Berjanji Dan Merajut Asa

Berjanji Dan Merajut Asa
91. Calon imamku, siapa?


__ADS_3

Nera dan laki-laki itu saling berhadapan.


Laki-laki berjanggut, dengan air muka yang manis dengan senyuman.


Berpenampilan yang santun, terucap dengan spontan dari mulut Nera yang dirasa menakjubkan.


Perubahan seorang sahabat, yang dikenalnya pujangga cinta dengan cap play boy yang disematkan para sahabatnya kala itu.


Nera sejenak mamatung, melihat perubahan sahabatnya itu.


Laki-laki itu masih mematung memandangi Nera dengan senyuman khasnya.


Air mukanya menandakan kebahagian dan suka cita.


" Ditoooo..eh Bang Dito!"


" Kapan sampai Indonesia? kangen!" celoteh Nera.


Nera duduk di bangku panjang, dan di ikuti Dito duduk menyamping ke arah Nera.


" Pengen meluk, hahaha tapi enggak bisa. Bukan makhram " celoteh Nera.


" Halalin dulu dong biar bisa pelukkan " goda Dito.


" Mana ada yang mau sama janda, hahahah?" jawab Nera bergurau.


" Janda gimana dulu, kalau janda nya cantik dan sholihah mah yakin pada ngantri ?" goda Dito lagi.


Nera tersenyum dibalik niqabnya, hanya kerutan matanya yang terlihat bahwa dia sedang tersenyum.


" Enggak bareng sama istri ni, Ban?" ledek Nera lagi pada Dito.


" Bujang, Neng! Siapa tahu ada yang gebet? Sudah layak nikah ini, tapi calonnya belum ada" jawab Dito mengerlingkan matanya kearah Nera.


" Mau Nera cariin?" ledek Nera lagi.


" Ngapain nyari yang belum pasti. Yang didepan mata juga boleh. Kalau bersedia?" jawab Dito lagi.


" Nera, janda Bang. Enggak baik buat bujang" jawab Nera minder.


" Siti khodijah janda nikahin nabi Muhammad yang bujang. Cinta banget nabi Muhammad sama Siti Khodijah. Padahal gadis banyak disekitarnya. Berarti, status itu tidak menentukkan kebahagian rumah tangga seseorang " pungkas Dito lagi.


" Tapi rasulullah pun berkata dan menasehati umatnya, mending menikahi masih status gadis, karena dengannya kamu bisa bercanda serta bersenda gurau. Kalau janda seperti aku, mungkin banyak serius dan mendominasi ,kali ya, hihihi?" ucap Nera mencairkan suasana.


" Jadi ceritanya ada janda yang mau sama bujang? oke, entar bujangnya akan lamar!" goda Dito lagi.


" Dimana ?" Tanya Nera bingung.


" Di depan mata sang bujangan " jawab Dito.


" Dito, ihhh bertele-tele deh. Siapa?" tanya Nera lagi.


" Diih, sudah panggil nama? Biasanya kalau sudah panggil nama, berarti fix dia nyaman sama orang tersebut" ledek Dito lagi.


" Apa, ari Abang?" jawab Nera malu.


" Nera dari dulu, memang nyaman sama Abang" ucap Nera kembali.

__ADS_1


" Dulu juga, aku sudah berjanji untuk mengahalalkan kamu, dan merajut asa terlebih dahulu. Aku bukan manusia baik pada saat itu, mungkin dulu aku lelaki yang banyak pacarnya, tapi itu dulu. Selama aku bekerja di sana, aku sambil mencari ilmu dan terus memperbaiki diri. Agar aku layak menjadi calon suami untuk seorang wanita shalihah, entah di ujung bagian dunia mana? Tapi setidaknya saat ini, aku sudah datang, mengungkapan itikad hati dan asa dulu yang pernah aku ucapkan. Jika memang, masih ada asa itu, walau kamu sudah beda status. Pantang bagiku, menjilat ludah sendiri. Setidaknya asa itu selalu aku gaungkan pada sang Pencipta. Tapi jika memang, jodohku bukan kamu. Karena jodoh itu bisa belum lahir, belum cukup umur, masih pacar orang, masih istri orang, belum cerai, atau pasangannya belum meninggal"


" Nera, seminggu kemarin aku selalu ke kampus kamu. Tapi sepertinya kamu sibuk, kadang suka ke TPA sore tempat kamu ngajar, kamu sedang asyik mengajar. Kadang jika dirumah, aku taku mengganggu waktu istirahatmu. Hahaha maaf, bukan mengikutimu, tapi aku ingin segera mempercepat menyampaikan itikad dan membuktikan janji aku dulu. " jelas Dito.


