu Siwi memecahkan ke heningan.


" Tadi malam, Bu," jawab Anto sambi menyetir.


Nera yang bersandar dikursi mobil langsung terbelalak terkejut. Bahwa supir yang berambut gondrong dan berjambang lebat itu Anto.


Ibu Siwi dan Anto asyik berceloteh satu sama lain. Sesekali di timpali Pak Edo dan Umi Syifa.


Nera dan Kiai Hasan hanya menjadi pendengar setia saja.


〰️


Nera masuk ke peraduan dan masih belum mau menyapa Anto. Tubuhnya masih lemah dan ingin segera istirahat.


Diruang tamu.


Semua berkumpul,


" Pak Edo, kata Nera 3 hari lagi Nera harus sidang skripsi, siapa yang anter Nera kesana?" tanya Umi Syifa pada besannya itu.


" Belum tahu, Umi. Sepertinya Nera izin dulu cancel, paling mudah-mudahan bisa diroling sama jadwal temannya yang minggu depannya lagi," jawab Pak Edo ragu.


" Aish, bapak mah enggak tahu apa-apa. Nera keukeuh mau sidang. Katanya dia sudah siap, paling yang anter Nisa," jawab Bu Siwi ragu pula.


" Nisa ada jadwal, Bu. Nisa mau kursus bahasa Inggris dan bahasa Arab. Karena buat persiapan daftar ujian kuliah nanti, " sanggah Nisa halus.


" Anto, jadwal kamu penuh enggak?" tanya Umi Syifa pada Anto..


" Padat sih enggak, kerjaan masih ngedit-ngedit sedikit buat diterbitin di majalah dan kuliah sekarang enggak begitu sibuk, karena dosennya sering enggak ada. Jadi suka nitip absen sama teman. Kenapa emang, Mi?" jawab Anto sambil menyeruput teh yang terhidang di meja.


." Masa, kode dari Umimu masih belum paham terus?" ledek Kiai Hasan dingin sambil memainkan hapenya.


" Ya sudah, Pak Edo. Nanti Nera diantar jemput sama Anto. Biar ada yang ngawasi, Umi khawatir sakit tipes kan, kambuhan?! Jadi lebih baik Nera pas ke kampus ada yang ngawasi dan jagain." Saran Umi Syifa.


" Setuju Umi!" ujar Nera.


〰️


Hari ini Nera sidang, dia sudah memakai pakaian putih hitam dengan jas almamater ciri khas kampusnya yang berwarna abu sedang.


Di mobil Anto menunggu kedatangan Nera.


Nera tiba di depan mobil Anto.


Dan membuka pintu belakang mobil.


" Maaf Neng, saya bukan supir taxi. Silakan duduk di depan !" Goda Anto pada Nera.


Nera masih keukeuh, duduk tanpa komentar.


Nera masih mengunci mulutnya.


Anto menyerah, dirinya tahu bahwa Nera masih marah padanya.


Bagaimana tidak? Setelah kejadian itu Anto menghilang dan kabar mengatakan dia sudah bercerai dengan Laras.


" Sebentar lagi, Dito dan Astuti nikah, ya? kamu diundang?" tanya Anto melepas keheningan di dalam mobil.


Nera masih tetap tak bergeming, dia asyik memghafalkan bahan skripsi yang ia siapkan untuk jawaban saat pertanyaan di sidang.


Anto melirik dispion.


Melihat Nera dibalik cadar. Anto paham betul Nera sedang tidak mau ia ganggu.


Anto pun akhirnya menyerah untuk tak mengganggu Nera.


Lama-lama hati Nera tidak enak dengan tingkahnya sendiri yang mencuekin Anto. Padahal Anto meluangkan waktunya untuk mengantar jemput dirinya.


" Perhatikan penampilan, memang di Lombok Abang lupa cukur jambang dan kumis?" celetuknya dengan lirih menghancurkan kesenyapan yang sedari tadi dia ciptakan.


Kini giliran Anto yang tak menjawab. Dia langsung menyetel radio untuk mendengarkan situasi di jalan raya.


