Berjanji Dan Merajut Asa

Berjanji Dan Merajut Asa
7. Lesti meminta izin


__ADS_3

Sebentar lagi Lesti lulus SMA , Lesti meminta izin pada orang tuanya.


Bahwa awal bulan Raihan ,mau bawa orangtuanya untuk mengkhitbah ( bertunangan) Lesti.


Bu Siwi dan pak Edo ,sepakat hal ini harus berkoordinasi dengan Nera.


Bagaimana harus, orang tua Nera tak mau keputusan mereka menyakiti anak pertamanya itu.


Setidaknya ada musyawarah bagaimana baiknya. Agar Nera legowo dengan keputusan adik dan orang tua nya.


Setelah ngobrol panjang lebar dengan Nera , keluarga pun Nera sendiri menyepakatinya.


Nera tidak merasa dilangkahi atau sakit hati, tapi jika ada sedikit kecewa itu wajar tapi bukan kecewa kepada orang tuanya atau pada adiknya. Dia hanya membenci keadaan saja.


Ibu dan bapak Nera jika Nera sudah punya calon, kalau mau dia yang lebih dulu, silakan.


Mereka berdua malah akan mengutamakan Nera jika memang Nera sudah punya calon .


Nera, menggelengkan kepala bahwa memang dirinya belum memiliki calon untuk ia ajukan saat ini.


Nera sudah legowo kalau toh harus Lesti yang lebih dulu menikah.


Lesti berpelukan dengan Nera dan mohon restu dan ijin. serta memohon maaf telag melangkahi kakaknya.


" Teteh, Lesti minta maaf ya. Lesti sudah mau satu tahun pacaran sama si aa Raihan. Kata teteh kan pacaran dosa. Aa Raihan malu sama ibu dan bapak terutama teteh, ditambah tahun depan kerja A Raihan akan pindah ke luar kota, kemungkinan setelah di bagi kelulusan, Lesti nikah dan di bawa Aa Raihan. teteh maafin Lesti ya? " pinta Lesti sambil memeluk kakanya Nera.


Pecahlah tangisan Lesti dan Nera begitupun dengan saudara - saudaranya tak terkecuali ibu dan bapak.

__ADS_1


Nera hanya mengangguk - ngangguk saja. dia menerima semua keputusan itu. Ini bagian daru taqdir, kalau pun harus dilangkahi ini bukan aib. Toh menikah seperti layaknya maut, datang tiba-tiba tanpa sesuai rencana.


Ku pastikan hatiku baik - baik saja , kupastikan aku hanya akan fokus pada asa yang aku harapkan. Menggapai cita - cita setinggi langit.


******


Keluarga Raihan berkumpul.


Ya ini acara khitbah Raihan dan Lesti, kedua keluarga sepakat 3 bulan lagi mereka berdua menikah.


Nera berlari ke kamar, mengunci pintu rapat - rapat. Sebelumnya dia meminta izin terlebih dahulu untuk pamit duluan.


Diperaduan itu dia menangis tanpa mengeluarkan suara ,suara itu ditahannya berusaha untuk tak terdengar oleh siapa pun.


Meratapi nasibnya, entahlah kenapa hati ini sesakit itu.


merasa diri tidak laku, memikirkan apa kata orang nanti, kalau dirinya gadis tidak laku.


Pikiran itu berkecamuk.


******


Hari berganti hari, Nera menyibukkan dirinya.


pergi kuliah, mengerjakan tugas kuliah dan mengajar anak-anak TPA sore, sabtu minggu dia sibukkan latihan taekwondo.


*******

__ADS_1


" mba Nera...!"


panggil Idam padaku.


deg..


" Apa, dam? " aku berbalik arah pada sumebr suara.


" Kata umi, maaf, bisa ke rumah enggak? ada perlu sebentar " jawab Idam menyampaikan amanat uminya. Tanpa pikir panjang aku jawab iya, sambil mengikuti idam menuju rumah nya.


" Assalamualaikum " ucapku.. tak mengetok pintu, karena Idam sudah duluan masuk rumah.


" Oouuh ini toh mba Nera " kata umi Syifa dengan logat jawanya.


Ya umi Syifa istri kiayi Hasan ,kiayi Hasan asli orang Bandung blasteran Arab ,dan umi syifa orang Jawa Tengah tepatnya Solo belasteran Pakistan.


Kebayangkan bagaimana wajah Anto dan Idam ?


Wajah Sunda, Jawa campur Timur Tengah .


Yaa begitulah..


Maa syaa Allah walau sudah berumur, dan banyak anak, umi syifa begitu fresh, masih cantik, muda ,dan berkarisma.


" Silakan duduk neng atau mba ,punten sudah berani nyuruh - nyuruh neng Nera ke sini, maaf jika umi lancang " sahutnya kembali.


" Gak papa umi, sudah sewajar yang muda menghormati yang tua. Qadarullah saya tidak ada kesibukan lain " jawab Nera sopan.

__ADS_1


next...


__ADS_2