Nera membisu sambil tertunduk.


Dito masih terduduk mematung menunggu jawaban Nera.


Nera bingung harus berkata apa, sejauh ini diapun menunggu dan membuktikan janjinya.


Lelaki playboy itu bisa bertahan tanpa cinta dengan wanita lain dan menunggu Nera.


Dia pun tahu, kalau Nera sudah menjadi janda.


Sebegitu, prioritas diri Nera dimata Dito.


Nera menjadi rasa haru.


Melihat Dito yang kini berjanggut, tambah manis dengan potongan rapi rambutnya.


Ditambah, kata-kata tegas tanpa basa-nasi namun penuh humor dan hangat.


" Abang emmmm. Nera bingung harus jawab apa? beri Nera waktu, Nera akan pikirkan dan pertimbangkan." jawab Nera berat.


" Baiklah, santai saja. Tak harus ada kepastian biar aku enggak jadi bujang lapuk ." jawab Dito menggoda.


" Mana ada? pasto sudah banyak wanita ngantri sama laki-laki manis kaya Abang !" jawab Nera.


" Iya, makanya biar wanita enggak pada ngantri lagi, kamu saja yang aku halalin." goda lagi Dito.


" Pada hakikatnya, aku enggak langsung ke bapak atau ibu kamu. Karena janda itu dalam islam hanya sekedar kode ajak nikah, terus si jandanya mau, maka itu boleh walau tanpa sepertujuan walinya. Beda sama anak gadis, pertama yang harus didatanginya adalah orang tuanya dulu, jika orangtuanya tak izinkan maka enggak boleh dinikahi. Beda kalau seorang janda, bisa langsung tanya kepada orangnya, mau dinikahi atau tidak?. Jika kamu sedia aku akan meminta ke orang tuamu sebagai penghormatan dan bakti seorang anak pada orangtuanya. Maka, akan aku tunggu seperti aku menanti angkot tiba."


Nera mengangguk.


" Aku, izin pamit ya! Salam pada bapak dan ibu, aku takut ganggu acaranya. Oh iya ini, maaf ada oleh-oleh sedikit. Aku diundang enggak?"


kata Dito.


" Diundang, Abang. Datang saja, ditunggu!" jawab Nera sambil berdiri dan menerima oleh-oleh dari Dito.


" Wah, ditunggu nih! Jangan kangen lagi ya? insyaa Allah aku datang secepatnya. Ditunggu kabar baiknya. Wassalamu'alaikum." ucap Dito pamit sambil menggoda lagi Nera.


Nera menggeleng-gelengkan kepalanya, menanggapi kekonyolan Dito yang tak pernah berubah.


Ditopun pergi.


Tiba-tiba Anto muncul dihadapan Nera.


" Bang Anto, kapan pulang? katanya besok?"


" Enggak, kepengen ngasih surprise saja. Eh malah Abang yang dikasih surprise. Teteh, sudah berniqab. Jadi enggak bisa lihat mukanya lagi. Siapa tadi?" kata Anto.


" Tadi Dito, dia baru pulang. Maa syaa Allah banyak perubahan. Seneng ngelihatnya, kangen dengan semua kekonyolannya. Hahahah " jawab Nera sambil tertawa lucu.


" Hampir setahun lho, kita enggak ketemu?emang kamu enggak senang dan kangen ke Abang?" tanya Anto tendensius.


" Senang! tapi kan, Dito sudah lama banget enggak ketemunya. Jadi suka kangen dengan kelucuannya dan kegilaannya. Hemh kelucuan dan jahilnya enggak berubah. hahaha " Nera menceritakan Dito sumringah.

__ADS_1


Anto pergi melengos meninggalkan Nera dan masuk ke dalam rumah ibu Siwi dan beramah tamah dengan mereka.


〰️〰️〰️〰️〰️〰️


Malam ini Nera pulang ke rumahnya, karena di rumah ibunya padat sekali oleh keluarga dan handai taulannya yang berkumpul.


Nisa dan Lesti pun memutuskan untuk menyusul Nera dan menginap dirumahnya.


Nera masih sendiri di rumah,


Bel rumah berbunyi, Nera melihat di kaca kecil di permukaan pintu rumahnya.


Ternyata Anto.