Setelah tahu kondisi jalan saat ini, Anto mematikan lagi radio di mobilnya.

__ADS_1


" Cukur rambut, gondrong. Jelek," ucap Nera lagi sambil menunduk dan fokus pada buku yang ada di pahanya.


Anto melihatnya lagi di kaca spion.


" Ada suara? paling nyamuk ! hush !" goda Anto pura-pura tak peduli pada Nera.


" Biar enggak jomblo, rapikan diri kenapa?" celetuk Nera lagi tanpa sedikit melihat Anto masih melihat buku yang tersimpan di atas pahamya.


" Hemmh, sepertinya besok saya mau pasang kaca ata cermin yang gede, iya-iya mungkin sebelah sini," ucap Anto menunjuk sembarang arah, dan mencuekkan Nera lagi.


" Abang, Nera lagi ngajak ngobrol, Abangnya gitu!" Nera mulai merajuk kesal.


Anto langsung memarkirkan mobilnya ke arah kiri.


Langsung keluar dari mobil dan berdiri bersandar di depam mobil.


Nera terkejut, kenapa tiba-tiba Anto seperti itu.


" Apa dia marah?" gumam hatinya.


Nera keluat dari mobil dan dengan langkah berat Nera menghampiri Anto.


" Ayo, nanti aku telat, Bang,"


Anto membuka permen dan memakannya.


Anto mengangguk perlahan, mengiyakan.


" Abang, marah?" tanya Nera lagi


" Kenapa selalu seperti ini?" jawab Anto kesal sambil menatap Nera.


" Aku hanya ingin berdamai dengan situasi, dan kamu seolah-olah menyalahkan lagi aku untuk kesekian kalinya," Anto mulai meluahkan isi hatinya.


" Mau aku gondrong, mau aku jambangan, mau aku hancur sekalipun, itu bukan urusan kamu. Aku laki-laki dewasa, sebusuk-busuknya aku, ini hidup aku. Dan dari sekian waktu kamu mendiamkan aku seolah-olah aku manusia banyak salahnya, dan tiba-tiba menasehati aku. Common, Nera! Sudahlah bersahabat dengan waktu. Jadikan hari ini aku mulai berkenalan dengan hidupku yang baru, aku ingin berdamai dengan waktu dan masa lalu. Dan aku ingin melepaskan beban. Aku laki-laki, aku pun punya rasa sakit dan trauma. Aku pun bisa marah dan kecewa. Aku sudah melewati hidup yang tak mudah aku lalui. Bersahabat dengan hari ini denganku, jangan jadikan aku musuh atau mungkin laki-laki bedebah. Kamu kira hanya perempuan yang bisa menangis, terluka, kecewa dan trauma? Aku merasakan itu. Bodoh, jika kamu menuduhku sebagai lelaki tak punya otak dan perasaan. Sudahlah, jika memang aku tak boleh mendekat atau hanya sekedar ucap salam perpisahan. Dua hari lagi saya akan ada tur dunia. Entah kapan pulangnya. Berilah aku waktu untuk bisa bercengkrama dengan kamu dan saling memaafkan. Aku tak peduli dengan rasa dan kenangan, yang ada aku ingin memperbaiki semua yang telah terjadi. Please!" Ucap Anto dengan aksen, gaya bicara seorang laki-laki yang betul-betul dewasa.


Nera, terkejut dengan ungkapan Anto.


Nera hanya memahami situasi itu dari kacamata dirinya saja sebagi seorang wanita yang kecewa apalagi ditambah dia harus melepas Laras.


Sedang Nera hanya tidak paham dengan apa yang terjadi dengan laki-laki disampingnya itu.


" Abang, Umi sudah tahu?" Nera melancarkan pertanyaan bodoh karena dia bingung harus bertanya apa lagi.


" Wanita dalam hidupku saat ini hanya Umi, tak ada yang lain. Jelas dia akan selalu paling utama aku beritahu," jawabnya sambil mendelik ke arah Nera.


" Berarti aku wanita ke dua mu?" Nera kembali memberikan pertanyaan bodoh lagi.


"Aku tak tahu, tapi pada awalnya aku tak akan bilang," ujar Anto sambil berpaling menuju pintu mobil untuk kembali.


Nera memegang kupluk jaket Anto tiba-tiba dan Anto terhenti seakan akan mau terjatuh.


Anto melihat ke arah Nera.


" Ada apa Nera? Kalau aku terjatuh, bagaimana?" ujar Anto kaget.


" Ada apa?" Tanya Anto menatap Nera.


" Cukur rambutnya, potong kumis dan jambangnya, Abang seperti orang gila. Maaf maksudku Abang bisa rapikan kalau memang ingin berjambang atau rambut gondrong." Nasihat Nera sambil tertunduk.


" Enggak akan," jelas Anto menolak.


" Kenapa?" rajuk Nera lagi.


" Biar enggak ada cewek yang suka sama Abang, biar abang juga enggak fokus nyari pacar," jawab Anto.


" Iya jangan cari pacarlah, cari istri, gitu?" nasihat Nera terus ia lakukan.


" Apa, sih Ner? ayo sudah telat. Nanti Abang kamu cereweti lagi!" ucap Anto berbalik untuk masuk mobil. Nera mengikutinya, dan kini dia duduk di kursi depan.


" Aku duduk disini ya?" Ucap Nera meminta izin.


Anto tak menjawab, dia sibuk megendarai mobil.


" Rambut gondrong itu jelek!" ucap Nera.


" Biarin!" jawab Anto dingin.


" Jambangan dan kumisan itu kayak bapak-bapak!" ledek Nera lagi.


" Biarin!" jawab Anto lagi menyela Nera.


" Awas saja kalau merokok!" ucap Nera cerewet.


" Berisik, ngapalin sana!" Jawab Anto lirih.


" Abang aku enggak fokus, Abang jelek banget. Emang Umi enggak komplain apa, penampilan Abang kayak gini?" Nera mulai merajuk lagi.


Anto terkekeh mendengar rajukan Nera.


" Terima kasih sudah memperhatikan Abang, tapi Abang emang lagi pengen berpenampilan seperti ini dulu. Hahaha kok kamu sewot sih masalah penampilan aku? "


" Aku takut Abang, disana masuk ke pergaulan bebas. Minum, merokok, main cewek ah pokoknya gitu deh!" ucap Nera dengan suara berat mulai akan menangis.


" Ya enggaklah! Naudzubillahimindzalik. Abang suka puasa Daud Ner, Abang manusia biasa. Punya nafsu, tapi Abang gak berniat untuk enggak nikah lagi. Abang hanya ingin merilekskan otak Abang saja. Do'akan biar Abang bisa segera mendapatkan calon pendamping. Siapa tahu pulang dsri tour dunia ini Abang dapat istri bule, kan?" aku Anto menjelaskan.


" Berapa lama tournya?" tanya Nera.


" Kurang lebih satu tahun. Dimulai ke Asia tenggara dulu, Habis itu ke Papua Nuginie, lanjut Benua Australia. Kalau punya istri kayaknya akan lebih menyenangkan, " ujar Anto menghela napas panjang.


" Aneh! Ya kenapa juga Laras di ceraikan? Padahal dia sudah cinta mati sama Abang?" pungkas Nera.


" Aku, sudang cinta mati sama kamu, kamu tinggalkan, apa bedanya Abang sama kamu? sama-sama aneh,kan ?" potong Anto.

__ADS_1


Hape Nera berbunyi.


Nera mengangkatnya,


" Assalammu'alaikum, Bang Rudi."


".........."


" Sama, bang Anto. Terima kasih."


"........"


" Tak usah repot-repot."


"......"


" Sore sepertinya, do'akan semoga lancar sidangnya."


".........."


" Tidak mengganggu, silakan saja kalau mau kerumah mah,"


" Ditunggu, Bang. Terima kasih,"


"............"


" Walaikumussalam."


" Cieee, calon lakinya nelpon," goda Anto.


" Apaa, ngaco!" sanggah Nera.