" Assalamu'alaikum" ucap Anto yang air mukanya menunjukkan menyimpan kekesalan dan pakaiannya berantakan.


" Wa' alaikumussalam, astagfirullah abang kenapa baju abang lusuh begini?" tanya Nera.


" Aku bertemu Dito. Dan kami saling berjibaku" jawab Anto lirih dan terduduk di sofa.


" Kenapa lagi, Abang? emang Dito punya masalah apa sama Abang, sampai kalian berkelahi?" tanya Nera penasaran.


" Karena dia, berani mau menikahimu?" jawab Anto dingin.


" Abang, jangan begitu, enggak baik!" nasihat Nera pada Anto.


" Aku yang menanti, aku yang menunggu, aku yang yang merasakan kepahitan. Tapi kamu enggak kangen sama aku, enggak senang sama aku. Aku sudah mulai sidang, aku di gugat Laras. Tapi justru aku senang, tidak menyakiti dia lagi, tidak menyia-nyiakan lagi, tidak berharap banyak lagi padaku. Tapi aku justru mati rasa, pada semua yang aku lakukan. Kenapa aku semenyedihkan ini?" lirih Anto meratap.


Kemudian Anto menghampiri Nera dan terduduk dihadapan Nera.


" Aku tak bersujud, dan tak akan berlutut dihadapanmu, untuk mendapatkan hatimu. Tapi, benarkah aku tak memiliki kesempatan? Hatiku sudah damai, saat ku dengar dari Astuti kamu telah menolak khitbahan Dimas. Asaku kembali bangkit dan aku sudah siap di gugat oleh Laras. Tapi aku harus berhadapan dengan laki-laki lain, yang ku dengar Syeikh Syamil pun, ingin meminangmu. Ternyata, Abah tak mengijinkan kamu dimadu, dia begitu memikirkan dirimu, begitupun umi yang selalu mengkhawatirkan siapa saja laki-laki yang dekat denganmu. Akhirnya abah meminta Syeikh Syamil untuk tidak meminangmu dengan beberapa pertimbangan. Aku kembali tenang. " Lirih Anto.


" Kata orang cintaku buta padamu. Salahkah jika aku bertahan dengan rasa aku, dan tak bisa kelain hati? Aku dibodoh-bodohkan orang, hanya gara-gara mencintai kamu dan lagi-lagi aku disebut gila. Aku sejenak pergi melupakanmu bersama istriku. Tapi apa yang ku dapat, aku memanggil namanya dengan namamu, dan apa itu disengaja? tidak! Sering aku memanggil namanya dengan memanggil namamu, itu di depan sahabat-sahabatku. Aku mecoba tidur dengannya sampai tak jadi kami melakukannya, karena aku selalu menyebut namamu. Aku lelah Nera, aku lelah." lirih Anto memelas dengan rasanya.


" Aku ingin melepasmu Nera jauuuuh, sejauh-jauhnya. Aku ingin bahagia sebahagia-bahagianya. Tapi setiap aku mencobanya malah aku semakin mengingatmu. Aku berjanji akan meminangmu, tapi kau telah dipinang kakakku, aku menggapai cita-citaku, ku usahakan secepatnya agar aku bisa meminangmu. Tapi apa daya tanganku tak sampai. Aku merasa diri ini yang paling malang. Kau yang ku kejar, malah terus menghilang, semakin aku berusaha tapi kau malah akan semakin jauh!"


ucap Anto yang semakin merana.


Nera pun terisak mendengar kata-kata sendu yang diucapkan dari lubuk hatinya paling dalam.


" Maaf, jika dulu aku begitu penakut dan egois. Tapi aku sudah mendapatkan hukumannya. Dan sekarang aku berharap kamu memaafkanku agar aku bisa melupakanmu dan hidup normal. Aku tak tahan dengan hidup seperti ini!" ucapnya lagi.


" A-ab-abang. Nera-nera pusing Abang, Nera tak tahu harus berbuat apa dan berbicara apa? Nera benar-benar pusing. Silakan Abang pulang, Nera takut kita jadi fitnah!" pinta Nera.


Anto berdiri, dan akhirnya beranjak pergi dengan gontai.


Nera masih terisak dengan kemelut hati yang dialami Anto.


bersambung..


〰️〰️〰️〰️


Jangan lupa love,like, koment dan vote..


Terima kasih all readers..


9 episode terakhir lagi..

__ADS_1


Selamat menikmati😘😁


__ADS_2