" Pura-pura polos lagi, hahahaha." sanggah Anto.


" Kita hanya teman dan team kerja," jelas Nera.


" Iya, seperhatiannya itu? hemmh Sarah bilang, Rudi punya niatan nikahin kamu. Tapi Rudi masih menunggu jawaban kamu," jawab Anto.


" Menikahlah dan punya anak. Biar aku tak terus mengejar dan berharap cinta kamu. Kalau kamu masih saja jomblo, jangan harap aku membiarkanmu. Aku masih berjiwa ksatria, agar kamu aman di dekatku. Jika memang Rudi yang terbaik, aku akan melepaskanmu dan silakan kamu hidup dengan bahagia. Jika itu sudah menjadi guratan taqdir. Aku hanya bisa mencintaimu, tapi tak bisa memilikimu. Ku do'akan dirimu selalu Allah beri kebahagian. Untuk sehari, seminggu, atau sebulan mungkin aku akan menangisi mu, tapi mungkin aku akan mulai melupakanmu jika kamu bahagia dengan pilihanmu kelak," lirih Anto dengan nada berat.


Nera memandang Anto yang sedang menyetir, entah kenapa kata-kata Anto begitu menusuk ke relung hati Nera.


Anto sudah melepaskan dan meridhokan dirinya dengan yang lain.


Tapi hati Nera, merasa pilu dan tak mampu mendengar kata-kata Anto.


Pikirnya menerawang, sudah berapa banyak rasa sakit yang diderita Anto untuk menunggunya?


Ada rasa iba, saat Anto berceloteh yang membuat Nera merasakan kepiluan Anto.


Rata-rata wanita akan tak berdaya pada saat laki-laki sudah merendahkan dirinya dihadapan si wanita tersebut.


Rata-rata wanita akan luluh, saat laki-laki mulai menyerah dan tak mau lagi berjuang serta memilih melepaskan.


Nera semakin tak berdaya dengan ucapan Anto yang sudah lelah bertahan dan berjuang.


Kini dia memantapkan hati dan menjawabnya dengan nanar pada Anto,


" Aku akan menerima ajakan Rudi, " ucap Nera sambil terduduk dan memegang ujung krudungnya.


Nera menelan salivanya.


Anto, mengerem seketika.


Dan menoleh ke arah Nera dengan terkejut dan frustasi.


Anto menelan salivanya, matanya membulat.


Secepat ini, wanita yang dicintainya membuat keputusan.


Anto mengambil napas panjang, menyeimbangkan rasa cemburu yang semakin memuncak. Emosi yang tadinya ingin dia luapkan, kaki dan tangan yang gemetar.


Anto berbalik dan membantingkan punggungnya ke sandaran kursi jok mobil, dengan mengusap kepala dari depan kebelakang.


Nera mematung sambil menunduk kaget, melihat reaksi Anto yang tiba-tiba mengerem mendadak. Dan berhenti sejenak dipinggiran jalan.


Nera, semakin terkejut dengan tingkah spontan Anto yang menyiratkan dirinya frustasi.


Tanpa disadari, Nera melihat air mata Anto kembali berurai dan mengatakan,


" selamat, semoga Allah lancarkan ,"


Nera tak menjawab, dia terdiam mendengar ucapan Anto yang kembali menyetir kembali.


Nera melihat, wajah dan mata merah Anto yang menggambarkan dirinya sedang terluka dan bersedih.


bersambung...


*********


Tunggu 1 episode terakhirnya ya.


Maaf, saya bingung membuat ceritanya supaya kesan nyata di cerita ini tak dibuat-buat.


Saya, harus membuat kalimatnya tidak selebay dan seaneh cerita-cerita khayalan. Karena ini adalah kisah nyata, saya harus membuatnya sealami mungkin.


Maaf, sudah menunggu lama.


Mudah-mudahan 1 episode terakhir bisa membuat kalian semakin penasaran.


Happy anding atau gantung?


Tunggu di episode terakhir.

__ADS_1


Terima kasih untuk readers, salam sayang dari saya.


Lyli's..


__ADS_2